Pernikahan adalah tentang kepercayaan. Setidaknya itu yang diyakini oleh Arini selama lima tahun pernikahannya dengan Galang. Namun saat kenyataan itu terungkap secara tidak sengaja, ternyata pernikahan mereka hanyalah sebuah lelucon yang dibuat oleh suami dan selingkuhannya selama ini. Dan dia hanyalah wanita bodoh yang tidak tau apa-apa, dan sudah bekerja keras untuk membangun reputasi suaminya sebagai istri yang baik selama ini.
Hancur dan merasa di bohongi sudah pasti, lalu apa yang akan dilakukan Arini setelah mengetahui semua kebohongan suaminya?
Apakah dia bisa bertahan di kerasnya hidup tanpa Galang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eys Resa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melepaskan
Sinar matahari yang menerobos masuk melalui celah jendela kamar apartemen barunya tak lagi terasa hangat bagi Arini. Panggilan telepon dari Galang tadi telah merusak ketenangan yang susah payah ia bangun. Dengan helaan napas panjang, ia beranjak ke kamar mandi, membiarkan kucuran air dingin membasuh sisa-sisa kemarahan dan lelah yang masih menggelayut di pundaknya.
Setelah rapi dengan pakaian kasual yang elegan, Arini memacu mobilnya menuju sebuah kawasan hunian asri di pinggiran kota. Jantungnya berdegup kencang saat gerbang tinggi itu terbuka. Rumah itu masih sama, besar dan kokoh, namun menyimpan kenangan pahit tentang keras kepalanya lima tahun lalu saat ia memilih pergi demi Galang.
"Papa?" suara Arini bergetar saat melihat sosok pria paruh baya yang sedang duduk di teras belakang, menatap taman.
Pak Bayu menoleh, kacamatanya hampir terjatuh. Ia terdiam sejenak sebelum air mata menggenang di pelupuk matanya yang mulai keriput. "Arini? Ini benar kamu, Nak? Kamu datang?"
Arini menghambur ke pelukan ayahnya, tangisnya pecah seketika. Segala topeng ketangguhan yang ia tunjukkan di depan Galang dan para rekan staf kantor runtuh di dekapan sang ayah.
Setelah emosinya mereda, mereka duduk di ruang tamu yang tenang. Arini mulai menceritakan semuanya, tentang pengkhianatan Galang, tentang status pernikahannya yang ternyata hanya sandiwara, hingga keberadaan Dita dan anak angkatnya Galih yang ternyata anak kandung mereka.
"Jadi, selama lima tahun ini, Papa dibiarkan percaya bahwa kamu bahagia dengan pria itu?" Papa Bayu memukul meja dengan tangan gemetar karena amarah. "Dia menganggap anakku sebagai pion untuk membangun kekayaannya? Pernikahan siri itu... dia hanya memanfaatkannya agar kamu merasa terikat secara moral tanpa dia harus repot dengan hukum?"
"Aku bodoh, Pa. Aku terlalu percaya padanya," bisik Arini dengan tatapan kosong. "Galang sudah menikah dengan Dita jauh sebelum dia mengenalku. Galih itu anak mereka yang katanya diadopsi, padahal anak kandung. Galang hanya butuh otakku untuk menjalankan perusahaannya."
"Lalu apa rencanamu sekarang?" tanya Papa Bayu, suaranya kini merendah namun penuh penekanan.
"Aku ingin lepas sepenuhnya, Pa. Meskipun tidak sah secara hukum negara, aku ingin dia melepaskanku secara agama. Aku tidak mau ada ikatan apa pun lagi dengan pria itu. Dan setelah itu... aku ingin dia merasakan bagaimana rasanya kehilangan segalanya, seperti dia yang sudah mempermainkan ku selama lima tahun ini."
Papa Bayu mengangguk pelan, ia meraih ponselnya dan mencari sebuah kontak. "Jika kamu ingin bertarung dengan orang licin seperti Galang, kamu butuh perlindungan. Ada seseorang yang bisa membantumu. Dia baru kembali dari London tahun lalu."
"Siapa, Pa?"
"Kevin. Kevin Mahendra."
Arini tersentak, matanya membelalak. "Kevin? Teman masa kecilku yang dulu pindah ikut orang tuanya itu? Dia sudah kembali?"
"Dia bukan lagi bocah lelaki yang suka mengejarmu di taman, Arini. Dia sekarang pengusaha sukses yang disegani, dan dia punya tim pengacara yang bisa meruntuhkan gunung jika dia mau. Papa sudah beberapa kali berkomunikasi dengannya sejak dia kembali."
"Boleh, pa. Suruh dia kemari, aku ingin bertemu dengannya. Aku ingin tau seperti apa Kevin yang sekarang."
Sementara itu, di kantor, suasana terasa makin mencekam. Galang mondar-mandir di ruangannya seperti singa kelaparan yang terkurung dalam sangkar.
"Sania! Bagaimana perkembangan pencarianmu?!" teriak Galang saat asistennya masuk.
"Maaf, Pak. Semua aset atas nama Bu Arini tidak ada. Karena Bu Arini sangat mencintai anda dan menggunakan nama anda di setiap aset yang beliau beli. Beliau benar-benar menghilang," lapor Sania dengan wajah pucat.
Galang terdiam, memang benar semua aset atas namanya, tidak ada satupun aset atas nama Arini. Karena Arini sangat mempercayai nya waktu itu.
"Cari ke rumah ayahnya! Sekarang!"
"Tapi Pak, bukankah Bapak sendiri yang bilang kalau Bu Arini sudah putus hubungan dengan ayahnya sejak lima tahun lalu?"
Galang menggeram, teringat bagaimana ia dulu tidak pernah mengenal orang tua Arini, bahkan saat menikah pun,mereka hanya melakukan video call sebagai syarat formal.
"Pasti ada celah. Arini tidak punya siapa-siapa lagi selain aku! Dia pasti akan memohon untuk kembali saat uangnya habis."
Tiba-tiba, ponsel Galang berbunyi. Sebuah nomor asing. Ia segera mengangkatnya dengan harapan itu adalah Arini.
"Halo! Arini, jangan gila! Kembali sekarang atau—"
"Ini bukan Arini," suara bariton yang berat dan tenang memotong kalimat Galang. Ada nada dingin yang membuat bulu kuduk Galang meremang.
"Siapa ini? Di mana Arini?!"
"Saya Kevin Mahendra. Mulai detik ini, segala urusan komunikasi terkait Arini, baik itu masalah pribadi maupun sisa urusan profesional, akan ditangani oleh kantor hukum saya. Jangan pernah mencoba menghubungi Arini secara pribadi lagi, atau Anda akan berhadapan dengan tuntutan hukum atas dasar pelecehan dan penipuan identitas."
Galang tertawa sinis, meski jantungnya berpacu. "Pelecehan apa? Dia istri saya!"
"Istri? Secara hukum negara, Anda sudah memiliki istri sah bernama Dita. Jika Anda ingin berargumen tentang pernikahan siri, klien saya sudah menyiapkan berkas tuntutan atas penipuan yang Anda lakukan untuk mengeksploitasi tenaganya demi keuntungan perusahaan. Sampai jumpa di meja perundingan, Tuan Galang."
Galang kembali menggeram kesal. "Kevin Mahendra... siapa dia? kenapa aku baru mendengar namanya?
Klik. Sambungan diputus.
Di kediaman Pak Bayu, Arini menatap layar ponselnya yang kini sudah ia ganti kartunya. Di sampingnya, seorang pria bertubuh tegap dengan setelan jas rapi menatapnya dengan tatapan lembut.
"Terima kasih, Vin. Aku tidak menyangka pertemuan kita akan dalam situasi seperti ini," ucap Arini pelan.
Kevin tersenyum tipis, sebuah senyum yang tak sampai ke matanya yang sedang mengamati berkas perusahaan milik Galang. "Aku sudah menunggumu kembali selama lima tahun, Arini. Hanya saja, aku tidak menyangka kamu kembali dalam keadaan seperti ini karena dia."
"Dia sangat bergantung pada investor Singapura itu, Kevin. Jika mereka tahu aku keluar, perusahaan itu akan runtuh," jelas Arini.
"Kalau begitu, mari kita buat mereka tahu," balas Kevin tenang. "Tapi pertama-tama, kita selesaikan dulu 'ikatan' yang dia klaim itu. Aku sudah menyiapkan saksi dan tokoh agama untuk memastikan dia menjatuhkan kata cerai secara sah di depan ayahmu. Setelah itu, baru kita bicara soal bisnis."
Arini melihat ketulusan di mata Kevin. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ia merasa beban di pundaknya sedikit terangkat. Galang mungkin mengira Arini adalah figuran dalam hidupnya, namun Galang lupa bahwa figuran pun bisa mengubah seluruh alur cerita jika mereka memutuskan untuk berhenti bermain peran.
"Aku siap, Pa. Aku siap mengambil kembali hidupku," tegas Arini kepada ayahnya.
Papa Bayu menggenggam tangan putrinya. "Lakukanlah, Nak. Papa dan Kevin akan memastikan pria itu tidak akan bisa menyentuhmu lagi."