Selama 25 tahun, Rashaka Nareswara setia menjaga cintanya. Ia tetap bertahan, dan berharap pada satu nama yang tak pernah berubah di hatinya. Hingga akhirnya, penantian panjang itu berbuah manis.
Ia berhasil mempersunting wanita yang ia cintai sejak dulu, memulai kehidupan rumah tangga yang tampak sempurna.
Namun, kebahagiaan itu tak pernah benar-benar utuh. Di balik senyum sang istri, tersimpan bayang-bayang masa lalu yang belum selesai. Masalah demi masalah yang perlahan meretakkan kehangatan yang mereka bangun.
Akankah cinta yang bertahan selama seperempat abad itu mampu melawan luka yang belum sembuh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GAYATRI S2 — BAB 08
Shakira sedang memasak sarapan saat tiba-tiba perutnya terasa bergolak mencium aroma masakannya sendiri. Ia langsung berlari ke kamar mandi dan meninggalkan masakannya yang hampir matang begitu saja.
Keenan yang kebetulan baru selesai berpakaian terheran-heran melihat istrinya yang terdengar muntah-muntah di dalam kamar mandi.
“Sayang? Kau baik-baik saja?” tanyanya setengah berteriak dari luar kamar mandi.
Shakira tak menjawab, mualnya semakin terasa menjadi-jadi meski rasanya ia sudah memuntahkan semua isinya. Dan, entah dorongan dari mana, Shakira terpikir untuk menggunakan alat tes kehamilan. Ia mengambilnya di laci atas kamar mandi, benda itu memang sudah ia siapkan sejak lama.
Selama beberapa saat, ia menunggu sambil menggigit bibirnya sendiri, dan saat hasilnya muncul, ia merasa tak percaya. Jari-jarinya sedikit gemetar, ketika dua garis yang jelas dan tak terbantahkan.
Shakira membeku di tempatnya. Untuk beberapa detik, ia hanya menatap alat tes kehamilan itu tanpa berkedip, seolah mencoba memastikan bahwa matanya tidak salah melihat. Lalu perlahan, sesuatu yang hangat memenuhi dadanya, rasa bahagia yang datang begitu tiba-tiba hingga membuatnya terkesiap.
“Astaga! Dua garis? Apakah ini nyata? Aku… hamil?” bisiknya pelan, pada dirinya sendiri.
Tanpa sadar, air matanya jatuh, bukan karena sedih, melainkan karena perasaan haru yang begitu besar. Tangannya refleks menyentuh perutnya yang masih datar, namun kini terasa berbeda, seolah ada kehidupan baru yang tengah tumbuh di sana.
Tanpa menunggu lebih lama, Shakira keluar dari kamar mandi dengan langkah cepat. Ia bahkan tidak sempat merapikan dirinya dengan baik. Pikirannya hanya tertuju pada satu hal.
“Keenan!” panggilnya begitu menemukan pria itu di ruang tengah.
Keenan yang sedang duduk sambil menatap laptopnya menoleh, sedikit terkejut melihat Shakira yang tampak terburu-buru. “Ada apa? Kau baik-baik saja? Aku memanggilmu sejak tadi, tapi kau tidak menyahutiku. Kau baik-baik saja, kan?”
Shakira berjalan mendekat, napasnya masih belum sepenuhnya teratur, namun senyumnya tidak bisa ia sembunyikan. “Keenan, lihatlah ini!”
Ia berhenti sejenak, menetralkan detak jantungnya, menahan rasa haru yang kembali menggenang.
“A-apa ini?” tanya Keenan dengan kening berkerut dalam.
“Aku hamil! Keenan … kita akan menjadi orang tua, Sayang! Kau tidak percaya hal ini, bukan? Aku juga merasa tidak yakin, tapi coba kau lihat di sini. Garis dua ini menunjukkan bahwa aku positif! Aku hamil!” seru Shakira, tak bisa menahan rasa bahagianya.
Keenan tidak langsung bereaksi. Wajahnya yang tadi biasa saja kini berubah. Ia tertegun, menatap alat tes kehamilan itu dan Shakira dengan ekspresi yang sulit diartikan.
“Hamil? Kau benar-benar yakin?” ulangnya pelan.
Shakira mengangguk cepat, matanya berbinar. “Iya. Aku hamil. Aku tahu alat tes kehamilan ini mungkin tidak begitu akurat, bagaimana jika nanti siang kita pergi ke dokter kandungan untuk memastikannya?”
Keenan tetap diam tak bereaksi sementara Shakira menunggu. Menunggu senyum, pelukan, atau setidaknya reaksi yang menunjukkan bahwa kabar ini adalah sesuatu yang membahagiakan bagi mereka berdua.
Namun yang datang justru sebaliknya. Keenan menghela napas pelan, lalu menyandarkan tubuhnya ke sofa.
Tatapannya beralih, tidak lagi langsung pada Shakira. “Aku belum siap untuk hal ini, Shakira,” ucapnya datar.
Kalimat itu seperti menghantam Shakira tanpa peringatan.
“A-apa? Apa maksudmu kau belum siap? Apa kau tidak bahagia dengan kabar ini, Keenan?” tanyanya dengan suara yang bergetar.
Keenan mengangguk lemah. “Aku belum siap menjadi ayah,” lanjut Keenan, kali ini lebih jelas. “Aku belum siap dengan tanggung jawab itu.”
Senyum di wajah Shakira perlahan menghilang. Kebahagiaan yang tadi begitu penuh kini terasa runtuh dalam sekejap.
“Keenan? Apa yang kau katakan itu?” tanyanya, suaranya bergetar. “Ke-kenapa? Apakah maksudnya kau tidak menginginkan bayi ini?”
Keenan tidak menjawab dengan emosi. Justru itu yang membuat semuanya terasa lebih dingin. “Aku belum siap, Shakira. Aku belum siap menjadi seorang ayah,” ulangnya.
Shakira menggeleng pelan, seolah tidak ingin menerima kenyataan itu. “Tapi ini … ini anak kita, Keenan. Ini kabar baik.”
“Bagimu, mungkin itu kabar baik. Tetapi tidak bagiku,” balas Keenan singkat.
Kata-kata itu membuat dada Shakira terasa sesak. “Ini bukan soal aku saja,” ucapnya, mencoba menahan emosinya. “Ini tentang kita. Tentang keluarga kita.”
Keenan mengusap wajahnya kasar. “Shakira, kita bahkan belum merencanakan ini.”
“Tidak semua hal harus direncanakan!” balas Shakira cepat. “Kadang ini memang datang sebagai hadiah.”
Ia menatap Keenan, matanya mulai berkaca-kaca. “Ini anugerah, Keenan. Kita tidak bisa menolaknya seolah-olah bayi ini adalah barang yang bisa kita kembalikan jika kau tidak menginginkannya.”
Namun Keenan justru menggeleng. “Kita bisa saja mencegahnya, kan?”
Shakira terdiam, keningnya berkerut. “Apa maksudmu?”
Keenan menatapnya tanpa ragu. “Jika kau minum pil kontr*sepsi dengan teratur, hal ini pasti tidak akan terjadi sekarang.”
Kalimat itu terasa seperti tamparan keras. Shakira menatapnya tidak percaya. “Kau menyalahkan aku?”
“Aku hanya bilang ini bisa dihindari,” jawab Keenan tanpa emosi. “Sayang, ketahuilah, tanggung jawab memiliki anak itu begitu besar, sementara aku tidak yakin bisa menanggungnya sekarang.”
Shakira menggeleng, napasnya mulai tidak teratur. “Aku tidak percaya kau bisa mengatakan hal ini, Keenan. Kau … kau membuatku kecewa.”
“Cukup, Shakira, tidak perlu membesar-besarkan masalah ini,” tegas Keenan. “Intinya, aku belum siap untuk memiliki seorang anak.”
“Lalu apa yang kau inginkan sebenarnya?!” Suara Shakira meninggi. “Aku yang mengandung anak ini! Kau pikir ini mudah untukku? Apakah kau pikir aku sudah siap? Tidak, Keenan. Tetapi saat tahu aku hamil, detik itu juga kuputuskan bahwa aku harus belajar menjadi orang tua, menjadi seorang ibu.”
Keenan terdiam, namun tidak ada perubahan di wajahnya.
Shakira tertawa getir. “Aku pikir kau akan bahagia mendengar kabar ini, atau setidaknya sedikit berbahagia untukku.” Ia menunduk, mengusap air mata yang jatuh. “Ternyata aku salah.”
Hening. Shakira memejamkan mata sementara Keenan tak berani berkata apa-apa selain melihat istrinya menangis.
“Lalu, apa maumu sekarang?’ tanya Shakira kemudian. “Apa kau ingin aku meggugur-kan kandungan ini?”
Alih-alih menjawab pertanyaan itu, Keenan justru meraih kunci mobilnya dan berlalu dari sana.
“Kau mau ke mana?” tanya Shakira cepat.
“Aku butuh waktu,” jawabnya singkat.
“Keenan!”
Namun pria itu sudah lebih dulu berjalan pergi, meninggalkan Shakira seorang diri begitu saja.
Tangan Shakira perlahan kembali menyentuh perutnya, seolah mencari sesuatu yang bisa menenangkannya. Namun yang ia rasakan justru sebaliknya, sesak yang memenuhi dada. Air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan lagi. Beberapa menit yang lalu, ia adalah wanita paling bahagia di dunia. Dan sekarang, ia bahkan tidak tahu harus merasa apa.