Bagi Raka Aditya, menyendiri adalah cara terbaik untuk bertahan hidup dari tekanan dunia yang melelahkan. Ia merasa asing dan tak dimengerti, hingga akhirnya beberapa orang datang menawarkan persahabatan yang tulus. Perlahan, cara pandang Raka mulai berubah. Ia pun belajar bahwa untuk menemukan tempatnya di dunia, ia harus lebih dulu belajar menerima dirinya sendiri dan orang lain apa adanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RS Star, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 7
Yah... setelahnya aku pun meninggalkan rooftop sekolah dan agar tidak terlihat aku dan Maya habis bertemu ketika itu aku sengaja menunda bergerak untuk beberapa saat, aku yakin sekolah akan heboh kalau sampai ada yang melihat aku dan Maya bertemu di rooftop sekolah berduaan. Serigala penyendiri bertemu dengan bintang sekolah paling imut, haah.... mungkin bumi pun akan berguncang karenanya.
Aku mengikuti pelajaran sisa di hari ini dan segera pulang ketika bel sekolah berdenting, bersamaan dengan itu ada sebuah pesan masuk di ponselku dan itu dari Maya yang menginformasikan tentang tempat pertemuan hari ini setelah pulang sekolah. Sebuah kafe keluarga yang letaknya mungkin sepuluh kilometer dari sekolah, sialnya aku harus berjalan kaki untuk sampai ke sana dan aku yakin itu akan melelahkan.
Terpaksa aku berjalan ke sana karena aku lebih memilih kelelahan daripada harus melihat ekspresi wajah marah Maya, mungkin karena aku memang mudah terintimidasi atau memang pada dasarnya raut wajah Maya ketika marah itu menakutkan... entahlah, aku sudah merasa sangat lelah hari ini untuk memikirkan hal semacam itu, aku hanya ingin agar Maya menjauh dari kehidupanku.
Setelah beberapa saat berjalan sendirian, akhirnya aku sampai juga di sebuah kafe yang ditunjuk Maya. Secara mengejutkan Maya sudah berada di sana bahkan sebelum aku, entah bagaimana ceritanya dia bisa sampai secepat itu. Dengan lambaian tangan, Maya memintaku untuk mendekat ke mejanya.
Sebuah kafe keluarga yang terlihat cozy, di sini tidak berisik sama sekali meski terbilang kafe yang tidak bisa disebut sepi. Terlihat ada beberapa orang yang duduk dan sedang mengobrol bersama teman nongkrong mereka masing – masing. Terdapat banyak kursi panjang dengan sebuah meja dan satu meja bisa memuat empat sampai enam orang, mereka bisa saling berhadapan atau duduk bersebelahan.
AC-nya juga tidak terlalu dingin, lalu sepertinya minuman bisa ambil sendiri sebanyak apa pun karena aku melihat galon – galon berisi jus, teh, kopi dan lain lain, lalu harga makanannya pun cukup murah yang terlihat dari papan berisi menu juga harganya. Ini jadi kali pertama aku nongkrong di kafe bersama... Hei... aku sedang di kafe bersama seorang cewek loh ini... aku baru sadar betapa menegangkannya situasi ini, bukankah ini seperti sebuah kencan?
“Baiklah, mari kita mulai membahas tentang cara membuat kamu mendapatkan seorang teman di sekolah” celetuknya saat aku baru duduk di depannya, Maya sudah terlihat mengambil minuman dengan sebuah gelas di atas meja berisi teh dingin dan sepertinya dia juga sudah memesan sebelumnya.
“Sebelum itu, tolong beritahu cara memesan di kafe ini” pintaku, Maya pun menghela nafas dan dia menekan sebuah tombol di atas meja.
Tidak lama setelah Maya menekan tombol itu, seorang pelayan wanita datang mendekat membawa buku menu dan sebuah catatan. Maya menatap pelayan itu lalu berkata...
“Tolong menu all you can eat satu paket lagi ya” ucap Maya.
“Paket all you can eat lima puluh ribu” timpal pelayan lalu Maya melirikku dan aku tahu apa maksud dari lirikannya itu
Aku segera mengeluarkan uang dari dompetku lalu memberikannya pada pelayan wanita itu, setelah itu pelayan pun meninggalkan meja kami tanpa mengatakan apa pun lagi. Saat itu aku bingung apa yang harus aku lakukan, jadi aku kembali menatap Maya dengan raut wajah bengong.
“Haah... serius kamu gak tahu cara ambil makan dan minuman di sini?” tanya Maya, aku menggelengkan kepala beberapa kali.
“Di sana ada berbagai makanan dan minuman yang boleh kamu ambil sepuasnya setelah membayar paket all you can eat” ucap Maya sambil menunjuk sebuah meja berisi makanan kecil dan berbagai jenis minuman yang tersedia di sebuah galon.
Aku berjalan menuju meja yang sebelumnya ditunjuk oleh Maya untuk mengambil beberapa makanan kecil seperti biskuit, kue, dan kentang goreng dan juga mengambil segelas Cola lalu kembali berjalan kemejaku, di sana Maya sudah menunggu dengan sebuah senyuman yang membuat aku merinding. Aku tahu ke arah mana pembicaraan ini akan berkembang, dia benar – benar serius dengan apa yang dikatakannya tadi disekolah.
“Sekarang kita bahas bagaimana cara membuatmu bisa mendapatkan seorang teman” celetuknya lagi, aku pun memasang ekspresi kesal padanya.
“Kita beneran ngobrolin soal ini?” tanyaku memastikan
“Ya jelas!! Kamu pikir kita ngapain berada di sini?!” jawab Maya agak membentak, aku pun menghela nafasku.
“Aku sudah bilang berkali – kali kalau aku gak butuh dan aku mau jadi serigala penyendiri secara suka rela” ucapku dengan helaan nafas, aku sudah tidak mengerti lagi bagaimana cara menjelaskannya.
“Bukannya sayang ya kalau sendirian saja selama tiga tahun? Kamu kan punya pengalaman dari kehidupan lama mu” timpal Maya
“Sudah aku jelaskan tadi disekolah kan, aku juga merasa kita hanya mengulang pembicaraan tadi siang disekolah” ucapku
“Nah itu, yang mau aku katakan sekarang itu kamu harus ubah pola pikirmu itu. Apa ada orang yang ingin kamu jadikan teman?” tanya Maya terdengar antusias, tanpa pikir panjang aku pun menjawab...
“Gak ada! Aku gak bisa bergaul dengan orang yang punya teman lebih banyak dariku” tegas, singkat, dan padat aku katakan, Maya pun menatapku seolah aku benar – benar sudah tidak memiliki masa depan apa pun.
“Berarti semuanya dong...” dengan helaan nafas Maya mengatakannya, aku pun hanya mengangguk beberapa kali untuk mempertegas perkataannya.
“Lalu di kehidupan sebelumnya, kamu berinteraksi sama siapa aja?” tanya Maya
“Gak ada! Level serigala penyendiriku itu level dewa. Jangankan berinteraksi sama teman, bahkan aku hanya membuka mulut untuk hal – hal yang gak bisa aku hindari” jawabku kembali tegas, singkat dan padat, kembali Maya menatapku seperti melihat sesuatu yang menyedihkan.
“Itu hanya akan memperburuk situasimu sebagai seorang penyendiri tahu” dengan iba Maya mengatakannya padaku
“Berisik!” dengan perasaan kesal aku katakan itu dan kembali Maya menghela nafas.
“Bukannya gak enak ya kalau seperti itu, misalnya kita gak bisa masuk karena sakit atau ada urusan keluarga, mungkin juga kamu lupa bawa buku dan lupa mengerjakan PR, ada juga kondisi kamu harus kerja kelompok kan? Gimana kamu bisa melalui semua itu tanpa teman?” tanya Maya lagi dan kali ini terdengar dia sudah cukup kesal padaku
“Bukannya pamer, tapi aku selalu sehat sepanjang tahun jadi itu tidak pernah menjadi masalah buatku dan aku tidak pernah ada urusan keluarga yang mengharuskanku tidak masuk sekolah selama ini. Kalau lupa buku dan gak ngerjain PR ya aku pasrah aja, yang terjadi ya terjadilah” jawabku santai, seketika Maya memegang kepala dengan kedua tangannya seperti dia sudah sangat kesal namun berusaha untuk menahan rasa kesal itu agar tidak berkata kasar.
“Masalah kelompok memang agak canggung, tapi selalu saja ada sisa – sisa orang yang kelompoknya kurang dan biasanya guru akan merekomendasikan aku gabung di kelompok yang kurang orang” jelasku lagi meneruskan kalimatku sebelumnya, Maya kembali menghela nafas lalu tersenyum manis penuh kebanggaan menatapku.
“Meski aku sama sekali gak punya rasa hormat padamu, tapi aku sangat mengagumi kekuatan mental yang kamu miliki karena bisa tahan dengan situasi menyedihkan itu selama ini” timpal Maya.
“Kenapa rasanya aku mau nangis gara – gara perkataanmu itu ya?” agak bergumam aku mengucapkannya, aku meminum Cola-ku lalu aku menarik nafas dalam – dalam setelah sempat terdiam beberapa saat.
“Kalau dipikir dengan baik, sebenarnya kita ini kan sama – sama sendirian awalnya. Aku cuma merasa kenapa hanya aku yang harus memohon – mohon untuk masuk ke dalam suatu kelompok pertemanan? Kenapa gak ada yang memohon padaku untuk menjadi temanku?” tanyaku keheranan, Maya menatapku seolah aku ini orang aneh dan menjijikkan yang tergambar jelas dari raut wajahnya.
“Entahlah, aku gak paham apa yang Raka pikirkan sebenarnya. Udah deh lupakan, sekarang aku paham harus mulai dari mana. Aku akan mencoba masuk ke dalam levelnya Raka aja, jadi Raka... apa kamu membuka mata saat berada di dalam kelas?” tanya Maya dengan senyum penuh rasa iba.
“Kamu pikir tiap hari disekolah itu pelajaran berenang anak SD apa?!! Standarmu itu kerendahan buat aku!!” bentakku padanya, bukankah itu terlalu merendahkan bahkan untukku sekalipun? Dia bukan Vanya, kan?
“Ooh gak buka mata toh~” celetuknya.
“Bukaaaa!! Aku membuka mata tiap ada di dalam kelas!! Aku akan tanya sama teman sekelas kalau itu penting dan berhubungan sama sekolah!!” timpalku dengan rasa yang sangat kesal, aku sudah cukup sama Vanya untuk menghinaku seperti ini.
“Ooh~ dengan siapa?!” serunya terdengar begitu antusias
“Yaa... itu... ketua kelas” jawabku
“Ketua kelas 1A itu... siswi bernama Luna Adelia kan?” tanya Maya mencoba memastikan
“Hah? Kok bisa tau? Lagian aku yang satu kelas aja gak tahu nama panjangnya” jawabku heran
Luna Adelia ya... ya dia ketua kelasku di SMA dari kelas satu, dua dan tiga berturut – turut. Dia seorang cewek berambut hitam panjang lurus yang punya bentuk tubuh paling wow disekolah, suaranya yang cukup keras memang cocok untuk menjadi pemimpin atau setidaknya ya jadi ketua kelas. Di kehidupanku sebelumnya, dia adalah anak paling pintar di kelas selama tiga tahun berturut – turut. Dan menurutku dia lumayan cantik...
“Di kehidupan sebelumnya aku ini berteman sama Luna, loh” jawab Maya sambil menunjuk dirinya sendiri, tidak heran sih dua cewek populer bisa saling berteman.
“Oh gitu, aku kira kamu itu menguntitku” aku ucapkan dengan nada sindiran
“Kamu pikir aku perempuan apaan?! Tapi setidaknya aku tahu kamu ingat sama nama teman sekelasmu!” terdengar penuh rasa kesal ketika Maya mengatakannya
Bukan aku ingat sebenarnya, aku bisa ingat karena dia pernah menjadi ketua kelasku selama tiga tahun berturut – turut dan aku juga pernah berbicara sama Luna beberapa kali dalam kurun waktu tiga tahun itu. Yah meski semua pembicaraan kami tentang sekolah dan segudang kegiatannya seperti pindah kelas, mengumpulkan PR, atau dia memberitahuku kalau besok ada hari libur. Sisanya... aku rasa aku tidak pernah berbicara hal lain selain yang aku sebut tadi.
“Hmm.. hmm... baguslah kalau orang pertama itu Luna, anaknya baik dan jujur. Dia juga baik sama semua orang bahkan sama orang kayak Raka sekalipun” agak bergumam Maya mengatakannya, meski begitu aku masih bisa mendengarnya dengan sangat jelas.
“Hei heii... apa yang kamu pikirkan?” tanyaku penuh rasa curiga, aku sudah memiliki firasat buruk melihatnya berpikir seperti itu.
Ketika melihatnya terdiam setelah bergumam sambil senyum – senyum seperti itu, aku dalam hati berkata ‘Jangan – jangan dia berpikiran untuk membuatku berteman sama...” belum selesai aku menuntaskan kalimat di kepala, tiba – tiba Maya menunjuk dengan semangat yang berapi – api sambil mengatakan...
“Tentu saja aku berpikir cara membuat kamu bisa mendapatkan teman. Sekalipun kamu cuma berbicara masalah sekolah sama Luna, tapi itu sudah jadi permulaan yang baik! Menjalin komunikasi sama orang yang pernah kamu ajak bicara sebelumnya akan jadi lebih mudah, kan? Nah untuk permulaan, sebaiknya kamu mulai dari berteman sama Luna!!” seru Maya begitu bersemangat.
Tu... tunggu dulu!! Bukannya menjalin pertemanan dengan lawan jenis itu jauh lebih sulit ya?!! Kenapa bisa cewek ini berpikir aku harus memulai menjalin hubungan pertemanan dengan seorang cewek yang cukup populer di kelasku?!! Apa dia benar – benar sehat? Aku semakin yakin kalau sebenarnya Maya ini sudah cukup gila!! Tolong aku!!!