Kaisar Pedang Langit, Cang Yue, menemui ajalnya di ujung bilah sang saudara seperguruan, Feng Jiantian. Alih-alih lenyap menjadi abu, jiwanya menyeberangi lautan reinkarnasi dan menetap di tubuh Yan Xinghe—seorang pemuda lumpuh dengan meridian hancur di Benua Tanah Spiritual. Tanpa keajaiban instan, Xinghe harus memulai dari titik terendah. Bermodalkan ingatan masa lalu dan tekad baja, ia merangkak naik, menahan penderitaan luar biasa untuk menempa ulang tubuh fana-nya. Ini adalah epik perjalanan darah dan keringat menembus benua demi benua, membelah Tiga Ribu Dunia, demi merebut kembali takhta keabadian yang terampas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuzuki chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 9 gerbang kota awan mengambang dan kesombongan ahli alkimia
Roda pedati berderit memecah kesunyian dataran gersang, berputar konstan melindas jalanan berkerikil. Di dalam kereta kayu berlapis karpet bulu milik Paviliun Awan Putih, Yan Xinghe duduk bersila dengan mata terpejam. Udara di dalam kabin terasa sejuk, diatur oleh sebuah formasi pengatur suhu tingkat rendah yang tertanam di atap kereta. Kemewahan fana ini jauh berbeda dengan kerasnya kehidupan di Desa Kabut Berbisik.
Di sudut kereta, Yan Qingshan terus mempraktikkan *Teknik Pernapasan Harimau Penelan Bumi*. Dada pemuda kekar itu naik turun dalam ritme yang aneh, menyerap esensi elemen tanah tipis yang merembes dari lantai kereta. Setiap kali ia menghembuskan napas, terdengar suara gemuruh pelan menyerupai dengkuran harimau buas. Shen Yulan dan Xiaoxiao tengah terlelap, wajah mereka akhirnya memancarkan kedamaian setelah berminggu-minggu dihantui teror kematian.
Xinghe memusatkan kesadarannya ke dalam Dantian. Enam meridian petir miliknya berputar lambat seperti konstelasi bintang ungu yang terisolasi. Tiga jalur lainnya—meridian yang ia hancurkan paksa untuk membunuh Gongsun Tian—masih berupa kepingan energi mati yang berserakan. Kondisi ini membuat tubuhnya terasa tidak seimbang. Jika ia mengalirkan kekuatan melebihi batas Penyempurnaan Tubuh Tingkat Ketiga, tekanan internal akan merobek sisa meridiannya hingga hancur total.
"Aku membutuhkan *Akar Petir Ungu*, *Batu Tetesan Bintang*, dan *Inti Besi Dingin* untuk merajut kembali tiga jalur ini," batin Xinghe, menyusun daftar bahan material. Ketiga benda tersebut merupakan material spiritual tingkat menengah. Menemukannya di desa pinggiran adalah kemustahilan absolut. Kota Awan Mengambang adalah satu-satunya harapan terdekat.
Ketukan pelan di pintu kayu kereta membuyarkan konsentrasi Xinghe.
"Tuan Muda Yan." Suara Hua Qingying terdengar dari luar, nadanya formal dan penuh kehati-hatian. "Nona Lin mengundang Anda untuk menikmati teh di kereta utama."
Xinghe perlahan membuka matanya. Ia melirik sekilas ke arah Qingshan yang mengangguk pelan, menandakan sang kakak siap menjaga ibu dan adik mereka. Xinghe bangkit, menyibakkan tirai kereta, lalu melompat ringan ke tanah yang berdebu.
Kafilah sedang berjalan santai. Xinghe melangkah menyusuri barisan kereta hingga tiba di kereta terdepan yang ukurannya dua kali lipat lebih besar, ditarik oleh empat ekor Kuda Bersisik Hitam. Kereta itu terbuat dari kayu gaharu wangi, memancarkan aura perlindungan yang kuat. Hua Qingying membukakan pintu untuknya.
Xinghe melangkah masuk. Interior kereta utama itu lebih menyerupai ruang tamu sebuah istana kecil. Lantainya berlapis permata giok yang memancarkan hawa hangat. Di tengah ruangan, sebuah meja kayu eboni rendah menampilkan satu set alat seduh teh porselen yang mengepulkan asap harum.
Lin Muxue duduk anggun di balik meja tersebut. Gaun biru esnya membalut tubuhnya dengan sempurna, wajahnya yang cantik sedingin pahatan salju abadi kini menunjukkan sedikit kelembutan. Gadis itu sedang menuangkan cairan teh berwarna kuning keemasan ke dalam dua cangkir porselen.
"Silakan duduk, Tuan Yan," ucap Muxue pelan, mengulurkan tangannya mempersilakan.
Xinghe duduk bersila di hadapannya. Posturnya rileks, matanya yang segelap jurang tak berdasar menyapu seisi ruangan sebelum akhirnya menatap wajah gadis bangsawan tersebut. Tidak ada sedikit pun rasa canggung atau segan yang biasa ditunjukkan oleh pemuda desa saat berhadapan dengan pewaris faksi besar.
"Teh Daun Embun Pagi," Xinghe menghirup aroma teh tersebut tanpa menyentuh cangkirnya. "Daunnya dipetik sebelum matahari terbit, diseduh menggunakan air mata air spiritual bawah tanah. Cukup bagus untuk menjernihkan pikiran praktisi tingkat dasar. Sayangnya, teknik penyeduhanmu membuang tiga puluh persen khasiat aslinya karena suhu airmu terlalu tinggi saat menuangkannya."
Tangan Muxue yang sedang memegang teko berhenti di udara. Hua Qingying yang berjaga di ambang pintu mengerutkan dahi, merasa pemuda ini terlalu sombong. Tidak ada yang pernah mengkritik kemampuan meracik teh Nona Lin.
Muxue perlahan meletakkan tekonya. Alih-alih marah, senyum tipis yang mengandung intrik muncul di bibirnya.
"Kau selalu berhasil mengejutkanku, Tuan Yan. Kau mengenali teh bangsawan, kau memahami kelemahan monster tingkat meridian, dan kau memiliki plakat identitas milik mitra dagang kami, Kepala Desa Gongsun Tian." Muxue menatap lekat mata Xinghe, mencoba mencari celah emosi. "Hua Qingying memberitahuku bahwa kau mengaku memungut plakat itu dari mayatnya."
"Tepatnya, mayat yang jantungnya baru saja kuubah menjadi abu," jawab Xinghe santai, meraih cangkir tehnya dan menyesapnya pelan. "Dia mengirim pasukan untuk membunuh keluargaku. Aku membalas kunjungannya. Sesederhana itu."
Muxue menarik napas panjang. Kepala Desa Gongsun Tian adalah praktisi Tingkat Kesembilan, selangkah lagi menuju Alam Meridian. Membunuh sosok seperti itu sendirian merupakan pencapaian yang tidak mungkin dilakukan oleh pemuda seusia Xinghe, apalagi seorang pemuda yang tubuhnya sama sekali tidak memancarkan fluktuasi energi tebal.
"Siapa kau sebenarnya, Yan Xinghe?" tanya Muxue, nada suaranya berubah sangat serius. "Sikapmu, pengetahuanmu, caramu membunuh... semua itu tidak cocok dengan latar belakang seorang pemuda miskin dari Desa Kabut Berbisik. Apakah kau seorang murid jenius dari sekte tersembunyi yang sedang menyamar?"
"Aku adalah orang yang sedang berusaha berjalan pulang," Xinghe meletakkan cangkirnya. Jawaban itu terdengar puitis, kebenarannya mencakup Tiga Ribu Dunia yang membentang di luar benua sempit ini. "Masa laluku tidak memiliki relevansi dengan transaksi kita hari ini. Kau mengundangku ke sini bukan sekadar untuk membahas cara menyeduh teh atau mengagumi caraku membunuh."
Muxue tersenyum pahit, mengakui kekalahannya dalam mencoba membaca pikiran pemuda misterius ini. Ia kembali pada sikap profesionalnya sebagai pewaris pedagang.
"Kau benar. Aku seorang pedagang, aku selalu mencari peluang yang menguntungkan," Muxue merapikan lipatan gaunnya. "Paviliun Awan Putih sedang menghadapi krisis besar. Penyakit ayahku, Ketua Paviliun Lin Zheng, semakin memburuk. Kami bertaruh nyawa mencari Bunga Teratai Darah di Hutan Binatang Buas untuk meracik penawarnya."
Gadis itu terdiam sejenak, matanya memancarkan kelelahan yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat.
"Keluarga Mu, rival bisnis utama kami di Kota Awan Mengambang, mulai bergerak agresif merebut rute perdagangan kami sejak berita jatuhnya kesehatan ayah tersebar. Selain itu, Sekte Pedang Angin Musim Gugur—penguasa mutlak wilayah ini—mulai menekan kami untuk menyerahkan sebagian besar saham pelelangan kami sebagai upeti perlindungan."
Muxue menatap Xinghe dengan penuh harap. "Aku melihat caramu bertarung. Aku juga melihat efektivitas bubuk penawar racun dan salep penyembuh yang keluargamu gunakan. Formula itu jelas lebih unggul dari produk utama paviliunku. Aku ingin menawarkan sebuah kesepakatan."
"Sebutkan," ucap Xinghe pendek.
"Bergabunglah dengan Paviliun Awan Putih sebagai Tetua Kehormatan Eksternal," tawar Muxue tanpa ragu. "Paviliun akan memberikan perlindungan mutlak bagi keluargamu di Kota Awan Mengambang. Kami akan menyediakan rumah mewah, pelayan, dan suplai emas bulanan. Sebagai imbalannya, kau memberikan formula perbaikan obat itu kepada kami, dan kau harus mewakili paviliun kami dalam Turnamen Bela Diri Aliansi Pedagang bulan depan."
Turnamen Bela Diri Aliansi Pedagang adalah cara faksi-faksi di Kota Awan Mengambang menyelesaikan sengketa wilayah tanpa perang terbuka. Pihak yang menang berhak mengambil alih rute perdagangan pihak yang kalah.
Xinghe terdiam. Jari telunjuknya mengetuk meja kayu eboni secara berirama. Sebuah tawaran yang sangat rasional dan saling menguntungkan dari sudut pandang fana.
"Emas dan rumah mewah tidak ada nilainya di mataku," Xinghe akhirnya memecah keheningan. "Aku akan memberikan tiga formula perbaikan tingkat rendah, sekaligus mewakili paviliunmu di turnamen bodoh itu. Sebagai gantinya, aku tidak menginginkan status pelayan berkedok Tetua Kehormatan. Aku menginginkan akses tidak terbatas ke dalam perbendaharaan inti Paviliun Awan Putih. Setiap material spiritual, herbal, dan bijih logam yang kubutuhkan, kalian harus menyediakannya tanpa bertanya."
Syarat itu membuat Hua Qingying nyaris mencabut pedangnya. "Kelancangan macam apa ini?! Perbendaharaan inti adalah urat nadi paviliun! Bahkan Nona Lin sendiri tidak bisa mengambil barang sembarangan dari sana tanpa persetujuan dewan tetua!"
Muxue mengangkat tangannya, menghentikan kemarahan pengawalnya. Ia menatap Xinghe dengan serius. Pemuda ini menuntut harga yang setara dengan nyawa sebuah faksi.
"Akses perbendaharaan inti adalah keputusan yang hanya bisa dibuat oleh ayahku sebagai Ketua Paviliun," jawab Muxue diplomatis. "Jika Bunga Teratai Darah berhasil menyembuhkannya nanti malam, aku akan memohon padanya untuk mengabulkan syaratmu. Sampai saat itu tiba, aku setidaknya bisa menjamin keselamatan keluargamu di dalam kompleks paviliun."
"Adil," Xinghe berdiri dari posisinya, menandakan percakapan telah selesai. "Fokuslah menyembuhkan ayahmu. Kita lihat apakah bungamu itu benar-benar membawa kehidupan, atau justru sebaliknya."
Xinghe melangkah keluar dari kereta, meninggalkan Lin Muxue yang merenungi kalimat terakhir pemuda itu dengan perasaan ganjil. Sebuah firasat buruk sekilas melintas di benaknya, namun segera ia tepis. Tabib agung paviliun telah menjamin bahwa Bunga Teratai Darah adalah satu-satunya jalan keluar.
Tiga jam kemudian, pemandangan dataran gersang perlahan berubah. Di ujung cakrawala, menembus lapisan awan tipis, berdirilah sebuah keajaiban arsitektur manusia fana.
Kota Awan Mengambang.
Tembok raksasa setinggi seratus meter yang terbuat dari bata batu granit putih memanjang sejauh mata memandang, seolah memeluk seluruh lembah. Di atas tembok tersebut, pilar-pilar batu berukir memancarkan pendar cahaya kebiruan, saling terhubung membentuk jaring energi tipis yang melindungi kota dari serangan monster udara. Formasi pertahanan berskala besar.
Di angkasa, terlihat beberapa kultivator mengendarai burung bangau raksasa dan elang bersisik melintasi awan, mendarat di menara-menara tinggi yang menjorok dari dalam kota.
Qingshan, Shen Yulan, dan Xiaoxiao melongok dari jendela kereta, mata mereka terbelalak menatap kemegahan yang melampaui imajinasi mereka. Desa Kabut Berbisik hanyalah setitik debu dibandingkan dengan metropolis kultivasi ini.
Xinghe menatap pemandangan itu dengan ekspresi datar. Di matanya, tembok granit raksasa itu hanyalah mainan anak-anak. Di kehidupan masa lalunya, ia pernah memerintah sebuah kota raksasa yang benar-benar mengambang di atas lautan bintang, ditarik oleh sembilan ekor naga emas primordial.
Kafilah Paviliun Awan Putih tidak perlu mengantre panjang di gerbang kota. Penjaga gerbang berpakaian zirah emas langsung membungkuk hormat melihat bendera awan mengambang, memberikan akses jalur khusus untuk rombongan tersebut.
Begitu memasuki kota, gelombang kebisingan menyergap telinga. Jalanan berlapis batu mulus selebar dua puluh meter dipenuhi oleh lautan manusia. Pedagang menggelar barang unik dari berbagai pelosok benua, ahli bela diri berjalan memanggul senjata besar, dan aroma makanan eksotis bercampur dengan bau rempah dari ratusan apotek yang berjajar.
Kafilah terus bergerak membelah kota, menembus distrik komersial hingga mencapai distrik bangsawan di pusat utara.
Markas utama Paviliun Awan Putih adalah sebuah kompleks bangunan raksasa yang berdiri megah di atas lahan seluas sepuluh hektar. Bangunan utamanya menyerupai pagoda setinggi tujuh lantai, terbuat dari kayu spiritual beraroma harum dan dihiasi genteng kristal putih yang memantulkan sinar matahari layaknya berlian.
Rombongan berhenti di pelataran utama. Para pelayan segera berlarian membantu menurunkan barang bawaan.
Lin Muxue turun dari keretanya dengan langkah tergesa. Wajahnya menegang, kecemasan kembali menguasai pikirannya. "Saudari Hua, antar Tuan Yan dan keluarganya ke Paviliun Bambu Hijau di sayap barat. Berikan mereka fasilitas tamu kehormatan. Aku harus segera membawa Bunga Teratai Darah ini ke ruang penyembuhan ayah."
Hua Qingying mengangguk patuh. Ia menuntun keluarga Yan melewati taman batu yang indah, jembatan kayu melengkung di atas kolam ikan koi spiritual, hingga tiba di sebuah kompleks bangunan elegan yang dikelilingi rimbunnya bambu hijau. Udara di tempat ini sangat segar, dipenuhi energi elemen kayu yang menenangkan.
"Kalian bisa beristirahat di sini," ujar Hua Qingying, sikapnya masih kaku. "Pelayan akan membawakan pakaian bersih dan makanan hangat. Tolong jangan berkeliaran terlalu jauh dari area sayap barat. Kondisi paviliun sedang tegang."
Qingshan segera mengucapkan terima kasih sambil menopang ibunya. Tempat ini terlalu mewah untuk mereka.
Xinghe tidak langsung masuk ke dalam bangunan. Pandangannya terpaku ke arah pagoda utama setinggi tujuh lantai di tengah kompleks. Indra spiritualnya yang tajam menangkap fluktuasi energi elemen es dan api yang saling bertabrakan secara tidak stabil dari lantai teratas bangunan tersebut.
"Kakak, masuklah terlebih dahulu. Aku perlu melihat sesuatu," ucap Xinghe, memutar langkahnya menjauhi Paviliun Bambu Hijau.
"Tuan Yan! Anda tidak bisa pergi sembarangan!" Hua Qingying mencoba menahan.
Xinghe menoleh sekilas, matanya memancarkan tekanan absolut yang membuat Hua Qingying tidak mampu menggerakkan kakinya. "Ayah nonamu sedang menginjak gerbang neraka. Jika kau ingin paviliunmu hancur malam ini, silakan halangi jalanku."
Tanpa menunggu persetujuan, tubuh Xinghe melesat layaknya bayangan ditiup angin, bergerak menuju pagoda utama dengan kecepatan yang nyaris tidak tertangkap mata telanjang. Hua Qingying menggigit bibirnya, lalu bergegas mengejar di belakang pemuda itu.
Di lantai tujuh pagoda utama, suasana sangat mencekam. Ruangan raksasa itu diterangi oleh lusinan kristal cahaya. Di tengah ruangan, sebuah ranjang raksasa yang terbuat dari bongkahan Es Kutub Utara memancarkan hawa beku yang membekukan napas.
Di atas ranjang es tersebut, terbaring sosok pria paruh baya yang kondisinya sangat mengenaskan. Wajahnya kurus kering, kulitnya menghitam seperti arang, dan urat-urat merah menyala menonjol di lehernya, berdenyut liar seperti cacing hidup. Dialah Lin Zheng, Ketua Paviliun Awan Putih, seorang maestro Alam Pemadatan Inti Mistik yang kini tidak berdaya.
Lin Muxue berdiri di samping ranjang, air mata mengalir di pipinya yang mulus. Ia baru saja menyerahkan kotak berisi Bunga Teratai Darah kepada seorang pria tua berjubah putih bersulam tungku emas.
Pria tua itu adalah Master Gu Yan, Kepala Alkemis Paviliun Awan Putih, seorang tokoh arogan yang statusnya setara dengan tetua agung.
Master Gu Yan tertawa pelan, membelai janggut panjangnya saat menatap bunga berwarna merah menyala di tangannya. "Sempurna! Bunga Teratai Darah berusia seratus tahun yang mekar di atas sarang petir. Energi Yang murninya berada pada puncaknya. Nona Lin, Anda telah membawa keselamatan bagi paviliun ini."
"Tolong, Master Gu. Cepat racik penawarnya. Ayahku nyaris tidak bernapas," isak Muxue memohon.
"Tenanglah, Nona. Tubuh Ketua Lin diracuni oleh *Asap Tulang Layu*. Racun itu membakar esensi darahnya dari dalam. Itulah mengapa aku meletakkannya di atas ranjang Es Kutub ini untuk meredam laju pembakaran," jelas Gu Yan dengan nada bangga. "Sekarang, aku akan mengekstrak energi Yang dari bunga ini, mengubahnya menjadi Pil Darah Berkilau, dan memaksanya menembus racun itu untuk menyambung kembali esensi darah yang putus."
Gu Yan memanggil tungku perunggu raksasa dari cincin penyimpanannya. Ia mulai memasukkan berbagai herbal tambahan, memanaskan tungku dengan energi spiritual api dari telapak tangannya. Asap harum mulai mengepul memenuhi ruangan. Muxue menatap proses itu dengan harapan yang meluap-luap.
Dua jam berlalu penuh ketegangan. Tungku itu akhirnya bergetar keras. Gu Yan menghentakkan telapak tangannya pada penutup tungku. Sebiji pil berwarna merah delima yang memancarkan pendar cahaya keemasan melesat keluar, ditangkap dengan rapi ke dalam botol giok kecil.
"Selesai! Pil Darah Berkilau Kualitas Sempurna!" seru Gu Yan bangga, wajahnya berseri-seri. Ia berjalan menghampiri ranjang es, bersiap menyuapkan pil itu ke mulut Lin Zheng.
*TRAK!*
Pintu kayu eboni ruangan itu tiba-tiba ditendang terbuka dengan keras. Angin dingin dari lorong menerobos masuk, mengacak-acak rambut Gu Yan.
Sosok Yan Xinghe melangkah masuk dengan tenang, jubah serigalanya berkibar pelan. Di belakangnya, Hua Qingying berlari terengah-engah, wajahnya pucat pasi karena gagal menghentikan pemuda itu melewati puluhan penjaga bersenjata di lantai bawah. Niat Pedang Xinghe terlalu licin dan menakutkan untuk ditahan tanpa pertarungan skala besar.
"Tuan Yan?! Apa yang kau lakukan di sini?!" Muxue membelalakkan mata, keterkejutan bercampur marah mewarnai wajahnya. Ruang penyembuhan ketua paviliun adalah area absolut terlarang bagi orang luar.
Xinghe tidak mempedulikan kemarahan Muxue. Matanya langsung tertuju pada pil merah di tangan Gu Yan, lalu beralih menatap ranjang es dan pria hitam pekat di atasnya.
"Seni membunuh orang perlahan berkedok pengobatan," cibir Xinghe datar, suaranya bergema jelas di seluruh ruangan. "Masukkan pil sampah itu ke dalam mulutnya, dan ayahmu akan meledak menjadi serpihan darah hitam dalam waktu lima tarikan napas, Nona Lin."
Ruangan itu seketika hening. Keheningan yang diikuti oleh ledakan amarah.
"Lancang!" raung Master Gu Yan, wajahnya memerah padam akibat penghinaan terbuka tersebut. Ia menunjuk wajah Xinghe dengan jari gemetar. "Bocah pengemis dari lubang kotoran mana kau ini?! Berani-beraninya kau menghina karya agung seorang alkemis tingkat menengah dari Asosiasi Kota! Pengawal! Patahkan kaki dan tangannya, lalu lemparkan dia ke kolam buaya!"
Enam pengawal berpakaian zirah berat di dalam ruangan segera menghunus pedang mereka, melangkah maju untuk meringkus Xinghe.
"Berhenti!" perintah Muxue dengan nada tinggi. Meskipun ia marah, insting pedagangnya dan ingatan akan mukjizat di Hutan Binatang Buas membuatnya menahan diri. Ia menatap Xinghe dengan mata menyipit. "Jelaskan kata-katamu, Yan Xinghe. Mengapa kau mengklaim obat ini akan membunuh ayahku?"
Gu Yan mendengus kasar. "Nona Lin, Anda tidak sungguh-sungguh mendengarkan celotehan bocah kampung yang bahkan tidak memiliki api alkimia, bukan? Ini adalah Pil Darah Berkilau! Catatan medis kuno mana pun akan membenarkan bahwa ini adalah penawar *Asap Tulang Layu*!"
"Kau benar," Xinghe berjalan santai mendekati ranjang, sama sekali tidak terpengaruh oleh pedang para pengawal yang menodongnya. "Pil Darah Berkilau memang penawar *Asap Tulang Layu*. Permasalahannya, apa yang membuat otak tuamu yang lamban itu menyimpulkan bahwa pria ini terkena racun tersebut?"
"Matamu buta?!" bentak Gu Yan murka. "Lihat kulitnya yang menghitam dan urat darahnya yang terbakar! Suhu tubuhnya mencapai titik didih! Ini adalah gejala mutlak Asap Tulang Layu tahap akhir!"
Xinghe menggeleng pelan, senyum mengejek terlukis di bibirnya. Sebuah senyum yang membuat Gu Yan merasa sangat direndahkan.
"Kau membaca buku setengah jalan, Tua Bangka. Gejala luar mungkin terlihat sama, kau melupakan fondasi energi," Xinghe mengulurkan tangannya, meletakkan ujung telunjuknya tepat di atas pusat dada Lin Zheng.
Sebuah sengatan energi petir ungu yang sangat kecil dialirkan melalui jari Xinghe.
Seketika itu juga, urat-urat merah yang menonjol di leher Lin Zheng bereaksi drastis. Warna merah menyala itu tiba-tiba berubah menjadi biru es yang pucat. Lapisan bunga es tipis merambat keluar dari pori-pori kulitnya yang menghitam, memancarkan hawa dingin yang jauh melampaui dinginnya ranjang Es Kutub.
Gu Yan mematung. Matanya nyaris melompat keluar dari kelopaknya. "I-ini... hawa dingin absolut?! Mustahil! Asap Tulang Layu adalah racun elemen api ekstrim!"
"Itulah kebodohanmu," ucap Xinghe tajam. "Ini bukan Asap Tulang Layu. Ini adalah *Sembilan Cacing Embun Pematikan*, sebuah racun elemen Yin ekstrem yang disamarkan menggunakan pembakaran darah ilusi. Racun itu bersembunyi di dalam sumsum tulang, membuat tubuh merespons dengan memanaskan darah di lapisan luar untuk melawannya."
Xinghe menunjuk ke arah ranjang es. "Kesalahan pertamamu: Kau meletakkannya di atas ranjang Es Kutub untuk meredam panas kulitnya. Padahal, hawa es ini jutru memberi makan racun elemen Yin di dalam tulangnya, membuatnya menyebar sepuluh kali lebih cepat. Ketua Lin seharusnya masih bisa bertahan tiga bulan, tindakan jeniusmu memangkas umurnya menjadi hitungan hari."
Gu Yan terhuyung mundur. Keringat dingin sebesar biji jagung membasahi dahinya. Ia adalah seorang ahli, ia segera menyadari kebenaran mutlak dari analisis pemuda itu begitu melihat kemunculan hawa es biru dari dada Lin Zheng.
Xinghe beralih menunjuk botol giok di tangan Gu Yan. "Kesalahan kedua yang paling fatal: Bunga Teratai Darah yang kau jadikan pil. Bunga itu menyerap petir dari Hutan Binatang Buas. Energi Yang-nya luar biasa buas. Memasukkannya ke dalam tubuh yang urat nadinya dibekukan oleh racun Yin, sama dengan membenturkan api dan es di dalam cawan kaca."
Xinghe menatap Lin Muxue yang kini wajahnya sepucat kertas putih. "Seperti yang kukatakan, jika ayahmu menelan pil ini, benturan elemen Yin dan Yang akan meledakkan seluruh meridian dan Dantiannya. Dia akan mati berkeping-keping."
Ruang penyembuhan itu mendadak hening. Fakta mengerikan itu memukul Muxue layaknya palu godam. Kerja kerasnya mencari Bunga Teratai Darah, pengorbanan anak buahnya, semua itu justru hampir menjadi senjata pembunuh ayahnya sendiri. Gadis itu menatap Master Gu Yan, matanya memancarkan kekecewaan dan amarah yang mendalam.
"Master Gu," suara Muxue bergetar menahan emosi. "Apakah yang dikatakan pemuda ini benar?"
Gu Yan tidak bisa menjawab. Bibirnya gemetar. Kesombongannya hancur berkeping-keping di hadapan logika medis mutlak yang diutarakan Xinghe. Jika ia benar-benar memberikan pil itu tadi, ia akan dicap sebagai pembunuh Ketua Paviliun. Kariernya, nyawanya, semuanya akan hancur malam ini.
"Tu-Tuan Muda... Anda..." Gu Yan menatap Xinghe, nada suaranya berubah seratus delapan puluh derajat dari arogan menjadi penuh ketakutan. "Pengetahuan Anda melampaui tabib agung istana kerajaan. Bagaimana Anda bisa membedakan racun ilusi itu hanya dengan satu sentuhan?"
Xinghe menarik tangannya dari dada Lin Zheng, mengabaikan pertanyaan Gu Yan. Ia tidak punya kewajiban memberikan kuliah gratis pada dokter amatir. Pandangannya kembali pada Lin Muxue.
"Aku bisa menarik racun ini keluar dari tulang ayahmu dan menstabilkan Dantiannya. Bunga Teratai Darah ini bisa digunakan, bukan untuk ditelan, melainkan sebagai media penarik racun melalui formasi akupuntur," ucap Xinghe datar. "Pilihannya ada di tanganmu, Nona Lin. Percayakan nyawa ayahmu pada si bodoh ini dan siapkan peti mati, atau penuhi syarat perbendaharaan intiku dan tonton aku menariknya kembali dari gerbang neraka."
Lin Muxue mengepalkan tangannya erat-erat. Ini bukan sekadar pertaruhan bisnis; ini adalah pertaruhan nyawa satu-satunya keluarga yang tersisa baginya, sekaligus pilar utama Paviliun Awan Putih. Mengizinkan pemuda misterius tanpa izin praktek medis menyentuh ayahnya adalah pelanggaran protokol terbesar.
Akan tetapi, mengingat deretan mukjizat yang dilakukan Xinghe sejak pertemuan pertama mereka, serta kepanikan luar biasa di wajah Master Gu Yan, Muxue mengambil keputusan tercepat dan tergila dalam hidupnya.
Ia membungkuk sembilan puluh derajat di hadapan Xinghe, mengabaikan harga dirinya sebagai pewaris tunggal.
"Tolong selamatkan ayahku, Tuan Yan," ucap Muxue mantap. "Jika Tuan berhasil, Paviliun Awan Putih tidak hanya akan membuka perbendaharaan intinya untuk Tuan, melainkan menganggap Tuan sebagai penyelamat agung kami."
Xinghe tersenyum tipis. Sebuah ikatan karma yang menguntungkan telah terjalin kokoh. Ia membalikkan badan, berjalan ke arah meja panjang yang memuat berbagai macam alat alkimia.
"Buang ranjang es sampah ini. Pindahkan ayahmu ke lantai kayu. Siapkan sembilan puluh sembilan jarum perak, nyalakan tungku, dan kalian semua menyingkir dari jalanku," perintah Xinghe otoriter, mendominasi ruangan layaknya seorang kaisar yang memberi titah mutlak.
Gu Yan yang sebelumnya berniat melempar Xinghe ke kolam buaya, kini buru-buru berlari mengambilkan kotak jarum perak layaknya pelayan magang yang patuh.
Malam ini, di lantai tujuh pagoda utama Kota Awan Mengambang, seorang mantan penguasa Tiga Ribu Dunia bersiap menunjukkan bahwa kekuatan sejati bukan hanya terletak pada ujung mata pedang, melainkan pada kemampuan memutar balik roda kehidupan itu sendiri.