Selama 25 tahun, Rashaka Nareswara setia menjaga cintanya. Ia tetap bertahan, dan berharap pada satu nama yang tak pernah berubah di hatinya. Hingga akhirnya, penantian panjang itu berbuah manis.
Ia berhasil mempersunting wanita yang ia cintai sejak dulu, memulai kehidupan rumah tangga yang tampak sempurna.
Namun, kebahagiaan itu tak pernah benar-benar utuh. Di balik senyum sang istri, tersimpan bayang-bayang masa lalu yang belum selesai. Masalah demi masalah yang perlahan meretakkan kehangatan yang mereka bangun.
Akankah cinta yang bertahan selama seperempat abad itu mampu melawan luka yang belum sembuh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GAYATRI S2 — BAB 07
Malam itu terasa jauh lebih panjang dari biasanya. Kamar hotel yang siang tadi terasa hangat kini justru dipenuhi keheningan yang asing. Lampu-lampu kota Seoul masih bersinar indah dari balik jendela kaca, namun bagi Shaka, pemandangan itu tidak lagi terasa sama.
Ia berdiri cukup lama di depan jendela, kedua tangannya bertumpu pada saku celana. Tatapannya kosong, seolah tidak benar-benar melihat apapun di luar sana.
Sejak siang tadi, setelah pertemuan yang begitu emosional antara Gayatri dan Keandra, semuanya berubah. Tanpa ragu, Gayatri memutuskan untuk tetap tinggal di rumah sakit, menemani anaknya yang sedang menjalani perawatan.
Shaka tentu saja memahami alasan itu. Namun tetap saja, ada sesuatu yang mengganjal.
Ia menghela napas panjang, lalu berjalan pelan menuju sofa. Duduk dengan tubuh sedikit merosot, tangannya menyisir rambutnya dengan kasar, mencoba meredakan perasaan yang sulit ia jelaskan.
“Seharusnya aku tidak mengajaknya ke sini,” gumamnya diikuti helaan napas yang terasa berat.
Keputusan itu, yang awalnya ia pikir akan menjadi kejutan indah, justru membuatnya berada dalam situasi seperti ini.
Sendirian, di kamar hotel yang terasa sunyi tanpa kehadiran istrinya. Ia mengangkat ponselnya, menatap layar tanpa benar-benar tahu ingin melakukan apa. Tidak ada pesan baru ataupun panggilan dari Gayatri.
Hanya keheningan yang semakin terasa nyata. Shaka menutup matanya sejenak. 25 tahun ia sudah merasakan kesepian hidup tanpa pendamping dan kini, saat ia bahkan sudah menikah, yang ia dapatkan tetap saja rasa sepi.
Dan itu datang justru saat ia sedang berada di tempat yang seharusnya menjadi awal kebahagiaannya. Beberapa menit berlalu tanpa terasa. Atau mungkin lebih lama, Shaka s3nri4i bahkan tidak yakin berapa lama waktu yang ia habiskan untuk berdiam diri.
Hingga tiba-tiba, suara ketukan pintu membuatnya sedikit tersentak. Shaka membuka mata, mengerutkan kening.
“Siapa yang datang? Apakah room service?” gumamnya pelan. “Sepertinya aku tidak memesan layanan apapun.”.
Ia berdiri, berjalan menuju pintu dengan langkah yang tidak terlalu terburu-buru. Dalam pikirannya, ia sudah mengira bahwa itu mungkin petugas hotel yang mungkin saja datang untuk menanyainya sesuatu. Tanpa banyak pikir, ia membuka pintu.
Dan seketika, dirinya terpaku di depan pintu. Menatap sosok perempuan yang berdiri di hadapannya. Shaka bahkan mengucek matanya pelan sebab tak percaya.
“Gayatri?”
Wanita itu berdiri tepat di depannya. Untuk beberapa detik, Shaka hanya menatapnya tanpa berkata apa-apa. Seolah memastikan bahwa yang ia lihat bukan sekadar bayangan dari keinginan yang terlalu kuat.
“Kau … kenapa kau ada di sini?” tanyanya, heran.
Gayatri balik menatapnya, sedikit kelelahan terlihat di wajahnya, namun ada sesuatu yang berbeda. “Iya, ini aku. Jika bukan ke sini, lalu aku harus ke mana?”
Refleks, Shaka hampir saja menariknya ke dalam pelukan. Tangannya bahkan sempat terangkat, namun ia menahannya di detik terakhir. Ia menarik napas, mencoba menahan luapan perasaan yang tiba-tiba muncul.
“Kau … kau kenapa pulang?” tanyanya akhirnya, berusaha terdengar tenang. “Bukankah kau akan menemani Keandra di rumah sakit?”
Gayatri masuk perlahan ke dalam kamar, menutup pintu di belakangnya. “Aku memang berencana menemani Keandra,” jawabnya.
Shaka mengangguk pelan, meski ada sesuatu di dadanya yang kembali terasa turun. “Lalu?”
Gayatri menatapnya beberapa detik, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih lembut, “Tapi, aku tidak mungkin meninggalkanmu sendirian di sini.”
Shaka terdiam. “Apa?” tanyanya pelan, seolah memastikan ia tidak salah dengar.
Gayatri menghela napas ringan. “Kita ke sini untuk bulan madu, kan? Tidak mungkin aku membiarkan suamiku sendirian di hotel.”
Kalimat itu terasa sederhana. Namun entah kenapa, terasa begitu dalam. Shaka menatapnya, lalu tanpa sadar senyum lebar mulai terukir di wajahnya. Perasaan yang tadi sempat menyesakkan kini perlahan menghilang, digantikan oleh sesuatu yang jauh lebih hangat.
“Jadi, kau pulang karena itu?” tanyanya, masih seperti tidak percaya.
Gayatri mengangguk. “Iya. Kau ini kenapa, Nares?”
Sejenak, Shaka hanya berdiri di tempatnya. Lalu tiba-tiba ia menghembuskan napas panjang dan tertawa kecil, lebih seperti lega yang tidak bisa lagi ia tahan.
Ia menggeleng pelan. “Aku kira—”
“Kau kira apa?” potong Gayatri.
Shaka menatapnya, lalu tersenyum tipis. “Aku kira aku sudah salah mengajak kamu ke sini.”
Gayatri mengernyit. “Kenapa?”
“Karena aku pikir, aku malah membuatmu menjauh dariku,” jawabnya jujur.
Gayatri terdiam sejenak, lalu menggeleng pelan. “Kenapa kau berpikir begitu? Apa karena aku berkata akan menemani Keandra?”
Shaka tak menjawab, dan tanpa sadar, ia mengangkat tangannya lagi, kali ini tanpa ragu. Ia menarik Gayatri ke dalam pelukan hangat, memeluknya dengan erat namun tetap lembut.
Gayatri sempat terdiam, tapi tidak menolak.
“Terima kasih sudah kembali,” bisik Shaka pelan.
Gayatri tidak langsung menjawab. Namun perlahan, tangannya terangkat, membalas pelukan itu meski sederhana.