NovelToon NovelToon
RATU GEMUK MILIK RAJA BURUK RUPA

RATU GEMUK MILIK RAJA BURUK RUPA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Transmigrasi / Sistem
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Tanya Balik

masih up, cuma jarang!


Morline terlempar ke dalam novel sebagai istri gemuk sang antagonis, kehidupannya seharusnya berhenti di sana namun dia tak hidup mengenaskan sebagai karakter figuran. Morline harus bangkit, mengubah hidupnya lebih baik lagi dan lebih baik lagi.


Cedric kini mulai menyadari bahwa gadis gemuk yang selama ini dia anggap remeh ternyata memiliki rahasia yang luar biasa. perlahan dan tanpa Cedric sadari dia mulai terjerat dalam rencananya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tanya Balik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10. misi sampingan atau harian?

Menjalankan misi sampingan.

...

Kejanggalan Erma, Morline tulis di daftar penyelidikan bersama beberapa kasus tak wajar. Sebenarnya bukan hanya Erma yang menjadi perhatian Morline, tapi beberapa laporan tak wajar yang masih perlu pembuktian.

Satu hari penuh, Morline berada di ruang kerjanya untuk mencocokkan laporan keuangan dengan pembuktian seperti kwitansi, barang yang dibeli, tabungan istana, dan berapa uang yang keluar masuk. Semua itu Morline cocokkan, meski kemungkinan besar ada penyelewengan karena tidak adanya transparansi tapi Morline akan bertanya secara langsung pada orang-orang yang bertanggung jawab.

Rata-rata dari mereka menjawab dengan logis serta bukti yang dapat dipercaya, lalu beberapa orang menjawab dengan ambiguitas hingga Morline memasukkan mereka dalam daftar penyelidikan.

Setelah semuanya selesai, Morline menemui Joseph yang sedang istirahat di kamarnya. Kata Chasi pria itu mendadak tak enak badan jadi dia menjenguknya.

Chasi membuka pintu untuknya, Morline tanpa peringatan masuk dan terkejut ketika melihat pria berdiri menjulang di dekat ranjang Joseph. Morline segera menunduk. "Salam yang mulia raja."

Cedric berbalik, kilauan dari pantulan cahaya pada topeng perak itu sedikit menyilaukan. Morline sedikit mengerutkan alisnya, dia menatap Cedric dengan senyuman tipis. "Yang mulia di sini juga? Saya ke sini setelah mendengar Joseph sakit. Apa anda sudah lama di sini?" Morline melangkah, Cedric justru menjauh. Morline menatapnya dengan satu alis terangkat lalu senyumnya melebar. Dia tak peduli pada pria itu, dia hanya ingin melihat keadaan Joseph.

"Yang mulia."

"Tidak apa-apa Joseph, kau sedang sakit. Berbaringlah saja. Apa sudah di periksa dokter Arten?"

"Kami sedang menunggu." Jawab Joseph.

"Yang mulia saya datang." Arten dengan langkah tergesa masuk ke kamar. Keadaan pria itu masih sama, kacau dan berantakan. "Maafkan saya terlambat." Dia segera mendekat ke ranjang Joseph, memeriksakan denyut nadi, lidah dan bertanya apa keluhan Joseph. Arten langsung bisa menyimpulkan. "Joseph hanya kurang istirahat, dia sudah tua dan sebaiknya jaga pola makan serta tidur, itu penting. Jangan banyak berpikir. Tulangmu juga sudah mulai keropos, jangan banyak bekerja."

"Kalau tidak bekerja siapa yang mengurus istana?" Joseph terdengar kesal.

"Ada aku, biar urusan istana serahkan padaku saja." Morline menimpali. "Aku sudah bisa menanganinya, saat ini aku membuat daftar penyelidikan. Hal-hal yang perlu diselidiki seperti kasus Erma tadi."

"Erma?" Arten mengulang namanya. "Bukankah dia yang mengurus pembelian barang istana?"

"Ya, dia masuk dalam penyelidikan  karena tidak bisa membuktikan laporannya. Di laporan yang ditulis 3 bulan sekali, Erma membeli kain wol 100 dengan harga 200 koin emas, itu banyak bukan? Tapi dia tak bisa membuktikan bahkan barangnya saja aku tak lihat."

"Jelas dia menggelapkan dana, kenapa tidak tangkap saja?" Cedric yang sedari tadi diam, menimpali pembicaraan mereka.

Morline menatapnya, tatapannya tenang. "Saya masih memberikan kesempatan untuk membuktikan diri bahwa dia tak salah, bersamaan dengan itu saya juga sudah menyuruh orang untuk menyelidikinya. Jadi kalau dia berhasil membuktikan laporannya benar, saya tinggal meminta hasil penyelidikannya saja. Apakah itu valid atau tidak."

"Kalau boleh saya tahu siapa saja yang masuk dalam daftar penyelidikan itu yang mulia?" Joseph yang setengah berbaring bertanya.

"Kenapa kau ingin tahu?"

"Barangkali saya bisa membantu."

"Tidak perlu, kau sedang sakit dan Arten bilang agar kau tak banyak pikiran. Biar aku saja, aku mampu. Oh, ya. Mumpung kita semua di sini, kita bicarakan tentang yang mulia?" Morline menatap Cedric yang memakai topeng perak, pria itu memang tinggi hingga dia harus mengangkat kepala.

Di balik topeng, alis Cedric bertaut. Mata ambernya lurus pada Morline yang entah kenapa mendadak menyeretnya.

"Yang mulia kan sedang sakit juga, kan? Bagaimana kalau diperiksa dokter Arten sekalian. Saya juga mau lihat."

"Tidak!"

Morline melebar matanya terkejut, dia berkedip dua kali. "Lho kenap..."

"Tidak! Arten pastikan kondisi Joseph membaik." Cedric melangkah lebar dan keluar dari kamar. Kabur dari Morline karena tak ingin mendengar permintaan yang tak bisa Cedric turuti itu.

"Tunggu yang mulia!" Morline mengejar. Nina yang menunggu di luar tampak terkejut melihat Morline berlari menyusul Cedric. "Saya punya permintaan."

Cedric tak membalas, langkahnya cepat dan lebar.

"Aduh kok cepat sekali sih, yang mulia saya punya permintaan. Tunggu, duh." Dengan kaki gemuk dan pendeknya, Morline harus berlari hanya untuk bisa sejajar dengan Cedric. Dia kesulitan bukan hanya kondisi fisiknya yang gemuk, tapi juga gaun yang dia pakai menghambatnya. "Awwh!"

Morline mundur beberapa langkah dengan dahi yang terasa berdenyut karena menabrak sesuatu yang keras. Mendongak, ternyata Cedric sudah berdiri diam menghadapnya. Topeng perak itu menghalangi Morline untuk menatap wajahnya.

"Kenapa?" Suara Cedric terdengar seperti geraman beruang karena wilayah teritori-nya diganggu.

Morline tersenyum saja untuk menutupi rasa gugup dan takut. "Itu, saya ingin terlibat dalam urusan kerajaan. Bolehkah saya..."

"Ya, terserah kau saja. Kau memang bertugas membantuku untuk mengurus kerajaan ini."

Wajah Morline cemberut karena omongannya dipotong. "Tapi kan anda raja, kontribusi anda harus lebih besar dari saya. Kapan anda akan muncul di khalayak umum lagi? Pasti para pejabat dan bangsawan akan berasumsi lebih parah lagi."

"Entah."

"Entah? yang pasti dong. Saya bantu, ya. Saya akan mendampingi anda. Anda hanya perlu percaya diri dan percaya pada orang yang layak anda percayai, contohnya saya." Morline menaruh kedua tangannya di dadanya untuk menunjuk dirinya sendiri.

Dibalik topeng mata Cedric memicing. Dia membungkuk untuk menatap Morline lebih dekat. Suara bisik yang teredam topeng terdengar serak di telinga Morline. "Kau hanya ratu yang aku manfaatkan untuk kepentinganku sendiri, jangan coba untuk menjadi lebih."

Morline terdiam sesaat untuk mencerna, lalu menjauhkan sedikit wajahnya. Menatap tepat di kedua lubang matanya. "Apa anda mengira saya sedang mengejar anda?"

"...."

Morline tersenyum untuk menahan tawa karena tingkat kepercayaan Cedric melebihi ekspektasi-nya. "Saya begini karena memikirkan rakyat, mereka ingin melihat anda. Beberapa pejabat bahkan sempat protes karena anda selalu mengutus tangan kanan anda untuk turun tangan. Jadi mohon belas kasih anda pada kami, yang mulia. Kami membutuhkan anda kembali."

Cedric menjauhkan wajahnya dengan tatapan terkunci pada wajah Morline yang gemuk dan lebar. Pipinya seperti tupai yang menyimpan banyak kacang.

Gadis ini tak cantik, juga tak menarik namun bagaimana dia bisa dia begitu percaya diri? Pertanyaan itu mendadak muncul di kepalanya.

Cedric yakin, dengan tubuhnya yang lebar itu, Morline pasti menjadi bahan perbincangan para nyonya bangsawan, apalagi nona-nona bangsawan yang setiap hari bergosip. Seharusnya Morline juga tahu akan hal itu, tapi kenapa dia justru tampak tenang seolah tak terjadi apapun di belakangnya?

Mereka cukup lama terdiam saling menatap, Cedric untuk beberapa saat terjerat dalam pemikirannya sementara Morline mempertanyakan apa yang sedang Cedric pikirkan.

"Akan aku pikirkan." Cedric memutar tubuhnya dan langkahnya cepat menjauh.

Morline mengendus pelan. Bergumam; "aku kira dia sudah ambil keputusan, ternyata hasilnya masih sama. Kapan sih egonya turun?"

☆☆☆☆☆☆

"Gengi! Apakah kau akan menghadiri rapat lagi?"

Gengi tangan kanan Cedric yang sedang berdiskusi dengan Kesha, koki dapur menoleh saat mendengar suara Morline, bersama dua dayangnya dia berjalan mendekati mereka.

Wajahnya cerah seperti biasa, auranya seperti mentari pagi hari yang hangat. Membuat siapapun yang melihatnya merasa senang.

Gengi, tangan kanan Cedric dan orang kepercayaannya, beberapa kali bertemu Morline entah itu karena urusan kenegaraan atau hanya bertemu tanpa sengaja seperti hari ini.

“Ya yang mulai, saya sedang berdiskusi mengenai jamuan rapat hari ini dengan koki istana. Karena tuan Joseph sedang tak sehat, saya harus mengurus semuanya.” Gengi menjawab.

Morline mengangguk, “kalau begitu aku akan membantumu di rapat hari ini. Aku ikut rapat.”

Gengi dan Kesha mengerutkan dahi mereka samar. “Ikut rapat yang mulia?” Ulang Gengi ingin memastikan.

“Ya, ikut rapat denganmu. Sebagai orang kepercayaan raja tentu bersamamu para pejabat itu tak akan protes kalau aku ikut masuk bukan? Bilang saja aku mau belajar dan sekedar ingin tahu, agar mereka tak bertanya macam-macam nantinya.”

“Tapi yang mulia, hal itu tentu akan…”

“Aku tau, mereka akan menentang. Sudah aku katakan bukan solusinya tadi? Bilang saja begitu pada mereka. Oh, ya aku mengumpulkan beberapa data tentang konflik wilayah di selatan. Mungkin ini bisa membantu.” Dengan pengertian, Chasi menyerahkan beberapa lembar laporan yang pada Morline.

Laporan itu Morline tulis dua hari sebelumnya, saat laporan khas kerajaan dia baca, di sana dia melihat anggaran negara mengalir ke sektor yang tidak prioritas. Seperti pembangun monumen di kota V, pelebaran istana dan pembangunan gereja di ibu kota, semua itu tak terlalu penting untuk menjadi atensi utama mereka.

Karena itu, Morline memeriksa peluang realokasi dana. Hasilnya, dia memutuskan untuk mengalihkan seluruh dana tersebut ke sektor yang lebih membutuhkan.

Namun bukan hal mudah mewujudkan ide itu, tentu butuh kesepakatan dari pihak terkait meski dia yakin akan ada yang menentangnya di rapat nanti. Terutama pihak gereja yang selalu bertentangan dengan raja karena perbedaan ideologi.

Marline tahu jika Cedric ingin melepaskan pengaruh gereja dari istana sejak dia masih menjadi putra mahkota. Namun meski Cedric telah menjadi raja, otoritasnya tak bisa begitu saja mencopot pengaruh gereja yang sudah mengakar di istana.

Maka dari itu Morline sudah menyiapkan rencana ini.

.

Gengi tak bisa menolak keinginan Morline untuk ikut serta dalam rapat pejabat. Selain karena dia seorang ratu sekarang, Cedric juga mengatakan jika Morline memiliki hak yang sama dengannya jadi Gengi tak bisa begitu saja menolaknya.

Dia hanya bisa mengizinkannya, meski tahu di aula rapat nanti suasananya pasti akan memanas.

Meja panjang di aula rapat sudah dipenuhi oleh menteri yang hadir di rapat pagi ini. Wajah-wajah mereka tampak seperti orang yang siap bertarung, kelam dan seram. Duduk tegak saling berhadapan satu sama lain, ada menteri pertanian yang memiliki banyak keluhan di kepalanya, di seberangnya jenderal perang yang tubuhnya tegap dan berotot, kulitnya gelap terlihat sedikit kasar. Lalu ada uskup dengan jubah putihnya yang tampak tenang.

Dari sisi kanan, Gengi muncul. Melihat Gengi, mereka mulai bersuara.

“Di mana yang mulia raja? Kenapa selalu ada yang hadir di rapat ini?” Salah satu menteri bertanya ketika Gengi menaruh laporan di atas meja.

“Saya sudah mengatakan yang mulia sedang sakit, tak bisa menghadiri rapat.”

Menteri itu berdecak dengan terang-terangan. “Lagi-lagi alasannya begitu. Katakan saja beliau sedang tergila-gila dengan putri dari Thalva itu.”

“Yang mulia memang sedang sakit, tidak hanya fisik tapi beliau juga memiliki luka hati. Kita tak pernah tahu kapan beliau sembuh terkecuali dari kemauannya sendiri .” Suara jernih yang lembut membuat mereka tertegun.

Morline muncul bersama dayangnya. Dia tersenyum dan menunduk sedikit untuk menyapa semua pejabat Hesperias . “Saya akan ikut mengikuti rapat ini.”

Kehadiran seorang wanita di meja rapat itu bagai percikan api di tumpukan jerami kering. Mata mereka menajam dan memerah, seakan-akan siap melompat dari tempatnya.

Morline tahu jika di dunia ini budaya patriarki masih kental, tapi bukan berarti Morline mundur hanya karena pandangan negatif para pria di sini. Justru dia duduk di satu-satunya kursi yang kosong dengan senyuman manis.

“Yang mulia tidak seharusnya anda duduk di sana?” Pria berkulit gelap dengan tubuh berotot membuat Morline menoleh ke kanan, memandang jenderal Arnad yang terkenal sebagai pemimpin pertahanan di wilayah perbatasan.

Morline tahu kepribadian pria ini keras dan agak kasar, tapi integritasnya tak perlu di tanyakan.

“Memangnya saya harus duduk di mana? Saya sudah bilang saya akan mengikuti rapat pagi ini, bersama kalian membahas masalah negara.”

Jenderal Arnad tak menjawab, wajahnya terlihat menahan sesuatu.

“Seorang wanita tidak seharusnya duduk di kursi yang biasanya ditempati raja, meski anda merupakan ratu tapi selama raja masih ada anda tak berhak ada di sana.” Uskup dengan tenang menjelaskan.

Morline mengangguk, membisikkan sesuatu pada Chasi lalu perempuan itu pergi. Para menteri terlihat mengerutkan dahi, lalu mereka melihat dayang itu membawa kursi lain. Mengganti kursi yang tadi Morline duduki dengan kursi itu. Mereka diam seribu bahasa.

Morline menatap Uskup yang memakai jubah putih dengan salib emas di dadanya. “Saya sudah mengganti kursinya jadi bisa kita mulai rapatnya? Masalah negara harus segera diselesaikan bukan?”

Gengi yang berdiri di belakang meremas tangannya yang berkeringat, dia melirik wajah-wajah para menteri yang menggelap. Sikap diamnya tak menyembunyikan rasa cemas di wajahnya.

Pintu aula rapat terbuka, semua orang menoleh merasa heran ketika Joseph muncul, Gengi mengira pria tua itu sakit mengerutkan alis. Namun ketika seseorang di belakang Joseph muncul, mulutnya menganga lebar, para menteri sontak berdiri. Morline yang baru tersadar berdiri dengan gerakan kaku, wajahnya tampak terkejut melihat Cedric dengan topeng peraknya melangkah memasuki aula rapat.

Aura misterius menyatu dengan wibawanya terasa sangat luar biasa, sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Dengan hanya beberapa langkah Cedric sudah berdiri di depan Morline, dia melirik gadis gemuk yang tingginya hanya sedadanya, dalam diam menunggu gadis itu memahami maksudnya.

Beberapa detik saling menatap Morline baru tersadar dan dia segera menggeser tubuhnya, kursi kosong itu segera Cedric tempati. Gerakan pelan tapi tetap membawa karisma seorang pemimpin.

Para menteri segera duduk setelah Cedric, Vincentius sang uskup menatap dingin topeng perak itu yang dikenakan Cedric.

Morline berdiri di sisi Cedric bersama dengan Gengi, gadis itu sedang menggerutu dalam hati karena merusak rencananya. Namun di sisi lain dia senang karena Cedric bersedia kembali ke pemerintahan.

Cedric meraih dokumen di depannya dan membaca sekilas, dibalik topeng alis yang sebagian terbakar itu mengkerut. Dia melirik ke kiri, dimana Morline berada. Gadis itu menoleh ke arah lain, seakan menghindari tatapannya.

Dia menarik nafas. "Baik kita mulai rapatnya, aku ingin mendengar dari jenderal Arnad. Rapat kemarin kau mengatakan jika perbatasan sedang mengalami ketegangan, bagaimana sekarang?" Meski Cedric jarang hadir di rapat-rapat formal, tapi dia selalu memiliki mata dan telinga hingga sedikitpun informasi tak luput darinya.

Melirik Morline yang masih di sana, Arnad sedikit terganggu. Meski begitu dia tetap melanjutkan. "Keadaan perbatasan masih tegang saat ini, wilayah perbatasan mengancam akan menyatakan perang karena kita berita yang belum tentu kebenarannya." Arnad lalu menceritakan secara rinci tentang permasalahan di perbatasan.

Di wilayah tetangga, terjadi pembunuhan dan mereka menuduh orang Hesperias yang melakukannya. Konflik itu memanas ketika rakyat Hesperias justru menyerbu masuk ke batas wilayah membuat rakyat tetangga tersulut emosi dan mengancam menyatakan perang.

Hal itu sangat berbahaya melihat kondisi Hesperias tidak baik-baik saja. Jika kita berperang saat ini, kemungkinan besar Hesperias akan hancur.

Cedric baru menyadari bahwa konflik ini semakin dalam dan serius, jika dia tak menanganinya dengan baik justru resikonya adalah peperangan. Negara mereka belum siap menerima itu.

"Kirim saja orang untuk melakukan diplomasi, lakukan penyelidikan gabungan dari kedua belah pihak agar transparan."

Semua orang menatap Morline yang nimbrung dalam diskusi mereka. Morline mengangkat satu aslinya, "ya, kirim delegasi ke sana dan ajak mereka untuk menyelidiki kasus itu."

"Tidak semudah itu, pasti mereka menolak melakukan penyelidikan. Orang perbatasan sudah membuat mereka marah, tak mungkin semudah itu untuk bernegosiasi dengan mereka."

"Itulah kenapa mengutus orang yang tidak hanya pintar tapi juga cerdik." Morline memikirkan nama-nama orang yang dirasa cocok untuk tugas ini. "Mungkin tuan Hector dari departemen pendidikan bisa menjadi orang yang cocok, dia merupakan orang yang sangat pandai dalam bernegosiasi. Lalu ada juga tuan Irnes, beliau merupakan diplomat handal kan?"

Cedric diam-diam mempertimbangkan dua orang itu, apa yang disebut Morline memang tidak salah. Hector dan Irnes memang cukup berpengalaman dalam menghadapi situasi yang memerlukan kemampuan bernegosiasi, selain handal mereka juga cerdik. Namun di sisi lain Cedric juga masih skeptis.

Sumber daya mereka melimpah, banyak kerajaan yang mengincar mereka. Termasuk kerajaan tetangga, tapi karena Hesperias berada di bawah perlindungan Thalva, tidak ada yang berani mengusik mereka.

Meskipun Cedric menyadari bahwa Thalva menjajah mereka secara diam-diam, tapi kekuatan dari mereka sungguh sangat membantunya untuk mempertahankan kerajaannya.

"Baiklah tuan Hector dan Irnes akan dikirim ke kerajaan tetangga untuk diplomasi."

Rapat terus berlanjut dengan Morline yang juga berkontribusi memberikan solusi-solusi yang dia pahami. Rapat itu berakhir dengan tenang tanpa ada konfrontasi dari pihak manapun, termasuk Arnad yang memandang Morline tak suka sejak awal.

1
Uthie
Wahhh... ternyata Edy baik juga 😍👍👍
Uthie
Selalu setiap menanti kelanjutannya kembali 👍👍👍👍😍
Uthie
ditunggu Lagii 👍👍👍
kiu kiu
lanjut thor..jgn terlalu lama updatenya...
kiu kiu
kpn upnya thor
Tanya Balik
guys aku nulis tiap bab-nya minimal 2000 kata, banyak lho itu. Jadi maklum aja ya lama up-nya. 🙏🙏😄
kiu kiu
morline sangat baik terhadap karel.suatu saat karel akan tumbuh besar dan akan menjadi pelindung utk morlin...cerita ini mengisahkan kasih sayang ibu dan anak.tp berbeda dg apa yg di alami morline.yg sudah menganggapnya keluarga.
Uthie
lagiiii 🤩🔥🔥
kiu kiu
jgn terlalu lama updatenya thor...ak penasaran dg gadis gemuk ini.apa yg akan dia lakukan di daerah targus itu. apa lagi eddy selalu mengawasi.
Uthie
Ditunggu lagiiii 🔥🔥🔥
Uthie
Lanjutttt lagiii...
setia menunggu up berikut nya 😁👍
kiu kiu
lanjut thor...updatenya jgn jarang jarang.
Uthie
Di tunggu lagiii aksi nyata dari Ratu Morline 😍👍

lanjuuttttt lagiiii 💪💞
kiu kiu
masih update nggk thor...
Tanya Balik: masih, tapi up-nya memang jarang2 di tunggu aja ya😄🙏
total 1 replies
Uthie
Wahhhh.... lagi seru-serunya baca soal Morline... malah udahan aja 🤩🤩

Jangan lama-lama up nya lagiiii yaaa Thor 😘🤗🙏
Uthie
Morline ratu yg baik 👍👍😇
Uthie
Sukkkaaa ceritanya 👍👍👍👍👍
Uthie
Sukkkkaaa ceritanya 👍👍👍👍👍👍
lanjut lagiiii 👍👍👍😍
Uthie
Wahhh... ada yg kesengsem sama Morline 😂👍
Uthie
seruuu 👍😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!