NovelToon NovelToon
Suami Rahasia

Suami Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / CEO / Beda Usia
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: candra pipit

Clarindra Arabella, siswi kelas tiga SMA yang tinggal selangkah lagi menuju kelulusan, tak pernah membayangkan hidupnya akan berubah dalam satu keputusan sepihak.
Di saat teman-temannya sibuk mempersiapkan ujian akhir dan masa depan, Clarindra justru dipaksa menerima kenyataan pahit—ia harus menikah.
Bukan dengan pria seusianya.
Melainkan dengan seorang pria dewasa… yang bahkan tak pernah ia kenal.
Demi alasan sederhana namun kejam—orang tuanya akan pindah ke luar negeri, dan mereka tak ingin meninggalkan putrinya sendirian.
Di balik keputusan itu, tersembunyi kesepakatan antara dua keluarga besar.
Nama besar keluarga Hardinata menjadi jaminan keamanan Clarindra… sekaligus awal dari keterikatannya.
Zavian Hardinata.
Pria itu bukan sekadar pewaris keluarga kaya raya. Ia adalah sosok bebas, penuh pesona, namun sulit dikendalikan. Seseorang yang lebih terbiasa bermain dengan hidupnya sendiri… daripada terikat dalam satu hubungan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon candra pipit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kepala Sekolah baru

Langit pagi di SMA Cendekia Bangsa tampak lebih kelabu dari biasanya, seolah ikut merasakan duka yang menyelimuti seluruh warga sekolah. Seminggu penuh suasana berkabung dijalani dengan khidmat. Papan bunga masih berjajar di depan gerbang sekolah, sebagian mulai layu, namun tetap berdiri sebagai tanda penghormatan terakhir untuk kepala sekolah mereka yang telah berpulang.

Clarinda melangkah pelan memasuki gerbang sekolah pagi itu. Seragamnya rapi seperti biasa, rambutnya diikat menampilkan leher jenjang tanpa noda.

Hari ini, sekolah kembali aktif.

Hari ini juga... kepala sekolah baru akan diperkenalkan.

Namun, suasana yang ia lihat justru jauh dari bayangannya.

Alih-alih muram dan tenang, halaman sekolah justru dipenuhi bisik-bisik heboh.

Beberapa siswi bahkan terlihat berdandan lebih rapi dari biasanya—bahkan bisa dibilang berlebihan untuk ukuran hari sekolah biasa.

Clarinda mengernyit sejak memasuki gerbang sekolah.

“Ini sekolah apa mau kondangan sih…” gumamnya pelan.

“Cle!”

Suara Arin membuatnya menoleh. Sahabatnya itu berlari kecil menghampirinya dengan wajah penuh semangat yang agak mencurigakan.

Clarinda menyipitkan mata.

“Lo kenapa? Mau konser?"

Arin nyengir lebar. “Biar kayak anak-anak yang lain.”

Clarinda mendengus. “Emang ada apaan sih Rin, kok kelihatannya pada heboh?”

"Astaga Cle... Hari ini kan penyambutan Kepsek baru. Masa Lo lupa sih?"

"Nggak lupa. Tapi kenapa pada heboh, Tuh guru- guru cewek dandanannya pada menor semua."

Arin mengedikkan bahu. “Tau deh. Yang gue denger sih… kepsek kita cowok ganteng.”

Clarinda memutar bola matanya.

Emang gantengnya ngalahin Ke Chun? Paling juga sudah tua, perut gendut kayak kebanyakan. Bayangan Clarinda seperti itu.

Mereka mulai berjalan berdampingan menuju aula indoor yang biasanya dipakai untuk olahraga. Dari kejauhan, sudah terlihat siswa-siswi berbondong-bondong masuk ke sana.

Clarinda langsung mencebik tanpa ragu.

Dalam hatinya, ia sama sekali tidak tertarik. Mau ganteng kek, mau tua kek, buat dia sama saja. Yang penting nggak nyusahin hidupnya di sekolah.

Karena hidupnya sudah cukup rumit tanpa tambahan drama.

Apalagi dengan statusnya sekarang…

Istri orang.

Mereka masuk ke aula yang sudah penuh sesak. Tribun atas hampir penuh, sementara bagian bawah dipenuhi barisan siswa yang duduk rapi di lantai.

“Clea! Arin! Sini!”

Suara familiar membuat Clarinda spontan menoleh. Di tribun atas, seorang siswa laki-laki melambaikan tangan.

Rama.

Salah satu siswa idola SMA Cendikia Bangsa. Ketua OSIS tahun lalu.

Jantung Clarinda berdegup sedikit lebih cepat. Meskipun akrab namun Rama dan Clarinda berbeda kelas.

“Di sebelah Rama ada yang kosong tuh,” katanya cepat sambil membalas lambaian tangan itu. “Ayo cepat nanti keburu keserobot anak lain.”

Tanpa menunggu jawaban, ia langsung menarik tangan Arin naik ke tribun.

Arin hanya bisa geleng-geleng kepala. “Dasar… kalau udah soal Rama, gercep banget.”

Clarinda pura-pura tidak dengar.

Mereka akhirnya duduk tepat di sebelah Rama. Posisi yang sangat strategis—bukan hanya karena bisa melihat ke depan dengan jelas, tapi juga karena Clarinda bisa lebih dekat dengan sosok yang ia kagumi itu.

Rama menyapa dengan senyum khasnya.

“Pagi, Cle.”

Clarinda membalas senyum itu, berusaha terlihat biasa saja meskipun hatinya berdebar.

“Pagi, Rama."

Arin melirik Clarinda dengan tatapan jahil, "Cieeee..."

Clarinda langsung menyikutnya pelan. "Hussshhh!!!"

Aula mulai tenang saat para guru naik ke atas panggung. Suasana perlahan berubah menjadi lebih formal. MC mulai membuka acara dengan suara lantang.

Clarinda awalnya hanya setengah mendengarkan. Fokusnya masih terbagi—sebagian ke Rama, sebagian lagi ke suasana sekitar.

Sampai akhirnya…

“Dan sekarang, mari kita sambut kepala sekolah baru SMA Cendekia Bangsa…”

Tepuk tangan langsung menggema memenuhi aula.

Clarinda ikut bertepuk tangan asal-asalan.

Sampai suara itu terdengar.

“Selamat pagi siswa-siswi kebanggaan negeri…”

Suara berat, tegas, dan… sangat familiar.

Terlalu familiar.

Tubuh Clarinda langsung menegang.

Matanya yang tadinya setengah bosan perlahan terangkat ke arah panggung.

Dan saat itulah…

Matanya membesar.

Mulutnya terbuka tanpa suara.

Zavian.

Itu Zavian Hardinata.

Suaminya.

Pria tampan itu berdiri tegak di atas panggung dengan setelan jas rapi, nampak berwibawa dan tatapan tajam yang tidak pernah bisa ia lupakan.

Zavian Hardinata adalah Kepala sekolah baru SMA Cendekia Bangsa.

Sekolah ini juga salah satu satu lembaga pendidikan di bawah naungan nama besar Hardinata. Tapi Clarinda tak pernah tahu itu.

“Gila…” bisik Arin pelan. “Beneran ganteng… pake bangeeeet..." Arin kegirangan sendiri. "Kaca mana kaca. Duh... Kok jadi gak pede gue."

Tapi Clarinda tidak mendengar apa-apa lagi.

Semua suara di sekitarnya seolah menghilang.

Yang ada hanya satu pikiran yang menghantam kepalanya berkali-kali.

Kenapa… dia di sini?

Kenapa Zavian jadi kepala sekolahnya?

Kenapa… dia tidak bilang apa-apa?

Sementara di bawah sana, Zavian melanjutkan pidatonya dengan tenang.

“Mulai hari ini, saya akan memimpin sekolah ini. Saya berharap kita bisa bekerja sama untuk menciptakan lingkungan belajar yang disiplin, aman, dan berprestasi.”

Suara itu tetap tenang. Profesional. Tanpa cela.

Namun bagi Clarinda… suara itu seperti bom yang meledak di dalam dadanya.

Ia ingin berdiri.

Ia ingin lari.

Ia ingin berteriak ternyata secara detail pada Zavian.

Tapi tubuhnya tidak bergerak.

Rama di sebelahnya melirik. “Clea... kenapa? Pucat banget.”

Clarinda menelan ludah. “G-gak apa-apa…”

Di bawah sana, Zavian berhenti sejenak.

Matanya menyapu seluruh aula.

Sepersekian detik…

Tatapan itu bertemu dengan mata Clarinda.

Deg.

Jantung Clarinda seperti jatuh ke lantai.

Tatapan itu.

Tajam.

Namun… seringaian tipis muncul di bibir Zavian. Ia bersikap sewajarnya seolah mereka bukan pasangan suami istri. Clarinda hanyalah salah satu dari ratusan siswa di hadapannya.

Clarinda langsung menunduk cepat, jantungnya berdegup tak karuan.

“Ngapain sih pake lihat?" bisiknya hampir tanpa suara.

Arin menoleh. “Siapa?”

Clarinda langsung menggeleng. “Nggak… bukan siapa-siapa.”

Acara berlangsung sampai selesai.

Tepuk tangan.

Sambutan guru.

Perkenalan staf.

Semua hanya seperti suara latar yang tidak berarti. Pikirannya berputar sendiri penuh kecemasan. Bagaimana jika ada yng tahu ia punya hubungan dengan kepala sekolah di sini. Bagaimana jika rahasia mereka terbongkar.

Begitu acara selesai, siswa mulai bubar.

Clarinda langsung berdiri. Cepat-cepat meninggalkan aula tanpa memperhatikan Arin dan Rama.

"Clea... Tunggu..." Teriak Arin dari belakang yang tertutup oleh suara riuh siswa terutama perempuan yang ingin melihat kepala sekolah mereka lebih dekat.

*

Jam pulang sekolah.

Di parkiran motor Clarinda nampak lesu. Ia duduk ngemper di samping motornya. Ini motor nya sendiri yang ia ambil dari rumah lama. Motor yang biasa ia naiki untuk pulang pergi sekolah jika tidak diantar papa nya.

"Pasti ada yang sengaja nih," gumamnya memicing kan mata melihat kedua ban motonya kempes. "Jika ketemu pelakunya... Awas kalian!"

"Oh God... Please kirimkan malaikat penolongmu."

"Masa aku harus nuntun motor panas-panasan gini."

Tin!

Clarinda sontak mendongak.

Rama.

Wow keren doa Clarinda langsung terkabul.

Rama tersenyum kemudian turun dari mobilnya. Clarinda berdiri.

"Kenapa Clea?"

"Em... Itu." Clarinda memberikan isyarat dengan dagunya menunjuk arah ban motornya yang kempes.

"Pulang bareng gue aja."

"Trus si Gopy gimana?"

"Gopy?" Rama mengerutkan keningnya.

"Em maksudku motorku."

"Gampang itu Cle. Aku hubungi orangku. Nanti kalau sudah beres langung nyampe rumah."

"Oh... hehehehe..." Clarinda mengelus tengkuknya dan menelan ludah. Rama dan Arin atau teman yang kadang mampir ke rumahnya belum tahu jika Clarinda sudah pindah. "Gimana ngejelasin nya ya?" Gumam Clarinda.

Awalnya Clarinda sudah berniat cerita pada beberapa temannya jika ia pindah. Bisa saja ia mengaku tinggal di rumah om atau saudaranya.

Tapi... Hari ini semua siswa tahu siapa Zavian. Kepala sekolah mereka.

Apa yang akan terjadi jika mereka tahu ia tinggal di rumah kepala sekolah.

"Coba saja si Bapak-bapak tidak muncul, masalahnya akan lebih mudah," batin Clarinda cemas.

"Ayo Clea... Sudah siang. Kita makan siang dulu."

Dari kejauhan di parkiran khusus guru dan staff Zavian melihat Clarinda masuk ke mobil Rama hingga mobil yang mereka tumpangi keluar dari pagar.

1
partini
hemmm dah keliatan kamu kecintaan ma suamimu,aihhh why pihak cewek yg jatuh cinta duluan ga cowoknya ga pernah si saddddddd
Marini Suhendar
Dasar bocah😄
partini
ko cuma sama baby sitter doang apa duda anak satu ,, alamak tensi nanti suamimu cle
Titien Prawiro
Bagaimana jadinya
partini
👍👍👍
Erna Riyanto
ihh..pak tua bisa ae nyari kesempatan,pke pegang" segala🤣🤣
Marini Suhendar
Awas yah..nanti pada bucin kalian ya 😄
Marini Suhendar
Jangan cemburu pak tua😄
partini
ingio ingon wedus kaleee 😂😂
wah ada yg CLBK nih nanti jad jadi jendonggggg ,,
partini
kenapa selalu cewek yg klepek klepek duluan sih jarang bnggt cowoknya
partini
tinggal jaa kek yg lama cucu mu juga rada"suka keluar malam lupa pulang cucu mentu juga sama so 50/50
partini
jirrr Ampe lupa, maklumlah di club siapa sih yg ingat di rumah ga ada
partini
nah Lo habis megang apa gunung kembarnya 😂😂😂
nanti pasti terbayang bayang rasanya kenyal"
partini
😂😂😂😂 lah kaya bola di tendang
partini
hemmm SE anak kalian yg bikin ulah
partini
good story
partini
lanjut Thor Setu ceritanya
candra pipit: siap... lanjut 😍
total 1 replies
partini
lelaki bebas di luar OMG
partini
menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!