Larasati, gadis desa sederhana, percaya bahwa pernikahannya dengan Reza Adiguna akan membawa kebahagiaan. Namun semua harapan itu hancur di hari ia melahirkan—anaknya direbut, dirinya diceraikan, dan ia dicampakkan tanpa sempat memeluk buah hatinya.
Sendiri dan hancur, Larasati berjuang bertahan hidup di tengah kota yang asing. Hingga takdir mempertemukannya dengan Hajoon Albra Brajamusti, pria yang dulu pernah dikenalnya tanpa sengaja.
Dengan keberanian yang tumbuh dari luka, Larasati menyamar sebagai ibu susu demi bisa dekat dengan anaknya kembali.
Di tengah perjuangannya, hadir perasaan yang tak pernah ia duga.
Apakah Larasati sanggup merebut kembali anaknya sekaligus menemukan arti cinta sejati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketemu Kenalan 06
"Joon, Eomma nitip beliin buah ya Nak. Sama ikan tuna di market. Hyejin, Sai dan Haneul mau datang. Tadi mereka ngabari Eomma. Jadi sebelum kamu pulang tolong beliin, oke?"
"Okeee Eomma."
Seorang pemuda berwajah blasteran indonesia korea itu tampak sedang mencari-cari barang titipan dari sang ibu. Wajah yang tampan dan juga postur tubuh yang tinggi tegap, selalu menarik perhatian dari para gadis maupun ibu-ibu muda.
Hajoon Albra Brajamusti, pemuda berusia 27 tahun yang merupakan CEO sebuah perusahan itu terkadang risih jika selalu diperhatikan. Tapi mungkin itu adalah bagian dari resiko yang harus dia tanggung karena wajahnya yang tampan.
Bagaimana tidak menari perhatian, beberapa gadis yang melihatnya mengatakan bahwa Hajoon sungguh memiliki wajah-wajah pria dari negeri gingseng.
Itu sudah jelas tidak bisa dibantah. Ayah Hajoon yakni Hwan Brajamusti adalah pria keturunan Korea Jawa, ayah Hawan dari jawa dan ibunya asli Korea. Sedangkan Ibunya yakni Brigita Almeida, juga sama tapi kebalikannya. Ayah Brigita asli Korea dan ibunya asli Indonesia. Sehingga wajah Hajoon sungguh merupakan perpaduan yang sempurna.
"Oppa, boleh minta foto nggak?'
"Maaf ya adek kecil. Saya bukan artis. Permisi."
Meski merasa risih, tapi Hajoon berusaha untuk bersikap sopan jika ada gadis yang memintanya seperti itu.
"Haaah bocah jaman sekarang bener-bener deh. Yaah ujan ternyata," ucapnya lirih.
Setelah mendapatkan apa yang dipesan oleh Brigita, Hajoon pun segera keluar dari market. Dia berjalan menuju ke mobil dan mulai melajukan mobilnya.
Namun, tiba-tiba matanya menangkap sesuatu. Dia pun menepikan mobilnya itu. Awalnya Hajoon ragu, tapi setelah mengamati secara seksama, dia pun yakin akan sesuatu bahwa orang yang saat ini berdiri di depan ruko kosong itu adalah orang yang ia kenal.
Hajoon mengambil payung lalu keluar dari mobil.
Tap tap tap
Langkah kakinya pelan tapi pasti ketika menghampiri orang yang ia yakin dikenalnya itu.
Tap!
"Laras, kamu Larasati kan?"
Sreet
Laras terlihat kaget saat namanya disebut. Di kota yang asing ini, dia sama sekali tidak mengenal siapapun. Tapi sekarang di depannya berdiri seorang pria yang memanggul namanya.
Laras menyipitkan matanya, dia mencoba mengingat-ingat siapa pria itu.
"Iya saya Laras, tapi Anda siapa ya?" Ternyata Laras masih belum menemukan pria itu di dalam ingatannya.
Perbedaan tinggi tubuh yang sangat signifikan itu membuat Laras harus mendongak untuk melihat wajah Hajoon.
"Ini aku Hajoon, Hajoon yang waktu dulu pernah KKN di tempat kamu. Ah itu lho, yang waktu itu dikejar-kejar sama anak sapi." Wajah Hajoon memerah karena malu ketika mengatakan kenangan yang baginya sangat memalukan itu.
"Hajoon, KKN, dikejar anak sapi. Aaah Bang Joon! Ya Allah, nggak nyangka ketemu Bang Hajoon di sini. Bagaimana kabar kamu, Bang? Masih takut sama sapi kah? Hahahaha."
Hajoon dan Laras tertawa bersama mengingat kenangan lucu sekaligus memalukan bagi mereka dulu.
Ya beberapa tahun yang lalu, ketika menjalani program KKN, Hajoon bersama tim nya datang ke kota Semarang. Di sebuah desa yang terletak di Ungaran, dia bertemu dengan Laras. Laras adalah warga sekitar yang cukup banyak membantu Hajoon dan tim ketika melakukan KKN.
Siapa sangka kini mereka bertemu lagi. Baik Hajoon maupun Laras tentu tidak pernah menduga akan bertemu seperti ini.
"Senang bisa ketemu lagi sama mu, Laras. Ah iya, kamu sedang apa di sini? Sudah lama kah ekspansi ke kota ini?"
"Aku sedang cari pekerjaan, Bang. Ya sekitar setahunan lah," jawab Laras dengan senyum.
Namun Hajoon merasa aneh dengan senyuman wanita itu. Senyuman itu nampak getir dan juga seperti menahan sakit.
Meski dulu mereka dekat, tapi Hajoon tidak berani untuk bertanya lebih. Mereka sudah bertahun-tahun tidak bertemu, jadi pasti merasa canggung.
"Terus ini mau kemana?"
"Mau pulang, Bang. Tapi malah hujan?"
"Ya udah, aku anter yuk. Kamu tunjukkan ya dimana alamat rumahmu."
Awalnya Laras hendak menolak. Namun setelah berpikir sejenak, dia memilih untuk menerima tawaran Hajoon.
Di kota besar yang tidak memiliki sanak saudara dan juga teman ini, menerima bantuan dari orang yang dikenal bukan lah hal yang buruk. Laras merasa bahwa dirinya tidak perlu sungkan untuk menerima bantuan karena dia memang membutuhkan. Dia juga tidak perlu bersikap munafik, karena hidup memang realistis.
Tidak perlu menjadi sok kuat sendiri jika kenyataanya memang membutuhkan bantuan orang lain.
"Terimakasih, Bang. Maaf merepotkan Abang. Padahal kita baru bertemu setelah sekian lama."
"Tak masalah, Laras. Ayo."
Meski tadi berpikir demikian, tapi ternyata Laras tetap merasa tidak enak. Pasalnya mobil milik Hajoon adalah mobil mewah yang belum pernah dia naiki. Jangankan menaikinya, mungkin melihatnya saja jarang.
Reza memang memiliki mobil yang bagus, tapi milik Hajoon jauh lebih bagus lagi.
"Kamu tinggal di perumahan ini? Aku tahu nih, di sini tempatnya nyaman," ucap Hajoon ketika memasuki komplek perumahan dimana Laras tinggal. Banyak sekali sebenarnya pertanyaan yang muncul di kepala Hajoon, tapi dia menahannya sebisa mungkin.
"Mau mampir dulu, Bang?" tawar Laras basa-basi. Dia yakin pria itu tidak akan mampir di rumahnya.
"Lain kali ya, Ras. Tapi asalkan kamu mengizinkannya," sahut Hajoon dengan senyum. Setelah itu Hajoon pun pergi. Laras masih berdiri di sana menatap kepergian orang yang dulu pernah ditemuinya.
Haaah
Laras membuang nafasnya kasar. Dia tidak pernah menduga akan bertemu dengan Hajoon. Dan dirinya cukup malu karena bertemu Hajoon dengan kondisi yang seperti ini.
Berbeda dengan Hajoon, pria itu malah sangat penasaran dengan kemunculan Laras. Memang benar ini adalah ibu kota, dimana setiap orang bebas datang untuk mengadu nasib. Akan tetapi bagi Hajoon, Laras adalah orang yang berbeda.
Dia masih ingat, dulu dirinya pernah bertanya perihal keinginan Laras untuk ke ibu kota.
"Nggak Bang, aku Nggak punya cita-cita untuk pergi ke Ibu Kota. Rasanya di sini aja udah cukup. Apalagi aku hanya punya bapak, dan bapak juga cuma punya aku. Kalau pun bekerja paling nggak aku nggak akan pergi jauh-jauh dari sini."
Ya seperti itulah ucapan Laras. Mala dari itu Hajoon sungguh merasa penasaran dengan kemunculan Laras di sini.
"Astaga, kok aku jadi super penasaran begini sih? Haah apa mungkin karena dulu kita saling kenal ya. Aah entahlah," gumam Hajoon lirih. Dia membuang semua rasa penasarannya terhadap Laras.
TBC