Sepuluh tahun lalu, tragedi berdarah menghancurkan keluarga Samudra. Langit Bumi Samudra (7 tahun) tewas dalam sabotase kecelakaan mobil, sementara adiknya, Cakrawala Bintang Samudra (3 tahun) dinyatakan hilang dan dianggap tewas juga oleh publik. Nyatanya, Sang Kakek menyembunyikan Cakra di luar negeri dengan identitas rahasia demi melindunginya dari musuh.
Kini, Cakrawala kembali sebagai pemuda tampan dan jenius. Di bawah nama samaran Gala Putra Langit, ia menyusup ke dunianya sendiri sebagai mahasiswa biasa. Ia harus menghadapi pengkhianatan Om dan Tantenya sendiri yang haus harta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon puput11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Sang Peretas
Suasana kafetaria Universitas Samudra semakin bising menjelang siang. Di sudut meja marmer, Aluna masih menatap Gala dengan dahi berkerut, mencoba mencerna jawaban santai dari cowok bertubuh tegap itu.
Di samping Gala, Adit yang berkarakter slengean tampak asyik membolak-balik gantungan kunci motor milik Gala, sementara Reza si cowok dingin hanya menatap layar tabletnya dengan jemari yang bergerak sangat cepat.
"Roda berputar, katamu?" Aluna mendengus pelan, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. "Di kampus ini, Kenzo yang memegang kendali roda itu, Gala. Papanya itu pengelola sekaligus petinggi di sini. Lo harus benar-benar hati-hati."
Adit langsung menyahut sambil tertawa renyah, "Halah, Lun, tenang aja! Si Gala ini punya nyawa sembilan kayak kucing anggora. Tadi pagi aja gerakannya gesit bener." Adit menyenggol lengan Gala dengan akrab, memamerkan sifatnya yang selalu santai dan suka bercanda dalam situasi apapun.
Gala hanya terkekeh pelan menanggapi celotehan Adit. Namun, sedetik kemudian, perhatian mereka teralih oleh Reza. Cowok dingin itu tiba-tiba menghentikan ketukan jarinya di atas layar tablet. Matanya yang tajam menatap lurus ke arah koridor luar kafetaria.
"Gala," panggil Reza dengan suara rendah dan datar. "Target lo mulai bergerak."
Gala mengikuti arah pandang Reza. Di seberang taman koridor, tampak Kenzo sedang berdiri dengan gengnya. Mereka terlihat sedang berbisik serius di dekat mading kampus. Davin sesekali melirik ke arah kafetaria tempat Gala dan teman-temannya duduk, lalu membisikkan sesuatu ke telinga Kenzo yang langsung disambut senyum licik oleh sepupu Cakra tersebut.
"Mereka lagi ngerencanain sesuatu yang nggak beres buat kelas pertama kita nanti," ucap Reza lagi. Tangannya kembali bergerak lincah di atas tablet, mengabaikan fakta bahwa Aluna sedang memperhatikan gerak-geriknya dengan seksama.
Adit yang menyadari situasi itu langsung menepuk dahinya sendiri. "Aduh, Re! Kebiasaan lo deh, jangan terang-terangan gitu ngetiknya," bisik Adit panik.
Selama ini, hanya Adit yang tahu kalau Reza adalah seorang hacker jenius yang bisa meretas jaringan apapun dalam hitungan menit.
Aluna menaikkan sebelah alisnya, menatap Reza dengan binar mata terkejut. "Tunggu... lo bisa tau mereka lagi ngerencanain sesuatu dari jarak sejauh ini? Jangan-jangan lo..."
Reza menghela napas, lalu membalikkan layar tabletnya ke tengah meja agar bisa dilihat oleh Gala dan Aluna. Di layar itu, menampilkan ruang obrolan privat milik geng Kenzo yang baru saja berhasil diretas oleh Reza melalui jaringan Wi-Fi kampus.
" Gila! Lo nge-hacker ponsel mereka?!" seru Aluna tertahan, menutup mulutnya dengan kedua tangan karena sangat terkejut. Di hari pertamanya kuliah, ia tidak menyangka akan langsung bertemu dengan seorang peretas seperti Reza.
Gala tersenyum penuh arti. Di dalam hatinya, ia merasa sangat beruntung bisa langsung berteman dengan orang-orang berbakat seperti Adit dan Reza. "Kerja bagus, Re. Jadi, apa yang mau dimainin sama 'Putra Mahkota' itu?" tanya Gala dengan nada meremehkan.
Reza menunjuk salah satu baris teks di layar tabletnya. "Kenzo baru aja nyuruh anak buahnya buat naruh dompet mahal miliknya, ke dalam tas ransel lo di loker kelas bisnis. Skenarionya, pas kelas perdana dimulai, Kenzo bakal akting kehilangan dompet dan minta dosen buat geledah semua tas mahasiswa baru. Mereka mau bikin lo dikeluarin dari kampus di hari pertama, atas tuduhan pencurian."
Adit langsung menggebrak meja pelan, wajah slengeannya berubah kesal. "Wah, bener-bener licik ya tuh bocah! Mainnya fitnah!"
Aluna menatap Gala dengan cemas. "Gal, Lo harus pindahin tas lo sekarang sebelum mereka bertindak. Kalau dosen sampai nemu dompet itu di tas lo, reputasi beasiswa lo bisa hancur seketika."
Namun, alih-alih panik, Gala justru menyandarkan tubuhnya ke kursi dengan santai. Senyum miring yang penuh wibawa terukir di wajah tampannya. Matanya berkilat tajam menatap gerombolan Kenzo di kejauhan.
"Pindahin, tas? Enggak, itu terlalu membosankan," ujar Gala dingin namun percaya diri.
Ia menatap Reza. "Re, lo bisa lacak nomor rekening atau ke sistem loker digital itu, kan?"
Reza mengangguk sekali tanpa ragu. "Gampang. Cuma butuh waktu tiga puluh detik."
" Bagus," Gala menepuk bahu Reza dan Adit bergantian.
" Kalau mereka mau main api, mari kita bakar balik sekalian. Kita ubah tontonan ini jadi panggung komedi buat si Kenzo."
Sejak detik itu, setelah menyaksikan langsung keahlian Reza, Gala dan Aluna akhirnya mengetahui identitas Reza sebagai peretas jenius. Aliansi kecil di sudut kafetaria itu kini siap membalikkan keadaan dan memberikan pelajaran pertama yang tak terlupakan bagi sang pewaris manja, Kenzo Pratama.