NovelToon NovelToon
Dalam Dekapan Istri Muda

Dalam Dekapan Istri Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: ratu_halu

Elizabeth Zamora atau yang biasa di panggil dengan Liz telah terjebak dalam pernikahan kontrak yang membawa dia pada titik terendah dalam hidupnya.

Akankah Liz bisa melalui takdir yang telah digariskan semesta untuknya ??

Happy Reading 💜
Enjoy 🥰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ratu_halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 10

Dari kamar tamu Tama tidak langsung ke kamar pribadinya dengan Yurike. Tama memilih kembali ke ruang kerjanya dan membiarkan Yurike tersiksa sendirian.

Keesokan harinya sekitar pukul 5 pagi, Tama menghubungi nomor Liz.

Liz yang sudah terbiasa bangun pagi pun langsung mengangkat telepon dari Tama.

"Buka pintu kamarmu, satu menit lagi aku datang!"

Tuttt!

Sambungan langsung diputus sepihak oleh Tama setelah Tama mengatakan kalimat itu.

Liz melamun beberapa detik,

"Apa maksudnya ? Kenapa dia menyuruhku membuka pintu, jangan-jangan....." Liz langsung menutup mulutnya dengan wajah yang sangat tegang. Imajinasinya terlalu liar untuk wanita yang sudah lama menjomblo.

Tok. Tok.

Pintu diketuk dibarengi dengan handle pintu yang bergerak.

"Se-sebentar," Ucap Liz yang akhirnya mau tak mau membukakan pintu kamarnya.

"Ck! Lama sekali!" Gerutu Tama yang langsung masuk ke kamar Liz.

"Ka-kamu mau apa ??" Tanya Liz hati-hati,

"Mandi." Jawab Tama singkat sembari mengambil handuk di lemari penyimpanan.

Sebelum Liz sempat membuka mulut lagi Tama sudah lebih dulu masuk ke kamar mandinya.

Selang sepuluh menit Tama keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit dipinggangnya. Liz mematung sejenak ketika melihat tubuh bagian atas Tama dari pinggang hingga kepala. Pantas saja Yurike tergila-gila dengan Tama, ternyata selain paras yang sempurna Tama juga memiliki tubuh yang luar biasa ideal. Tinggi, bahu lebar dengan otot perut yang berbentuk kotak enam.

Tampan, gagah, kaya, disegani, dan... terlalu jauh dari dunia Liz yang sederhana.

Sebelum Tama menyadari kekaguman dimata Liz, wanita itu langsung memalingkan muka.

"Setiap hari selama satu bulan kita harus keluar kamar dengan rambut yang basah." Ucap Tama sambil memakai kembali baju dan celana nya yang tadi karena ia memang belum sempat memindahkan setengah pakaian miliknya dari kamar utama ke kamar tamu.

"Tunggu jam enam, kita keluar bersama." Kata Tama lagi lalu duduk di tepi ranjang.

"Iya." Jawab Liz singkat.

"Apa jadwal mu hari ini ?" tanya Tama kembali membuka percakapan setelah lama ruangan itu diselimuti keheningan.

"Aku mau ke rumah sakit setelah itu berangkat ke kantor."

"Aku antar."

"Tidak perlu, aku bisa sendiri."

"Apa kata Ibu nanti kalau kamu datang sendiri tanpa suami mu ? Kita baru menikah satu hari, jangan buat Ibu mu curiga."

Liz terdiam sejenak, kemudian menjawab dengan pasrah, "Baiklah."

Tak ada percakapan lanjutan di antara mereka setelah itu. Tama dan Liz sibuk dengan ponsel masing-masing sampai pukul enam tepat.

"Ayo keluar. Yurike pasti sudah menunggu di meja makan." Ucap Tama dengan yakin.

Liz menyambar tas kerjanya lalu berjalan di belakang Tama.

Nafas Liz sampai tertahan ketika keluar kamar ternyata benar saja Yurike sudah menunggu mereka di ruang keluarga dengan hanya memakai bathrobe.

Yurike tidak bisa menutupi keterkejutan diwajahnya kala melihat Tama dan Liz keluar kamar dengan rambut yang basah.

"Apa mereka sudah....." Yurike tak mampu menyelesaikan kalimatnya.

"Tunggu sebentar, aku mau ganti baju dulu." Ucap Tama memecah keheningan.

Liz mengangguk pelan.

"Kemarilah Liz aku ingin bicara." Kata Yurike dengan suara dingin.

Liz tidak menjawab tapi langsung menghampiri Yurike. Liz duduk di sofa panjang yang lain.

Tanpa Liz ketahui Yurike terus memperhatikan setiap langkah kaki Liz. Kemudian senyum lega terbit di sudut bibirnya.

"Rupanya kalian belum melakukan itu," Batin Yurike. Bukan tanpa alasan Yurike menyimpulkan itu, sebab hanya melihat dari cara jalan Liz saja Yurike langsung tau bahwa Tama belum melakukan apapun pada sahabatnya tersebut.

Dulu, dulu sekali, ketika malam pertama, Yurike sampai dibuat tak bisa berjalan oleh Tama. Saat itu Tama seperti singa yang kelaparan, menerkam dan memakan Yurike sampai tak berdaya. Belum lagi banyak tanda merah yang Tama ciptakan di leher dan hampir seluruh tubuhnya. Yurike masih ingat dengan jelas bagaimana dulu Tama selalu menggebu-gebu. Namun sekarang pernikahannya terasa hambar. Dan entah kenapa Tama sudah tidak lagi mau menyentuhnya. Ranjangnya sudah lama dingin. Yurike merindukan sentuhan Tama di tubuhnya. Tapi setiap kali dia meminta, Tama menolak dengan berbagai alasan yang dibuat-buat, membuat Yurike jadi jengah sendiri.

"Liz, maaf soal ucapan ku kemarin." Yurike membuka percakapan.

Liz terkesiap.

Yurike berpindah tempat duduk di samping Liz. Digenggamnya tangan Liz yang dingin sambil menatap mata sahabatnya itu begitu dalam, "Aku sudah keterlaluan, padahal aku yang memintamu masuk ke dalam rumah tanggaku dan Mas Tama. Maafkan aku Liz."

Liz tersenyum, membalas genggaman Yurike lebih erat.

"Aku juga minta maaf, maafkan aku karena menikah dengan suami mu tanpa sepengetahuan mu, Yuri. Aku kira kamu sudah tahu dan sengaja tidak mau datang makanya aku tidak bertanya soal kehadiranmu saat Tama mengikrarkan janji suci didepan Ibu.

Yurike tersenyum namun tidak tulus dari hati nya dan Liz yang naif tidak menyadari itu. Yurike pun memeluk Liz dengan darah yang kembali mendidih tepat di ulu hatinya.

"Kau benar Liz, persahabatan kita memang sudah hancur!" Batin Yurike.

Tama kembali turun, Liz pun berpamitan pada Yurike. Tanpa Yurike ketahui, Tama melihat semuanya dari atas. Bagaimana senyum palsu itu terbit di bibir istrinya ketika memeluk Elizabeth.

Yurike berdiri di ambang pintu sampai mobil Tama meninggalkan rumah besar mereka.

Di dalam mobil..

"Apa yang tadi kalian bicarakan ?" tanya Tama tanpa mengalihkan pandangan dari layar tabletnya.

"Tidak ada. Hanya meluruskan kesalahpahaman kemarin." Jawab Liz yang sesekali melirik ke arah Tama. Liz berusaha keras menyembunyikan kekagumannya sekali lagi. Karena baru pertama Liz melihat seorang pria setampan ini dan sedekat ini. Bahkan wajah Revan sang Bos yang nyaris sempurna itu pun masih kalah jauh jika dibanding Tama.

Setelah itu tidak ada percakapan lagi di antara mereka sampai mobil yang mereka tumpangi tiba di parkiran rumah sakit.

Liz dan Tama pun turun. Mereka berjalan bersama masuk ke dalam area rumah sakit menuju kamar perawatan Ibu Nira.

Liz sudah dapat kabar dari dokter pribadi yang tentu semua itu Tama yang mengurusnya, bahwa sang Ibu telah di pindahkan ke ruang perawatan sebab kondisinya sudah stabil.

Tok. Tok.

Liz mengetuk pelan pintu ruang perawatan sang Ibu, kemudian menggeser pintu dengan pelan dan hati-hati. Liz masuk ke ruangan VIP itu dengan Tama yang mengekornya di belakang.

"Liz," Ibu tersenyum, wajahnya masih pucat.

Liz berhambur memeluk sang Ibu.

"Makasih, Bu. Makasih Ibu udah mau bertahan sekali lagi." Liz meneteskan air matanya. Ibu membalas pelukan sang putri. Mengusap punggung Liz dengan penuh kasih sayang.

Setelah beberapa saat Liz melepaskan pelukannya.

"Nak Tama, maaf sudah merepotkan pagi-pagi harus kesini menemui Ibu." Ucap Ibu pada Tama dengan tatapan sayu.

"Tidak merepotkan sama sekali, Bu. Kami memang sengaja datang untuk melihat keadaan Ibu sebelum berangkat ke kantor."

Liz mendelik, "Ya ampun, jago sekali aktingnya, mana ngejawabnya panjang lebar segala lagi." ucap Liz tapi hanya dalam hati.

"Nanti Liz datang lagi sepulang kerja ya, Bu. Sekarang Liz berangkat dulu. Kalau perlu apa-apa pencet saja tombol itu, nanti suster jaga akan datang membantu Ibu." Liz mencium pipi Ibu kemudian mencium tangan Ibu dengan takzim.

"Iya, sayang. Hati-hati, nak. Jangan khawatirkan Ibu. Kamu harus bekerja yang rajin, Pak Revan sudah sangat baik pada kita."

Mendengar Ibu menyebutkan nama Revan membuat Liz reflek menoleh ke Tama. Liz takut Tama akan tersinggung karena sebenarnya yang paling banyak mengeluarkan biaya justru Tama, bukan Revan.

Liz tau Revan juga tidak mengeluarkan biaya sedikit, namun jika dibanding biaya operasi yang mencapai ratusan juta serta jaminan biaya kemoterapi sampai Ibu sembuh, Tama lah yang paling berjasa disini.

Namun Tama tidak menunjukkan ekspresi apapun. Tidak ada sedikitpun gurat kesedihan atau rasa iri di wajah pria itu meski Ibu secara terang-terangan memuji kebaikan Revan.

"Yasudah Bu, Liz dan Tama pergi kerja dulu."

Mereka berdua pun pamit.

Perjalanan ke kantor Liz terasa jauh lebih canggung dari pada perjalanan ke rumah sakit tadi. Liz merasa hawa didalam mobil jadi panas padahal Ac telah di setting semestinya.

"Terimakasih." Ucap Liz tulus pada saat mobil berhenti di depan lobi kantor.

"Pulang jam berapa ?" tanya Tama yang sudah kembali ke mode dinginnya lagi. Bahkan menoleh pada kawan bicaranya pun tidak.

"Kenapa ?" Liz balik bertanya, tangannya hampir membuka pintu mobil.

"Tidak ada. Hanya bertanya."

"Aku tidak tau. Kalau lembur mungkin jam tujuh baru pulang."

Karena Tama tidak mengajaknya bicara lagi, Liz pun bergegas turun dari mobil Tama.

"Jalan," Titah Tama pada supir pribadinya.

"Baik, Tuan."

1
Fitria Syafei
KK cantik kereen 😍 kereen 😍 terimakasih 😘
Fitria Syafei
hadeh Yurike kudu diapain yaa 🤨 KK cantik kereen 😍 terimakasih 😍
Fitria Syafei
waduh kasihan Liz KK 🙄 KK cantik kereen 😘 kereen 😘
Fitria Syafei
KK cantik mantaf 😍 terimakasih 😘 terimakasih 😘
Fitria Syafei
asyik..asyik.. mereka mau bersatu ... 🫠 KK cantik mantaf 🥰 terimakasih 🥰
Fitria Syafei
semoga mereka selalu bersama dan bersatu 🤲 KK cantik kereen 😍 terimakasih 😍
Fitria Syafei
nahloo Yurike...senjata makan tuan ...🙄 KK cantik mantaf 😘 terimakasih 😘
Fitria Syafei
KK cantik mantaf 😍 kereen 😘 terimakasih 😘
Fitria Syafei
kasihan kau Liz 🥺 KK cantik kereen 😘 kereen 😘
Fitria Syafei
yang sabar yaa Liz 🥺 KK cantik mantaf 😍 terimakasih 😍
Fitria Syafei
waduh ngancem nya... jahat juga yaa ..kaya rentenir 😜 KK cantik kereen 😘 terimakasih 😘
Fitria Syafei
mungkin kah mereka bersatu 😔 KK cantik kereen 😘 terimakasih 😘
Fitria Syafei
hadeh Yurike Yee kalau ngomong nyakitin orang 😡 kk cantik kereen 😘 terimakasih 😘
Fitria Syafei
aneh yaa mereka 🙄 KK cantik pinisirin 😘
Fitria Syafei
semangat KK cantik 😘 KK cantik kereen 😍 terimakasih 😍
Fitria Syafei
waduh KK mungkinkah mereka bersatu 🙄 KK cantik mantaf 😍 terimakasih 😍
Fitria Syafei
KK cantik kereen 😘 kereen 😘 terimakasih 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!