Namanya Arumi, seorang gadis yang tinggal di desa Dukuh Asem.
Arumi adalah seorang gadis yang baik hati dan suka membantu orang tuanya.
Namun, ketenangan itu perlahan menghilang, saat bayi-bayi di desanya mulai meninggal satu-persatu dengan darah yang mengering.
Arumi juga mulai sering melihat penampakan aneh, bahkan sampai hampir disakiti oleh sesosok kuntilanak merah.
Kuntilanak itu selalu mengatakan, kalau ibunya Arumi telah membuat hidupnya hancur.
Arumi dan adiknya, yang bernama Bella, mulai merasa curiga dengan kedua orang tuanya.
Apalagi, mereka sering tampak terlihat aneh.
Arumi juga merasakan keanehan dengan dirinya, sebab dirinya sering melihat penampakan aneh.
Sebenarnya, apakah yang terjadi? Dan mampukah Arumi mengungkap semuanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lili Aksara 04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Matahari bersinar cukup terik, panasnya seolah hendak membakar kulit.
Arumi melangkahkan kakinya menuju ke rumah RT yang tak jauh dari rumahnya.
Pagi itu, desa Dukuh Asem tampak sepi, mungkin karena para warganya sudah berangkat lebih dulu.
Angin berhembus sepoi-sepoi, menggerakan dedaunan.
Suara kincir angin terdengar, mengisi perjalanan Arumi.
***Setelah berjalan beberapa saat, sampailah Arumi di rumah Pak RT.
Suasana saat itu begitu ramai, suara riuh terdengar dari para warga.
"Eh, mereka lagi demo kah," batin Arumi heran.
"Pak RT, kami tidak terima dengan meninggalnya para bayi itu. Kami meminta agar ini segera diusut,"
"Iya, benar itu, sekarang saja sudah ada 2 bayi yang meninggal!" teriak para warga.
"Ya, ini tidak bisa dibiarkan, takutnya akan semakin banyak bayi yang jadi korban," sahut warga yang lain.
Arumi hanya diam, gadis itu memperhatikan semuanya.
"Tenang, bapak-bapak dan ibu-ibu semuanya. Kita harus menangani ini dengan kepala dingin," ucap Pak RT.
"Lalu, apa yang harus kita lakukan, Pak RT?" tanya salah seorang warga.
"Begini saja, kita adakan ronda di desa ini. Jadinya, kalau kalian melihat sesuatu yang mencurigakan, kalian bisa menangkapnya," saran Pak RT.
"Maaf, Pak, tapi saya curiga yang menculik bayi itu bukanlah manusia. Jika memang penculik bayi itu bukan manusia, lalu bagaimana kita akan menangkapnya?" tanya Ibu Tikah.
"Ya itu benar, kita tidak akan bisa menangkap makhluk halus," sahut Pak Anton.
"Sebaiknya, kita pastikan dulu itu manusia apa bukan. Jika kalian melihat sosok yang bukan manusia, barulah kita bisa melakukan tindakan selanjutnya," ucap Pak RT.
Para warga pun mengangguk-angguk, mereka tampaknya setuju dengan usul Pak RT.
"Pak RT, saran saya lebih baik yang ronda itu masing-masing 3 orang, supaya tidak terlalu takut," saran seorang pemuda.
"Iya, boleh, asalkan jangan lebih dari 3," jawab Pak RT.
Kemudian, di bentuklah para petugas ronda untuk mengelilingi desa.
Saat itu, ada seorang ibu-ibu yang menghampiri Arumi
"Neng Arumi, Juragan Broto dan Nyai Sawitri ke mana, kok mereka nggak ikut ngumpul di sini?" tanya ibu tersebut.
"Mereka lagi ada urusan, Bu, makanya tidak bisa ikut," jawab Arumi dengan ramah.
"Oh, ternyata gitu, pantas kok tidak kelihatan," ucap ibu itu.
"Semoga masalah ini cepat selesai, ya, Bu," harap Arumi.
"Aamiin, Ibu juga inginnya begitu. Kasihan para ibu-ibu yang punya bayi, mereka pasti was-was, takut bayinya diambil," jawab ibu itu kembali.
Arumi mengangguk membenarkan, tak terbayang jika dirinya juga adalah seorang ibu, pasti akan merasa takut apabila bayinya juga diambil dan kembali dalam kondisi tewas.
Pertemuan itu selesai beberapa saat kemudian, sebab memang tidak lama, karena mereka hanya ingin membahas hal itu saja.
Arumi berjalan pulang dengan pikiran yang berkecamuk, gadis itu sangat ingin untuk membantu para warga desa.
Namun, Arumi juga sadar, dirinya tidak memiliki ilmu gaib yang bisa mengalahkan kuntilanak itu.
Ketika melewati sebuah pohon jambu yang tinggi, tak sengaja tatapan Arumi tertuju ke atas pohon itu.
Alangkah terkejutnya Arumi, karena ia melihat sosok besar yang memiliki bulu lebat sedang duduk di atas pohon.
"Aaaa, setan!" teriak Arumi langsung berlari saat itu juga.
"Wahahaha, dasar manusia penakut," ejek genderwo saat melihat Arumi yang berlari ketakutan.
"Huft, makhluk apa itu, besar sekali. Apa genderwo, ya?" tanya Arumi sambil berhenti berlari.
Arumi mengatur napasnya yang terengah-engah, karena ia berlari dengan sangat kencang.
Arumi memang cepat lelah, tidak seperti Bella yang sudah sering lari.
"Hah, jompo banget sih aku ini, lari segitu saja udah capek," batin Arumi kesal.
Namun, Arumi memilih untuk lanjut berjalan, karena ia berencana untuk tidak pulang dulu, melainkan ingin pergi ke sungai yang berada di ujung desa.
Sungai di desa Dukuh Asem memang terkenal dengan keindahan dan ketenangannya.
Oleh karena itu, Arumi terkadang ke sana jika ingin menyendiri.
***Suasana sungai menyambut Arumi yang baru datang.
Gadis itu menghirup udara dalam-dalam, lalu mendudukan dirinya pada sebuah batu besar yang ada didekat sungai itu.
"Hai, manusia," sapa sebuah suara.
Arumi tersentak, gadis yang memakai baju biru muda itu menoleh ke sekitarnya.
"Kamu siapa?" tanya Arumi.
Dari arah sebuah pohon yang tak jauh dari sungai itu, muncullah sesosok wanita yang terbang melayang.
Arumi tersurut mundur kala melihat sesosok wanita yang terbang itu mendekat ke arahnya.
"Ka... kamu bukan manusia," ucap Arumi.
"Ih, tenang dong. Iya aku bukan manusia, tapi aku kan jin baik tahu," jawab wanita itu.
Mendengar itu, justru tak membuat Arumi merasa tenang.
Arumi masih merasa takut, sebab ia tak ingin berurusan dengan jin.
Arumi beranjak bangkit dari duduknya, lalu berjalan pergi.
"Heeeey, tungguin aku!" teriak jin itu sambil mengejar Arumi.
Memang wujudnya tidak mengerikan, hanya saja wajahnya tampak pucat.
Arumi yang dikejar pun menjadi semakin takut, gadis itu lari sampai hampir jatuh.
"Toloooong!" teriak Arumi.
"Arumi, eh kamu kenapa?" tanya seorang gadis.
Gadis itu bernama Putri, salah seorang teman sebaya Arumi.
"Huh, aku nggak papa," jawab Arumi sambil menghentikan langkahnya saat melihat Putri.
"Kamu ini kok kayak macam habis dikejar setan aja," ucap Putri.
"Ya emang, aku ketemu setan di sungai," jawab Arumi.
"Ah, masa sih? Halu aja itu. Udah, ayo ikut ke rumahku, temenin aku ya," ucap Putri.
"Ya bolehlah, daripada di rumah terus," jawab Arumi.
Arumi juga berharap tidak bertemu dengan hantu mana pun lagi, karena dirinya juga merasa lelah.
***Kedua gadis yang memiliki umur sebaya itu tiba di rumah milik Putri.
Krieeet.
Pintu rumah panggung itu berderit terbuka kala Putri membukanya.
"Ibumu nggak ada, ya, Put?" tanya Arumi penasaran.
"Nggak ada, lagi pergi ke pasar," jawab Putri.
Putri memang hanya tinggal berdua saja dengan sang ibu, karena ayahnya telah meninggal dunia.
Putri menyuguhkan air mineral dan singkong goreng pada Arumi.
"Maaf ya, cuma ada ini aja," ucap Arumi sedikit tidak enak.
Walaupun Arumi tidak pernah mempermasalahkan, tapi tetap saja rasa tidak enak itu ada dalam diri Putri, karena Arumi adalah anak orang kaya.
"Nggak papa, Put. Nggak usah ngerasa nggak enak gitu, kan yang penting ini makanan bisa di cemil," ucap Arumi.
"Hmmm, iya deh," jawab Putri.
Arumi menenggak air minum yang ada di gelas itu.
Rasanya begitu haus, apalagi Arumi habis berlarian tadi.
"Put, rasanya aku ngerasa ada yang aneh sama diriku sekarang," ucap Arumi.
"Aneh gimana maksudmu?" tanya Putri terlihat penasaran.
"Aku jadi sering lihat penampakan gitu, tadi aja aku lihat sosok besar berbulu item," jawab Arumi.
"Waduh, genderwo itu," Putri sedikit terkejut.
"Iya, padahal sebelumnya nggak pernah seperti ini," kata Arumi.
"Terus, kamu beneran lihat hantu di sungai itu?" tanya Putri.
"Iya, Put. Tadinya kan aku mau menyendiri di sungai itu. Eh, tahunya malah ketemu penampakan cewek yang ngelayang, mana wajahnya pucet lagi," jawab Arumi.
"Ya, kalau di sana sih memang nggak heran, memang gosipnya angker kok," ucap Putri.
"Hah? Tapi, kok baru sekarang aku di lihatin, ya?" tanya Arumi.
Arumi sudah sering pergi ke sungai itu, tetapi baru kali ini ia ditampakan sosok penunggu yang ada di sana.
"Kayaknya bukan mereka yang sengaja nampakin diri ke kamu deh, Rum," ucap Putri.
"Maksudmu gimana?" tanya Arumi.
"Mungkin emang mata batin kamu yang terbuka. Entah apa faktornya, aku juga nggak tahu. Tapi, itu bisa aja," jawab Putri.