NovelToon NovelToon
SKENARIO TUAN DANENDRA

SKENARIO TUAN DANENDRA

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Dijodohkan Orang Tua / Duda
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Lovelyiaca

[TAHAP REVISI] [UPDATE 3 HARI SEKALI]

Elleta Clarissa Crassia, ia tahu bahwa nama belakangnya bukanlah hal yang harus di banggakan. Terlahir dari keluarga pengusaha sukses membuatnya menahan beban yang tak seharusnya ia pikul. Keputusan sang ayah membuatnya tak memiliki pilihan, sebuah perjanjian bisnis dengan kata "pernikahan."

Elleta di jodohkan dengan laki-laki, pewaris utama keluarga Danendra. Steve Athariz Danendra, laki-laki dingin yang katanya tak pernah tersentuh. Dan semuanya berawal dari sana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lovelyiaca, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Prolog : Harga Sebuah Keamanan

Elleta Clarissa Crassia punya cara tersendiri menikmati kopi di matahari yang baru terbit. Kedamaian yang selama ini ia cari. Hanya di San Diego, California. Dia menemukan arti kebebasan yang sesungguhnya. Jujur ia nyaman dengan keadaannya sekarang. Seketika itu semua hilang seperti tertelan ombak. Laki-laki yang tak ia harapkan kehadirannya datang jauh-jauh untuk menemuinya. Sosok yang asing sekaligus dekat.

Udara di sekitarnya terlihat diam-diam menghilang menjadi sesak di dada. Yuda Crassia, papanya. Siapa yang tidak kenal laki-laki paruh baya yang sekitar umurnya lima puluh tahun. Entah apa yang membuat laki-laki itu, datang dari Jakarta ke California.

"Enam tahun, papa cari kamu. Apa ini caramu bersembunyi, apartemen kumuh! Ini tempat yang kamu tinggali, El," suara Yuda tenang, tetapi menyimpan rasa penekanan.

Mata legam laki-laki itu, menyusuri setiap isi apartemennya. Hingga matanya tertuju ke sebuah foto polaroid dirinya dan Daniel Alvarez, Kekasihnya. Di dalam foto itu terlihat ia dan Daniel yang tertawa riang di bawah terik mentari Santa Barbara. Sudut bibir Yuda terangkat, kekehan ringan muncul bergema ke apartemen minimalisnya.

"Apa yang membuat papa ke sini? Aku tetap enggak akan pulang! Aku cuman mau hidup tanpa pengawasan Papa!" jelas Elleta lantang, mencoba membatasi dirinya dengan aura papanya yang tidak bersahabat.

Yuda tersenyum miring. Meneliti penampilan Elleta yang sangat jauh dari kata layak. "Tinggal di sini? Hidup di sini dengan laki-laki miskin itu? Apa yang dia ajarkan padamu, Elleta? Daniel?!" papanya menyebut nama Daniel seakan menyebut kotoran yang menempel di sepatu mahalnya.

Apa yang ia lewatkan selama ini batin Yuda dalam hati. Melihat putrinya yang sudah beranjak dewasa, berani menentangnya. "Apa yang membuatmu betah tetap tinggal di sini? Kamu tahu, kamu anak siapa? Anak seorang raja bisnis, El. Kamu satu-satunya harapan untuk bisnis ini. Kamu terlahir dari keluarga terhormat. Beraninya kamu! Bersanding dengan laki-laki yang tidak jelas asal usulnya!" Urat-urat leher Yuda tercetak jelas, amarah yang tertahan siap meledak. Hingga matanya tertuju pada sofa yang ia duduki, ada rasa jijik yang hinggap.

Elleta menatap papanya dengan tajam, siap bertempur ucapan dari mulutnya. "Daniel orang baik, Papa aja yang enggak kenal dia. Selama ini Elleta aman-aman aja hidup sama Daniel, kenapa papa tiba-tiba datang tanpa kabar!" sungut Elleta tak suka, mata yang memerah menahan amarahnya.

Elleta menghela napas dalam-dalam, melanjutkan ucapannya. "Seengaknya Daniel punya cinta yang tulus dari Elleta. Tanpa memandang siapa status keluarga. Enggak kayak papa!" bela Elleta, tak kuasa menahan air matanya di hadapan laki-laki tua itu.

Lagi-lagi senyum remeh itu muncul, membuat tangannya mengepal di balik baju. "Cinta? Kamu mau makan dengan cinta? El! Selama ini kamu hidup penuh kemewahan, kamu sanggup hidup tanpa kemewahan?"

Yuda menjeda ucapannya, menyilangkan kedua lengannya di dada. Memberikan penekanan di setiap kata yang laki-laki itu ucapkan. "Hanya satu perintah dariku, El. Pilih pulang secara sukarela dengan tiket Jakarta atau Danielmu mati di tanganku? Semua Keputusan ada di tanganmu, El."

Elleta menegang dengan ancaman itu. "Aku tetap mau disini!"

Yuda mengambil ponsel di sakunya, mengetik nomor orang kepercayaannya. Sambungan telepon itu terhubung, dia memencet tombol panggilan itu dengan gaya angkuh. "Halo, bunuh laki-laki yang bernama..."

Papanya belum menyelesaikan ucapannya, Elleta lebih dulu merebut ponsel itu. "Oke, aku ikut papa besok. Tapi aku mohon, papa jangan sentuh kak Daniel."

Yuda tersenyum puas sampai matanya menyipit. "Bagus! Itu pilihan yang bagus, Elleta. Besok sopir datang menjemputmu jam delapan pagi. Papa pengan kata-katamu, jangan berpikir untuk kabur, El."

Laki-laki paruh baya itu bangkit dari duduknya, melangkah keluar dari apartemennya. Saat pintunya tertutup kembali. Tubuh Elleta seketika runtuh di lantai kayu yang dingin. Hingga rasanya menusuk ke kulitnya. Ia memeluk lututnya erat-erat, meraup oksigen ruangan itu yang ikut menguap bersama kepergian papanya.

Bayangannya saat nanti menginjak ke Jakarta berputar di benaknya seperti kaset rusak. Masa kebebasan yang ia idamkan akan hilang begitu saja. Papanya tidak ada diam, segala cara dilakukan untuk memantaunya 24 jam penuh.

Benda pipih di tangan bergetar, di layarnya muncul nama kontrak Daniel. Ada rasa enggan yang timbul untuk mengangkat panggilan itu. Dengan rasa terpaksa ia mengangkat panggilan telepon itu dengan tangan yang masih gemetar.

"Halo, El? Kamu masih di apartemenmu? Mau aku mampir ke apartemenmu, apa sekalian aku bawa macaron kesukaanmu." Suara yang selama ini menghangatkan hari-harinya. Tenang dan halus mencerminkan kepribadian laki-laki itu.

Namun, Elleta tersadarkan oleh ancaman papanya yang bisa melenyapkan laki-laki itu dalam semalam. Rasa dadanya terasa di iris benda tajam.

Dia tak sanggup mengeluarkan sepatah kata, bibirnya keluh. Hanya air matanya yang menjadi jawaban runtuhnya ia hari ini.

"Halo, El? Kamu masih di sana?" Nada suara Daniel mendadak berubah. Ada khawatiran setiap nadanya. Sunyi terlalu diam tak ada jawaban, di seberang telepon bisa berpikir buruk.

Elleta buru-buru mematikan panggilan itu secara sepihak. Ia membiarkan ponselnya terlepas dari genggamannya. Kali ini, tolong izinkan ia menumpahkan air matanya yang tertahan terlalu lama.

Isak tangis yang memekikkan telinga memenuhi seluruh apartemen minimalisnya. Ia membenamkan wajahnya di antara kedua lututnya.

Di tempat lain, di apartemen itu hanya beberapa belok dari apartemen Elleta. Laki-laki itu menatap nanar di ponselnya yang sudah mati layarnya. Ia masih belum mengerti di balik tembok apartemennya. Ada rasa janggal yang hinggap di hatinya.

"Apa yang sebenarnya terjadi sama kamu, El," bisik Daniel pelan, sorot matanya yang tenang berubah menjadi tajam penuh tanda tanya di benaknya.

1
Maryati ramlin
cerita bagus di tunggu kelanjutan
Lovelyiaca: Terima kasih sudah membaca karyaku, di tunggu kelanjutannya ya 🥰🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!