NovelToon NovelToon
Dari Perjodohan Yang Salah, Lahir Cinta Yang Benar

Dari Perjodohan Yang Salah, Lahir Cinta Yang Benar

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Perjodohan
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Uzumaki Amako

Sejak ibu kandungku meninggal, aku hidup sebagai orang asing di rumahku sendiri. Saat perjodohan datang, harapanku hancur ketika kakak tiriku merebut segalanya dan aku dipaksa menikah dengan pria lumpuh yang tak kukenal. Namun, dari perjodohan yang tidak adil itu, aku justru menemukan ketulusan dan cinta yang selama ini tak pernah kudapatkan. Ketika kebenaran terungkap dan masa laluku ingin mengklaimku kembali, aku harus memilih—kembali pada yang seharusnya, atau bertahan pada cinta yang telah menjadi rumahku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uzumaki Amako, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 8

Angin malam berhembus pelan, menyentuh wajahku yang sejak tadi terasa hangat.

Aku masih berdiri di belakang Adrian, tanganku bertumpu ringan di pegangan kursi rodanya. Lampu-lampu kota di kejauhan berkelap-kelip seperti bintang yang jatuh ke bumi—indah, tapi terasa jauh.

Kami sama-sama diam.

Namun diam kali ini… tidak canggung.

Lebih seperti dua orang yang sama-sama tidak terbiasa berbicara, tapi tidak merasa perlu mengisi setiap keheningan.

Aku menarik napas pelan.

Udara malam terasa lebih lega dibandingkan di dalam ruangan tadi.

“Lebih enak di luar,” kataku tanpa sadar.

Adrian sedikit menoleh. “Kamu tidak suka keramaian?”

Aku berpikir sebentar sebelum menjawab. “Bukan tidak suka… hanya tidak terbiasa.”

Ia mengangguk kecil. “Kamu banyak hal yang belum terbiasa.”

Aku tersenyum tipis. “Iya.”

Lalu aku menambahkan pelan, “Tapi aku sedang mencoba.”

Kalimat itu keluar begitu saja.

Jujur.

Tanpa dibuat-buat.

Adrian tidak langsung menjawab.

Ia hanya menatap lurus ke depan, ke arah lampu-lampu kota.

Beberapa detik berlalu.

“Apa kamu selalu seperti itu?” tanyanya tiba-tiba.

Aku sedikit bingung. “Seperti apa?”

“Menerima semuanya,” jawabnya singkat.

Aku terdiam.

Pertanyaan itu… tidak mudah dijawab.

Aku menatap tanganku sendiri di pegangan kursi roda.

“Dulu… iya,” kataku pelan. “Aku pikir kalau aku diam dan menerima, semuanya akan lebih mudah.”

Aku tersenyum kecil, tapi kali ini ada rasa pahit di dalamnya.

“Tapi ternyata tidak.”

Adrian masih diam.

Aku melanjutkan, suaraku lebih pelan,

“Kadang… justru karena aku diam, orang lain jadi merasa bebas melakukan apa saja.”

Angin malam kembali berhembus.

Membawa keheningan di antara kami.

Untuk beberapa saat, aku pikir dia tidak akan menanggapi.

Namun kemudian—

“Itu benar.”

Aku sedikit terkejut.

Ia melanjutkan,

“Dunia tidak berhenti hanya karena kamu memilih diam.”

Aku menatapnya.

Untuk pertama kalinya, aku merasa ia tidak hanya berbicara padaku… tapi juga tentang dirinya sendiri.

“Apa kamu juga begitu?” tanyaku pelan.

Pertanyaan itu keluar sebelum aku sempat menahannya.

Adrian terdiam cukup lama.

Lebih lama dari biasanya.

Aku sempat berpikir dia tidak akan menjawab.

Namun akhirnya, ia berkata pelan—

“Aku dulu tidak diam.”

Aku menunggu.

“Tapi tetap saja… banyak hal yang tidak bisa aku ubah.”

Kalimatnya singkat.

Namun cukup untuk membuatku mengerti—

Ada sesuatu di masa lalunya yang tidak ia ceritakan.

Dan mungkin… tidak ingin ia ceritakan.

Aku tidak bertanya lagi.

Kami kembali diam.

Namun kali ini, diam itu terasa… lebih dekat.

Beberapa menit kemudian, suara pintu terbuka dari dalam gedung terdengar.

Beberapa tamu mulai keluar ke teras.

Suasana kembali sedikit ramai.

Aku menatap Adrian.

“Sepertinya kita harus kembali,” kataku pelan.

Ia mengangguk kecil.

Aku kembali mendorong kursi rodanya masuk ke dalam.

Kali ini, langkahku lebih mantap.

Aku tidak lagi menunduk.

Tidak lagi terlalu memperhatikan tatapan orang-orang.

Aku hanya fokus pada jalan di depan.

Dan pada orang yang ada di depanku.

Acara tidak berlangsung lama setelah itu.

Beberapa saat kemudian, Adrian memutuskan untuk pulang.

Aku kembali mendorong kursi rodanya keluar gedung menuju mobil.

Kali ini, tidak ada rasa gugup seperti saat datang.

Hanya… lelah.

Namun bukan lelah yang buruk.

Lebih seperti lelah setelah melewati sesuatu yang baru.

Pintu mobil dibuka.

Aku membantu sedikit posisi kursi rodanya, meski sebenarnya ia bisa melakukannya sendiri.

Namun ia tidak menolak.

Itu saja sudah terasa berbeda.

Kami masuk ke dalam mobil.

Perjalanan pulang dimulai.

Di dalam mobil, suasana kembali sunyi.

Namun sunyi yang ini… terasa nyaman.

Aku menyandarkan punggungku ke kursi, menatap ke luar jendela.

Lampu-lampu kota berlalu satu per satu.

Cepat.

Namun tidak terasa menekan seperti dulu.

“Tadi… kamu bagus.”

Suara Adrian tiba-tiba memecah keheningan.

Aku langsung menoleh. “Hah?”

Ia masih menatap ke depan.

“Di acara tadi,” lanjutnya. “Kamu tidak membuat masalah.”

Aku hampir tertawa kecil, tapi kutahan.

“Itu standar yang cukup rendah,” kataku pelan.

Ia menjawab datar, “Untuk situasi seperti itu, itu sudah cukup.”

Aku tersenyum kecil.

Lalu berkata jujur,

“Aku sebenarnya sangat gugup.”

“Aku tahu.”

Aku meliriknya. “Kelihatan lagi?”

“Iya.”

Aku menghela napas kecil. “Memalukan.”

“Tidak.”

Jawabannya cepat.

Aku menatapnya.

Ia melanjutkan,

“Kamu tetap berdiri di sana. Itu sudah lebih dari cukup.”

Dadaku terasa hangat lagi.

Kata-katanya selalu sederhana.

Tapi entah kenapa… selalu tepat.

Aku menunduk sedikit, menyembunyikan senyum kecilku.

“Terima kasih…”

Ia tidak menjawab.

Namun aku tidak merasa diabaikan.

Mobil akhirnya sampai di rumah.

Gerbang besar terbuka perlahan, menyambut kami kembali ke tempat yang masih terasa asing… tapi tidak lagi terlalu dingin.

Aku turun lebih dulu, lalu membantu membuka jalan untuk Adrian.

Kami masuk bersama.

Langkah pelan.

Tanpa terburu-buru.

Begitu sampai di dalam, aku berhenti sejenak.

Menatap ruang besar itu.

Lalu tanpa sadar berkata,

“Rumah ini… tidak terasa sesepi kemarin.”

Adrian yang berada di sampingku sedikit menoleh.

“…Karena kamu sudah mulai terbiasa?”

Aku menggeleng pelan.

“Bukan.”

Aku berpikir sebentar.

Lalu berkata jujur,

“Mungkin karena… sekarang aku tidak benar-benar sendirian.”

Sunyi.

Kalimat itu menggantung di udara.

Aku langsung merasa sedikit canggung setelah mengatakannya.

Namun Adrian tidak memotong.

Tidak juga mengabaikan.

Ia hanya berkata pelan—

“Ya.”

Satu kata.

Tapi cukup.

Kami berpisah di lorong.

Ia kembali ke ruangannya.

Aku kembali ke kamarku.

Namun sebelum masuk, aku berhenti sebentar.

Tanganku menyentuh gagang pintu.

Aku menarik napas pelan.

Hari ini…

Aku melewati banyak hal baru.

Masuk ke dunia yang asing.

Berjalan di antara orang-orang yang berbeda.

Dan… tidak runtuh.

Aku tersenyum kecil.

Pelan.

Untuk pertama kalinya, aku merasa—

Aku tidak hanya bertahan.

Aku mulai… hidup.

Aku membuka pintu kamar.

Masuk.

Menutupnya perlahan.

Dan malam itu,

untuk pertama kalinya sejak lama,

aku tertidur bukan karena lelah menahan luka—

tapi karena hati yang… sedikit lebih tenang.

Pagi berikutnya aku terbangun lebih awal dari biasanya.

Cahaya matahari masuk dari celah tirai, jatuh lembut di lantai kamar yang luas dan masih terasa asing ini. Beberapa detik aku hanya berbaring, menatap langit-langit, mengingat kejadian semalam.

Acara makan malam.

Lampu kota.

Percakapan di teras.

Dan kalimat Adrian—

"Kamu tetap berdiri di sana. Itu sudah lebih dari cukup."

Aku menutup mata sebentar.

Aneh.

Aku baru mengenalnya beberapa waktu, tapi kata-katanya entah kenapa selalu teringat.

Aku bangun dari tempat tidur, mandi, lalu bersiap seperti biasa. Hari ini tidak ada acara besar, jadi aku hanya memakai pakaian sederhana.

Begitu membuka pintu kamar, aku bertemu pelayan yang bernama bibi Ratna di lorong.

“Pagi, Nona,” katanya sambil tersenyum hangat.

“Pagi, Bi.”

“Sudah bangun dari tadi?”

“Iya, tidak bisa tidur lagi.”

Bibi Ratna mengangguk. “Tuan Adrian juga sudah bangun dari tadi. Sekarang di ruang kerja.”

Aku sedikit terkejut. “Sepagi itu?”

“Tuan memang biasanya bangun pagi.”

Aku mengangguk pelan, lalu turun ke ruang makan untuk sarapan. Meja sudah tertata rapi. Rumah ini memang selalu terasa teratur, terlalu teratur bahkan.

Aku baru saja duduk ketika suara kursi roda terdengar dari arah lorong.

Aku menoleh.

Adrian masuk ke ruang makan dengan pakaian rapi seperti orang yang siap bekerja, bukan seperti orang yang baru bangun tidur.

“Pagi,” katanya singkat.

“Pagi,” jawabku.

Kami sarapan dalam keheningan seperti biasa. Namun kali ini keheningan itu tidak terasa canggung seperti hari-hari pertama.

Setelah beberapa menit, Adrian berkata,

“Hari ini kamu ada rencana?”

Aku menggeleng. “Tidak ada.”

Ia mengangguk kecil, lalu minum kopinya.

Beberapa detik kemudian ia berkata lagi,

“Nanti siang aku harus ke kantor.”

Aku mengangguk. “Iya.”

Lalu aku baru menyadari sesuatu.

Aku menatapnya. “Kamu… setiap hari ke kantor?”

“Iya.”

Aku sedikit ragu sebelum bertanya, “Dengan kursi roda?”

Ia menatapku sebentar, lalu menjawab tenang, “Kursi roda bukan berarti hidupku berhenti.”

Aku langsung merasa bersalah. “Maaf, aku tidak bermaksud begitu.”

“Aku tahu,” katanya datar. “Kamu hanya belum terbiasa.”

Kalimat itu lagi.

Belum terbiasa. 

Sepertinya itu memang menggambarkan hidupku sekarang.

Sarapan selesai. Adrian bersiap berangkat ke kantor. Aku ikut berjalan sampai ke depan rumah seperti kebiasaan di keluarga besar—mengantar orang berangkat.

Namun saat mobilnya akan berangkat, Adrian tiba-tiba berkata,

“Kamu mau ikut?”

Aku kaget. “Ikut?”

“Ke kantor,” katanya singkat. “Daripada kamu sendirian di rumah.”

Aku benar-benar tidak menyangka dia akan mengatakan itu.

“Aku… boleh?”

Ia menatapku datar. “Kamu istriku. Tidak ada yang melarang.”

Kalimat itu sederhana, tapi tetap membuatku sedikit gugup.

Akhirnya aku mengangguk. “Aku ganti sepatu dulu.”

Perjalanan ke kantor tidak terlalu lama. Gedung kantor Adrian sangat tinggi dan terlihat mewah. Begitu mobil masuk area parkir khusus, beberapa orang langsung menyapa sopan.

Aku keluar mobil lebih dulu, lalu membantu Adrian seperti biasa.

Begitu kami masuk ke dalam gedung, suasana langsung berubah. Semua orang terlihat sangat menghormatinya.

“Selamat pagi, Pak Adrian.”

“Pagi, Pak.”

“Meeting jam sepuluh sudah siap, Pak.”

Ia hanya mengangguk dan menjawab singkat. Sikapnya berbeda dari saat di rumah. Lebih dingin. Lebih tegas. Lebih seperti… pemimpin.

Aku berjalan di belakangnya, mendorong kursi rodanya menuju lift. Beberapa karyawan diam-diam melirik ke arahku, mungkin penasaran siapa aku.

Begitu sampai di lantai atas, kami masuk ke ruang kerjanya.

Ruangannya besar, dengan jendela kaca yang menghadap ke kota. Meja kerjanya rapi, hampir tidak ada barang yang tidak perlu.

“Aku akan bekerja,” katanya. “Kamu bisa duduk di sofa, baca buku, atau apa saja. Kalau bosan, bilang ke sekretaris, dia akan antar kamu keliling kantor.”

“Iya,” jawabku.

Aku duduk di sofa, memperhatikan dia bekerja. Tangannya bergerak cepat membuka laptop, membaca dokumen, menandatangani berkas. Wajahnya serius dan fokus.

Di kantor, dia benar-benar terlihat seperti orang yang berbeda.

Bukan pria dingin yang pendiam di rumah.

Bukan juga pria yang berbicara pelan di teras semalam.

Di sini, dia terlihat seperti orang yang memegang kendali atas banyak hal.

Aku baru menyadari sesuatu.

Selama ini aku selalu melihatnya sebagai pria di kursi roda.

Tapi sekarang aku melihatnya sebagai—

Pria yang semua orang hormati.

Pria yang semua orang dengarkan.

Pria yang… sangat kuat, bahkan tanpa harus berdiri.

Tanpa sadar aku terus memperhatikannya sampai tiba-tiba ia berkata tanpa menoleh,

“Kalau kamu terus menatapku seperti itu, aku tidak bisa fokus bekerja.”

Aku langsung kaget. “Aku tidak menatapmu!”

Ia menoleh sedikit dengan ekspresi datar. “Kamu menatapku.”

Aku langsung salah tingkah. “Aku cuma… melihat.”

“Melihat dan menatap itu sama saja.”

Aku tidak bisa membantah, jadi aku hanya diam.

Namun tiba-tiba ia berkata lagi,

“Kamu bosan?”

Aku menggeleng. “Tidak.”

Ia menatapku beberapa detik, lalu berkata pelan,

“Kamu aneh.”

Aku terkejut. “Kenapa?”

“Kebanyakan orang akan merasa tidak nyaman berada di kantor berjam-jam tanpa melakukan apa-apa.”

Aku berpikir sebentar, lalu menjawab jujur,

“Duduk diam di tempat orang lain bukan hal baru bagiku.”

Ia terdiam.

Seperti menyadari sesuatu dari kalimatku.

Ruangan menjadi sunyi beberapa detik.

Lalu ia berkata sangat pelan—

“Mulai sekarang, kamu bukan duduk di tempat orang lain.”

Aku menatapnya.

Ia melanjutkan,

“Ini juga tempatmu.”

Dan entah kenapa,

untuk pertama kalinya sejak aku menikah dengannya,

aku merasa—

Mungkin… aku benar-benar punya tempat sekarang.

1
Siti Jubaedah
trima kasih karyanya semoga lebih semangat membacanya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!