NovelToon NovelToon
RATU GEMUK MILIK RAJA BURUK RUPA

RATU GEMUK MILIK RAJA BURUK RUPA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Transmigrasi / Sistem
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Tanya Balik

masih up, cuma jarang!


Morline terlempar ke dalam novel sebagai istri gemuk sang antagonis, kehidupannya seharusnya berhenti di sana namun dia tak hidup mengenaskan sebagai karakter figuran. Morline harus bangkit, mengubah hidupnya lebih baik lagi dan lebih baik lagi.


Cedric kini mulai menyadari bahwa gadis gemuk yang selama ini dia anggap remeh ternyata memiliki rahasia yang luar biasa. perlahan dan tanpa Cedric sadari dia mulai terjerat dalam rencananya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tanya Balik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

07.

07.

Keesokannya.

Tok! Tok! Tok!

Seorang pria dengan seragam ksatria melangkah lebar lalu berhenti di pintu kamar Cedric. Dia mengetuk dengan ritme cepat, suaranya yang berat terdengar sepanjang lorong. "Yang mulia saya Argas, saya mendapat kabar tentang kelompok pemberontak."

Cedric segera berdiri dari kursi dan melangkah mendekati pintu. Nada suaranya terdengar tak sabar. "Katakan!"

"Mereka bermarkas di kota Aldmoor provinsi Aers, yang mulia. Mereka sedang memperbanyak anggota dan mengumpulkan kekuatan, namum kami belum bisa menemukan  siapa pemimpin mereka. hanya saja tiga orang berhasil kami lacak, mereka adalah orang yang berperan besar di kelompok itu."

Cedric mencengkram tangannya dengan rahang yang mengeras. Baru dua dia menjabat sebagai raja Hesperias tapi sudah ada kelompok yang berusaha menyingkirkannya. Benar-benar berani. Orang-orang seperti itu jelas lebih baik segera disingkirkan dan lenyap dari dunia. "Berantas sampai ke akar-akarnya! Tetap cari tahu siapa pemimpin kelompok itu."

"Baik yang muli..."

"Tunggu!" Cedric mengernyit ketika mendengar suara familiar di balik pintu, dia mendekatkan wajahnya ke pintu. "Maaf saya menyela pembicaraan kalian, tapi membantai kelompok pemberontak bisa merusak reputasi anda yang mulia. Saya menyarankan jika anda menangkap 3 orang berpengaruh di dalam kelompok itu, dengan begitu mereka tak memiliki pilar lagi untuk berdiri. Selain itu, rencana ini juga bisa memancing siapa pemimpin kelompok itu."

Cedric mendengarkan, dan dia baru menyadari lubang dari rencananya yang sembrono. Jika dipikir lagi rencana gadis itu memang terdengar lebih baik.

Dengan menangkap orang-orang berpengaruh di kelompok itu, tentu saja mereka seakan kehilangan pilar mereka. Rencana Morline juga  memiliki keuntungan lain, yaitu bisa memancing siapa pemimpin di balik kelompok ini. Benar-bena luar biasa.

Cedric  merubah rencananya, memerintahkan Argass dan pasukannya untuk menangkap 3 orang penting dalam kelompok itu.

Beberapa hari setelahnya.

Edward merasa sangat marah ketika mendengar kabar jika orang kepercayaanya berhasil tertangkap oleh pihak istana.

Kabar ini membuat Edward tak bisa melakukan apapun untuk menyelamatkan kelompoknya. Tanpa tiga orang kepercayaannya, Edward tak memiliki jalan untuk berkomunikasi dengan mereka. Bagaimana dia bisa menyelamatkan kelompok yang selama ini dia bangun?

Edward memukul meja hingga retak. Dia mengacak rambutnya karena frustasi. Hilang semua kerja kerasnya.

Edward berjalan ke sisi jendela, menatap hamparan lahan hijau di depan sana. Hatinya menjadi sedikit lebih tenang, pikirannya mulai bisa mengalir lagi. Edward menghembuskan nafas panjang lalu melirik pintu yang tertutup. "Rand!" teriak Edward memanggil sang tangan kanan.

Seorang pria dengan pakaian ketat berjalan masuk setelah membuka pintu, langkahnya pelan tapi tepat dan tajam. Kepalanya sedikit menunduk di hadapan Edward.

"Urus tiga orang itu!"

Rand membukuk, "baik pangeran." Dia berbalik lalu dengan cepat melangkah keluar.

Edward kembali menatap ke luar jendela, dia memijat pelan dahinya. "Aku harus rela mengorbankan mereka."

Di istana.

Morline sedang memeriksa jadwal hari ini ketika Nina mengetuk pintu ruangannya.

"Ada apa?" Morline menatap Nina, wajah pelayan itu tampak tak biasa.

"Yang mulia, tiga orang di penjara telah meninggal."

Morline terkejut sampai berdiri. Dia berjalan mendekat dengan tergesa. "Bagaimana bisa? Apa kau sudah periksa?"

Nina menggeleng. "Prajurit yang menjaga mereka terbunuh, dan terdapat luka tusukan di dada mereka."

"Bagaimana bisa itu terjadi?" Morline berjalan cepat menuju penjara bawah tanah. "Ini penjara bawah tanah! Bagaimana pembunuh itu bisa masuk!?"

Sampai di penjara bawah tanah, langkah Morline terhenti ketika melihat dua mayat prajurit. Marnin dan Joseph yang sudah lebih dulu ada di sana segera merapatksn tubuh mereka, menghalangi pandangan Morline dari mayat-mayat itu. "Yang mulia. Anda sebaiknya tak perlu datang ke sini, saya sudah memanggil dokter Arten untuk memeriksa mayat-mayat mereka." Kata Joseph.

Morline mengernyit, bau logam langsung menyengat indra penciumannya. Morline ragu untuk melangkah, apakah dia harus pergi melihatnya untuk memastikan atau hanya berdiri di sana. Di saat yang bersamaan Arten datang.

Pria itu langsung bisa mengetahui akibat kematian dua prajurit hanya dengan melihatnya saja. Lalu Arten masuk ke penjara, memeriksa satu persatu tahanan yang terbunuh.

"Sebelum mati, mereka sepertinya terlibat pertarungan. Ada bagian-bagian tubuh yang lebam, tulang patah lalu kemudian pembunuh itu menusukkan belati. Pembunuh ini konsisten, dia selalu mengincar jantung. Namun senjatanya yang digunakan untuk membunuh tiga tahanan berbeda dengan senjata untuk membunuh dua prajurit itu. Estimasi waktu, sekitar empat sampai lima jam lalu." Arten menjelaskan dengan rinci pada Morline. "Yang jadi pertanyaannya adalah, bagaimana bisa pembunuh itu bisa menyusup ke sini?"

"Kita harus memberi tahu yang mulia soal ini." kata Morline.

Di kamar Cedric.

Mendengar bahwa tiga tahanan yang belum memberikan jawaban memuaskan pada mereka telah di bunuh oleh seseorang, Cedric menjadi marah. Namun kemarahannya bukan pada pembunuhan itu, melainkan si pembunuh yang dengan mudahnya keluar masuk istana tanpa mereka ketahui.

Bagaimana bisa itu terjadi? Apakah penjagaan istana begitu bobrok sampai mereka kecolongan?! Atau....

"Apakah di istana ada mata-mata? Seperti dua pelayan saat itu." Cedric menatap Morline, di balik jubah alisnya terangkat. Merasa pikiran gadis itu sejalan dengannya.

"Maafkan saya yang mulia, saya kurang memeprhatikan keseluruhan istana hingga kita kecolongan seperti ini." Joseph membungkuk penuh rasa sesal dan salah karena bagaimanapun istana berada di bawah tanggung jawabnya. "Saya akan mengevaluasi seluruh pekerja istana dan memfilter ketat orang-orang yang masuk istana."

"Aku tak perlu kata-katamu!" Saat ini Cedric tak ingin mendengar janji, tapi tindakan. Hal seperti ini kedepannya tak boleh terulang dua kali. Mungkin jika Cedric dalam keadaan normal, dia akan menghukum Joseph dan semua pekerja istana karena telah lalai dalam menjaga keamanan istana ini.

"Saat hari penangkapan itu sekitar 4 hari lalu,  sehari setelahnya kabar tersebar dan tiga hari kemudian terjadi pembunuhan." Morline mencoba menganalisis waktu pergerakan lawan. Dari membaca pergerakan yang terbilang cepat, Morline menemukan sedikit celah. "Pergerakannya terbilang cepat, itu berarti pelaku tak jauh dari kita. Kemungkinan besar ada di ibu kota dan mungkin saja di istana masih terdapat mata-mata." Morline menatap Cedric yang wajahnya terhalang tudung dari jubahnya. "Bagaimana menurut anda yang mulia?"

"Analisis-mu tepat! Joseph lakukan evaluasi dan saring semua pekerja istana!" perintah Cedric.

Joseph membungkuk, siap menerimanya tugas itu.

Di ruangan hanya ada Cedric dan Morline. Gadis itu menatap Cedric, ingin menyaksikan sesuatu tapi masih terdapat keraguan.

"Katakan! Apa apa?"

"Emm sebenarnya saya curiga dengan pangeran Edward. Meski dia tampak bersih, tapi bukankah kita harus menyelidiki untuk memastikan."

Cedric diam tak membalas. Dari dulu dia memang tak menyukai adik tirinya itu, hanya saja sejauh yang dia tahu, Edward memang terlihat tak tertarik dengan kekuasaan. Pria itu terkenal sebagai pangeran yang suka bersosialisasi dan sering bermain dengan teman sebayanya dari pada mengurus hal-hal politik. Namun benar kata Morline, bukan berarti Edward luput dari kecurigaan.

Bisa saja dia diam-diam merencanakan sesuatu di belakangnya. Bagaimanapun dia adalah putra dari ratu terdahulu, seorang wanita yang licik serta picik.

Dia masih teringat ketika ratu terdahulu sengaja menikahkan dirinya dengan gadis yang tak memiliki kekuatan dan pengaruh apapun untuk menekan dirinya agar tak naik tahta. Namun kini....

Cedric menatap Morline dalam diam, gadis itu tampak berpikir dengan wajah yang serius. Wajahnya gemuk dan kedua pipinya mirip adonan donat. Gadis gemuk ini, yang dulu dia kira hanya beban justru mampu menyelamatkan posisinya.

Cedric tersenyum, mengucapkan terimakasih dalam hatinya pada ratu terdahulu atas gadis yang dia pilih. Justru gadis ini menjadi senjata terkuatnya untuk naik ke puncak.

"Yang mulia mungkin kita perlu mengadakan pesta." Kata Morline, Cedric mengerutkan dahinya. "Begini, karena kemungkinan besar orang itu ada di ibu kota, kita undang dia ke pesta dan berikan pancingan untukknya."

"Apa yang sebenarnya kau rencanakan?"

Morline menggerakan tangannya, menyuruh dirinya mendekat. Cedric maju, duduk di ujung sofa dengan punggung condong kedepan lalu gadis itu membisikkan rencananya.

Dedaunan menari-nari pelan oleh sentuhan lembut angin malam, di atas sana bulan bertahta memancarkan sinar tipis yang jatuh ke tanah, membuat bayang hitam pada pohon yang menjulang. Di bawahnya, Edward tengah duduk menikmati aroma kopi arabika yang kuat. Dia menyesap perlahan sambil menatap pada tangan kirinya yang mengelus segel kerajaan pada amplop.

Undangan ini baru saja datang tak lama setelah dirinya duduk. Edward meletakkan cangkir di meja, api di dalam lentera bergetar beberapa saat sebelum kembali tenang.

Dia membuka segel dan mengeluarkan surat undangan. Membaca sekilas lalu meletakkannya dengan sembarang.

"Pesta pengangkatan ratu?" Edward mulai berpikir, pesta ini diadakan untuk ratu sekarang, dia mulai membuat spekulasi.

Beberapa hari lalu dia mendengar kabar bahwa sang raja, kakak tirinya sakit hingga tak bisa menghadiri beberapa pertemuan dan mengurus urusan kenegaraan. Sebagian tugasnya dilimpahkan pada sang ratu, lalu kini sebuah pesta akan diadakan untuk ratu?

Apakah Cedric sedang mempersiapkan penggantinya? Atau semua ini bagian dari strategi Cedric untuk menonjolkan gadis itu? Bagaimanapun, Edward tak mengetahui keadaan sebenarnya dari sang kakak. Dia hanya tahu, bahwa pria itu sakit sampai menghalangi aktifitasnya.

"Mungkin aku akan datang ke pesta itu."

────୨ৎ────

"Apa anda gugup yang mulia?" Nina menyisir perlahan rambut Morline yang lembut dan wangi, dia selalu merasa senang ketika bertugas menyisir rambut sang ratu.

"Tentu saja! Ini adalah pestaku, bagaimana aku tak gugup. Sebelumnya aku tak pernah mengadakannya pesta." Morline Moralles memang tak pernah menghadiri pesta dan dirinya yang merupakan jiwa modern tidak pernah membuat pesta.

Dia tak tahu apa yang akan dia lakukan di pesta itu selain berjalan dan menyala orang.

Morline mendesah, dia teringat kata-kata Cedric yang memberinya arahan dan pengetahuan dasar tentang pesta kerajaan. Meski begitu, Morline tetap merasa gugup.

"Selesai, apa anda mau turun sekarang?" Nina bertanya dengan tenang, dapat melihat jelas kecemasan Morline. "Anda jangan khawatir, orang-orang itu tak akan bersikap kurang ajar di depan anda."

Morline melirik Nina sekilas, "aku juga tahu, hanya saja aku sedang gugup. Huh, huh. Astaga aku tak pernah datang ke pesta sebelumnya." Morline mengeluh pelan. Dia menatap cermin, melihat penampilannya sendiri.

Gaun merah marun dengan paduan krem gading menonjolkan kulitnya yang semakin bersinar. Bagian atasnya didesain ketat untuk memperlihatkan lekuk tubuhnya, dadanya menonjol keluar karena tekanan hingga terlihat seperti adonan yang akan tumpah.

Warna merah marun mendominasi bagian luar rok dengan desain mengembang di bagian bawah. Memberi ilusi pada bagian perut agar terlihat lebih ramping.

Nina memutuskan untuk tidak menyanggul rambut Morline, rambut hitam legam itu dibiarkan terurai seperti gelombang laut yang lembut.

Morline memeprhatikan bordiran emas di bagian dada, desainnya floral. Memikirkan bahwa di jaman ini belum ada mesin jahit, Morline takjub saat membayangkan bordir ini dibuat oleh tangan manusia. Dia mengelus perlahan dan memeprhatikan ornamen lain yang terpasang pada gaunnya.

"Cantik bukan yang mulia?"

"Ya, cantik." Morline menjawab tanpa sadar.

Nina tersenyum. "Kalau begitu ayo kita turun ke bawah."

Morline menoleh, menatap Nina. Pelayan ini, dia angkat sebagai dayang saat perkara Susan dan Talise selesai. Sementara dayang yang lain, terpilih karena rekomendasi dari Marnin.

"Baiklah."

Morline melangkah perlahan menuruni tangga, gaun yang menyeret tangga sedikit diangkat olehnya. Morline mengeratkan genggamannya pada gaunnya ketika melihat seluruh orang di ruang dansa menatapnya.

Hentakan sepatu Morline yang konstan seolah menjadi latar musik yang menegangkan untuknya. Suara jantung yang cepat bahkan bisa terdengar jelas oleh dirinya sendiri. Morline mengigit bibir bagian dalamnya, dia menenangkan diri dan terus melangkah dengan perlahan.

Menatap satu persatu tamu yang terpaku melihatnya. Morline menampilkan senyum menyapa mereka, lalu berhenti tangga ke tiga. Berdiri dan menyatukan tangan di depan perut lalu berkata. "Selamat malam semuanya, selamat datang di pestaku! Malam ini, aku mengundang kalian untuk bersenang-senang bersama merasakan kebahagiaan dan rasa syukur dariku. SELAMAT MENIKMATI PESTANYA!" Teriak Morline di kalimat akhir sebagai pembuka pesta.

Para tamu bertepuk tangan untuk memeriahkan suasana. Mereka berjalan mengerumini meja-meja yang terdapat jamuan mewah. Beberapa bangsawan mulai berbincang, entah bergosip ataupun sekedar menanyakan kabar masing-masing.

Morline sendiri jauh lebih tenang karena teriakan itu, dia menatap ke salah satu meja dan berjalan ke depan, tepat di meja sekumpulan para nyonya bangsawan.

Mereka menundukkan kepala dan sedikit mengangkat gaun ketika Morline datang. "Selamat malam semuanya."

"Malam yang mulia ratu."

"Tak perlu formal begitu, usia saya berada di bawah kalian cukup panggil putri ratu saja." Morline menatap satu persatu wajah para nyonya itu, mengingat detail-detail kecil dari penjelasan Marnin kemarin saat belajar mengenal para bangsawan berkuasa.

"Putri ratu." Seorang nyonya dengan gaun kuning kelopak bunga matahari menjadi perhatian Morline. "Maaf saya bertanya lancang, tapi dimana yang mulia raja? Beliau belum terlihat semenjak beberapa minggu lalu."

"Yang mulia raja sedang dalam keadaan tak sehat hingga tidak bisa mengikuti aktifitas seperti biasanya. Namun beliau baik-baik saja sekarang, bahkan sebelum datang  saya sempat mengobrol dengannya." Morline menjawab tenang dengan senyuman tipis.

"Itu aneh, apa raja tidak apa-apa. Beliau tidak ada kabar semenjak pulang dari Thalva saat itu."

Kali ini Morline menggerakan kepalanya perlahan pada nyonya bergaun biru, rambutnya disanggul tinggi. "Ya, itulah kenapa beliau pulang dari Thalva karena keadaannya tak sehat. Oh, ya, nyonya Brotwey, saya sungguh tertarik dengan teater yang anda bangun di ibu kota. Kapan acara pembukaannya?"

Kipas ditangannya dihentakkan, membentang menutupi mulutnya. Lengkungan matanya tercipta dan terlihat jelas oleh Morline.

Dalam hati, Morline bersyukur. Dia memang sengaja mengalihkan pembicaraan karena takut jika pembicara tentang Cedric berlanjut maka mereka akan berpekulasi macam-macam dan berakhir menyebarkan rumor yang tidak-tidak.

Morline tentu tahu tentang teater yang dibuat nyonya brotwey, berkat Marnin. Setelah mencari tahu tentang teater yang nyonya brotwey bangun, Morline cukup tertarik untuk berinvestasi di dalamnya. Jadi dia mengirim surat tambahan pada nyonya brotwey sebagai ajakan kerja sama. Namun Morline memiliki satu syarat yaitu; nyonya brotwey harus menolak ajakan kerja sama dari orang lain.

"Belum ditentukan, masih ada beberapa kendala yang menghalangi pembangunan teater itu, jadi saya membutuhkan waktu lama untuk menyelesaikannya."

Morline menangkap sinyal itu. Dia tersenyum dan mengangguk. Mengambil gelas wine di depan dan menenggaknya sedikit. "Saya mengerti, membuat teater bukan hal yang mudah. Butuh waktu dan kerja keras yang anda curahkan. Sayang sekali teater itu tak bisa dibuka dalam kurun waktu dekat, ya. Bagaimana kalau saya membantu?"

Nyonya brotwey menggerakan kipasnya dengan gerakan kecil, membuat rambutnya yang menjuntai melambai-lambai. "Ohohoho, putri ratu Ingin membantu. Dengan senang hati saya menerima."

"Ya, saya yakin teater anda akan terkenal di seluruh penjuru." Morline lalu menatap nyonya bergaun kuning. "Ah, ya nyonya Frenha, selamat atas kelahiran cucu laki-laki anda." Morline menjulurkan tangannya ke depan. "Saya dengar cucu anda belum memiliki nama, apa anda sudah memikirkannya?"

Nyonya Frenha menjabat tangan Morine. "Saya tidak ada hak untuk memberikan nama pada cucu saya, orang tua merekalah yang berhak. Saya hanya bisa merekomendasikan nama yang baik untuk mereka, selebihnya biarkan mereka yang menentukan."

Morline sedikit terkejut. "Itu luar biasa nyonya, anda memberikan kebebasan untuk anak anda seperti itu, saya cukup kagum dengan anda." Pujian itu mengalir dengan tulus, pasalnya Morline tahu jika di jaman ini, rata-rata orang tua terlalu memaksakan kehendaknya pada anak mereka.

Mendengar bahwa nyonya Frenha bukanlah orang tua seperti itu, Morline berpikir dalam hati untuk menjadikannya sekutu.

Nyonya Frenha tersenyum. "Terimakasih."

Dua nyonya yang diabaikan saling melirik, tatapan mereka sinis tersirat akan makna. Salah satunya meraih gelas wine dan perlahan menyesapnya. "Putri ratu, apa anda tahu tentang gosip yang beredar di ibu kota?" Bukan hanya Morline yang menatapnya tapi nyonya Farnha dan Brotwey juga. "Saya sungguh tak enak hati mengatakan ini, putri ratu. Tapi para bangsawan membicarakan anda dan raja. Mengatakan bahwa kondisi di dalam istana tidak sedang baik-baik saja. Saya jadi khawatir ketika mendengarnya. Apa itu benar?"

Kalimat itu ambigu, tidak jelas apa yang di maksud nyonya tersebut dengan 'istana tidak baik-baik saja' apakah pembunuhan itu menyebar? Atau ada makna lain yang Morline tak ketahui. Di dunia kalangan bangsawan, mulut adalah senjata menyerang dan bunuh diri. Jika dia berbicara sembarang tanpa berpikir, mungkin akibatnya tak bisa dia perkirakan.

Berusaha menenangkan diri dan membersihkan pikiran dari hal buruk, Morline tersenyum kecil. Menunjukan ketenangan level tinggi. "Istana memang selalu ricuh dan ribut setiap harinya. Tidak ada kata tenang di sana. Kalian tahu sendiri bukan? bahwa istana itu tempat yang seperti apa? jadi keributan yang seperti itu adalah hal yang biasa, selagi masih bisa di atasi, itu berarti hal yang normal. Nyonya Lundos tak perlu khawatir, kami yang tinggal di istana tentu tahu konsekuensi yang akan di dapat. Namun meski begitu, saya menghargai kekhawatiran anda."

Nyonya Lundos mencenkram ujung gelas winenya, wajahnya memerah antara pengaruh alkohol atau malu.  Niatnya ingin mengorek informasi dari Morline, tak disangka justru gadis itu mampu menanganinya dengan baik. Nyonya Lundos kini tak lagi menganggap remeh lawannya. Meski didepannya adalah seorang gadis yang umurnya sama dengan putrinya, tapi jelas cara dia berpikir dan menangani berbeda dari gadis seusianya.

Tak jauh dari sana, para tuan bangsawan memperhatikan. Meski jarak mereka tak terlalu jauh, tapi suara orang-orang yang mengobrol di pesta dansa menjadi halangan untuk mereka bisa mendengar percakapan para nyonya di sana.

Namun berbeda dengan Edward yang terlatih, karena dia seorang pangeran. Istana selalu menuntut anggota kerajaan untuk bisa berbagai hal, termasuk memiliki keahlian membaca gerak bibir. Jadi, Edward masih bisa memahami percakapan mereka dari jarak yang dia lihat. Terutama gerak bibir Morline yang pelan, membuat setiap kata yang terucap dari bibirnya seolah-olah bisa terdengar oleh Edward.

Dia memandang dalam diam sekumpulan nyonya di sana. Cukup kagum dengan pertahanan Morline dalam menghadapi nyonya Lundos yang terkenal suka bergosip.

Tuan Randolph, melihat Edward yang terus menatap ke arah para nyonya di sana. Lalu perhatiannya tertuju pada gadis gemuk bergaun merah marun dengan rambut bergelombang alami. Tuan Randolph terkekeh, "aku dengar ratu kali ini umurnya jauh lebih muda dari ratu sebelum-sebelumnya. Heh! Ratu se-muda itu memang apa yang bisa dibanggakan selain tubuhnya yang gemuk!" Tuan Randolph tertawa di ikuti oleh para tuan lainnya.

Edward hanya tersenyum kecil, tidak merasa itu lucu.

1
Uthie
Wahhh... ternyata Edy baik juga 😍👍👍
Uthie
Selalu setiap menanti kelanjutannya kembali 👍👍👍👍😍
Uthie
ditunggu Lagii 👍👍👍
kiu kiu
lanjut thor..jgn terlalu lama updatenya...
kiu kiu
kpn upnya thor
Tanya Balik
guys aku nulis tiap bab-nya minimal 2000 kata, banyak lho itu. Jadi maklum aja ya lama up-nya. 🙏🙏😄
kiu kiu
morline sangat baik terhadap karel.suatu saat karel akan tumbuh besar dan akan menjadi pelindung utk morlin...cerita ini mengisahkan kasih sayang ibu dan anak.tp berbeda dg apa yg di alami morline.yg sudah menganggapnya keluarga.
Uthie
lagiiii 🤩🔥🔥
kiu kiu
jgn terlalu lama updatenya thor...ak penasaran dg gadis gemuk ini.apa yg akan dia lakukan di daerah targus itu. apa lagi eddy selalu mengawasi.
Uthie
Ditunggu lagiiii 🔥🔥🔥
Uthie
Lanjutttt lagiii...
setia menunggu up berikut nya 😁👍
kiu kiu
lanjut thor...updatenya jgn jarang jarang.
Uthie
Di tunggu lagiii aksi nyata dari Ratu Morline 😍👍

lanjuuttttt lagiiii 💪💞
kiu kiu
masih update nggk thor...
Tanya Balik: masih, tapi up-nya memang jarang2 di tunggu aja ya😄🙏
total 1 replies
Uthie
Wahhhh.... lagi seru-serunya baca soal Morline... malah udahan aja 🤩🤩

Jangan lama-lama up nya lagiiii yaaa Thor 😘🤗🙏
Uthie
Morline ratu yg baik 👍👍😇
Uthie
Sukkkaaa ceritanya 👍👍👍👍👍
Uthie
Sukkkkaaa ceritanya 👍👍👍👍👍👍
lanjut lagiiii 👍👍👍😍
Uthie
Wahhh... ada yg kesengsem sama Morline 😂👍
Uthie
seruuu 👍😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!