Elizabeth Zamora atau yang biasa di panggil dengan Liz telah terjebak dalam pernikahan kontrak yang membawa dia pada titik terendah dalam hidupnya.
Akankah Liz bisa melalui takdir yang telah digariskan semesta untuknya ??
Happy Reading 💜
Enjoy 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ratu_halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 9
Desir angin menerpa wajah Yurike ketika Nenek Zalia berlalu meninggalkan nya. Setiap derap terasa menggema seolah lantai itu ikut bergetar menertawakannya.
Terdengar pintu terbuka, saat Yurike menoleh seketika saja wajah Yurike kembali berubah merah padam.
Yurike mengangkat bokongnya dengan kasar, dia melangkah tergesa menghampiri Liz yang masih berdiri di depan pintu kamar tamu.
"Aku mau bicara denganmu!" Yurike mencengkram tangan Liz lalu menyeret Liz ke halaman belakang.
Awwshhh.
Liz meringis ketika tubuhnya dihempas kasar oleh Yurike.
"Jelaskan semuanya padaku!" Bentak Liz berapi-api.
"Jelaskan apa ?" tanya Liz sambil mengusap pergelangan tangannya yang memerah karena cengkraman Yurike yang terlalu kuat.
"Jangan pura-pura bodoh! Aku nggak nyangka ternyata kamu sejahat ini padaku!" Yurike menatap nyalang pada Liz.
"Loh. Aku jahat apa ? Aku sudah mengabulkan permintaan mu untuk menikah dengan suami mu. Lalu kenapa sekarang kamu malah berlagak seperti korban ?!"
"Iya, memang. Tapi tidak di belakang ku juga, Liz."
Liz membuang nafas. "Kamu yang tidak ada kenapa malah menyalahkan aku ? Sudah ku bilang sebelumnya, persahabatan kita akan hancur, tapi kamu tidak percaya."
"Sudahlah, kamu tidak perlu pura-pura didepanku!" Yurike mengibaskan tangan nya didepan wajah Liz, "Sebenarnya kamu senang kan menjadi bagian keluarga konglomerat Baskoro ini ?! Huh! Jangan sok suci. Aku tau selama ini kau selalu ingin berada di posisi ku."
"Yurike! Kau sangat keterlaluan! Tidak pernah sekalipun terbersit dalam hati dan pikiranku untuk menggantikan posisimu!"
"Alah, jangan bohong! Aku tau otak licik mu!" Ujar Yurike, semakin berang.
Liz menggeleng sambil tertawa kecil. Untuk pertama kali nya Liz menatap Yurike dengan pandangan kasihan.
"Sekarang aku tau, ternyata serendah itu aku dimata mu."
Liz kemudian berbalik, meninggalkan Yurike.
"Aku belum selesai bicara denganmu ELIZABETH!" Seru Yurike kesal dengan penuh penekanan.
"Tunggu Liz," teriak Yurike, berusaha mengejar adik madunya. "Aku tidak akan memberikan kamu kesempatan untuk mencuri posisi ku sebagai menantu satu-satunya keluarga ini!"
Liz tidak memperdulikan kemarahan Yurike. Wanita itu mempercepat langkahnya menuju kamar tamu. Namun langkah Liz berhenti sejenak ketika dia melihat Tama sudah berdiri tegak dengan posisi menghadap ke arah dimana Liz dan Yurike tadi berada.
Sepersekian detik tatapan mereka beradu. Dapat Tama lihat ada genangan air mata yang hampir tumpah di pelupuk mata Liz.
"Liz," Pekik Yurike yang baru tiba, langkahnya pun mendadak ikut berhenti.
"M-mas," Yurike kaget melihat Tama muncul disana.
"Ada apa ini ?" Tanya Tama dengan suara dingin.
"Ti-tidak, tidak ada apa-apa." Jawab Yurike gugup. Dia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya bahwa baru saja dia menuduh Liz yang tidak-tidak.
Tama menatap Liz dan Yurike bergantian. Yurike memang ahli dalam berdusta, tapi Tama yakin, Liz tidak seperti itu.
Yurike melotot tak percaya ketika melihat sang suami malah menghampiri Liz, bukan dirinya.
Tama mengusap kepala Liz sambil berkata, "Liz, katakan padaku, ada apa ? Kenapa wajahmu sedih ?"
Yurike semakin dibuat sesak nafas ketika melihat bagaimana Tama memperlakukan Liz.
Liz mengangkat kepalanya, menatap Tama dari bawah karena postur tinggi mereka yang jomplang. Liz tau Tama sedang memainkan perannya di depan Yurike, maka dari itu Liz tidak terbawa perasaan meskipun usapan tangan Tama di kepalanya terasa lembut dan.....hangat."
"Tidak ada apa-apa. Ehm, Tama, aku permisi ke kamar dulu. Mau istirahat." Liz meninggalkan Tama dan Yurike di ruang keluarga.
"Ta-tama ???? Liz memanggil suamiku hanya dengan namanya saja ?? Ya Tuhan. Aku saja yang istri sah nya tidak berani selancang itu!" Batin Yurike di buat ternganga dengan sikap Liz yang kurang ajar, di tambah dengan sikap Tama yang menurutnya sangat aneh karena membiarkan Liz bersikap seperti itu.
"Liz, tunggu ?!" Tama hendak menyusul,
"Mas, jangan pergi. Kita perlu bicara," Yurike menatap Tama dengan tatapan sendu.
Tama menoleh ke arah Yurike, dalam hatinya dia puas sekali melihat kecemburuan di wajah Yurike.
"Ini baru permulaan! Aku akan membuatmu jauh lebih sakit lagi karena sudah berani menghianatiku. Dasar wanita j*lang!" ucap Tama dalam hati.
"Kau tunggu saja dikamar! Aku harus menenangkan Liz, kasihan dia, mungkin kepikiran Ibunya."
Tama melanjutkan langkah masuk ke dalam kamar tamu. Yurike mengepalkan tangannya, merasakan darahnya yang mendidih saat menatap punggung Tama yang sudah menghilang dibalik pintu kamar tamu.
Sementara itu di dalam kamar, Tama melihat Liz berdiri menghadap jendela sambil memeluk tubuh nya sendiri.
Ekhem.
Tama sengaja berdehem untuk mengatakan secara tidak langsung bahwa dia menyusulnya.
"Sepertinya aku sudah salah menerima tawaran kalian ini!" Ucap Liz tanpa membalikkan badannya.
Tama terdiam.
"Persahabatan kami akhirnya hancur kalian keegoisan kalian berdua!" Suara Yurike bergetar.
Tama menghela napas berat.
"Tidak. Persahabatan kalian sudah hancur ketika Yurike menumbalkan mu padaku!" Jawab Tama dengan nada tegas.
Liz tercekat, lidahnya kelu.
"Sudah, berhenti menyalahkan! Kau sudah menandatangani surat perjanjian, maka mainkan peranmu dengan baik sampai akhir! Aku tidak ingin Liz sampai curiga kalau kita sudah membuat perjanjian tanpa sepengetahuannya!"
Setelah mengatakan itu Tama keluar dari kamar Liz.
Ruangan mendadak hening. Liz menunduk semakin dalam.
"Maafkan Liz, Bu."
Rasanya Liz ingin berteriak, tapi Liz tau percuma. Dengan mata berkaca-kaca, Liz berharap ini segera berakhir meski baru saja semuanya dimulai.