Sejak ibu kandungku meninggal, aku hidup sebagai orang asing di rumahku sendiri. Saat perjodohan datang, harapanku hancur ketika kakak tiriku merebut segalanya dan aku dipaksa menikah dengan pria lumpuh yang tak kukenal. Namun, dari perjodohan yang tidak adil itu, aku justru menemukan ketulusan dan cinta yang selama ini tak pernah kudapatkan. Ketika kebenaran terungkap dan masa laluku ingin mengklaimku kembali, aku harus memilih—kembali pada yang seharusnya, atau bertahan pada cinta yang telah menjadi rumahku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uzumaki Amako, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 10
Hari itu aku pulang dari kantor bersama Adrian menjelang sore. Di mobil, kami tidak banyak bicara seperti biasa, tapi sekarang keheningan di antara kami tidak lagi terasa canggung. Lebih seperti… kebiasaan.
Sesampainya di rumah, aku langsung ke kamar untuk mengganti pakaian. Setelah keluar, aku melihat bibi Ratna sedang menata bunga di ruang tengah.
“Nona sudah pulang?” tanyanya sambil tersenyum.
“Iya, Bi.”
“Bagaimana kantor? Membosankan?”
Aku tersenyum kecil. “Tidak juga. Aku hanya duduk dan melihat Adrian bekerja.”
Bibi Ratna tertawa kecil. “Tuan kalau kerja memang seperti itu. Tidak berhenti.”
Aku duduk di sofa, lalu bertanya pelan, “Bibi… boleh aku tanya sesuatu?”
“Tentu boleh, Nona.”
“Adrian… dulu seperti apa?”
Bibi Ratna berhenti menata bunga. Wajahnya berubah sedikit lebih serius, tapi masih lembut.
“Tuan dulu sangat berbeda,” katanya pelan. “Lebih banyak bicara, lebih sering keluar rumah, sering bertemu teman-temannya. Rumah ini dulu tidak sesunyi sekarang.”
Aku diam mendengarkan.
“Setelah kecelakaan… Tuan berubah. Lebih banyak diam, lebih jarang bertemu orang, dan hanya fokus bekerja. Bahkan keluarga pun sulit mengajaknya bicara.”
Aku menunduk sedikit.
“Lalu… sejak aku datang?” tanyaku pelan.
Bibi Ratna tersenyum kecil. “Sejak Nona datang, Tuan lebih sering pulang cepat.”
Aku sedikit kaget. “Hah?”
“Dan sekarang Tuan sering makan di rumah. Dulu sering makan di kantor.”
Aku tidak tahu harus menjawab apa.
“Kadang perubahan kecil itu yang paling berarti,” kata Bibi Ratna pelan, lalu kembali menata bunga.
Aku duduk diam, memikirkan kata-kata itu.
Perubahan kecil.
Aku tidak merasa melakukan apa-apa. Aku hanya ada di rumah ini, makan bersamanya, sesekali bicara, mendorong kursi rodanya, menemaninya ke kantor.
Tapi mungkin… bagi orang yang terbiasa sendirian, kehadiran orang lain memang sudah perubahan besar.
—
Malamnya kami makan malam seperti biasa. Tidak ada percakapan panjang, hanya hal-hal sederhana.
Setelah makan, aku berdiri untuk mengambil air, tapi tiba-tiba Adrian berkata,
“Minggu depan kita datang ke acara yang Vanessa kasih tadi.”
Aku menoleh. “Fashion show itu?”
“Iya.”
Aku sedikit ragu. “Aku harus ikut?”
“Iya.”
Aku duduk kembali pelan. “Sepertinya dia tidak mengundangku karena ingin berteman.”
“Aku tahu,” jawab Adrian tenang.
“Lalu kenapa kita datang?” tanyaku.
Adrian menatapku beberapa detik, lalu berkata,
“Karena kalau kita tidak datang, dia akan datang lagi ke kantor. Lebih merepotkan.”
Aku hampir tertawa kecil mendengarnya.
“Ternyata alasannya sederhana.”
“Aku orang yang sederhana,” jawabnya datar.
Aku tersenyum kecil. “Tidak. Hidupmu yang tidak sederhana.”
Ia tidak membantah.
Beberapa detik kemudian ia berkata,
“Kamu tidak perlu takut dengan orang seperti Vanessa.”
“Aku tidak takut,” jawabku pelan. “Aku hanya… tidak terbiasa dengan orang seperti dia.”
“Orang seperti dia seperti apa?”
Aku berpikir sebentar. “Percaya diri. Cantik. Tahu dia di mana. Tahu dia siapa. Tahu semua orang melihatnya.”
Adrian menatapku lama sekali.
Lalu ia berkata pelan,
“Kamu juga tahu kamu siapa. Kamu hanya belum sadar.”
Aku langsung menatapnya. “Aku tidak seperti dia.”
“Memang tidak,” katanya. “Dan itu bukan hal buruk.”
Aku tidak tahu kenapa, tapi setiap kali dia mengatakan hal seperti itu, rasanya seperti dia melihat sesuatu dalam diriku yang bahkan aku sendiri tidak lihat.
Setelah makan malam, Adrian pergi ke ruang kerjanya di rumah. Aku kembali ke kamar, duduk di tepi tempat tidur, dan memikirkan banyak hal.
Tentang hidupku dulu.
Tentang pernikahan ini.
Tentang Adrian.
Tentang Vanessa.
Tentang masa depan yang bahkan belum pernah kupikirkan sebelumnya.
Aku dulu hanya berpikir bagaimana bertahan hidup di rumah lama. Bagaimana tidak dimarahi. Bagaimana tidak membuat masalah. Bagaimana melewati hari demi hari.
Aku tidak pernah berpikir tentang masa depan.
Tapi sekarang… untuk pertama kalinya, aku mulai berpikir.
Bagaimana kalau suatu hari nanti Adrian bisa berjalan lagi?
Bagaimana kalau suatu hari nanti dia menemukan seseorang yang benar-benar dia cintai?
Bagaimana kalau pernikahan ini hanya sementara?
Bagaimana kalau aku harus pergi dari rumah ini suatu hari nanti?
Dadaku tiba-tiba terasa sesak.
Aku baru sadar satu hal yang sangat berbahaya—
Aku mulai merasa rumah ini adalah rumahku.
Aku mulai merasa Adrian adalah orang yang harus kulihat setiap hari.
Aku mulai merasa tempatku… di sampingnya.
Dan perasaan itu menakutkan.
Karena pernikahan ini tidak dimulai dengan cinta.
Dan aku tidak tahu… apakah akan berakhir dengan cinta atau tidak.
Malam itu aku tidak langsung tidur.
Aku masih duduk di tepi tempat tidur, memikirkan terlalu banyak hal yang seharusnya tidak kupikirkan. Tentang masa depan, tentang pernikahan ini, tentang Adrian… tentang perasaanku sendiri yang mulai berubah tanpa izin.
Akhirnya aku menghela napas panjang, lalu berdiri.
Aku keluar kamar untuk mengambil air minum di dapur. Rumah sudah sangat sepi. Lampu-lampu hanya menyala sebagian, membuat lorong terlihat hangat tapi sunyi.
Saat berjalan melewati ruang kerja Adrian, aku melihat lampunya masih menyala dan pintunya sedikit terbuka.
Aku berhenti.
Dari celah pintu, aku melihat Adrian masih di depan laptopnya. Wajahnya terlihat lelah, tapi dia masih membaca dokumen.
Aku mengetuk pelan pintu.
“Masuk,” katanya tanpa melihat.
Aku membuka pintu sedikit. “Kamu belum tidur?”
Ia baru menoleh. “Belum. Masih ada yang harus diselesaikan.”
Aku masuk pelan. “Jangan terlalu malam.”
Ia menatapku beberapa detik, lalu berkata, “Kamu seperti Bi Ratna.”
Aku sedikit tertawa kecil. “Semua orang pasti bilang begitu ke orang yang kerja terlalu keras.”
Ia menutup laptopnya pelan, lalu menyandarkan punggung ke kursi rodanya.
“Ada apa? Kamu biasanya tidak keluar kamar malam-malam,” katanya.
Aku berdiri beberapa detik, lalu berkata jujur,
“Aku tidak bisa tidur.”
“Kenapa?”
Aku ragu sebentar, tapi akhirnya duduk di kursi di depannya.
“Aku memikirkan banyak hal,” kataku pelan.
Ia menatapku, menunggu aku melanjutkan.
“Aku memikirkan… bagaimana kalau suatu hari nanti pernikahan ini selesai.”
Ruangan langsung sunyi.
Adrian tidak langsung menjawab.
Aku menunduk sedikit. “Pernikahan kita kan karena keluarga. Bukan karena kita memilih sendiri. Jadi… suatu hari nanti mungkin saja selesai.”
Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya Adrian berkata,
“Kamu ingin pernikahan ini selesai?”
Aku langsung menggeleng. “Bukan begitu.”
“Lalu?”
Aku tidak langsung menjawab. Aku sendiri juga bingung dengan perasaanku.
“Aku hanya… takut kalau aku terlalu terbiasa dengan hidup sekarang,” kataku pelan. “Dan suatu hari nanti semuanya hilang.”
Adrian menatapku lama sekali.
Tatapan yang sulit dijelaskan. Tidak dingin, tidak marah, tapi sangat serius.
“Aku tidak pernah menganggap pernikahan ini sementara,” katanya pelan.
Aku langsung menatapnya.
Ia melanjutkan,
“Aku menikah sekali. Aku tidak berencana menikah lagi.”
Jantungku berdetak lebih cepat.
“Kamu mungkin tidak memilih menikah denganku,” lanjutnya. “Aku juga tidak memilih situasinya. Tapi setelah kita menikah, itu sudah menjadi tanggung jawabku.”
Aku tidak tahu kenapa, tapi mataku tiba-tiba terasa panas.
Tidak ada kata cinta.
Tidak ada janji manis.
Tapi kata tanggung jawab dari Adrian terdengar sangat serius.
“Aku bukan orang yang pandai berbicara,” katanya lagi. “Tapi aku tidak akan menyuruhmu pergi suatu hari nanti hanya karena aku sudah tidak membutuhkanmu.”
Kalimat itu membuat dadaku terasa sesak.
Aku menunduk cepat karena aku takut dia melihat mataku yang mulai berkaca-kaca.
“Aku tidak takut kamu menyuruhku pergi,” kataku pelan. “Aku takut aku yang harus pergi.”
Ia langsung bertanya, “Kenapa kamu harus pergi?”
Aku tersenyum kecil, tapi pahit. “Karena hidup tidak selalu sesuai yang kita mau.”
Adrian terdiam.
Lalu ia menggerakkan kursi rodanya sedikit mendekat ke arahku. Tidak terlalu dekat, tapi cukup untuk membuatku menatapnya.
“Kalau suatu hari nanti kamu pergi,” katanya pelan, “itu harus karena kamu ingin pergi. Bukan karena kamu merasa tidak punya tempat di sini.”
Aku benar-benar tidak bisa menahan mataku lagi. Air mata jatuh pelan tanpa suara.
Aku langsung menghapusnya cepat. “Maaf.”
“Untuk apa?”
“Aku tidak tahu kenapa aku menangis,” jawabku jujur.
Ia menatapku beberapa detik, lalu berkata pelan,
“Karena kamu sudah terlalu lama menahan semuanya sendirian.”
Aku langsung terdiam.
Tidak ada yang pernah mengatakan itu padaku sebelumnya.
Tidak ada yang pernah menyadari itu sebelumnya.
Dan entah kenapa, kalimat sederhana itu justru yang membuat pertahananku runtuh.
Aku menutup wajahku dengan tangan, mencoba berhenti menangis.
Tiba-tiba aku merasakan sesuatu menyentuh tanganku pelan.
Aku menurunkan tanganku sedikit.
Adrian.
Tangannya memegang pergelangan tanganku pelan. Tidak kuat. Tidak memaksa. Hanya… menahan.
“Aku tidak tahu bagaimana menjadi suami yang baik,” katanya pelan. “Tapi aku akan mencoba.”
Air mataku jatuh lagi.
Dan untuk pertama kalinya sejak aku menikah dengannya,
aku tidak merasa sendirian lagi.