Selama 25 tahun, Rashaka Nareswara setia menjaga cintanya. Ia tetap bertahan, dan berharap pada satu nama yang tak pernah berubah di hatinya. Hingga akhirnya, penantian panjang itu berbuah manis.
Ia berhasil mempersunting wanita yang ia cintai sejak dulu, memulai kehidupan rumah tangga yang tampak sempurna.
Namun, kebahagiaan itu tak pernah benar-benar utuh. Di balik senyum sang istri, tersimpan bayang-bayang masa lalu yang belum selesai. Masalah demi masalah yang perlahan meretakkan kehangatan yang mereka bangun.
Akankah cinta yang bertahan selama seperempat abad itu mampu melawan luka yang belum sembuh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GAYATRI S2 — BAB 09
“Apa? Kamu hamil? Sungguh, Shakira? Apakah ini artinya aku akan segera menjadi nenek?”
Begitu mengetahui kabar kehamilan Shakira, Nayana sama sekali tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Ia bahkan berteriak memanggil Sadewa dan memberitahu kabar gembira itu.
“Benarkah itu, Shakira?” tanya Dewa, meminta validasi. “Ibi bagus sekali.”
Mereka berdua bahagia, bahkan membaca hasil pemeriksaan kehamilan Shakira berkali-kali. Namun, lain halnya dengan Shakira yang justru bersedih.
“Ada apa, Nak? Apa kau tidak bahagia?” tanya Nayana melihat perubahan putrinya. “Apa kau tidak senang dengan kehamilanmu sendiri?”
Shakira menggeleng, mengubah posisi duduknya dan menatap kedua orangtuanya dengan mata yang berkaca-kaca. “Aku … aku bahagia dengan kabar kehamilan ini.”
Shakira terdiam, menarik napas dalam sebelum akhirnya melanjutkan lagi. “Tapi, sepertinya Keenan tidak menginginkan kehadiran bayi ini.”
“Apa? Kenapa begitu?” tanya Nayana dan Sadewa hampir bersamaan.
Nayana langsung mendekati putrinya, mengelus bahunya lalu mencoba menenangkan Shakira yang mulai terisak pelan. Nayana tahu sekali perubahan mood ini sering terjadi pada ibu hamil.
“Coba ceritakan yang sebenarnya pada Ibumu, apa yang terjadi? Mengapa Keenan tak mau mengakuinya?”
Sadewa pun turut duduk di samping putrinya, meraih tangan Shakira dan menggenggamnya pelan. “Ayah dan Ibumu selalu bersamamu di sini. Kau tahu, kan?”
Shakira mengangguk, mengusap air mata di pipinya lalu menatap wajah ayah dan ibunya bergantian. Ia senang karena masih memiliki kedua orang tua yang sangat peduli padanya.
“Saat aku memberitahu Keenan bahwa aku hamil, dia tidak senang. Dia … dia berkata bahwa dia belum siap menjadi ayah, dia merasa belum sanggup menjalankan peran sebagai orang tua,” jelas Shakira dengan suara yang bergetar.
Kening Nayana mengernyit. “Apa? Bagaimana mungkin dia bisa mengatakan hal itu kepadamu? Tidak, aku tidak bisa membiarkannya. Aku harus bicara dengannya sekarang!” ucap Nayana menggebu-gebu.
Lain hal dengan Sadewa yang tetap mencoba untuk tenang. “Nayana, tenang. Tenanglah dulu,” katanya lembut seraya menarik lengan Nayana agar istrinya duduk kembali.
“Apa kalian sudah pernah membicarakan soal anak sebelum ini? Maksud Ayah, sebelum kalian tahu bahwa kau sedang hamil.” Sadewa menatap putrinya lembut.
Shakira menunduk, mencoba mengingat-ingat lalu menggeleng pelan. “Tidak. Saat aku menyinggung soal anak pun, Keenan tampak tak peduli. Bahkan akhir-akhir ini, dia selalu sibuk dan seolah memiliki dunianya sendiri.”
Mendengar itu, Nayana mengepalkan kedua tangannya, gemas. “Kenapa kau tidak mengatakannya pada Ibumu? Jika aku tahu Keenan berulah, aku pasti akan langsung—”
“Nayana, sudah,” tegur Sadewa. Ia memberi isyarat agar Nayana tenang dan fokus untuk menenangkan Shakira lebih dulu dan bukannya menghakimi.
“Baiklah, Ayah akan mencoba bicara dengannya nanti. Sekarang kau tenangkan dirimu dulu. Ingat, kau tidak boleh merasa stress, kau harus tetap bahagia dan tidak boleh memikirkan hal yang lainnya.”
Shakira mengangguk paham. “Baik, Ayah.” Lalu memeluk Sadewa dan Nayana bergantian sekaligus mengucapkan terima kasih.
Nayana lantas bangkit. “Ayo, ikut Ibu, kita pergi berbelanja saja dan lupakan soal Keenan untuk sehari,” katanya seraya menarik lengan putrinya keluar dan memasuki mobil.
“Aku tidak bisa membiarkan hal ini, aku harus segera memberitahu Gayatri,” gumamnya merasa harus membicarakan masalah itu bersama dengan besannya.
***
“Ini obatmu, ayo habiskan agar kau cepat sembuh.” Gayatri memberikan beberapa butir obat pada Keandra.
Keandra mengambil semua obat itu dan meminum semuanya sesuai perintah sang ibu. Selain ingin cepat sembuh, Keandra juga tak ingin merepotkan sang ibu dan ayah sambungnya.
“Aku sudah baik-baik saja, Bu. Aku juga bisa menjaga diriku sendiri. Kembalilah bersama dengannya, apa Ibu tidak kasihan melihat ayah sambungku yang terlihat galau?” bisiknya pada Gayatri seraya menatap Shaka yang tengah sibuk menelepon.
Gayatri pun tak bisa mengalihkan pandangannya, merasa tak enak hati pada Shaka yang harus ikut mengurus Keandra padahal niat awal mereka ke sini adalah untuk berbulan madu.
“Tapi ….” Gayatri tampak gamang, di satu sisi putranya sementara di sisi yang lain adalah suaminya.
“Ibu, percayalah padaku. Aku akan baik-baik saja, lagipula aku juga memiliki teman yang akan membantuku di sini,” katanya lagi meyakinkan Gayatri untuk berhenti mengkhawatirkan dirinya dan lebih memperhatikan Shaka.
Keandra menunjuk ke arah pintu ruang rawatnya di mana seorang perempuan berdiri di luar. “Itu temanku, selama ini dia yang sudah membantuku.”
Gayatri mengikuti arah pandang Keandra, melihat perempuan yang tersenyum sopan kepadanya. “Dia temanmu? Sungguh?” tanyanya seolah tak percaya.
“Ibu jangan memikirkan hal yang aneh-aneh, dia benar-benar temanku. Bukan hanya dia, tapi masih ada yang lainnya juga, yang sudah pasti akan bersedia membantuku,” katanya dengan percaya diri.
Gayatri akhirnya menghela napas panjang, “Baiklah jika begitu. Ibu akan pergi, tapi Ibu akan kembali lagi nanti.”
Keandra mengangguk. “Hati-hati, Bu. Jangan lupa berbahagia, inilah saatnya bagi Ibu untuk berbahagia,” katanya sambil tersenyum, berharap sang ibu mendapatkan semua kebahagiaan yang pantas Gayatri dapatkan.
Gayatri balas tersenyum. “Jaga dirimu baik-baik, kabari ibu jika terjadi sesuatu, ya.”
Selepas itu, Gayatri menepuk lengan Shaka pelan.
Pria itu langsung menoleh dan mengakhiri teleponnya dengan Nathan begitu saja. “Sudah?” tanyanya, menatap Keandra yang tersenyum padanya.
Gayatri mengangguk. “Ayo kita pergi. Kau bilang ingin mengajakku ke suatu tempat, kan?”
“Bagaimana dengan Keandra?”
Gayatri menoleh dan melihat Keandra mengacungkan jempolnya ke atas, sebagai pertanda bahwa dia baik-baik saja.
“Kau tidak melihatnya? Dia baik-baik saja, dan kurasa dia tidak membutuhkan Ibunya lagi,” bisiknya lalu menunjuk ke luar, seorang perempuan muda tampak masih berdiri di sana saja seolah menunggu kesempatan untuk masuk.
Shaka pun mengangguk paham. “Baiklah kalau begitu, ayo.” Dengan menggandeng tangan istrinya, Shaka mengajak Gayatri keluar ruangan itu.
Keandra yang melihat hal itu langsung tersenyum, ikut merasa bahagia untuk ibunya.
“Kita mau ke mana?” tanya Gayatri saat mereka melewati lorong rumah sakit yang terasa panjang.
Shaka menoleh lalu tersenyum lembut. “Suatu tempat dan kau pasti akan menyukainya.”
Gayatri balas mempererat genggaman tangannya. “Baiklah, aku akan mengikuti langkahmu saja. Kemanapun kau pergi, aku pasti akan mengikutinya.”
Namun, belum sempat mereka keluar dari rumah sakit itu, ponsel Gayatri tiba-tiba berdering. Nama yang terpampang di layar ponselnya membuat Gayatri menghentikan langkahnya seketika.
“Ada apa?” Shaka ikut penasaran.
Gayatri menunjukkan ponselnya. “Nayana meneleponku, ini tidak biasa. Mungkinkah terjadi sesuatu?” gumamnya ragu untuk mengangkat panggilan itu.
“Kalau begitu angkat saja panggilannya, mungkin saja dia ingin memberitahukan hal yang penting,” kata Shaka santai seraya menelusupkan tangannya ke dalam saku celana.
“Halo? Ada apa?” kata Gayatri begitu panggilan tersambung.
Ia terdiam sejenak, mendengarkan suara Nayana yang terdengar menggebu-gebu di ujung sambungan telepon itu.