NovelToon NovelToon
Dari Perjodohan Yang Salah, Lahir Cinta Yang Benar

Dari Perjodohan Yang Salah, Lahir Cinta Yang Benar

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Perjodohan
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Uzumaki Amako

Sejak ibu kandungku meninggal, aku hidup sebagai orang asing di rumahku sendiri. Saat perjodohan datang, harapanku hancur ketika kakak tiriku merebut segalanya dan aku dipaksa menikah dengan pria lumpuh yang tak kukenal. Namun, dari perjodohan yang tidak adil itu, aku justru menemukan ketulusan dan cinta yang selama ini tak pernah kudapatkan. Ketika kebenaran terungkap dan masa laluku ingin mengklaimku kembali, aku harus memilih—kembali pada yang seharusnya, atau bertahan pada cinta yang telah menjadi rumahku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uzumaki Amako, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 9

Aku duduk di sofa ruang kerja Adrian cukup lama, memperhatikan dia bekerja, membaca majalah yang ada di meja, lalu melihat pemandangan kota dari jendela besar. Namun setelah hampir satu jam, aku merasa ingin ke toilet.

Aku berdiri pelan.

“Aku keluar sebentar,” kataku.

Adrian tidak mengangkat kepala dari laptopnya. “Belok kiri dari lift, ada toilet khusus tamu.”

"Iya."

Bagaimana dia tau aku akan ke toilet? 

Aku keluar dari ruangannya dan menutup pintu pelan. Lorong kantor itu sangat tenang, lantainya mengkilap, dan semua orang yang lewat berpakaian rapi. Beberapa karyawan menunduk sopan saat aku lewat, membuatku masih belum terbiasa.

Aku berjalan mengikuti arah yang Adrian bilang. Setelah dari toilet, aku mencuci tangan dan melihat diriku di cermin.

Aku masih terlihat seperti diriku yang biasa.

Sederhana.

Tidak seperti wanita-wanita yang mungkin biasa datang ke kantor ini.

Aku mengeringkan tangan, lalu keluar dari toilet dan berjalan kembali ke arah ruang kerja Adrian.

Namun di tengah lorong, aku melihat seseorang berjalan dari arah berlawanan.

Seorang wanita.

Dan jujur saja—dia sangat mencolok.

Dia memakai dress ketat warna hitam, sepatu hak tinggi, rambut panjang bergelombang, make up sempurna, dan tas kecil yang terlihat sangat mahal. Cara jalannya percaya diri, seperti orang yang terbiasa diperhatikan.

Dia benar-benar terlihat seperti artis atau model.

Aku otomatis menepi sedikit agar dia bisa lewat.

Namun saat dia semakin dekat, dia menatapku dari atas sampai bawah. Bukan menatap ramah. Lebih seperti menilai.

Aku sedikit tidak nyaman, tapi aku tetap diam.

Dia berhenti tepat di depanku.

“Kamu orang baru?” tanyanya.

Suaranya halus, tapi nadanya agak tinggi.

Aku sedikit bingung harus menjawab apa. “Iya… bisa dibilang begitu.”

Dia masih menatapku. “Magang?”

Aku menggeleng. “Bukan.”

Dia mengangkat alis sedikit, seperti penasaran, tapi tidak terlalu peduli. Lalu dia melewatiku begitu saja dan berjalan menuju… arah ruang kerja Adrian.

Aku langsung menoleh.

Wanita itu berjalan tanpa ragu dan berhenti tepat di depan pintu ruang kerja Adrian.

Tanpa mengetuk.

Dia langsung membuka pintu dan masuk.

Aku langsung berhenti berjalan.

Jantungku tiba-tiba berdetak lebih cepat.

Entah kenapa.

Aku berdiri beberapa detik di lorong, menatap pintu yang sudah tertutup itu.

Aku tidak tahu kenapa aku merasa aneh.

Mungkin karena cara wanita itu masuk begitu saja.

Seperti sudah sangat terbiasa.

Seperti… itu bukan pertama kalinya.

Aku ragu sebentar, tapi akhirnya aku berjalan ke arah pintu dan mengetuk pelan.

Dari dalam terdengar suara Adrian, “Masuk.”

Aku membuka pintu.

Dan langsung melihat wanita tadi berdiri di depan meja Adrian, bersandar santai seperti mereka sudah sangat dekat. Dia tersenyum lebar.

“Adrian, kamu benar-benar sulit dihubungi,” katanya manja.

Adrian terlihat biasa saja. Tidak tersenyum, tidak juga terlihat kaget.

“Kalau ada urusan kerja, hubungi sekretaris,” jawabnya datar.

Wanita itu tertawa kecil. “Kamu masih dingin seperti dulu.”

Lalu dia melihat ke arahku yang baru masuk.

Matanya langsung menyipit sedikit.

“Dan ini siapa,? katanya dia bukan kerja magang di sini.”

Ruangan tiba-tiba terasa sedikit tegang.

Aku berdiri di dekat pintu, tidak tahu harus maju atau tetap di situ.

Adrian langsung menjawab sebelum aku sempat bicara.

“Istriku.”

Sunyi.

Wanita itu terlihat benar-benar kaget. Sangat kaget sampai ekspresinya berubah total.

“Istri?” ulangnya.

Adrian tetap tenang. “Iya.”

Wanita itu menatapku lagi. Kali ini lebih lama. Lebih tajam. Lebih tidak ramah.

Seolah sedang membandingkan.

Aku langsung merasa tidak nyaman.

Wanita itu lalu tersenyum tipis, tapi senyumnya tidak terasa hangat.

“Wow… kamu menikah dan aku tidak diundang?”

“Kami tidak mengadakan pesta,” jawab Adrian singkat.

Wanita itu berjalan mendekat sedikit ke arah meja, lalu berkata,

“Kamu benar-benar berubah setelah kecelakaan.”

Kalimat itu membuat ruangan terasa dingin.

Namun Adrian tetap tenang. “Kalau kamu datang hanya untuk membahas masa lalu, lebih baik kamu pulang.”

Wanita itu menghela napas dramatis. “Kamu selalu seperti ini. Tidak pernah bisa diajak bicara santai.”

Lalu dia mengambil kartu dari tasnya dan meletakkannya di meja Adrian.

“Minggu depan ada acara fashion show dan after party. Datanglah. Bawa istrimu juga. Aku ingin mengenalnya lebih jauh.”

Aku tidak tahu kenapa, tapi kalimat ingin mengenalnya lebih jauh tidak terdengar seperti ajakan ramah.

Wanita itu lalu berbalik dan berjalan ke arah pintu. Saat melewatiku, dia berhenti sebentar dan berbisik pelan,

“Kamu beruntung sekali.”

Aku tidak tahu maksudnya beruntung atau sindiran.

Dia lalu keluar dari ruangan dengan langkah percaya diri seperti saat datang.

Pintu tertutup.

Ruangan langsung sunyi.

Aku masih berdiri di dekat pintu.

Adrian menatap kartu undangan di meja beberapa detik, lalu memindahkannya ke samping seolah tidak penting.

Aku akhirnya berjalan pelan kembali ke sofa.

Beberapa menit kami sama-sama diam.

Lalu aku bertanya pelan,

“Dia… siapa?”

Adrian tidak langsung menjawab.

Ia menutup laptopnya pelan, lalu berkata singkat—

“Masa lalu.”

Aku menatap Adrian beberapa detik setelah dia mengatakan satu kata itu.

Masa lalu. 

Jawaban yang sangat singkat. Terlalu singkat malah. Tapi entah kenapa, dari caranya mengatakan itu, aku tahu cerita di baliknya pasti tidak sederhana.

Aku duduk di sofa, sementara Adrian kembali membuka laptopnya seolah percakapan tadi sudah selesai.

Namun suasana di ruangan berubah.

Tidak lagi setenang sebelumnya.

Aku mencoba membaca majalah lagi, tapi tidak fokus. Pikiranku terus kembali ke wanita tadi—cara jalannya, cara bicaranya, cara dia masuk tanpa mengetuk, dan cara dia berbicara dengan Adrian seperti mereka sangat dekat.

Akhirnya aku menutup majalah itu.

“Apa dia… temanmu?” tanyaku pelan.

Adrian tidak langsung menjawab. Ia masih menatap layar laptop beberapa detik sebelum akhirnya berkata,

“Dulu.”

“Dulu?” ulangku.

“Iya.”

Hanya itu. Lagi-lagi jawaban singkat.

Aku tidak tahu apakah aku boleh bertanya lebih jauh atau tidak. Pernikahan kami bukan pernikahan biasa. Kami tidak pernah membicarakan hal-hal pribadi terlalu dalam.

Tapi entah kenapa, kali ini aku penasaran.

“Dia terlihat sangat dekat denganmu,” kataku hati-hati.

Adrian akhirnya menutup laptopnya pelan, lalu menatapku. Tatapannya tidak marah, tapi serius.

“Namanya Vanessa,” katanya. “Kami saling mengenal sudah lama.”

Aku mengangguk pelan, menunggu dia melanjutkan.

“Dulu semua orang pikir aku akan menikah dengannya,” lanjutnya tenang.

Dadaku tiba-tiba terasa aneh.

Aku tidak menyangka jawabannya akan sejelas itu.

“Tapi itu dulu,” katanya lagi.

Aku menunduk sedikit, memainkan ujung majalah di tanganku.

“Kenapa tidak jadi menikah?” tanyaku pelan tanpa sadar.

Ruangan menjadi sunyi beberapa detik.

Aku langsung merasa mungkin aku terlalu jauh bertanya.

Namun Adrian menjawab.

“Karena setelah kecelakaan, banyak hal berubah.”

Aku menatapnya lagi.

Ia melanjutkan dengan suara datar, tapi entah kenapa terdengar lebih berat dari biasanya.

“Orang-orang bisa bilang mereka akan tetap tinggal saat semuanya baik-baik saja. Tapi saat hidupmu berubah… tidak semua orang benar-benar tinggal.”

Aku tidak perlu penjelasan lebih panjang untuk mengerti maksudnya.

Vanessa meninggalkannya setelah kecelakaan.

Aku menelan pelan.

Untuk pertama kalinya aku merasa sedikit mengerti kenapa Adrian sangat dingin, sangat tertutup, dan seperti tidak berharap apa-apa dari orang lain.

Karena mungkin… dia pernah berharap, lalu kecewa.

“Apa dia datang karena ingin kembali?” tanyaku pelan.

Adrian menggeleng kecil. “Dia datang karena dia selalu datang. Dia tidak pernah benar-benar peduli dengan jawabanku.”

Aku tidak tahu harus menjawab apa.

Beberapa detik kami sama-sama diam.

Lalu Adrian tiba-tiba berkata,

“Kamu tidak perlu memikirkan dia.”

Aku sedikit kaget. “Aku tidak memikirkan dia.”

“Kamu memikirkan,” katanya langsung.

Aku tidak bisa membantah, jadi aku hanya diam.

Ia menatapku beberapa detik, lalu berkata pelan,

“Aku menikah denganmu bukan karena masa laluku.”

Kalimat itu membuatku menatapnya lagi.

Ia melanjutkan,

“Dan aku juga tidak akan kembali ke masa lalu.”

Dadaku terasa hangat lagi. Perasaan yang belakangan ini sering muncul saat dia mengatakan sesuatu yang sederhana tapi jelas.

“Aku tidak bertanya kamu akan kembali atau tidak,” kataku pelan. “Aku hanya… kaget.”

“Kaget karena?” tanyanya.

Aku berpikir sebentar, lalu menjawab jujur,

“Karena dia sangat berbeda dariku.”

Adrian langsung menjawab tanpa berpikir lama,

“Ya. Sangat berbeda.”

Aku menunduk sedikit. “Dia cantik, percaya diri, cocok dengan duniamu.”

Adrian tidak langsung menjawab kali ini.

Beberapa detik kemudian ia berkata pelan,

“Dia cocok dengan hidupku yang dulu.”

Aku menatapnya lagi.

“Dan kamu?” tanyaku pelan.

Ia menatapku cukup lama. Lama sekali sampai aku sedikit gugup sendiri.

Lalu ia berkata sangat pelan—

“Kamu cocok dengan hidupku yang sekarang.”

Aku tidak tahu kenapa, tapi kalimat itu membuat jantungku berdetak lebih cepat.

Bukan kalimat romantis.

Bukan juga pujian.

Tapi terasa… sangat jujur.

Dan entah kenapa, itu lebih berarti dari kata-kata manis.

Aku tersenyum kecil tanpa sadar.

“Aku tidak tahu itu pujian atau tidak,” kataku pelan.

“Itu fakta,” jawabnya.

Ruangan kembali sunyi, tapi sunyi kali ini terasa berbeda.

Lebih hangat.

Lebih dekat.

Beberapa saat kemudian sekretaris mengetuk pintu dan masuk membawa beberapa berkas untuk Adrian. Ia kembali bekerja, dan aku kembali duduk di sofa.

Namun kali ini, pikiranku tidak lagi tentang Vanessa.

Aku justru memikirkan satu hal—

Mungkin pernikahan ini memang tidak dimulai dengan cinta.

Tapi pelan-pelan… sesuatu mulai tumbuh di antara kami.

Dan aku mulai takut.

Takut kalau suatu hari nanti aku terlalu terbiasa berada di sampingnya.

Terlalu terbiasa mendorong kursi rodanya.

Terlalu terbiasa mendengar suaranya.

Terlalu terbiasa… menjadi bagian dari hidupnya.

Karena kalau sampai aku terbiasa—

Aku tidak tahu apakah aku masih bisa kembali hidup tanpa dia.

1
Siti Jubaedah
trima kasih karyanya semoga lebih semangat membacanya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!