NovelToon NovelToon
Kisah Pedang Penakluk Tiga Ribu Dunia

Kisah Pedang Penakluk Tiga Ribu Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Action
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Yuzuki chan

Kaisar Pedang Langit, Cang Yue, menemui ajalnya di ujung bilah sang saudara seperguruan, Feng Jiantian. Alih-alih lenyap menjadi abu, jiwanya menyeberangi lautan reinkarnasi dan menetap di tubuh Yan Xinghe—seorang pemuda lumpuh dengan meridian hancur di Benua Tanah Spiritual. Tanpa keajaiban instan, Xinghe harus memulai dari titik terendah. Bermodalkan ingatan masa lalu dan tekad baja, ia merangkak naik, menahan penderitaan luar biasa untuk menempa ulang tubuh fana-nya. Ini adalah epik perjalanan darah dan keringat menembus benua demi benua, membelah Tiga Ribu Dunia, demi merebut kembali takhta keabadian yang terampas.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuzuki chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 2 secercah bara di tengah padang salju

Pintu kayu gubuk itu berderit memilukan saat Yan Xinghe mendorongnya perlahan. Engselnya yang berkarat seakan menyuarakan penderitaan penghuninya selama bertahun-tahun. Udara pengap langsung menyergap wajahnya, membawa serta aroma tajam obat-obatan murahan yang direbus berulang kali hingga kehilangan khasiatnya, bercampur dengan bau apak kayu lapuk yang selalu basah setiap kali hujan turun.

Xinghe melangkah masuk. Kakinya yang masih lemah menyeret lantai tanah yang tidak rata. Di sudut ruangan yang remang-remang, hanya diterangi sebatang lilin berlemak yang nyaris padam, terbaring sesosok wanita paruh baya di atas ranjang bambu beralaskan jerami tipis. Wajahnya sepucat kertas beras, napasnya terputus-putus seperti helaian benang yang ditarik paksa. Dialah Shen Yulan, ibu dari tubuh yang kini ditinggali oleh Sang Kaisar Pedang Langit.

Di samping ranjang, seorang gadis kecil berusia sekitar sebelas tahun tengah tertidur dengan posisi terduduk. Kepalanya bersandar di tepi kasur bambu, tangannya yang mungil masih menggenggam erat sebuah kain basah. Dia adalah Yan Xiaoxiao, adik perempuan Xinghe. Gadis kecil itu pasti berjaga semalaman suntuk merawat ibunya, mengorbankan waktu istirahat demi membasuh keringat dingin yang terus mengucur dari dahi Shen Yulan.

Melihat pemandangan ini, sesuatu yang aneh berdesir di dada Xinghe. Selama ribuan tahun bertengger di puncak Tiga Ribu Dunia, hatinya telah membeku bagai es abadi. Kekuatan adalah satu-satunya hukum yang ia yakini. Pengkhianatan Feng Jiantian semakin mengukuhkan pandangannya bahwa ikatan emosional hanyalah kelemahan yang akan mengundang pedang menembus punggung.

Sayangnya, sisa-sisa emosi dari jiwa Yan Xinghe yang asli menolak untuk diam. Ada rasa perih yang nyata menyayat jantungnya saat melihat kerut kelelahan di wajah polos Xiaoxiao dan penderitaan bisu Shen Yulan. Emosi ini mengalir masuk, bercampur baur dengan ketegasan jiwa seorang kaisar, menciptakan sebuah harmoni baru yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.

"Keluarga..." gumam Xinghe nyaris tanpa suara.

Dahulu kala, ia adalah yatim piatu yang dipungut oleh sebuah sekte kejam, dididik untuk memotong segala bentuk kasih sayang. Kini, ia mewarisi karma seorang pemuda malang yang memiliki ikatan darah yang kuat. Selain ibu dan adik perempuannya, ingatan Xinghe juga memunculkan sosok Yan Qingshan, kakak sulungnya yang berhati batu keras berjuang membanting tulang sebagai penebang kayu di pinggiran Hutan Binatang Buas demi menyambung nyawa keluarga mereka. Ayah mereka, Yan Canghai, dulunya adalah seorang penjaga desa yang disegani, menghilang secara misterius di kedalaman hutan itu tujuh tahun lalu, meninggalkan beban berat di pundak anak-anaknya. Tiga bersaudara itu dipaksa dewasa oleh keadaan.

Xinghe mendekati ranjang dengan langkah tertatih. Ia mengulurkan tangan kanannya yang masih dihiasi bekas memar kebiruan, menyentuh pergelangan tangan Shen Yulan dengan ujung dua jarinya untuk memeriksa denyut nadi.

Seorang Kaisar Pedang tidak hanya menguasai seni membunuh, melainkan memahami anatomi kehidupan hingga ke tingkat partikel terdalam. Dalam dunia kultivasi tingkat tinggi, batas antara ahli bela diri dan ahli alkimia sering kali menjadi kabur. Untuk memahami cara menghancurkan, seseorang harus terlebih dahulu memahami cara menyembuhkan.

Begitu jarinya menyentuh kulit yang sedingin bongkahan es itu, alis Xinghe berkerut tajam.

Nadi Shen Yulan sangat lemah, nyaris tidak terasa. Lebih mengerikan lagi, ada seutas energi Yin yang sangat buas dan beracun merambat pelan di sepanjang jalur meridian sang ibu, membekukan aliran darahnya secara sistematis. Energi itu bergerak menuju jantung. Jika hawa dingin itu berhasil menyentuh bilik jantung, nyawa Shen Yulan tidak akan bisa diselamatkan bahkan oleh dewa sekalipun.

Ini bukan sekadar demam dingin biasa seperti yang diyakini oleh para penduduk desa selama berbulan-bulan ini.

"Racun Es Seratus Hari," desis Xinghe dalam hati. Matanya menyipit, memancarkan kilau niat membunuh yang tertahan.

Racun ini bukan berasal dari penyakit alami. Racun Es Seratus Hari diekstrak dari bisa *Ular Sanca Sisik Salju*, seekor monster spiritual tingkat rendah yang habitatnya berada jauh di lereng Pegunungan Utara. Racun ini bekerja perlahan, menggerogoti energi vital korban selama seratus hari sebelum akhirnya membekukan organ dalam hingga hancur menjadi serpihan es.

Tidak ada alasan bagi seekor Ular Sanca Sisik Salju untuk menyerang seorang wanita fana di tengah pemukiman padat. Racun ini jelas dimasukkan secara sengaja ke dalam makanan atau minuman Shen Yulan. Siapa yang memiliki dendam sekusut itu pada sebuah keluarga cabang yang sudah jatuh miskin?

Pikiran Xinghe berputar cepat mengumpulkan potongan-potongan teka-teki. Hutan Binatang Buas, hilangnya Yan Canghai, penindasan oleh putra kepala desa Gongsun Ye. Semua kejadian ini seolah ditarik oleh satu benang merah tak kasat mata. Keluarga Yan cabang desa ini sedang disingkirkan secara perlahan, dihancurkan dari dalam tanpa menimbulkan kecurigaan dari otoritas desa yang lebih tinggi.

Xinghe menarik napas panjang, menyingkirkan analisis konspirasi itu untuk sementara waktu. Prioritas utamanya saat ini bukanlah membalas dendam, melainkan mempertahankan nyawa ibunya. Dendam bisa dibalas esok hari, hari ini ia harus bertarung melawan maut.

Waktu yang tersisa sebelum racun itu mencapai jantung kurang dari tiga hari. Ramuan penawar biasa dari tabib desa tidak akan berguna, bahkan justru akan mempercepat reaksi racun tersebut karena ketidakcocokan unsur. Ia membutuhkan penawar dengan elemen Yang murni untuk membakar racun es tersebut dari dalam meridian.

"Rumput Api Matahari dan Akar Darah Besi," batinnya menghitung bahan. Dua bahan obat spiritual tingkat rendah. Di mata kaisarnya dahulu, gulma semacam itu tidak layak bahkan untuk dijadikan alas kaki. Di kehidupan barunya ini, dua benda tersebut adalah harta karun yang harganya bisa setara dengan biaya hidup keluarganya selama satu tahun penuh.

Ia menarik selimut tipis itu hingga menutupi leher ibunya, lalu membelai lembut kepala Xiaoxiao yang masih terlelap. Xinghe berbalik, melangkah keluar gubuk dengan tekad yang telah bulat.

Langit di luar telah benderang sepenuhnya. Cahaya matahari pagi mengusir sisa-sisa awan mendung, menyinari Desa Kabut Berbisik yang mulai menggeliat sibuk. Jalanan tanah liat yang becek dipenuhi oleh para penduduk berpakaian kain kasar yang bergegas menuju ladang atau pasar. Sesekali, beberapa pria berotot dengan aura samar di sekitar tubuh mereka melintas; mereka adalah para pemburu dan kultivator tingkat dasar yang berada di tahap awal Alam Penyempurnaan Tubuh.

Saat Xinghe berjalan menyusuri gang sempit, tatapan tajam dan bisik-bisik merendahkan langsung menyambutnya.

"Lihat itu, si sampah dari keluarga Yan masih bisa berjalan rupanya."

"Kudengar sembilan meridiannya diputus oleh Tuan Muda Gongsun. Sayang sekali, padahal dulu ayahnya cukup dihormati."

"Hush, jangan keras-keras. Kau mau berurusan dengan keluarga Gongsun? Biarkan saja bocah cacat itu mati perlahan. Paling-paling besok keluarganya sudah sibuk menggali kuburan untuknya dan ibunya."

Setiap kata ejekan itu masuk ke telinga Xinghe tanpa membangkitkan sedikit pun riak amarah di wajahnya. Cemoohan semut tidak akan mengganggu langkah seekor naga raksasa. Fokusnya tertuju sepenuhnya pada bangunan kayu bertingkat dua di ujung jalan utama desa—Balai Pengobatan Daun Kembar. Ini adalah satu-satunya tempat di radius puluhan mil yang menyimpan pasokan herba spiritual sungguhan, dikelola oleh Tabib Lu Chen, seorang ahli obat yang dihormati di wilayah ini.

Langkah Xinghe terhenti sejenak di depan pintu masuk balai yang beraroma harum dedaunan kering. Berbekal tubuh fana yang lemah, masuk ke tempat ini tanpa sekeping koin tembaga di saku sama saja dengan mencari masalah. Ia harus menyusun strategi. Menipu? Merampok? Tubuhnya saat ini tidak mendukung kedua tindakan kasar tersebut. Ia harus menggunakan senjata utamanya yang tersisa: wawasan absolut dari ribuan tahun pengalaman kultivasi.

Ia melangkah masuk melewati ambang pintu. Ruangan dalam balai itu dipenuhi lemari-lemari kayu berlaci ratusan, menyimpang berbagai macam tanaman, akar, dan mineral. Di tengah ruangan, sebuah tungku perunggu berukuran sedang berdiri kokoh, memancarkan gelombang panas yang membuat udara di sekitarnya beriak.

Di balik meja konter, seorang pria paruh baya dengan jubah abu-abu tampak sedang sibuk menggerus sesuatu di dalam mangkuk batu. Wajahnya dipenuhi peluh, alisnya berkerut frustrasi. Itulah Tabib Lu Chen.

Suasana balai kebetulan sedang sepi pengunjung. Momen yang sangat pas. Xinghe perlahan berjalan mendekati konter, matanya tertuju pada sisa-sisa serbuk kehitaman di dekat tungku perunggu. Hanya dengan melihat sekilas abu sisa pembakaran itu dan menghirup aroma asam yang menguar di udara, Xinghe langsung menyimpulkan apa yang sedang dicoba oleh sang tabib.

"Mencoba meracik Pil Pengumpul Qi tingkat pertama menggunakan metode Pemanasan Tiga Tungku, sebuah usaha yang berani untuk seseorang yang batas spiritualnya hanya setebal kertas."

Suara Xinghe memecah kesunyian, datar, tanpa nada menghormati.

Tangan Tabib Lu Chen yang sedang memegang alu batu berhenti mendadak di udara. Ia mengangkat wajahnya dengan cepat, raut terkejut bercampur marah terlihat jelas di matanya. Matanya memindai sosok pemuda kurus, pucat, dengan pakaian lusuh penuh noda lumpur dan darah kering yang berdiri di hadapannya.

"Yan Xinghe?" Lu Chen mengerutkan dahi, mengenali bocah malang dari desa tersebut. "Apa yang baru saja kau katakan, Bocah? Menyingkirlah dari sini jika kau hanya ingin mengigau. Aku tidak punya waktu meladeni orang cacat yang otaknya ikut rusak akibat pukulan."

Xinghe sama sekali tidak bergeser dari tempatnya berdiri. Kedua tangannya disilangkan di belakang punggung, posturnya tegak lurus seolah penderitaan tulang rusuknya yang baru menyambung tidak pernah ada. Matanya menatap langsung ke dalam manik mata sang tabib tua, tatapan yang begitu dalam dan dingin hingga membuat Lu Chen tanpa sadar menelan ludah.

"Bubuk Daun Tembaga, Sari Bunga Anggrek Biru, dan Inti Tulang Serigala Angin. Kau memasukkan ketiganya secara bersamaan saat suhu tungku berada di puncaknya. Kesalahan mendasar yang sangat bodoh," ucap Xinghe tenang, setiap kata meluncur tajam seperti pisau bedah. "Daun Tembaga berunsur logam yang keras, Anggrek Biru berunsur air yang lembut. Keduanya saling menolak. Kau mencoba memaksanya menyatu dengan elemen angin dari Tulang Serigala. Hasilnya? Tungku mu menghasilkan ledakan kecil dari dalam, menghanguskan inti obat sebelum sempat mengkristal. Sisa abu di lantai itu buktinya."

Wajah Lu Chen seketika pucat pasi. Alat penumbuk di tangannya hampir terjatuh. Pemuda di hadapannya ini baru saja menyebutkan seluruh komposisi rahasia serta letak kegagalannya dengan akurasi yang seratus persen sempurna! Bahkan ahli alkimia dari kota besar belum tentu bisa menganalisis sedetail itu hanya dengan melihat sisa abu.

"B-bagaimana kau bisa tahu?" suara Lu Chen bergetar. "Buku medis mana yang kau curi baca?!"

"Pengetahuan semacam ini tidak layak ditulis di dalam buku. Ini adalah pemahaman dasar dari keseimbangan alam," jawab Xinghe santai. "Kau mencoba menaikkan tingkat pil dengan memperkuat unsur elemennya. Kau melupakan fondasi utamanya: harmonisasi. Jika kau menurunkan suhu tungkumu sebesar dua persepuluh bagian saat memasukkan Anggrek Biru, lalu menunggu tepat tiga tarikan napas sebelum melemparkan Serigala Angin, pilmu akan berhasil terbentuk sempurna dengan tingkat kemurnian delapan puluh persen."

Mulut Lu Chen terbuka, mencoba mencari bantahan. Pikirannya sebagai tabib berpengalaman berputar liar, menyimulasikan teori yang baru saja diucapkan oleh bocah lumpuh di depannya. Matanya perlahan membelalak. Secara teori, metode itu... sangat masuk akal! Sangat brilian! Menurunkan suhu akan menenangkan pergolakan unsur air dan logam, memberikan jeda waktu bagi elemen angin untuk mengikat keduanya menjadi satu kesatuan pil yang padat.

"Siapa... siapa yang mengajarimu hal ini?" Lu Chen menatap Xinghe dengan pandangan yang sama sekali berbeda. Tidak ada lagi tatapan merendahkan, yang ada hanyalah ketakjuban yang bercampur rasa hormat tanpa sadar.

"Itu bukan urusanmu," potong Xinghe tegas, mengambil kendali penuh atas percakapan. "Aku tidak datang kemari untuk memberimu kuliah gratis tentang dasar-dasar meracik obat. Aku punya tawaran bisnis."

Lu Chen menetralkan raut wajahnya, mengelap keringat di dahi. "Bisnis apa yang bisa ditawarkan oleh seorang pemuda tanpa meridian kepadaku?"

"Aku bisa memberimu tiga formula perbaikan untuk menyempurnakan kualitas salep penyembuh luka luar, pil penambah tenaga spiritual, dan bubuk penawar racun serangga yang biasa balai ini jual. Formula ini akan membuat efektivitas obat buatanmu melonjak dua kali lipat, mengamankan posisimu sebagai tabib nomor satu di wilayah seratus mil ini."

Tawaran itu bagaikan petir di siang bolong bagi Lu Chen. Kekayaan, reputasi, dan status semuanya terpampang di depan mata. Balai pengobatannya selama ini selalu kalah bersaing dengan distributor obat dari kota provinsi. Jika apa yang dikatakan bocah ini benar...

"Sebagai gantinya?" tanya Lu Chen hati-hati, insting pedagangnya mulai bekerja.

"Dua batang Rumput Api Matahari berumur sepuluh tahun, setengah kati Akar Darah Besi, dan satu set tungku tanah liat pembakar tingkat rendah," pinta Xinghe menyebutkan harga mati.

Lu Chen terkesiap. "Rumput Api Matahari berumur sepuluh tahun? Akar Darah Besi? Benda-benda itu sangat mahal! Bahkan sekte kecil pun harus berpikir dua kali untuk membelinya dalam jumlah segitu. Untuk apa orang fana sepertimu menginginkan tanaman spiritual murni bermuatan elemen Yang sekeras itu? Tubuhmu akan meledak terbakar dari dalam jika kau nekat mengonsumsinya!"

"Pengetahuan itu lebih berharga dari sekadar nyawa seorang tabib kecil sepertimu," Xinghe memajukan wajahnya sedikit, memancarkan sedikit aura mendominasi yang masih tersisa di kedalaman jiwanya. Tekanan mental tanpa wujud itu menekan dada Lu Chen hingga ia sulit bernapas. "Terima tawaranku, atau aku akan berjalan ke kota provinsi besok pagi dan menjual formula ini pada pesaing terbesarmu di Paviliun Awan Putih."

Ancaman itu tepat mengenai titik lemah sang tabib. Lu Chen menggertakkan gigi. Nilai bahan-bahan yang diminta memang sangat tinggi, hampir menguras sebagian besar keuntungan bulanannya. Di sisi lain, potensi keuntungan dari formula perbaikan yang ditawarkan pemuda ini jauh melampaui kerugian jangka pendek tersebut.

Tepat saat Lu Chen hendak membuka mulut menyetujui transaksi, sebuah tawa sumbang dan kasar meledak dari arah pintu masuk.

"Hahaha! Lihat siapa yang sedang bertingkah sok pintar di sini! Si sampah Yan Xinghe sedang mencoba menipu Tabib Lu dengan cerita karangan!"

Xinghe tidak perlu menoleh untuk mengetahui pemilik suara menyebalkan tersebut. Hawa busuk dan langkah kaki yang berat menandakan kedatangan Zhao Meng, seorang pria berbadan kekar dengan bekas luka melintang di pipinya. Zhao Meng adalah tangan kanan Gongsun Ye, orang yang memimpin pengeroyokan tiga hari lalu, orang yang secara pribadi mematahkan tulang rusuk Xinghe dengan tendangan brutalnya.

Di belakang Zhao Meng, berdiri dua orang pengawal bayaran lainnya yang memasang wajah menyeringai mengejek. Ketiganya baru saja selesai mengumpulkan pajak keamanan dari para pedagang di pasar.

"Kudengar kau sudah mati terkapar di belakang rumahmu. Sepertinya kakiku kurang keras menendangmu waktu itu, ya?" Zhao Meng melangkah masuk dengan angkuh, sengaja menabrakkan bahunya ke rak kayu hingga botol-botol kaca di atasnya bergetar. Ia menatap Xinghe dengan tatapan predator yang menemukan mangsa lemah.

Lu Chen melangkah mundur, raut wajahnya menunjukkan rasa gentar. Klan Gongsun adalah penguasa mutlak di desa ini. Ayah Gongsun Ye adalah kepala desa yang memiliki koneksi langsung dengan sekte-sekte luar, memiliki kekuatan di tahap kesembilan Alam Penyempurnaan Tubuh. Tidak ada warga sipil yang berani mencari masalah dengan bawahan keluarga tirani tersebut.

"Zhao Meng, ini tempat bisnis. Tolong jangan membuat keributan di balai pengobatanku," ucap Lu Chen pelan, mencoba menengahi.

"Diam kau, Orang Tua!" bentak Zhao Meng kasar. "Bocah cacat ini punya hutang nyawa pada Tuan Muda. Berani-beraninya dia berjalan di wilayah kekuasaan keluarga Gongsun. Hari ini, aku akan mencabut lidahnya karena berani menipu di tempat umum!"

Zhao Meng tidak membuang waktu. Ia mengerahkan energi spiritual tingkat duanya ke tangan kanan. Otot-otot di lengannya menonjol keluar, mengalirkan kekuatan yang sanggup menghancurkan batu koral seukuran kepala manusia. Dengan raungan buas, ia mengayunkan tinjunya lurus menuju wajah Xinghe. Angin pukulan itu berdesing tajam, membawa niat membunuh yang nyata.

Kecepatan pukulan itu sangat cepat di mata orang biasa. Di mata Lu Chen, pukulan itu adalah akhir yang pasti bagi pemuda cacat tersebut. Darah akan segera mengotori lantai tokonya.

Di sudut pandang Xinghe, dunia seolah melambat drastis.

Tinju yang melesat ke arahnya tampak seperti gerakan kura-kura yang sangat kikuk dan penuh celah. Kuda-kuda pria kekar ini goyah, bahunya terlalu tegang, pusat gravitasinya sepenuhnya berpindah ke depan tanpa meninggalkan ruang untuk menarik diri kembali. Sebuah serangan bodoh yang murni mengandalkan tenaga kasar tanpa teknik sama sekali.

Jika Xinghe memiliki seperseribu saja dari kekuatannya yang dulu, jentikan jarinya cukup untuk mereduksi pria kekar ini menjadi kabut darah. Sayangnya, tubuh fana yang ia huni saat ini bahkan kesulitan mengelak dengan kecepatan penuh. Tulang-tulangnya yang baru tersambung akan kembali retak jika ia melakukan gerakan mendadak.

Pertarungan tidak selalu dimenangkan oleh yang terkuat, melainkan oleh yang paling bisa mengendalikan ruang dan ritme.

Xinghe tidak mundur. Sebaliknya, saat tinju itu hanya berjarak satu jengkal dari hidungnya, ia memiringkan kepalanya dengan sudut yang sangat sempit dan presisi luar biasa. Angin pukulan melewati pipinya, memotong beberapa helai rambut hitamnya. Di saat yang bersamaan, alih-alih memukul balik, Xinghe memajukan kaki kanannya setengah langkah ke dalam area pertahanan Zhao Meng.

Ini adalah Langkah Bayangan Hantu, sebuah teknik gerak kaki tingkat tinggi yang direduksi ke bentuk paling dasar agar bisa digunakan oleh tubuh tanpa energi spiritual.

Xinghe menggunakan sisi luar bahu kirinya untuk menyentuh ringan siku tangan Zhao Meng yang sedang melesat maju. Bukan sebuah benturan keras, melainkan sebuah dorongan lembut searah dengan laju serangan pria kekar itu.

Kombinasi antara elakan presisi, perubahan pusat gravitasi, dan sedikit dorongan searah yang tepat pada titik tumpu lengan, menciptakan sebuah efek domino yang mengerikan.

Mata Zhao Meng membelalak lebar. Pukulannya yang meninju ruang kosong tiba-tiba mendapat dorongan tambahan dari arah samping. Keseimbangannya hancur berkeping-keping. Tubuh besarnya terhuyung keras ke depan tanpa bisa dikendalikan. Layaknya seekor banteng buta yang menabrak tembok, Zhao Meng tersungkur menghantam rak kayu penyimpan obat dengan suara berdebum yang memekakkan telinga.

*Kraaak! Prang!*

Rak kayu tebal itu patah menjadi dua. Berpuluh-puluh toples kaca berisi bubuk obat dan cairan herbal jatuh menimpa tubuh raksasanya. Pecahan beling berserakan, melukai wajah dan lengannya. Zhao Meng mengerang kesakitan di lantai, terjebak dalam kekacauan barang-barang yang menimpanya.

Seluruh balai mendadak sunyi senyap. Hanya terdengar suara napas terengah-engah dari kedua pengikut Zhao Meng yang mematung di dekat pintu. Mereka tidak memercayai penglihatan mereka sendiri. Bos mereka, seorang ahli bela diri tingkat dua, baru saja dikalahkan dalam satu tarikan napas oleh pemuda rongsokan yang bahkan meridiannya telah terputus total!

Dan yang paling menakutkan, pemuda itu terlihat seperti tidak melakukan apa-apa selain berdiri menggeser posisinya.

Xinghe berdiri diam di tempatnya semula. Wajahnya pucat pasi, setetes keringat dingin mengalir dari pelipisnya. Dadanya terasa sesak luar biasa. Meskipun hanya melakukan gerakan sederhana, persendian tubuhnya yang rapuh menjerit kesakitan menahan tegangan sesaat tadi. Ia menelan paksa cairan manis berbau amis yang naik ke tenggorokannya. Ia tidak boleh menunjukkan sedikit pun kelemahan di depan musuh-musuhnya.

Tatapan mata Xinghe menyapu lambat ke arah dua pengikut yang masih mematung ngeri. Sepasang mata yang segelap malam tak berbintang, memancarkan kedinginan mutlak seorang penguasa sejati.

"Bawa tumpukan daging busuk itu keluar dari pandanganku sebelum aku mematahkan lehernya." Suara Xinghe begitu datar, namun tekanan aura di balik nada bicaranya membuat kedua preman itu merinding hebat. Naluri bertahan hidup mereka menjerit histeris memperingatkan bahwa pemuda di hadapan mereka saat ini bukanlah seekor domba lumpuh, melainkan monster buas purba yang sedang tertidur.

Tanpa berani mengeluarkan satu patah kata pun, kedua preman itu buru-buru mengangkat tubuh mengerang Zhao Meng dari puing-puing rak, menyeretnya keluar dari balai obat dengan langkah seribu, meninggalkan jejak darah yang menodai lantai kayu.

Xinghe perlahan menoleh menatap Tabib Lu Chen yang tubuhnya kaku mematung di balik meja konter, masih memegang mangkuk batunya dengan mulut setengah terbuka. Kejadian singkat tadi menghancurkan seluruh pandangan dunia sang tabib. Ia tidak bisa melihat jejak energi spiritual sedikit pun saat Xinghe bergerak, yang berarti pemuda itu murni menggunakan teknik bela diri tingkat dewa yang efisiensinya melampaui pemahaman akal sehat.

Kengerian merayapi punggung Lu Chen. Siapa sebenarnya yang ada di hadapannya ini? Pemuda cacat yang diinjak-injak seluruh desa, atau seorang jenius tersembunyi yang ditutupi oleh awan kebohongan?

"Jadi," Xinghe memecah kesunyian, suaranya kembali netral seolah kejadian kekerasan barusan hanyalah insiden kecil menjatuhkan debu dari jubah. "Kembali ke bisnis kita. Apakah kau menerima persyaratanku, Tabib Lu?"

Lu Chen tersentak dari lamunannya. Menelan ludah dengan susah payah, ia mengangguk berulang kali. "Y-ya! Tentu saja. Tunggu sebentar, aku akan menyiapkannya langsung dari ruang penyimpanan khusus."

Pria paruh baya itu bergegas ke ruang belakang dengan langkah tergesa. Rasa hormat dan ketakutan telah mengakar kuat di hatinya. Beberapa menit kemudian, ia keluar membawa sebuah kotak kayu cendana kecil dan sebuah tungku tanah liat sederhana berukuran sepelukan orang dewasa. Di dalam kotak itu, tersimpan rapi dua batang rumput berwarna merah menyala yang memancarkan hawa panas murni, serta beberapa akar keras berwarna hitam legam dengan guratan merah menyerupai darah. Semuanya berkualitas tinggi.

Xinghe menerima barang-barang itu. Sebagai gantinya, ia meminta secarik kertas dan kuas, lalu dengan cepat menuliskan tiga formula perbaikan yang dijanjikannya. Tulisan tangannya tegas, tajam bagai tebasan pedang, membekas kuat di atas kertas.

"Gunakan rasio takaran yang kutulis dengan disiplin mutlak. Gagal mengikuti satu langkah berarti kau membuang uangmu ke dalam lubang jamban," pesan Xinghe tegas seraya menyodorkan kertas tersebut.

Lu Chen menerima kertas itu dengan kedua tangannya seolah menerima kitab suci pusaka turun-temurun, matanya menyapu deretan instruksi dengan penuh rasa syukur. "Terima kasih, Tuan Muda Yan. Kebaikan ini... akan selalu kuingat. Namun, tolong berhati-hatilah. Gongsun Ye tidak akan tinggal diam setelah bawahannya dipermalukan sedemikian rupa."

"Mereka yang seharusnya berhati-hati melangkah di depanku," gumam Xinghe pelan. Ia mengangkat tungku dan kotak kayu tersebut, berbalik meninggalkan balai tanpa menoleh ke belakang lagi.

Perjalanan pulang terasa sepuluh kali lipat lebih berat. Beban tungku tanah liat yang disandangnya menekan pundak dan punggungnya secara tanpa ampun. Otot-ototnya menjerit, napasnya tersengal parah. Xinghe berjalan melambat, memanfaatkan *Seni Penempaan Tulang Sembilan Kesengsaraan* tingkat paling dasar sekadar untuk terus memaksakan jantungnya memompa darah dengan ritme yang stabil.

Di pertengahan jalan, ia berpapasan dengan kakaknya, Yan Qingshan, yang memanggul ikatan kayu bakar besar di punggung yang kekar. Wajah kakaknya keras, dipenuhi debu dan keringat, menampilkan gurat kelelahan yang sangat dalam untuk pemuda berusia delapan belas tahun.

Melihat adiknya yang seharusnya terbaring lumpuh tengah berjalan terhuyung memanggul sebuah tungku obat, mata Qingshan membelalak lebar. Ia menjatuhkan tumpukan kayunya ke tanah, bergegas berlari menghampiri Xinghe dengan raut wajah panik.

"Xinghe! Apa yang kau lakukan di luar?! Tubuhmu belum sembuh, kau bisa mati jika terus memaksakan diri!" bentak Qingshan, nadanya keras dipenuhi teguran, sekaligus kecemasan tulus seorang kakak sulung yang terlalu banyak menanggung beban kehilangan. Tangan besarnya segera meraih tungku tanah liat dari pelukan adiknya.

Xinghe tidak menolak bantuan itu. Menurunkan sedikit kekeraskepalaannya, ia menatap wajah kakaknya yang dipenuhi kekhawatiran. "Aku menemukan cara untuk mengobati ibu, Kakak. Aku harus meracik penawarnya hari ini juga."

Langkah Qingshan terhenti mendadak. Ia menatap lekat mata adiknya, mencari kebohongan atau sisa-sisa keputusasaan yang biasa ia lihat. Yang ia temukan hanyalah sebuah lautan ketenangan yang begitu dalam, mantap dan memancarkan keyakinan mutlak. Tatapan itu menembus pertahanan keras sang kakak.

Tanpa banyak bertanya lebih lanjut mengenai dari mana bahan dan tungku itu berasal, Qingshan memanggul kembali kayu bakarnya dengan satu tangan dan memegang tungku dengan tangan yang lain. "Ayo pulang. Angin di luar tidak bagus untuk tulangmu."

Sesampainya di rumah, hari menjelang siang. Xinghe tidak membuang waktu. Ia memerintahkan Xiaoxiao untuk membawa ibunya ke kamar yang lebih tertutup rapat. Di area belakang gubuk, Qingshan bertugas membuat perapian dari batu bata seadanya dan menyalakan api kayu sekuat mungkin.

Kini, pertarungan sesungguhnya dimulai. Meracik obat tanpa kekuatan spiritual.

Seorang tabib normal mengandalkan aliran energi spiritual dari telapak tangannya untuk mengatur temperatur secara absolut dari luar tungku. Xinghe, yang saat ini memiliki meridian layaknya jaring laba-laba robek, tidak memiliki kemewahan tersebut. Ia harus mengandalkan intuisi fana, pendengaran, dan perhitungan waktu yang presisi gila-gilaan.

Ia mencuci Akar Darah Besi dengan air sungai bersih, memotongnya menjadi irisan setipis sayap jangkrik menggunakan pisau dapur kusam milik keluarganya. Pisau itu bergerak berirama di atas talenan kayu reyot, gesekannya terukur seperti detak jarum jam. Selanjutnya, ia menyiapkan daun Rumput Api Matahari yang panasnya menyengat jari.

Air di dalam tungku tanah liat mulai mendidih, mengeluarkan gelembung-gelembung besar berbunyi keras.

"Kakak, kurangi kayu bakarnya setengah. Jaga agar nyala api tetap berwarna jingga di bagian dasarnya," perintah Xinghe datar, matanya terpaku pada pergerakan air.

Qingshan, yang terbiasa patuh pada ayahnya dalam urusan pertukangan, tanpa sadar segera mematuhi instruksi adiknya dengan sigap.

Xinghe melemparkan irisan Akar Darah Besi ke dalam air mendidih. Asap kehitaman berbau karat perlahan mengepul ke udara. Ia menggunakan sebatang ranting bambu panjang untuk mengaduk rebusan itu. Ritme adukannya bukanlah gerakan memutar biasa. Kadang ia mengaduk searah jarum jam perlahan, lalu tiba-tiba berbalik arah dengan hentakan tajam, membentuk pola-pola pusaran aneh di dalam air.

Ritme ini adalah formasi mini, *Pusaran Elemen Pengekstrak Inti*. Sebuah metode kuno pemurnian bahan dari Era Primordial yang sudah lama hilang ditelan peradaban modern. Gerakan air yang berbenturan satu sama lain secara terus-menerus memaksa esensi akar tersebut keluar dari serat kasarnya, mengubah warna air menjadi merah darah pekat.

Keringat bercucuran deras dari dahi Xinghe. Paru-parunya terasa panas akibat menghirup uap rebusan tersebut. Tangan fana-nya mulai gemetar menahan pegal, otot lengannya kejang. Ini adalah sebuah pertarungan ketahanan fisik dan konsentrasi jiwa. Jiwanya kuat menopang, tubuhnya meronta menjerit kelelahan.

"Sekarang!" teriak Xinghe dengan suara serak. "Tarik sisa kayu apinya! Biarkan sisa panas bara bekerja!"

Qingshan dengan sigap menarik balok kayu menyala keluar menggunakan capit besi.

Di detik tepat saat suhu mulai menurun dan gelembung air menyusut, Xinghe melempar satu tangkai utuh Rumput Api Matahari ke tengah pusaran yang masih berputar. Begitu daun menyentuh air berdarah tersebut, ledakan kecil energi Yang terjadi. Suara mendesis kencang terdengar. Xinghe segera menutup tungku tersebut dengan rapat menggunakan lempengan kayu tebal, menindihnya dengan batu pemberat.

"Selesai. Biarkan terkurung hingga suara mendesisnya hilang total," ujar Xinghe sambil melepaskan ranting pengaduknya. Ia terhuyung mundur dan jatuh terduduk di tanah bersandar pada dinding gubuk, kehabisan tenaga sepenuhnya. Napasnya memburu seperti ditarik paksa dari dalam kerongkongan.

Qingshan menatap adiknya dengan rasa takjub campur khawatir. Proses peracikan tadi jauh dari metode tabib yang pernah ia lihat di desa, terlihat primitif sekaligus memiliki aura magis yang tak bisa dijelaskan. "Kau berhasil...?"

Xinghe hanya mengangguk pelan sembari memejamkan mata.

Satu jam kemudian berlalu penuh ketegangan. Suara letupan terakhir dari dalam tungku padam. Menggunakan lap kain tebal, Xinghe mengangkat tutup tungku yang panas menyengat. Asap kemerahan mengepul wangi ke udara, menghangatkan udara di sekeliling gubuk. Di dasar tungku tersebut, tersisa setengah mangkuk cairan kental berwarna merah delima transparan, berkilau memancarkan hawa hangat yang menenangkan jiwa. *Penawar Ekstrak Api Besi*.

Dengan tangan bergetar kelelahan, didampingi kakaknya, Xinghe membawa mangkuk kayu itu masuk ke dalam kamar tidur. Xiaoxiao menatap bingung saat melihat cairan aneh yang bercahaya itu.

"Bantu angkat kepala ibu sedikit," bisik Xinghe pada adiknya.

Xiaoxiao memegang pundak ibunya dengan lembut. Xinghe menggunakan sendok kayu kecil, secara hati-hati menuangkan cairan hangat tersebut sedikit demi sedikit ke mulut Shen Yulan yang kering.

Bahkan tidak butuh waktu lama bagi keajaiban tingkat dewa bereaksi. Begitu tegukan ketiga tertelan, tubuh pucat pasinya mulai mengeluarkan uap tipis. Es dingin yang selama berminggu-minggu menyelimuti auranya perlahan mencair. Semburat rona merah merambat naik ke pipi wanita malang itu. Napasnya yang putus-putus kini menjadi tarikan yang panjang dan teratur. Denyut nadinya kembali berdetak dengan irama yang kuat, mengusir sisa racun beku secara paksa keluar dari pori-pori kulitnya bersamaan dengan keringat hitam kotor.

"I... Ibu bernapas dengan normal," isak Xiaoxiao pelan, air mata bahagia membasahi pipi kecilnya. Ia menenggelamkan wajahnya ke dada sang ibu, menangis sejadi-jadinya melampiaskan seluruh ketakutan dan stres yang ditahannya berhari-hari.

Qingshan yang berdiri mematung di ambang pintu mengepalkan kedua tangannya erat-erat, matanya berkaca-kaca menatap lantai kayu, menahan emosi yang meluap di dalam dada. Ketangguhannya sebagai tulang punggung keluarga seolah runtuh seketika melihat mukjizat di depan matanya. Ibunya akan hidup. Beban terberat yang mengimpit lehernya telah terangkat.

Xinghe meletakkan mangkuk kosong itu di meja. Ia menatap wajah keluarganya satu per satu. Ada perasaan hangat tak terlukiskan menyebar dalam relung jiwanya yang kelam. Untuk pertama kalinya dalam kehidupannya sebagai kaisar maupun reinkarnasi, ia merasakan bahwa melindungi nyawa seseorang jauh lebih memuaskan daripada memenggal seribu kepala musuh.

Sebuah pencerahan kecil bersinar di inti jiwanya. Mungkin, inilah jalan kultivasi yang hilang darinya di kehidupan sebelumnya; jalan menuju kesempurnaan sejati yang tidak mengabaikan akar kemanusiaan.

Hari mulai beranjak gelap. Malam turun menutupi Desa Kabut Berbisik. Setelah memastikan ibunya tertidur pulas dalam keadaan aman dan Xiaoxiao beristirahat di sisinya, Xinghe menyeret langkahnya yang kembali berat menuju pekarangan belakang rumah.

Bintang-bintang mulai bermunculan di langit kelabu, berkerlap-kerlip jauh di bentangan Tiga Ribu Dunia di luar sana.

Perut Xinghe berbunyi pelan. Kelaparan mulai menyerang, menyadarkannya pada realitas yang menyedihkan. Masalah ibu telah teratasi, pundi-pundi uang tabib desa telah ia manfaatkan dengan baik. Akan tetapi, di dunia di mana anjing memakan anjing ini, ancaman sesungguhnya masih menanti.

Keluarga Gongsun tidak akan berdiam diri menerima penghinaan hari ini. Menghadapi Zhao Meng yang lamban adalah satu hal. Menghadapi barisan kultivator tingkat menengah, atau bahkan Gongsun Ye yang konon telah mencapai tingkat kelima Alam Penyempurnaan Tubuh, adalah masalah yang sama sekali berbeda.

Ia tidak bisa terus menerus mengandalkan tipu daya teknik untuk mengalahkan lawan. Jika sebuah batu yang berat dilemparkan, semua trik presisi dari seutas benang laba-laba akan hancur seketika. Tubuhnya harus diperkuat, batas limitnya harus dihancurkan.

Xinghe duduk bersila di atas tanah yang lembap, membiarkan embun malam mulai menempel di helai rambutnya. Ia mulai memusatkan pikirannya, menarik udara dingin malam secara lambat, mengaktifkan kembali putaran awal *Seni Penempaan Tulang Sembilan Kesengsaraan*.

Rasa sakit ngilu itu kembali datang, kali ini menyasar sumsum di bagian tulang punggungnya. Sensasinya menyerupai gigi-gigi gergaji berkarat yang menggerus tulangnya inci demi inci. Xinghe menggertakkan giginya menahan erangan. Keringat dingin kembali membanjir.

Tubuh fana ini adalah cawan retak. Ia harus menghancurkannya berkeping-keping untuk menyusun ulang sebuah mahakarya dari leburan lumpur dan darah. Proses yang menyakitkan, lambat, penuh penderitaan, mendaki tebing curam menuju langit tertinggi, langkah demi langkah, tetes darah demi tetes keringat.

Malam itu, di sebuah sudut sempit Benua Tanah Spiritual, bara api kecil seorang mantan kaisar yang menolak tunduk pada nasib kembali meronta dalam keheningan absolut, bersiap untuk membakar seisi kosmos pada waktu yang telah ditakdirkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!