Clarindra Arabella, siswi kelas tiga SMA yang tinggal selangkah lagi menuju kelulusan, tak pernah membayangkan hidupnya akan berubah dalam satu keputusan sepihak.
Di saat teman-temannya sibuk mempersiapkan ujian akhir dan masa depan, Clarindra justru dipaksa menerima kenyataan pahit—ia harus menikah.
Bukan dengan pria seusianya.
Melainkan dengan seorang pria dewasa… yang bahkan tak pernah ia kenal.
Demi alasan sederhana namun kejam—orang tuanya akan pindah ke luar negeri, dan mereka tak ingin meninggalkan putrinya sendirian.
Di balik keputusan itu, tersembunyi kesepakatan antara dua keluarga besar.
Nama besar keluarga Hardinata menjadi jaminan keamanan Clarindra… sekaligus awal dari keterikatannya.
Zavian Hardinata.
Pria itu bukan sekadar pewaris keluarga kaya raya. Ia adalah sosok bebas, penuh pesona, namun sulit dikendalikan. Seseorang yang lebih terbiasa bermain dengan hidupnya sendiri… daripada terikat dalam satu hubungan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon candra pipit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Balas dendam berujung petaka
Siang itu kantin sekolah ramai seperti biasa. Suara tawa, obrolan, dan bunyi sendok beradu memenuhi ruangan. Di salah satu meja favorit— tak ada yang boleh menempati, Meta duduk santai bersama ketiga temannya. Wanda, Viola dan Leona.
Mereka terlihat kembali seperti biasa. Tertawa. Bergosip.
"Lo lihat nggak muka tuh anak?" Ujar Wanda. "Kayak mau makan orang tapi nggak bisa," lalu di lanjutkan dengan tawa bersama yang lain.
"Iya, bener bener bener. Pasti pingin meledak tuh da da nya hahaaha..." Leona menimpali.
"Meta di lawan," Meta mengibaskan rambutnya merasa bangga.
"Sudah laporan sampe kepala sekolah tapi sia-sia," Viona tertawa diikuti oleh yang lain.
"Bonusnya kita bisa lihat Pak Zavian lebih dekat. Wow benar-benar keren dia. Ganteng bingiiiitt deh. Alis nya itu lho...eh bukan, matanya... Semuanya deh... Ya ampuuuun... Jadi simpenan nya rela kok aku," Leona membayangkan.
"Bibit bibit lakor nih," sindir Wanda.
"Kak Dira jodohin aja sama Pak Zavian, Ta," Viona ngasih saran. Dira adalah kakak Meta.
"Boleh juga tuh Ta," Wanda setuju.
Senyum tipis menghiasi wajah Meta. "Oke, kita atur aja."
"Ya..." Leona lesu, "Gak papa dah, aku kan cuman simpenan."
Astaga... Anak-anak sekolah ini absurd banget obrolannya. Sampai datanglah orang yang mereka bicarakan tadi.
"Hi girls... Happy banget nih."
Clarinda dengan senyum secerah matahari berdiri di meja Meta and the gank. Arin dan Dela juga datang.
"Ngapain Lo kesini?" Nada Meta ketus.
"Pingin ikutan happy dong, masa kalian doang."
"Sana... Lo nggak ada tempat!" Usir Wanda. "Hussshhh!!!"
"Ih, biasa aja kale Wakanda," ucap Clarinda santai mempertahankan senyumnya.
"Wanda!" Gadis itu protes namanya di ganti.
"Kita main yuk," Clarinda mengambil sesuatu dari tas kresek hitam yang dibawanya, terlihat sedikit kotor. Kresek bekas entahlah apa itu.
"Jreng! Jreng!" Clarinda dengan mata berbinar mengeluarkan sesuatu yang membuat mereka berteriak berdiri dari kursi masing-masing.
"Huaaaaa!!!!"
"AAAAAAA......!!!"
Itu kalajengking hitam pekat mengkilap. Dua capit besar tajam terlihat kokoh. Sementara ekornya yang panjang dan tajam di pegang oleh Clarinda. Ia ayun-ayun kan ke Meta dan kawan-kawan nya bergantian.
Arin dan Dela juga sempet kaget. Mereka tak menyangka yang dibawa Clarinda ternyata kalajengking.
"Emang agak-agak temen Lo ya," ujar Dela ngeri. "Iiihhh..."
"Temen Lo juga," Arin mengingatkan.
Leona dan Viona saling menggenggam, berancang-ancang lari kalau hewan itu dilempar ke arah mereka.
"Buang nggak!" Titah mereka.
"Enak aja, aku ngambilnya susah tau!" Wajah Clarinda dibuat cemberut. "Ayuk main..." Clarinda melemparkan kalajengking itu ke meja.
Sontak mereka berteriak histeris. Sebagian yang tadi berada di sekitar meja Meta sudah menjauh.
"Tenang... Dia udah mati kok. Makanya bisa buat mainan," Clarinda nyengir. Lalu Clarinda mengambil lagi hewan itu dan memainkannya seperti tadi. Membuat mereka panik.
"Jangan cari gara-gara deh Lo. Masalah kita sudah selesai," Meta sebenarnya ketakutan tapi berusaha menutupinya.
Detik itu juga ekspresi Clarinda berubah.
Sebelum Meta sempat mundur—
Clarinda meraih pergelangan tangannya dengan cepat.
“LEPASIN!” Meta berontak.
Tapi Clarinda lebih sigap.
Seringaian muncul di bibir Clarinda. "Ini pembalasan buat Lo." Kemudian Clarindra menatap tajam Wanda, Viona dna Leona. "Kalian siap-siap."
SET.
Dengan satu gerakan, cepat, Clarinda menyelipkan kalajengking itu ke dalam kerah baju Meta.
“AAAAAA!!!”
Meta langsung menjerit histeris. Tubuhnya melonjak, tangannya panik mencoba meraih bagian dalam bajunya.
“Keluarin! KELUARIN!!”
Kantin mendadak kacau.
"AAAAAA!!!"
Semua orang berdiri. Beberapa berteriak. Ada yang menjauh.
Teman-teman Meta ingin menolong tapi mereka juga takut.
Clarinda tersenyum melihat itu.
Awalnya Clarinda hanya ingin melihat Meta panik.
Menjerit.
Mohon ampun dengan tulus padanya.
Balasan setimpal.
Namun... Tiba-tiba—
“AAAAHHHH!! SAKIT!!”
Jeritan Meta berubah.
Bukan lagi sekadar takut.
Tapi kesakitan.
"Tolong, dia ngingit... AAAAAA!!!"
Wajahnya langsung pucat. Tubuhnya gemetar hebat.
Clarinda mengernyit.
Meta jatuh terduduk, napasnya memburu. Tangannya mencengkeram lengan sendiri.
“Aaa… sakit…!”
Leona panik. “Meta?!”
Viona hampir menangis. “Ini kenapa?!”
Clarinda menatap kalajengking yang kini jatuh dari dalam baju Meta ke lantai.
Kakinya… bergerak.
Mata Clarinda membesar. Mulutnya melongo.
“...Hidup?”
Clarinda mematung.
“Bawa ke UKS! CEPAT!” teriak seseorang.
Tiba-tiba Rama datang menggendong tubuh Meta yang lemas menuju UKS.
Entahlah sejak kapan Rama disitu.
Clarinda masih berdiri kaku di tempatnya.
Rencananya bukan seperti ini.
"Clea..." Panggil Arin menyadarkannya.
"Dia kok hidup Rin?" gumam Clarinda lirih. Itu hewan entahlah sudah lari kemana.
Beberapa menit kemudian.
Mobil ambulans sekolah membawa Meta ke rumah sakit di dampingi petugas UKS untuk memperoleh penanganan lebih lanjut.
Clarinda di panggil ke ruang kepala sekolah melalui pengeras suara. Seluruh sekolah bisa mendengar.
Semua siswa juga tahu kejadian di kantin. Clarinda penyebab Meta dibawah ke Rumah Sakit.
Ia berjalan menyusuri koridor menuju ruang kepala sekolah. Expresi nya biasa saja seolah tak terjadi apapun.
Setiap siswa yang membicarakan tentangnya akan menunduk hanya dengan lirikan maut Clarinda.
Sampai akhirnya berpapasan dengan Rama.
Iya Rama.
Yang ngendong Meta tadi.
Semakin langkah mendekat semakin berdebar jantung Clarinda.
Dan yang terjadi...
Clarinda melewati Rama begitu saja.
Ia tak berniat menyapa.
Mulutnya seakan terkunci.
Ia sendiri tak tahu, apakah dirinya marah pada Rama atau sebaliknya Rama yang marah padanya.
Rama menoleh memandang punggung Clarinda hingga menjauh.
"Clea..." Panggil Rama lirih. Sayangnya gadis itu tak mendengar.
**
"Permisi Pak..."
Clarinda masuk setelah mendapat ijin dari pemilik ruangan.
"Duduk!" Titah Zavian yang sudah menunggunya.
Clarinda duduk tapi tidak memandang Zavian. Dibenaknya memikirkan Rama.
Teman yang ia anggap spesial menolong musuhnya.
Ia tahu kejadian tadi darurat tapi... Kenapa itu terasa melukai hatinya.
Padahal kemarin mereka bersenang-senang bersama sampai lupa waktu tapi saat bertemu tadi seperti orang asing.
'Apa Rama nganggep aku jahat seperti yang lain,' batin Clarinda. Wajahnya lesu.
"Heh, bocah! Kau dengar aku tidak?!"
Suara Zavian menyadarkannya dari lamunan. Ia mendongak.
"Apa Pak?" Jawabnya tanpa rasa bersalah.
Zavian yang sedari bicara ternyata tak satupun yang terdengar di telinga Clarinda. Pria tampan dan matang itu memijit tulang hidungnya yang mbangir.
"Astaga... Om Ramdan dan Tante Fenita ngasih kamu makan apa sih kok punya anak gadis bar bar begini," gumam Zavian lirih tapi masih bisa di dengar.
"Lebay!" Balsem Clarinda.
"Kau tahu kesalahanmu Clarinda?!"
"Yang mana?"
"Serius. Ini di sekolah Clarinda!" Nada Zavian agak naik.
"Aku hanya membalas perlakuan mereka. Itu salah?" Jawab Clarinda tegas. "Kalau ada yang di salahkan ya itu Bapak!"
Zavian mengernyit.
"Kau sudah tak adil. Kalau hukum tak bisa ditegakkan aku yang membuatnya sendiri."
"Tapi kamu mencelakai anak orang, bocah!"
"Ya mana aku tahu kalau kalajengking itu hidup. Tadi gak gerak kok, pas aku ambil," jelas Clarinda. "Ya kupikir mati."
Zavian diam memandangi gadis yang tak mau mengakui kesalahannya ini.
"Enak aja, aku yang ngalami kerugian besar. Mereka cuma dihukum minta maaf. Sedangkan bapak menghukumku tidur diluar. Aku harus muter jauh ambil motorku di rumah lama."
"Bahkan tadi mereka masih sempat menertawaiku karena kalian para guru memaksaku harus menerima maaf mereka yang sama sekali tidak tulus."
"Aku belum puas. Masih ada gerombolan si kunti itu yang belum ku balas!"
"Kau juga. Aku belum sempat membalasmu!"
Zavian melotot. Ia juga jadi target.
Clarinda mengeluarkan unek-unek nya dengan nafas memburu. Kekesalan jelas terlihat di wajahnya.
Zavian menghela nafas. Tak di sangka bocah yang jadi istri nya ini pendendam.
"Apapun itu kamu harus bertanggung jawab." Zavian memasukkan kedua tangannya ke saku celana. "Ikut aku ke rumah sakit."
"Nggak mau. Ngapain?"
"Minta maaf sama keluarganya," ujar Zavian tegas.
wah ada yg CLBK nih nanti jad jadi jendonggggg ,,
nanti pasti terbayang bayang rasanya kenyal"