Selama 25 tahun, Rashaka Nareswara setia menjaga cintanya. Ia tetap bertahan, dan berharap pada satu nama yang tak pernah berubah di hatinya. Hingga akhirnya, penantian panjang itu berbuah manis.
Ia berhasil mempersunting wanita yang ia cintai sejak dulu, memulai kehidupan rumah tangga yang tampak sempurna.
Namun, kebahagiaan itu tak pernah benar-benar utuh. Di balik senyum sang istri, tersimpan bayang-bayang masa lalu yang belum selesai. Masalah demi masalah yang perlahan meretakkan kehangatan yang mereka bangun.
Akankah cinta yang bertahan selama seperempat abad itu mampu melawan luka yang belum sembuh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GAYATRI S2 — BAB 10
Mereka berjalan berdampingan di sepanjang jalan yang diterangi lampu-lampu malam yang hangat. Toko-toko masih buka, orang-orang berlalu-lalang, dan udara terasa sejuk. Namun Gayatri tidak benar-benar menikmati semuanya.
Pikirannya melayang jauh, meninggalkan setiap pemandangan yang ada di hadapannya. Dan Shaka menyadarinya sejak mereka memutuskan untuk pergi berjalan-jalan di sore hari.
“Kau terlihat tidak fokus,” ucapnya pelan. “Kau bahkan belum memberitahuku apa yang terjadi? Mau sampai kapan kau tetap diam? Hanya sedikit mengingatkanmu bahwa aku adalah suamimu sekarang.”
Gayatri sedikit tersentak, lalu menoleh. “Apa?”
“Aku sama sekali tidak masalah jika kau tidak ingin menceritakannya padaku. Tapi, sejak tadi kau terlihat tidak nyaman, kau sudah membuatku cemas,” kata Shaka lagi, menatap Gayatri lekat-lekat.
Gayatri terdiam sejenak, lalu menghela napas perlahan. “Maaf, aku hanya tidak ingin mengganggu liburan kita. Maaf jika aku menyembunyikan ini, aku tidak ber—”
Shaka menatapnya, “Tidak apa-apa jika kau merasa keberatan.”
Gayatri menggeleng cepat, “Tidak, tidak, bukan itu maksudku,” jawab Gayatri akhirnya. “Aku hanya tidak ingin mengganggu waktu kita saja. Sebenarnya … aku mendapat kabar bahwa Shakira hamil.”
Shaka tampak terdiam sesaat, lalu bertanya. “Apa? Shakira hamil? Bukankah itu kabar bagus? Kita akan segera menjadi kakek dan nenek!” seru Shaka tak bisa menyembunyikan senyumnya.
Namun, Gayatri justru terdiam. Ia tentu bahagia dengan kabar itu, ibu mertua mana yang tidak senang saat tahu menantu perempuannya hamil? Gayatri pun turut bahagia, tetapi tidak dengan cerita Nayana yang mengikuti kabar bahagia itu.
“Ada apa? Apa kau tidak bahagia?” tanya Shaka kemudian, melihat Gayatri tetap diam saja, ia tahu pasti ada masalah lain yang mengganggunya.
“Aku bahagia, bahkan Nayana juga sangat bahagia. Tapi ternyata, Keenan sama sekali tidak bahagia dengan kabar kehamilan istrinya,” jelas Gayatri dengan lirih.
Shaka mengangguk paham, ternyata hal itulah yang mengganggu pikiran istrinya sejak sore. Tangannya terangkat menyentuh punggung tangan Gayatri lalu tersenyum hangat.
“Keenan mungkin hanya masih shock. Maksudku, mungkin saja dia masih terkejut dengan hal itu dan merasa belum benar-benar siap untuk memiliki anak. Saat kita pulang nanti, ayo ajak dia bicara secara langsung dan tanyakan pendapatnya,” ucapnya mencoba menenangkan.
Gayatri menoleh, balas tersenyum, merasa bersyukur memiliki suami yang begitu pengertian seperti Shaka. “Maaf tidak memberitahumu lebih awal, aku takut kau akan merasa terganggu dengan masalah keluargaku.”
Shaka menegakkan punggung, bersikap seolah-olah marah. “Apa maksudmu dengan keluargamu? Keluargamu adalah keluargaku juga, anak-anakmu adalah anak-anakku juga. Jika anak-anak kita mendapatkan kesulitan, sudah tentu menjadi tugas kita untuk membantu mereka, bukan?”
Gayatri tersenyum lega, lalu tanpa aba-aba memeluk Shaka dari samping. Cuaca yang dingin malam itu mendadak menjadi hangat karena kehadiran Shaka di sisinya.
“Terima kasih.”
“Untuk apa?” tanya Shaka tersenyum senang.
Gayatri menengadah lalu tersenyum tipis, “Untuk segalanya, yang telah kau berikan untukku. Cinta, pengertian, rasa hormat, dan semuanya.”
Shaka balas memeluk Gayatri dengan lebih erat, mereka tampak seperti remaja yang baru merasakan manisnya cinta.
“Apa pun akan aku lakukan untukmu, selama itu membuatmu bahagia,” katanya dengan bangga.
Gayatri mengangguk. “Kau tahu? Aku tidak bisa berpura-pura tidak memikirkannya.” Ia menunduk, jemarinya saling bertaut. “Dia sedang hamil, dan kondisinya tidak stabil secara emosi. Aku benar-benar mengkhawatirkannya. Meskipun aku tahu Nayana pasti akan menjaganya, tetap saja aku merasa cemas.”
Shaka menarik napas dalam, lalu menatap Gayatri lekat. “Kita bisa pulang besok jika mau,” katanya tenang.
Gayatri mengangkat wajahnya, terkejut. “Apa?”
“Bulan madu ini tidak akan berarti jika kau sendiri tidak benar-benar menjalaninya,” lanjut Shaka. “Aku tidak ingin kamu terus merasa gelisah seperti ini.”
Gayatri terdiam. Ia ingin pulang dan memeluk menantunya, tetapi juga merasa tidak enak hati pada suaminya sendiri.
“Kita bisa kembali jika itu yang kau inginkan,” tambah Shaka. “Keandra sudah membaik. Dan kalau Shakira membutuhkanmu, maka kau seharusnya ada di sana.”
Kata-kata itu membuat hati Gayatri semakin berat. Ia menatap Shaka, lalu menunduk lagi.
Di satu sisi, ada Shaka, suaminya yang baru saja ia nikahi dan berusaha memberinya kebahagiaan. Di sisi lain, ada Keandra, anaknya yang masih membutuhkan perhatian. Dan kini, Shakira, menantunya yang sedang berada dalam kondisi rapuh.
Gayatri merasa terbelah, tak tahu harus memilih sisi yang mana. Ia seperti berada di persimpangan jalan.
“Aku tidak tahu harus apa,” ucapnya pelan.
Shaka tidak menyela. Ia berdiri di sana, memberi ruang bagi Gayatri untuk merasakan semuanya. Karena ia tahu, ini bukan pilihan yang mudah. Dan apa pun yang dipilih Gayatri nanti, akan selalu ada bagian dari dirinya yang merasa tertinggal.
“Bagaimana jika kita pulang saja? Aku yakin kau tidak akan merasa tenang sebelum bertemu dengan Shakira dan berbicara dengan Keenan. Mengenai Keandra, aku akan meminta seseorang untuk menjaganya di sini,” tawar Shaka memberi solusi.
“Lalu, bagaimana denganmu? Apa kau tidak keberatan?” tanya Gayatri hati-hati.
“Kenapa kau bertanya seperti itu? Kita sudah hidup bersama sekarang, kita bisa menghabiskan waktu saat semua masalah ini selesai,” katanya lembut, menyentuh pipi Gayatri dan mengusapnya pelan.
•••
PESONA PRIA IJO NEON INI MEMANG MENYILAUKAN MATA YACH.
•••
Malam di kota itu terasa begitu hidup, lampu-lampu neon berkelap-kelip tanpa henti, suara musik yang menghentak keras, dan suara tawa bercampur dengan dentingan gelas yang saling beradu seolah menjadi suasana yang biasa di bar.
Di tengah keramaian itu, Keenan duduk di salah satu sudut bar dengan tubuh sedikit membungkuk. Tangannya menggenggam gelas berisi minuman beralkohol yang hampir habis, lalu meneguknya tanpa ragu.
Rasanya pahit, tetapi tidak sepahit isi kepalanya saat ini. Kabar itu terus berputar tanpa jeda di kepalanya, menciptakan denyut menyakitkan yang terus berulang.
Seharusnya itu menjadi kabar bahagia. Seharusnya ia tersenyum, memeluk istrinya, dan merayakannya seperti kebanyakan pria lain. Namun yang ia rasakan justru sebaliknya, sesak dan tertekan.
Ia menghela napas panjang, menyandarkan tubuhnya ke kursi. Musik DJ yang menggema tidak benar-benar ia dengar, semuanya terasa seperti kebisingan yang menutup pikirannya sendiri.
“Aku belum siap, kenapa dia tiba-tiba hamil? Apa dia tidak tahu betapa sulitnya menjaga anak di jaman sekarang?” gumamnya pelan.
Bayangan tentang masa depan muncul tanpa diundang, bayi, tangisan di tengah malam, rutinitas yang berubah, dan tanggung jawab yang tak bisa dihindari. Ia mengerutkan kening, meremas pelipisnya seolah itu bisa menghentikan semua bayangan tersebut. Tidak. Itu bukan yang ia inginkan sekarang.
Ia masih ingin menikmati hidupnya. Kariernya baru saja mulai stabil, dan masih banyak hal yang ingin ia capai, banyak pengalaman yang belum sempat ia rasakan. Ia belum ingin terikat, belum ingin kehilangan kebebasannya.
Pikirannya melayang pada teman-temannya yang sudah lebih dulu menjadi ayah. Obrolan mereka berubah, waktu mereka semakin sempit, dan pertemuan yang dulu terasa mudah kini menjadi sesuatu yang harus direncanakan dan Keenan tidak ingin berakhir seperti itu.
Ia meneguk minumannya lagi, lebih cepat kali ini. “Tambah lagi,” katanya singkat pada bartender.
Segelas minuman baru itu datang, dan tanpa banyak pikir, ia kembali meminumnya. Waktu berjalan tanpa terasa. Satu jam berlalu, tetapi pikirannya tidak juga menjadi lebih ringan, justru semakin kacau.
“Kau masih terlihat sama saja.”
Suara seorang wanita membuatnya sedikit menoleh. Seorang wanita berambut panjang dengan penampilan anggun berdiri di sampingnya, senyumnya tipis namun penuh percaya diri.
“Aku sudah memperhatikanmu sejak tadi,” katanya sambil duduk di kursi di sebelah Keenan tanpa menunggu izin. “Sepertinya kau sedang banyak beban. Mau kutemani?”
Keenan hanya melirik sekilas sebelum kembali menatap gelasnya. “Bisa dibilang begitu,” jawabnya datar.
Wanita itu tersenyum. “Kalau begitu, kau pasti membutuhkan aku, kau bisa menganggapku teman bicara, atau lebih dari sekadar itu,” bisiknya di akhir kalimat, tepat di samping telinga Keenan.
Wanita itu kemudian memberi isyarat pada bartender, memesan minuman untuk dirinya sendiri. “Aku tidak keberatan menemanimu, selama yang kau mau.”
Keenan menghela napas pelan. Dalam kondisi seperti ini, ia bahkan tidak peduli siapa yang duduk di sampingnya. Selama itu bisa mengalihkan pikirannya, untuk sesaat saja, itu sudah cukup. Di tengah dentuman musik dan cahaya yang berpendar, ia mencoba melupakan semuanya, meski hanya sementara.