Kaisar Pedang Langit, Cang Yue, menemui ajalnya di ujung bilah sang saudara seperguruan, Feng Jiantian. Alih-alih lenyap menjadi abu, jiwanya menyeberangi lautan reinkarnasi dan menetap di tubuh Yan Xinghe—seorang pemuda lumpuh dengan meridian hancur di Benua Tanah Spiritual. Tanpa keajaiban instan, Xinghe harus memulai dari titik terendah. Bermodalkan ingatan masa lalu dan tekad baja, ia merangkak naik, menahan penderitaan luar biasa untuk menempa ulang tubuh fana-nya. Ini adalah epik perjalanan darah dan keringat menembus benua demi benua, membelah Tiga Ribu Dunia, demi merebut kembali takhta keabadian yang terampas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuzuki chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 8 ngarai tulang bersilang dan kafilah awan putih
Tiga hari tiga malam berlalu sejak badai darah menyapu Desa Kabut Berbisik. Di balik tirai air terjun tebing kapur, keheningan hanya dipecahkan oleh suara gemericik air dan deru napas teratur.
Yan Xinghe duduk bersila di atas lempengan batu datar. Wajahnya tidak lagi sepucat mayat, rona kehidupan mulai kembali mewarnai kulitnya. Di dalam Dantiannya, enam jalur meridian petir yang tersisa berdenyut stabil, mengalirkan energi ungu ke seluruh jaringan otot. Tiga jalur yang ia ledakkan saat membunuh Gongsun Tian masih berupa puing-puing energi yang berserakan, menolak untuk menyatu kembali tanpa bantuan obat spiritual tingkat tinggi.
Cedera ini membatasi aliran kekuatan maksimalnya. Menyentuh ambang batas Alam Penyempurnaan Tubuh Tingkat Ketiga adalah kemampuan terbaiknya saat ini. Jika ia memaksakan diri melampaui batas itu, sisa meridiannya akan ikut meledak, menghancurkan fondasi kultivasinya secara permanen.
Xinghe perlahan membuka matanya, menghembuskan napas panjang yang menghasilkan pusaran udara kecil di depannya.
"Energi spiritual di perbatasan Benua Tanah Spiritual ini terlalu tipis. Menyerap udara kosong selama satu abad penuh tidak akan cukup untuk memperbaiki kerusakan inti," batin Xinghe, menganalisis kondisinya dengan perhitungan dingin. Perjalanan menuju Kota Awan Mengambang bukan lagi sekadar pelarian, melainkan keharusan mutlak demi kelangsungan jalur kultivasinya.
Di sisi lain gua, Yan Qingshan tengah mengayunkan sebatang kayu lurus berulang kali. Keringat membasahi otot dadanya yang tebal. Luka tusuk di bahunya telah menutup rapat, meninggalkan bekas codet merah yang memanjang. Pemulihan luar biasa ini berkat pil penyembuh dari kantong penyimpanan Gongsun Tian, dipadukan dengan fisik Qingshan yang secara alami tangguh.
Xinghe mengamati gerakan kakaknya. Ayunan kayu itu bertenaga, sanggup membelah batang pohon kecil. Sayangnya, tidak ada aliran energi yang menyertainya. Murni tenaga kasar seorang penebang kayu. Di dunia kultivasi, tenaga kasar memiliki batas yang sangat rendah.
"Berhenti, Kakak," potong Xinghe santai.
Qingshan menurunkan kayunya, menoleh dengan napas terengah-engah. "Ada apa? Apakah gerakanku membangunkan ibu dan Xiaoxiao?" tanyanya sambil melirik dua sosok yang masih terlelap di sudut gua.
"Ayunanmu membuang terlalu banyak tenaga ke udara kosong," Xinghe berdiri, berjalan menghampiri Qingshan. "Pusat gravitasi kakimu tidak seimbang saat pedang turun. Saat menghadapi seniman bela diri sesungguhnya, celah di bawah ketiak kirimu terbuka lebar selama dua detik penuh. Waktu yang lebih dari cukup untuk menusuk jantungmu sepuluh kali."
Kritikan tajam itu membuat Qingshan terdiam. Dahulu, ia akan membantah. Sekarang, pemuda yang mengkritiknya adalah pembantai Gongsun Tian.
"Aku tidak pernah belajar ilmu bela diri formal. Ayah hanya mengajariku cara bertahan hidup di hutan," Qingshan menunduk, menatap telapak tangannya yang kapalan. Rasa frustrasi tergambar jelas di matanya. "Kemarin, saat keluarga Gongsun menyerang, aku merasa sangat tidak berguna. Aku bahkan tidak bisa melindungi ibu."
Xinghe menepuk bahu kakaknya perlahan. "Kelemahan adalah titik awal, bukan tujuan akhir. Kau memiliki tekad baja dan fisik yang solid. Kau hanya membutuhkan jalan untuk mengalirkan tekad itu."
Xinghe mengangkat tangan kanannya, meletakkan jari telunjuknya di dahi Qingshan. Sebuah gelombang memori kecil yang berisi untaian kata dan gambar disalurkan langsung ke dalam pikiran sang kakak. Qingshan membelalakkan mata, kepalanya tiba-tiba dipenuhi oleh sebuah kitab teknik pernapasan yang belum pernah ia lihat seumur hidupnya.
"Ini adalah *Teknik Pernapasan Harimau Penelan Bumi*," jelas Xinghe, menarik kembali jarinya. "Teknik ini berfokus pada penyerapan esensi elemen tanah untuk memperkuat pertahanan fisik dan kepadatan tulang. Cocok dengan gaya bertarungmu yang mengandalkan serangan balik jarak dekat. Mulailah berlatih menyesuaikan napasmu dengan metode itu selama perjalanan kita nanti."
Di kehidupan masa lalunya sebagai Kaisar Pedang, teknik ini hanyalah panduan dasar yang digunakan oleh prajurit lapis bawah di kerajaannya. Di Benua Tanah Spiritual yang terpencil ini, *Pernapasan Harimau Penelan Bumi* bernilai seratus kali lipat lebih tinggi dari teknik pusaka keluarga Gongsun.
Qingshan memejamkan mata, mencoba memahami rangkaian instruksi di kepalanya. Begitu ia mencoba memutar pola pernapasannya sesuai panduan, ia langsung merasakan hawa hangat yang solid mengalir dari telapak kakinya, naik menyusuri betis, hingga berkumpul di perutnya. Keterkejutan luar biasa melanda Qingshan. Ia belum pernah merasakan aliran energi yang sejelas ini.
"Xinghe... ini... teknik ini sungguh keajaiban!" Qingshan berbisik takjub.
"Simpan kekagumanmu. Keajaiban sesungguhnya membutuhkan darah dan keringat untuk diwujudkan," sahut Xinghe, berbalik membereskan sisa barang bawaan mereka. "Bangunkan ibu dan Xiaoxiao. Matahari sudah terbit. Kita harus segera meninggalkan hutan ini."
Perjalanan sejauh lima ratus mil resmi dimulai.
Menembus Hutan Binatang Buas menuju wilayah terbuka bukanlah perkara mudah. Rombongan kecil ini terdiri dari seorang wanita paruh baya yang baru sembuh dari sakit parah, seorang gadis kecil, seorang pemuda yang terluka meridiannya, dan seorang kakak yang baru belajar kultivasi dasar. Jika bukan karena insting predator Xinghe yang mampu membaca fluktuasi energi monster dari kejauhan, mereka sudah lama menjadi santapan makhluk tingkat tinggi.
Xinghe memimpin di depan, menebas semak belukar berduri menggunakan pedang karatannya. Qingshan menjaga barisan belakang, sementara Shen Yulan dan Xiaoxiao berjalan di tengah.
Mereka berjalan selama sepuluh hari berturut-turut. Rute yang mereka ambil menghindari jalan raya utama untuk menghindari kejaran sisa-sisa sekutu keluarga Gongsun. Mereka melintasi bukit tandus, menyeberangi sungai berarus deras, dan tidur di bawah kanopi langit malam yang dingin.
Setiap malam saat keluarganya beristirahat, Xinghe berjaga sambil mengolah sisa enam meridiannya. Tubuh fisiknya semakin memadat, walau tingkat kultivasinya tertahan. Qingshan menunjukkan kemajuan pesat. *Teknik Pernapasan Harimau* sangat menyatu dengan fisiknya. Dalam waktu singkat, Qingshan berhasil menembus Alam Penyempurnaan Tubuh Tingkat Kedua, sebuah lompatan yang normalnya membutuhkan waktu bertahun-tahun bagi praktisi fana.
Pada hari kesebelas, rimbunnya pepohonan purba perlahan menipis. Pemandangan di depan mereka berubah menjadi dataran gersang berdebu merah, diapit oleh dua tebing batu raksasa yang menjulang membelah langit. Angin bertiup kencang melewati celah tebing, menciptakan suara lolongan panjang yang menyeramkan.
"Kita sudah keluar dari wilayah hutan," ucap Qingshan, mengusap keringat di dahinya. Matanya menatap tebing batu di depan. "Menurut peta yang kau tunjukkan, ini pasti Ngarai Tulang Bersilang. Ini satu-satunya jalur pintas membelah Pegunungan Merah menuju dataran Kota Awan Mengambang."
Xinghe menyipitkan mata. Ngarai itu membentang sepanjang belasan mil. Jalurnya sempit, dihiasi pilar-pilar batu yang terkikis angin. Tempat ini adalah medan penyergapan yang sempurna.
"Aroma angin dari dalam ngarai ini membawa bau darah kering," gumam Xinghe. Ia menggenggam gagang pedangnya lebih erat. "Ada ratusan tulang manusia berserakan di balik bebatuan itu. Tempat ini tidak disebut Ngarai Tulang Bersilang tanpa alasan."
Mendengar hal itu, Shen Yulan mendekap pundak Xiaoxiao. Gadis kecil itu terlihat sangat kelelahan, wajahnya kotor oleh debu perjalanan. "Apakah tidak ada jalan memutar, Xinghe?" tanya ibunya cemas.
"Jalan memutar melintasi punggung gunung akan memakan waktu tiga minggu tambahan. Persediaan makanan dan air kita tidak akan cukup, Ibu," jawab Xinghe tenang. Ia melangkah maju memasuki batas ngarai. "Tetap berada di belakangku. Apapun yang terjadi, jangan pernah berlari memisahkan diri dari rombongan."
Langkah kaki mereka bergema di antara dinding-dinding batu ngarai. Suhu udara di tempat ini sangat terik pada siang hari. Bayangan tebing tidak cukup menghalangi sengatan matahari yang membakar kulit.
Baru menempuh jarak sekitar tiga mil ke dalam ngarai, langkah Xinghe tiba-tiba terhenti. Ia mengangkat tangan kanannya, memberi isyarat agar keluarganya berhenti bergerak.
Sepuluh meter di depan mereka, sebuah batang pohon raksasa yang sudah mati melintang menghalangi jalur sempit tersebut. Batang pohon itu tidak jatuh secara alami; ada bekas tebasan rapi di pangkalnya.
"Sebuah sambutan yang sangat klasik," desis Xinghe dingin.
Belum sempat Qingshan bertanya, suara tawa serak dan kasar bergema dari atas pilar-pilar batu di sekeliling mereka.
Dari balik bongkahan batu dan celah tebing, bermunculan selusin pria berpakaian kulit usang, wajah mereka ditutupi kain merah. Mereka memegang berbagai macam senjata: golok bergerigi, tombak pendek, dan panah beracun. Niat membunuh yang menguar dari kelompok ini jauh lebih pekat dan berdarah dibandingkan pengawal desa keluarga Gongsun. Mereka adalah pembunuh sejati yang hidup dari menjarah nyawa kafilah dagang.
"Bagus sekali! Sepuluh hari tidak ada mangsa yang lewat, hari ini Dewa Keberuntungan mengirimkan hadiah kecil," seru seorang pria bertubuh raksasa yang melompat turun dari atas batu setinggi lima meter.
Pria itu mendarat dengan suara berdebum keras yang membuat tanah bergetar. Tingginya nyaris mencapai dua meter, kepalanya plontos dihiasi tato kalajengking hitam. Di tangannya, ia memanggul sebuah gada besi berduri yang beratnya tidak kurang dari seratus kati.
"Aku Kuang Biao, pemimpin Kelompok Serigala Pasir," pria raksasa itu menyeringai, memperlihatkan gigi-giginya yang kuning. Matanya yang mesum menyapu rombongan tersebut, berhenti cukup lama pada sosok Shen Yulan dan Xiaoxiao. "Tinggalkan semua barang berharga, pakaian, dan persediaan air kalian. Untuk kedua wanita itu, mereka harus ikut kami ke markas untuk 'menghangatkan' ranjang saudara-saudaraku malam ini. Lakukan tanpa melawan, aku akan membiarkan dua pemuda ini mati dengan cepat tanpa disiksa."
Qingshan menggeram marah. Ia melangkah maju melindungi ibu dan adiknya, mencabut kapak bajanya yang baru. Esensi elemen tanah dari teknik barunya mulai mengalir, membuat otot-ototnya sedikit mengeras.
"Lindungi ibu dan Xiaoxiao," perintah Xinghe datar pada Qingshan, suaranya sangat tenang seolah ia sedang berada di pasar tradisional, bukan di tengah kepungan bandit.
Kuang Biao mengerutkan dahi melihat ketenangan pemuda kurus berdebu di depannya. Ia adalah praktisi Tingkat Keenam Penyempurnaan Tubuh. Kelompok Serigala Pasir terkenal kejam di wilayah ini. Kafilah dagang dengan puluhan pengawal pun harus membayar uang tol dalam jumlah besar untuk lewat. Pemuda tanpa fluktuasi energi yang kuat ini justru bersikap seolah sedang menatap tumpukan sampah.
"Bocah sombong. Kau bosan hidup rupanya!" Kuang Biao memberi isyarat dengan kepalanya.
Empat orang bandit yang memegang golok melesat maju secara serempak. Gerakan mereka cepat, terkoordinasi, dan tanpa suara. Mereka terbiasa membunuh dalam keheningan.
Xinghe menendang setumpuk kerikil di dekat kakinya. Batuan kecil itu melesat ke udara. Di saat bersamaan, Xinghe mengayunkan pedangnya, menghantam kerikil-kerikil tersebut menggunakan bagian datar bilah pedang.
*SYUUT! SYUUT! SYUUT!*
Kerikil-kerikil itu berubah menjadi peluru maut, melesat membelah udara dengan kecepatan mengerikan. Keempat bandit yang sedang menerjang maju tidak sempat bereaksi. Kerikil itu menembus tepat di titik tengah dahi mereka, menghancurkan tengkorak dan merobek otak dalam satu hantaman presisi.
Keempat tubuh itu ambruk secara bersamaan, meluncur di atas tanah berdebu hingga berhenti tepat di ujung kaki Kuang Biao.
Senyum mesum di wajah Kuang Biao lenyap seketika. Sisa bandit yang berada di atas bebatuan menahan napas. Membunuh empat praktisi Tingkat Kedua menggunakan batu kerikil tanpa menggunakan seni sihir pelindung merupakan pertunjukan kekuatan luar biasa.
"Kalian salah memilih mangsa hari ini, Kalajengking Botak," Xinghe mengayunkan pedangnya perlahan, mata pedangnya bergesekan dengan udara menciptakan suara dengungan tajam.
"Keparat! Panah dia! Jadikan dia sarang landak!" raung Kuang Biao mundur selangkah.
Tiga pemanah dari atas tebing segera melepaskan anak panah beracun mereka. Panah-panah itu mendesing membidik kepala, jantung, dan kaki Xinghe.
Xinghe tidak menangkisnya. Ia menggunakan *Langkah Bayangan Hantu*. Tubuhnya seolah terbelah menjadi tiga bayangan yang saling tumpang tindih. Anak panah itu hanya menembus udara kosong, menancap dalam di tanah berdebu.
Sebelum para pemanah sempat memasang anak panah kedua, Xinghe telah menendang pangkal anak panah yang menancap di tanah. Tiga anak panah itu melesat berbalik arah, terbang ke atas tebing dengan kecepatan dua kali lipat, dan langsung menancap di tenggorokan ketiga pemanah tersebut. Tiga mayat jatuh terpelanting dari atas tebing, menghantam dasar ngarai dengan suara memuakkan.
Tujuh orang tewas dalam waktu kurang dari sepuluh tarikan napas.
Kuang Biao menyadari pemuda ini adalah monster yang menyamar. Tidak ada gunanya menggunakan bawahan rendahan. Ia memutar gada besinya yang berduri, meledakkan aura Tingkat Keenamnya yang buas. Tanah di sekitarnya retak akibat tekanan auranya.
"Aku akan meremukkan tulangmu menjadi bubuk, Bocah Iblis!" Kuang Biao melompat ke udara. Gada besinya diayunkan turun seperti meteor yang jatuh, menargetkan kepala Xinghe. Angin yang dibawa serangan itu sangat berat, menekan pergerakan di area sekitarnya.
Menghadapi Tingkat Keenam, Xinghe tahu ia tidak bisa berbenturan langsung. Dantiannya yang terluka akan bergejolak jika ia menggunakan Niat Pedang berlebihan.
Xinghe meluncur ke samping, membiarkan gada besi itu menghantam tanah tempatnya berdiri sepersekian detik yang lalu.
*BOOOM!*
Ledakan debu merah membubung tinggi. Bongkahan batu hancur berkeping-keping. Kuang Biao tidak berhenti; ia menggunakan momentum pantulan gada dari tanah untuk memutar tubuhnya, melepaskan sapuan horizontal yang mengincar pinggang Xinghe.
Jurus *Putaran Angin Puyuh Penghancur*. Serangan beruntun tanpa jeda.
Xinghe terpaksa memiringkan pedangnya, mengalirkan lapisan tipis energi petir ungu untuk menahan benturan gada tersebut.
*CLAAANG!*
Bunga api menyembur dari gesekan logam. Xinghe terdorong mundur sejauh tiga langkah. Lengannya terasa kebas. Perbedaan tiga tingkat kultivasi memberikan jarak kekuatan fisik mentah yang signifikan. Kuang Biao mengandalkan stamina dan kekerasan otot yang ditempa bertahun-tahun di medan keras.
"Hahaha! Hanya segini kemampuanmu, Bocah?! Kecepatanmu bagus, tenagamu sama lemahnya dengan perempuan!" Kuang Biao terus menekan, mengayunkan gadanya bertubi-tubi. Serangannya kasar, penuh celah, tertutupi oleh area kerusakan yang sangat luas.
Xinghe terus menghindar dan menangkis pukulan yang tidak bisa ia hindari. Setiap kali pedang dan gada berbenturan, Xinghe secara halus menggunakan tenaga Kuang Biao sendiri untuk menggeser posisi sang bandit.
Di sudut lain pertarungan, tiga bandit tersisa yang menyadari pemimpin mereka sedang menyibukkan Xinghe, segera mengubah target. Mereka melesat ke arah Qingshan, Shen Yulan, dan Xiaoxiao.
"Tangkap wanitanya! Jadikan sandera!" teriak salah satu bandit.
Melihat bahaya mendekat, mata Qingshan menyala. *Teknik Pernapasan Harimau Penelan Bumi* berputar di tingkat maksimal. Ia melangkah maju, mengangkat kapak besinya.
Saat pedang bandit pertama melesat ke arahnya, Qingshan tidak menghindar. Ia menyilangkan kapaknya. Alih-alih terdorong, posisi kuda-kudanya kokoh bak akar pohon beringin yang tertanam di batu. Esensi elemen tanah menyerap dampak benturan tersebut, mengalirkannya langsung ke tanah di bawah kaki Qingshan.
Bandit itu terkejut karena serangannya seolah menghantam tembok tebal. Memanfaatkan keterkejutan musuh, Qingshan memutar pinggangnya, mengirimkan tenaga balasan melalui ayunan kapaknya.
*CRAT!*
Kapak baja itu membelah dada bandit pertama secara diagonal. Darah muncrat membasahi wajah Qingshan. Ia tidak mundur. Kemarahan karena keluarganya terus-menerus diancam mengubah mantan penebang kayu ini menjadi petarung sesungguhnya. Ia menendang jatuh mayat itu, lalu mengayunkan kapaknya menyambut dua bandit terakhir.
Pertarungan Qingshan sangat brutal dan tanpa seni, ia sangat efektif melindungi ruang di sekitar ibu dan adiknya.
Kembali pada pertarungan utama. Kuang Biao semakin frustrasi. Ia telah mengayunkan gadanya lebih dari tiga puluh kali. Setiap pukulannya selalu meleset beberapa sentimeter, atau hanya menyerempet pedang lawan. Napas raksasa itu mulai memburu. Stamina Tingkat Keenamnya terkuras cepat oleh serangan berat yang terus-menerus memukul ruang kosong.
"Berhenti berlari seperti lalat, Pengecut!" raung Kuang Biao penuh amarah. Ia mengangkat gadanya tinggi-tinggi dengan kedua tangan, memfokuskan seratus persen sisa energinya untuk satu hantaman penghancur bumi. Ia tidak mempedulikan pertahanannya, yakin pemuda kurus itu tidak memiliki tenaga untuk menembus kulit tebalnya.
Inilah momen yang ditunggu oleh Xinghe.
Sebuah jebakan kesabaran telah terpasang rapi. Xinghe tidak pernah lari secara acak. Ia sengaja memancing Kuang Biao untuk terus menyerang secara berlebihan hingga mengabaikan pusat gravitasinya.
Saat gada itu mengayun turun, Xinghe tidak menghindar ke samping. Ia justru melangkah maju secara diagonal, masuk tepat ke dalam area pertahanan Kuang Biao yang terbuka lebar. Langkah ini sangat berisiko; satu kesalahan perhitungan berarti kepalanya akan hancur lebur.
Waktu terasa melambat.
Xinghe menyuntikkan seluruh energi petir yang tersisa di meridiannya ke ujung pedangnya. Niat Pedang menyusut, memadat menjadi satu titik kecil bercahaya ungu yang menyilaukan.
Kuang Biao membelalakkan matanya. Ia mencoba menarik serangannya, momentum godam besarnya sudah tidak bisa dihentikan.
Xinghe menusukkan pedangnya ke atas. Bukan mengarah ke dada atau leher yang dilindungi otot tebal, melainkan tepat ke bawah dagu, mengincar titik lunak di mana tulang rahang bertemu dengan pangkal tenggorokan.
*ZRAAAK!*
Bilah pedang karatan berlapis petir itu menembus ke atas, mengoyak tenggorokan, menembus langit-langit mulut, dan ujungnya keluar tepat di atas ubun-ubun kepala plontos Kuang Biao.
Gada raksasa itu jatuh menghantam tanah hanya satu jengkal dari kaki Xinghe.
Tubuh besar Kuang Biao menegang kaku. Matanya mendelik ke atas. Darah menetes deras dari ujung pedang yang menembus kepalanya.
Xinghe menarik pedangnya dengan satu sentakan memutar, memutus sisa saraf kehidupan sang bandit. Raksasa mengerikan itu ambruk ke belakang, tewas seketika, mengakhiri teror Kelompok Serigala Pasir di Ngarai Tulang Bersilang selamanya.
Melihat pemimpin mereka tewas dengan cara yang begitu mengerikan, dua bandit yang sedang bertarung melawan Qingshan kehilangan seluruh nyali mereka. Mereka melempar senjata dan lari terbirit-birit ke arah ujung ngarai, menghilang di balik tikungan tebing.
Keheningan kembali menyelimuti Ngarai Tulang Bersilang, hanya diselingi hembusan angin yang membawa bau anyir darah segar.
Xinghe mengibaskan pedangnya, membiarkan sisa darah Kuang Biao jatuh ke tanah berdebu, lalu menyarungkannya kembali ke pinggang. Ia menghela napas panjang, menekan gejolak rasa sakit di dadanya. Pertarungan tadi menghabiskan separuh dari sisa energinya.
Qingshan berdiri terengah-engah, wajahnya dipenuhi darah musuh, matanya menyala oleh kebanggaan yang baru lahir. Ia berhasil membunuh dan melindungi keluarganya. Shen Yulan segera membersihkan wajah putra sulungnya dengan ujung kainnya, berbisik mengucapkan syukur.
"Kakak bertarung dengan baik," puji Xinghe perlahan, berjalan menghampiri mereka. "Penguasaan elemen tanahmu sangat cepat. Setelah kau menemukan metode menyerap esensi spiritual yang lebih baik, kau akan menjadi perisai yang tangguh."
Qingshan tersenyum tipis. "Semua berkat teknik yang kau berikan, Xinghe. Tanpa itu, aku pasti sudah mati di ayunan pertama."
Xinghe berjongkok di samping mayat Kuang Biao. Ia merogoh saku bandit itu dan menemukan sebuah kantong kulit usang. Isinya tidak seberapa banyak; hanya ada seratus keping perak, beberapa bongkahan batu spiritual tingkat rendah yang energinya sangat keruh, dan sebuah lencana kayu berbentuk kepala serigala. Bukan panen yang besar, cukup untuk biaya penginapan selama beberapa hari ke depan.
Tepat saat Xinghe berdiri untuk merencanakan langkah selanjutnya, telinganya menangkap sebuah suara gemuruh ritmis dari arah belakang mereka. Bukan suara longsoran batu, melainkan derap puluhan langkah kuda dan roda pedati kayu berat yang bergesekan dengan jalan berkerikil.
Xinghe memberi isyarat agar keluarganya menepi ke balik batu besar, sementara ia berdiri di tengah jalan, tangannya kembali bersandar pada gagang pedangnya.
Dari tikungan ngarai yang mereka lewati beberapa jam lalu, muncullah sebuah kafilah dagang berukuran besar. Kafilah itu terdiri dari lima kereta barang yang ditarik oleh kuda-kuda bersisik hitam, dikawal oleh puluhan pria bersenjata yang mengenakan zirah rapi. Di atas kereta pertama, berkibar sebuah bendera kain sutra putih bersulamkan lambang awan mengambang yang elegan.
Kafilah Paviliun Awan Putih.
Rombongan itu melambat saat melihat pemandangan berdarah di depan mereka. Mayat-mayat Kelompok Serigala Pasir bergelimpangan memenuhi jalan sempit, dan di tengah-tengah kekacauan itu, berdiri seorang pemuda kurus berjubah kulit serigala dengan tatapan sedingin es.
Dari atas kuda terdepan, seorang wanita mengenakan zirah perak yang sebagian sudah diperbaiki melompat turun. Ia menghunus pedang pendeknya dengan waspada. Wajahnya keras dan penuh disiplin.
Wanita itu adalah Hua Qingying, pengawal pribadi Lin Muxue yang diselamatkan Xinghe di Hutan Binatang Buas.
Hua Qingying melangkah maju, bersiap memberikan peringatan. Saat matanya mengenali wajah pucat pemuda yang berdiri di antara mayat-mayat tersebut, langkahnya terhenti mendadak. Mulutnya sedikit terbuka, pedangnya tanpa sadar turun beberapa sentimeter.
"Kau..." Hua Qingying nyaris tidak memercayai penglihatannya. "Pemuda dari hutan itu? Bagaimana kau bisa berada di sini?"
Mengingat betapa berbahayanya pemuda ini saat membunuh Tetua Sekte Bayangan Tengkorak dalam satu tebasan, Hua Qingying merasa kengerian samar kembali merayapi tengkuknya. Ia melihat mayat raksasa Kuang Biao di dekat kaki Xinghe. Hua Qingying sangat mengenal identitas bandit tersebut; Kuang Biao adalah masalah besar bagi jalur perdagangan paviliunnya selama berbulan-bulan.
"Tampaknya jalan setapak ini terlalu sempit untuk dilewati banyak kebetulan," Xinghe merespons dengan nada datar. Ia mengeluarkan plakat perunggu berukir awan mengambang—barang rampasan dari Gongsun Tian—dan melemparkannya ke udara.
Plakat itu melayang jatuh tepat ke dalam tangkapan Hua Qingying.
Hua Qingying memeriksa plakat tersebut, matanya membelalak. "Ini... ini adalah plakat identitas relasi tingkat ketiga milik Paviliun Awan Putih. Hanya rekan dagang terpercaya kami yang memilikinya. Dari mana kau mendapatkan ini?"
"Aku mengambilnya dari mayat seekor anjing tua yang mencoba menggigitku," jawab Xinghe santai, sama sekali tidak peduli dengan reaksi terkejut sang pengawal. "Kudengar Paviliun Awan Putih selalu membalas budi dan menjunjung tinggi transaksi bisnis. Aku telah menyingkirkan sampah di jalan ini untuk kalian. Keluargaku membutuhkan tumpangan yang layak menuju Kota Awan Mengambang. Apakah kafilahmu memiliki ruang yang tersisa?"
Hua Qingying terdiam. Logikanya berteriak bahwa membawa pemuda misterius dan sangat berbahaya ini ke dalam rombongannya adalah risiko besar. Di sisi lain, utang nyawa di Hutan Binatang Buas adalah fakta yang tak terbantahkan. Pemuda ini baru saja menyingkirkan Kelompok Serigala Pasir yang selalu menjadi duri dalam daging bagi operasi dagang mereka.
Dari dalam kereta kedua, tirai sutra disingkap perlahan. Sesosok gadis cantik bergaun biru es melongokkan kepalanya. Wajahnya yang sedingin pahatan es menunjukkan riak keterkejutan yang nyata saat melihat Xinghe.
"Saudari Hua," suara Lin Muxue terdengar anggun namun memerintah. "Tarik kembali senjatamu. Siapkan satu kereta kosong di bagian tengah untuk tuan muda ini dan keluarganya. Paviliun Awan Putih tidak pernah mengabaikan utang budi."
Gadis bangsawan itu menatap lurus ke arah Xinghe, matanya memancarkan rasa ingin tahu yang sangat dalam. Pemuda desa yang membunuh Macan Tutul Guntur, menebas Tetua aliran sesat, dan kini membantai kelompok bandit paling ditakuti di Ngarai Tulang Bersilang, semuanya dilakukan dengan ekspresi bosan layaknya sedang menyapu halaman.
Xinghe mengangguk tipis sebagai tanda terima kasih. Ia memberi isyarat, dan Qingshan segera memapah ibu serta adiknya keluar dari tempat persembunyian. Mereka berjalan melewati barisan pengawal Paviliun yang menatap mereka dengan campuran rasa segan dan gentar.
Menaiki kereta kayu yang dialasi karpet bulu hangat, keluarga Yan akhirnya merasakan fasilitas kemewahan untuk pertama kalinya. Jendela kereta tertutup, melindungi mereka dari terik matahari dan debu ngarai.
Roda pedati kembali berputar. Kafilah Paviliun Awan Putih melanjutkan perjalanannya, membawa keluarga Yan meninggalkan alam liar yang kejam, bergerak menuju peradaban besar pertama dalam perjalanan mereka.
Xinghe duduk bersandar di dekat jendela kereta. Ia memejamkan matanya, mengabaikan tatapan penasaran keluarganya. Perjalanan sesungguhnya ke jantung konspirasi dan kekuatan baru saja dimulai. Kota Awan Mengambang sedang menanti, sebuah bidak catur baru di atas papan permainan Sang Kaisar Pedang. Tiga Ribu Dunia terus berputar, menyongsong datangnya badai sang penakluk.