Clarindra Arabella, siswi kelas tiga SMA yang tinggal selangkah lagi menuju kelulusan, tak pernah membayangkan hidupnya akan berubah dalam satu keputusan sepihak.
Di saat teman-temannya sibuk mempersiapkan ujian akhir dan masa depan, Clarindra justru dipaksa menerima kenyataan pahit—ia harus menikah.
Bukan dengan pria seusianya.
Melainkan dengan seorang pria dewasa… yang bahkan tak pernah ia kenal.
Demi alasan sederhana namun kejam—orang tuanya akan pindah ke luar negeri, dan mereka tak ingin meninggalkan putrinya sendirian.
Di balik keputusan itu, tersembunyi kesepakatan antara dua keluarga besar.
Nama besar keluarga Hardinata menjadi jaminan keamanan Clarindra… sekaligus awal dari keterikatannya.
Zavian Hardinata.
Pria itu bukan sekadar pewaris keluarga kaya raya. Ia adalah sosok bebas, penuh pesona, namun sulit dikendalikan. Seseorang yang lebih terbiasa bermain dengan hidupnya sendiri… daripada terikat dalam satu hubungan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon candra pipit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Drama tanda tangan
Pintu ruang bertuliskan KEPALA SEKOLAH itu berdiri kokoh di hadapan Clarinda.
Clarinda menghela napas panjang.
Di sampingnya, Arin berdiri baru saja menyusul. Ia tampil rapi—terlalu rapi malah. Rambut disisir, baju dirapikan, bahkan lip gloss-nya masih terlihat baru dipoles.
"Jadi, Lo dari tadi nongkrong di toilet buat dandan?" sindir Clarinda.
"Duh Cle, mau ketemu Kepsek ganteng ya harus optimal dong."
"Oemji Arin!"
“Gue deg-degan, Clea…” bisik Arin pelan.
Clarinda melirik sekilas. “Ngapain deg-degan?"
"Gue gugup Clea, gimana nanti pas ditatap Pak Zavian trus diajak ngobrol."
Clarinda memutar bola matanya malas.
"Ya ampun Rin... Yang punya masalah itu Gue bukan Lo."
“Iya sih… tapi aku beneran berdebar-debar nih, pingin pingsan ngadepin bapak ganteng."
"Ya udah nggak usah ikut masuk."
"Eeeeh... Enak aja! Rugi dong Gue dandan."
"Genit!"
**
Clarinda mendengus kecil. Ia sebenarnya malas ke ruangan ini.
Kalau saja yang di dalam itu bukan Zavian…
Mungkin suasana hatinya biasa saja.
Ia mengangkat tangan, mengetuk pintu.
Tok.
Tok.
“Masuk.”
Suara itu.
Datar.
Dingin.
Clarinda membuka pintu tanpa ragu, Arin mengikuti di belakangnya dengan langkah kecil-kecil.
"Permisi Pak," suara Arin lembut.
Begitu masuk, suasana ruangan terasa formal. Wangi kayu, berkas tersusun rapi, dan Zavian duduk di balik meja dengan aura yang… menyebalkan sekali untuk ukuran kepala sekolah.
Di mata Clarinda lelaki itu sama sekali tak pantas jadi Kepala Sekolah.
'Ck. Dia lebih cocok jadi mafia,' batin Clarinda.
Zavian tidak langsung menatap.
Masih fokus pada dokumen di tangannya.
Tapi ia tahu itu Clarinda.
“Perlu apa?” tanyanya singkat.
Nah.
Di titik itu…
Kesabaran Clarinda yang sudah tipis sejak semalam—resmi habis.
Semalam dan pagi tadi sudah dicuekin sekarang masih sama.
Clarinda melangkah maju.
Menaruh berkas di meja agak kasar tanpa basa basi.
“Aku cuma minta tanda tanganmu, Pak Tua.”
Sunyi.
Waktu seperti berhenti.
Arin langsung membeku.
Wajahnya pucat dalam sekejap.
Seakan mati berdiri.
Beberapa detik kemudian...
“Cleaaa!!!” bisik Arin panik sambil mencubit lengan Clarinda.
“Apaaan sih, sakit tau Rin,” balas Clarinda sebal, bahkan tanpa merasa bersalah.
Arin ingin menangis.
Ini bukan lagi soal berani.
Kurang ajar sekali si Clarinda ini.
'Lo kalau mau nyebur ke sumur jangan ngajak-ngajak dong Cle,' batin Arin menangis.
Zavian melirik kertas itu sekilas. Perlahan, ia mengangkat pandangannya.
Tatapan itu jatuh tepat ke Clarinda.
Tajam.
Dalam.
Menakutkan.
Ruangan yang tadi dingin… sekarang terasa mencekam.
Arin refleks menunduk.
Ia bahkan tidak berani menatap. Duh sayang banget tidak bisa menikmati keindahan wajah tampan itu.
“Berkas apa?” suara Zavian tetap tenang.
Terlalu tenang.
Itu justru lebih menakutkan bagi Arin, tapi tidak Clarinda.
Clarinda menyilangkan tangan di dada. Ah, Clarinda tak tahu tempat, masalah dari rumah masih dibawa ke sekolah. Dongkolnya setengah mati melihat Zavian.
“Permohonan akses CCTV.”
Masih dengan nada santai.
Masih tanpa rasa takut.
"Sudah tandatanganin saja, waktu ku tak banyak."
'Astaga!!!'
Arin ingin pingsan.
Zavian menatap Clarinda.
Lama.
Tanpa mengalihkan pandangan dari Clarinda, ia berkata—
“Kamu keluar dulu.”
Arin langsung tersentak.
“H-hah?”
Tatapan Zavian bergeser sedikit ke arahnya.
Cukup satu detik.
Dan itu cukup untuk membuat Arin hampir berlutut.
“I-iya Pak!” jawabnya cepat.
Ia menoleh ke Clarinda, matanya penuh rasa kasihan.
'Duh... Clea mau diapain ya?'
'Tapi kamu juga sih Cle yang kurang ajar.'
Dengan langkah cepat tapi tetap berusaha anggun walau gagal total, Arin keluar dari ruangan itu.
'Moga kamu baik-baik saja, Clea.'
Pintu tertutup.
Klik.
Sekarang…
Hanya ada Clarinda dan Zavian.
Berdua.
Sunyi.
Tegang.
Zavian akhirnya meletakkan bolpennya.
Bersandar sedikit di kursi.
Menatap Clarinda tanpa berkedip.
“Ulangi.”
Satu kata.
Pelan.
Tapi penuh tekanan.
Clarinda mengangkat dagu.
Menatap balik tanpa gentar.
“Aku cuma minta tanda tangan,” ulangnya, kali tidak menantang seperti tadi.
Zavian menyipitkan mata.
“Kasus apa?"
Clarinda berdecak. Menyebalkan sekali. Tinggal tanda tangan saja ribet.
"Kau kan bisa baca disitu."
"Sepertinya kau memang siswa berandal ya."
Clarinda mengernyit. "Berandal?"
"Sangat tidak sopan. Apa ini cara bersikap anak muda pada yang lebih tua?" Pandangan Zavian tak beralih pada Clarinda. "Terlebih seorang siswa pada Kepala Sekolahnya."
"Itu..." Clarinda membuang nafas. Ah sudahlah ia malas berdebat.
"Murid sepertimu harus didisiplinkan."
'Sabar Clea, sabar...' Clarinda menenangkan dirinya. Demi tanda tangan Zavian.
"Saya minta maaf."
Seorang Clarinda minta maaf pada musuhnya. Hebat.
Zavian tersenyum miring ia merasa menang. "Tidak dengar."
Haiiisshhh!!!
Percayalah, muka Clarinda saat ini tak enak dilihat. Menahan emosi ingin mukul orang juga.
Huh...! Helaan nafas terdengar. "Maafkan atas ketidak sopanan saya Bapak Zavian." Ia menjeda sejenak. Tolong tanda tangani suratnya Pak."
"Kemarin ada yang sengaja mengerjai saya Pak. Jadi saya butuh bukti, tidak asal nuduh." Clarinda bicara sesopan mungkin meski hatinya dongkol.
Zavian berdiri.
Perlahan.
Tapi setiap gerakannya terasa seperti ancaman.
Ia berjalan mengitari meja.
Mendekat.
Langkahnya tenang, tapi membuat jantung Clarinda berdetak lebih cepat.
Satu langkah.
Dua langkah.
Sampai akhirnya… jarak mereka terlalu dekat. Mereka saling pandang.
'Mau apa Pak tua ini?' batinnya. Ia waspada.
Namun—
Clarinda merosot kebawah menghindari tubuh Zavian. "Iihhh... Dasar Kepsek cabuul!"
Zavian terkekeh. Hanya sejenak.
"Ayo lekas tanda tangani. Aku nggak mau lama-lama disini. Denganmu."
"Kalau aku nggak mau?"
Clarinda meredam emosinya.
Sabar.
"Apa yang harus saya lakukan Bapak Zavian."
Zavian diam memandang Calrinda dalam. Sulit diartikan.
"Mudah."
"Apa? Cepat katakan," dari nada bicaranya yang ketus Clarinda benar-benar ingin mengakhiri negosiasi ini.
"Patuhi aturanku."
"Apaan?!" Clarinda tak terima.
Zavian mendekati meja mangambil kertas putih berukuran A4 itu.
"Keputusan ada di tanganmu Nona Clarinda." Zavian tersenyum, bagi Clarinda itu ejekan. "Kertas ini bisa jadi bungkus gorengan di kantin."
Clarinda memejamkan mata. Ia menekan emosinya dalam-dalam. "Ya, ya, ya, oke. Aku mau," ujarnya kemudian.
Zavian tersenyum lebar. Ia berhasil menjinakkan bocah yang selalu membuat hari-hari nya berisik ini.
"Baiklah... Kita bicarakan nanti di rumah."
"Puas!"
"Pintu keluar ada di sana."
"Iiiihh... Nyebelin!"
Clarinda menghentak-hentakkan kakinya.
*
Diluar ruangan.
Arin yang menunggu di luar merasa lega melihat Clarinda keluar meskipun dengan wajah cemberut.
"Syukurlah Cle... Lo diapain di dalam," mata Arin kedip-kedip lucu. "Ada adegan romantis nggak tadi?"
"Hadeh... Mikir Lo kejauhan Rin."
"Aku penasaran Clea, cerita dong."
Clarinda tak menanggapi.
"Pak Zavian emang ganteng gak ketulungan deh, tapi kok nakutin gitu."
"Ya emang gitu, nyebelin."
"Tapi aku tetap suka."
"Serah Lo deh Rin." Clarinda mendahului Arin sembari mengangkat kertasnya. "Ayo temui Pak Zaki di ruang kontrol."
**
Sesuai dugaan Meta and the gank pelakunya.
Karena kasus ini melibatkan guru dan Kepala Sekolah, jadi mereka yang menjadi penengah menyelesaikan masalah ini. Sidang kecil diadakan di ruang BK tadi pagi.
Clarinda bolos kelas. Ia berdiri di bawah pohon flamboyan di taman belakang sekolah, tangannya terlipat di dada. Tatapannya kosong, tapi rahangnya mengeras.
Ia mengingat dengan jelas bagaimana Meta dan gengnya berdiri di hadapan guru BK, menunduk dengan wajah sok menyesal.
"Kami minta maaf, Bu... kami khilaf..."
Ia masih tidak puas. Meta dan gengnya hanya dikenai hukuman ringan.
Mengakui kesalahan, minta maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tercela itu lagi.
Clarinda mendengus pelan.
"Hukuman apaan! Enak aja!"
Itu tak sebanding dengan yang dialaminya. Ia pulang malam sampai tidur di luar dan menelan emosi demi satu tanda tangan sialan dari Zavian.
Langkah kaki mendekat.
“Clea...”
Clarinda menoleh. Arin berdiri di sana.
"Lo bolos juga?"
"Gak lah. Ijin ke toilet."
"Ya udah bolos aja sekalian, kurang setengah jam juga."
"Ngawur," tolak Arin.
"Ini nggak adil. Enak aja mereka."
"Terus... Lo mau ngapain?"
Clarinda tersenyum tipis tapi matanya bersemangat. "Balas dendam dong."
wah ada yg CLBK nih nanti jad jadi jendonggggg ,,
nanti pasti terbayang bayang rasanya kenyal"