Namanya Arumi, seorang gadis yang tinggal di desa Dukuh Asem.
Arumi adalah seorang gadis yang baik hati dan suka membantu orang tuanya.
Namun, ketenangan itu perlahan menghilang, saat bayi-bayi di desanya mulai meninggal satu-persatu dengan darah yang mengering.
Arumi juga mulai sering melihat penampakan aneh, bahkan sampai hampir disakiti oleh sesosok kuntilanak merah.
Kuntilanak itu selalu mengatakan, kalau ibunya Arumi telah membuat hidupnya hancur.
Arumi dan adiknya, yang bernama Bella, mulai merasa curiga dengan kedua orang tuanya.
Apalagi, mereka sering tampak terlihat aneh.
Arumi juga merasakan keanehan dengan dirinya, sebab dirinya sering melihat penampakan aneh.
Sebenarnya, apakah yang terjadi? Dan mampukah Arumi mengungkap semuanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lili Aksara 04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Malam harinya, arwah Susi kembali bergentayangan mencari bayi untuk ia ambil darahnya.
"Hihihi, aku ingin makan. Makan, makan," ucap Susi sambil terbang melayang-layang.
Namun, saat ia masih terbang seperti itu, ada sesosok wanita yang menghadangnya.
"Arwah rendahan, beraninya kau menghalangi aku," ucap Susi marah.
Wanita yang menghadang Susi bukanlah kuntilanak seperti dia, melainkan berwujud kucing hitam yang memiliki kuku panjang.
Ya, itu adalah bangsa jin siluman, dan dia cukup kuat.
"Wah, kamu sangat dipenuhi dendam ya," ucap kucing hitam sambil menatap Susi.
"Ini bukan urusanmu, kucing rendahan," jawab Susi.
"Hehehe, santai dong. Mari kita bermain-main, aku emosi lihat kamu itu yang udah 2 kali bunuh anak yang nggak berdosa begitu," ucap kucing hitam.
"Kau harus matiiiii!" teriak Susi sambil menyeringai dan menyerang kucing hitam.
Kucing hitam itu segera menghindar, namun Susi yang bisa terbang itu mampu mengejar si kucing hitam.
Buaak.
Kucing hitam terpental saat tendangan Susi mendarat di punggungnya.
"Aaaargh!" Kucing hitam berteriak saat Susi kembali menyerangnya dengan cara mencakar muka kucing itu.
"Bangsat kau, beraninya mencakar mukaku!" Kucing hitam sangat marah.
Buaak.
Kraaak.
Kucing hitam memukul Susi, hingga kuntilanak itu terpelanting.
Namun, Susi tak menyerah, dia kembali bangkit dengan menyiapkan bola api yang dilesatkan ke arah kucing hitam.
"Hah, dia punya kekuatan api," batin kucing hitam sedikit terkejut.
Pasalnya, biasanya kuntilanak merah tak punya kekuatan api.
Namun, kucing hitam juga memiliki kekuatan api sama seperti Susi.
Alhasil, bola api mereka beradu, menciptakan ledakan yang dasyat.
Dwar.
Untung saja mereka bertarung sedikit jauh dari desa, jadi tidak akan ada warga yang akan mendengar suara ledakan itu.
Susi mengibaskan rambutnya yang panjang, lalu melilit kucing hitam dengan kuat.
"Hihihiiiiii, sepertinya kau sangat ingin mati sampai berani melawanku, ya," ucap Susi.
"Lepaskan, bangsat," kucing hitam tampak mulai merasakan sakit.
Wuuut.
Kucing hitam menancapkan kukunya ke pundak Susi, membuat darah yang berwarna hitam menyembur keluar.
"Aaaargh, sakit!" teriak Susi.
Mata Susi semakin memerah, kuntilanak itu membuat rambutnya mengeluarkan api sambil mengoyak leher kucing hitam dengan kukunya juga.
Kucing hitam hanya bisa terbelalak sebelum tewas.
Sungguh ia tak menyangka bisa kalah dengan mudah.
Niat ingin memusnahkan lawan karena kesal akibat Susi yang sudah membunuh anak yang tak berdosa, namun malah ia yang harus tewas.
"Hihihiiiii, darah bayi, itu lezat untuk memulihkan kekuatanku," ucap Susi sambil terbang ke desa Dukuh Asem.
Susi mengendus-endus sekitar, lalu menemukan wangi tubuh seorang bayi.
Tanpa pikir panjang, Susi langsung masuk ke sana.
Susi menarik bayi itu dengan kasar, ia menggendong dengan asal, bahkan bayi itu sampai ia remas karena saking inginnya Susi dengan darah.
Susi begitu ganas saat ini, bahkan mungkin kalau ada warga yang bertemu dengannya, pasti nyawanya takan selamat.
Susi membawa bayi itu, namun kali ini ia tak langsung pergi untuk memakannya, melainkan malah pergi mencari bayi yang lain lagi.
"Hihihi, aku ingin 2 bayi," ucap Susi.
Warga Dukuh Asem memang banyak, bisa di bilang desa ini padat penduduk.
Oleh karena itu, warga yang memiliki bayi pun begitu banyak.
Susi masuk ke sebuah rumah seorang nenek-nenek tua.
Nenek itu hanya tinggal dengan cucunya yang baru berumur 1 tahun.
"Hihihi, sayangnya ini sudah cukup besar. Tapi nggak papa, ini masih bisa disebut bayi," ucap Susi sambil melesat membawa bayi itu.
Malam itu, keluarga dari 2 bayi yang Susi culik memang sedang tertidur lelap, jadilah tidak ada yang berteriak memanggil warga lain.
Kali ini, Susi membawa 2 bayi itu pada sebuah tanah kosong yang ada di pinggir desa.
Tanah itu jarang sekali didatangi, karena memang tanah itu telah ditinggalkan oleh pemiliknya.
Dahulu memang ada rumah di sana, namun rumah itu sudah dirobohkan bertahun-tahun yang lalu.
Alhasil, meskipun malam ini ronda pertama di desa Dukuh Asem telah dimulai, tapi tetap saja tidak akan ada yang melihat Susi.
Susi melemparkan kedua tubuh bayi yang ia ambil ke tanah.
Kedua bayi itu langsung tak bernyawa saat itu juga.
"Hihihi," Susi terus tertawa sambil menancapkan kukunya ke leher bayi itu.
Seketika, darah mengucur dengan deras.
Sruuuup.
Susi menyeruput darah itu dengan nikmat.
Selesai dengan bayi yang pertama, Susi kembali melakukan hal yang sama pada bayi yang kedua.
Setelah meminum darah bayi, terlihat kalau kini Susi semakin kuat.
"Hihihi, darah ini sangat enak," ucap Susi sambil terbang pergi.
Susi keluar dari desa Dukuh Asem.
Kuntilanak itu tak memperdulikan mayat kucing hitam, sebab dia memang sudah musnah, dan sebentar lagi akan menjadi abu.
Lagipula, dia tidak ingin memakan bangsa jin, sebab memang dia hanya ingin darah bayi saja.
***Kembali kepada Arumi, gadis itu sedang menikmati kesendiriannya.
"Kok malam ini sepi banget, ya?" batin Arumi.
Malam ini memang terasa begitu hening.
Namun, itu bukan seperti hening biasa, tetapi seperti hening yang akan membawa sesuatu yang lebih besar.
Akan tetapi, di sisi lain Arumi juga senang, karena malam ini sepertinya tidak ada bayi yang menghilang, mengingat memang tidak ada yang berteriak kehilangan bayi.
Arumi hanya bisa berharap bahwa kuntilanak itu tak menculik bayi malam ini.
Tok, tok, tok.
Ketukan pintu mengagetkan Arumi yang saat itu sedang melamun.
"Masuk aja, nggak dikunci!" perintah Arumi.
Ceklek.
Bella masuk dengan membawa camilan dan 2 gelas teh hangat di tangannya.
"Loh, belum tidur kamu," ucap Arumi.
"Belum, Kak, aku laper, makanya ke sini," jawab Bella.
Arumi mencomot seblak kering yang pedas, lalu memakannya.
"Kayaknya malam ini nggak ada bayi yang hilang ya, Kak," ucap Bella.
"Iya, Dek. Syukurlah kalau memang begitu, berarti aman," jawab Arumi.
"Tapi, apa bener-bener udah selesai, ya?" tanya Bella.
"Ya, aku juga nggak tahu. Tapi, semoga aja sih emang udah," jawab Arumi.
"Tadi aku kena marah Bapak sama Ibu, Kak," ucap Bella dengan sedih.
"Loh, kapan? Dan kenapa kamu bisa kena marah?" tanya Arumi terkejut.
"Ya, tadi itu, sebelum kamu pulang dari rumah Kak Putri. Aku cuma nanya sama Ibu, mereka habis dari mana? Tapi, Ibu malah ngatain aku, di bilang banyak tanya katanya," jawab Bella.
Memang tadi Arumi tidak mengajar ngaji, jadi ia pulang sore, dan ternyata orang tua dan adiknya sudah sampai lebih dulu.
"Yang sabar, ya, Dek. Mungkin, mereka lagi capek, makanya gitu," ucap Arumi.
Arumi mengelus kepala adiknya itu.
"Huh, orang aku cuma nanya aja, aku kan penasaran, malah marah pula mereka itu," Bella tampak kesal.
"Udah jangan emosi begitu, ayo kamu makan ini saja, loh," Arumi menyerahkan snak kacang garuda pedas pada Bella.
"Makasih, Kak," ucap Bella.
"Sama-sama," jawab Arumi.
Daripada adiknya ini merajuk, jadi lebih baik dialihkan saja pada makanan.
***Setelah menghabiskan camilan dan teh hangat, Bella berpamitan kembali ke kamarnya.
Arumi mengiyakan, gadis itu juga ingin tidur sekarang, karena ia diserang oleh rasa kantuk hebat.