Sejak ibu kandungku meninggal, aku hidup sebagai orang asing di rumahku sendiri. Saat perjodohan datang, harapanku hancur ketika kakak tiriku merebut segalanya dan aku dipaksa menikah dengan pria lumpuh yang tak kukenal. Namun, dari perjodohan yang tidak adil itu, aku justru menemukan ketulusan dan cinta yang selama ini tak pernah kudapatkan. Ketika kebenaran terungkap dan masa laluku ingin mengklaimku kembali, aku harus memilih—kembali pada yang seharusnya, atau bertahan pada cinta yang telah menjadi rumahku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uzumaki Amako, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 6
"Kamu beneran masak?”
Suara itu membuat tanganku berhenti di atas meja. Aku langsung menoleh.
Adrian sudah berada di pintu dapur. Kursi roda canggihnya berhenti tepat di ambang pintu, matanya menatap meja makan, lalu berpindah ke kompor, lalu ke piring yang ada di depanku.
Aku sedikit gugup tanpa alasan jelas.
“Iya… cuma sarapan sederhana,” jawabku pelan.
Ia tidak langsung menjawab. Tatapannya masih memperhatikan dapur, seolah mencoba memahami situasinya.
Para pelayan yang tadi berdiri di dekatku langsung terlihat tegang. Mereka menunduk sedikit, seperti takut dimarahi.
Namun Adrian hanya berkata pelan,
“Kalian keluar dulu.”
“Iya, Tuan,” jawab mereka cepat, lalu satu per satu keluar dari dapur, meninggalkan aku dan Adrian berdua saja.
Suasana langsung menjadi lebih sunyi.
Aku berdiri di dekat meja, tidak tahu harus melakukan apa. Sedangkan Adrian perlahan mendekat dengan kursi rodanya hingga berhenti di dekat meja makan kecil di dapur itu.
Matanya melihat dua piring di atas meja.
“Kamu masak untuk pelayan?” tanyanya.
Aku langsung panik sedikit. “Eh, bukan… maksudnya… aku tidak sengaja masak dua porsi.”
Ia mengangkat alis sedikit. “Tidak sengaja?”
Aku mengangguk pelan. “Dulu aku sudah terbiasa masak lebih dari dua porsi.”
Aku tidak menjelaskan lebih jauh. Tapi entah kenapa, ia tidak bertanya lagi.
Ia hanya menatap makanan itu beberapa detik.
“Apa ini?” tanyanya.
“Telur dadar sayur, sup ringan, sama roti panggang,” jawabku.
Ia masih diam. Lalu berkata pelan,
“Aku tidak biasa sarapan.”
Aku sedikit terkejut. “Tidak sarapan?”
Ia menggeleng kecil. “Biasanya kopi saja.”
Aku menatapnya beberapa detik, lalu tanpa sadar berkata,
“Kalau cuma kopi, lambung bisa sakit.”
Setelah mengucapkan itu, aku langsung menyesal. Takut terdengar seperti menggurui.
Tapi Adrian tidak marah.
Ia justru menatapku cukup lama, seolah tidak ada orang yang pernah mengatakan hal seperti itu padanya.
Sunyi beberapa detik.
Lalu ia berkata,
“Kamu banyak bicara juga ternyata.”
Aku langsung menunduk sedikit. “Maaf.”
Namun ia malah berkata pelan,
“Tidak perlu minta maaf untuk hal seperti itu.”
Aku sedikit terdiam.
Lalu aku mendorong pelan salah satu piring ke arahnya.
“Kalau begitu… coba sedikit saja. Kalau tidak suka, tidak usah dimakan.”
Ia melihat piring itu.
Tidak langsung menyentuhnya.
Beberapa detik berlalu.
Aku jadi gugup sendiri. “Kalau tidak mau juga tidak apa—”
Namun sebelum aku selesai bicara, ia sudah mengambil sendok.
Gerakannya pelan, tidak terburu-buru. Ia mencoba supnya lebih dulu.
Aku menatapnya tanpa sadar.
Menunggu reaksinya.
Ia diam beberapa detik setelah menelan.
Lalu mengambil telur dadar sedikit.
Lalu roti.
Aku semakin tegang.
“Tidak enak?” tanyaku pelan.
Ia menatapku sebentar, lalu berkata singkat,
“Enak.”
Aku berkedip pelan. Sedikit tidak percaya.
“Benarkah?”
“Iya.”
Jawabannya singkat seperti biasa. Tapi entah kenapa, aku merasa sedikit senang.
Aku duduk di kursi seberangnya, lalu mulai makan juga.
Kami makan dalam diam.
Tidak ada percakapan.
Tidak ada suara selain sendok dan piring.
Tapi anehnya… tidak canggung.
Tidak seperti diam yang menegangkan.
Lebih seperti… diam yang tenang.
Beberapa menit kemudian, Adrian berhenti makan. Piringnya hampir habis.
Aku cukup terkejut melihatnya menghabiskan makanan.
“Kamu bilang tidak biasa sarapan,” kataku pelan.
Ia menjawab tanpa melihatku,
“Tidak biasa. Bukan berarti tidak bisa.”
Aku tersenyum kecil.
Beberapa detik kemudian, ia berkata lagi,
“Masakanmu lebih enak dari koki di sini.”
Aku langsung kaget. “Jangan bilang begitu, nanti mereka tersinggung.”
“Mereka tidak akan tahu.”
Aku hampir tertawa kecil, tapi kutahan.
Ini pertama kalinya aku melihat sisi lain dari Adrian. Bukan dingin. Bukan kasar.
Hanya… tidak biasa berbicara banyak.
Setelah selesai makan, aku langsung berdiri dan membereskan piring secara refleks.
Saat aku membawa piring ke wastafel, Adrian tiba-tiba berkata,
“Kamu tidak perlu melakukan semua ini.”
Aku berhenti sebentar, lalu menjawab pelan,
“Aku terbiasa melakukan semuanya sendiri.”
Ia terdiam.
Aku melanjutkan mencuci piring.
Air mengalir pelan, suara air memenuhi dapur yang sunyi.
Lalu Adrian berkata lagi, suaranya lebih pelan dari biasanya,
“Mulai sekarang… kamu tidak perlu terbiasa sendirian.”
Tanganku berhenti di bawah air.
Aku tidak langsung menoleh.
Tidak langsung menjawab.
Entah kenapa, kalimat itu terasa… sangat aneh di telingaku.
Tidak perlu terbiasa sendirian.
Kalimat yang belum pernah ada yang mengatakan padaku.
Aku mematikan keran pelan.
Lalu menoleh ke arahnya.
Adrian sudah mengarahkan kursi rodanya menuju pintu dapur.
Sepertinya ia akan pergi.
Namun sebelum keluar, ia berhenti sebentar dan berkata tanpa menoleh,
“Besok masak lagi.”
Aku terdiam beberapa detik.
Lalu tanpa sadar tersenyum kecil.
“Iya,” jawabku pelan.
Dan untuk pertama kalinya sejak aku menikah dan datang ke rumah ini—
Aku tidak merasa seperti orang yang ddibuang tidak diinginkan.
Aku hanya… merasa seperti seseorang yang sedang memulai hidup baru.
Perlahan.
Sangat perlahan.
Tapi pasti.
Setelah sarapan, suasana rumah terasa sedikit berbeda bagiku.
Tidak ada yang berubah secara jelas.
Pelayan masih sangat sopan.
Rumah masih sangat besar dan sunyi.
Adrian masih dingin dan tidak banyak bicara.
Tapi… ada sesuatu yang berubah.
Setidaknya di dalam diriku.
Aku tidak lagi merasa seperti tamu yang tidak diinginkan.
Meski juga belum merasa seperti pemilik rumah.
Posisiku aneh.
Seperti orang yang tinggal di antara dua dunia.
Siang harinya, aku sedang duduk di ruang keluarga kecil sambil membaca buku yang ada di rak ketika seorang pelayan datang menghampiriku.
“Nyonya,” katanya sopan, “Tuan meminta Nyonya ke ruang kerja.”
Aku langsung menutup buku itu.
“Sekarang?”
“Iya, Nyonya.”
Aku mengangguk pelan lalu berdiri. Jantungku sedikit berdebar. Aku tidak tahu kenapa Adrian memanggilku. Selama ini kami jarang berbicara kecuali bertemu secara tidak sengaja.
Pelayan itu mengantarku ke sebuah ruangan di lantai dua. Pintu kayu besar itu terlihat lebih serius dibanding ruangan lain.
Pelayan mengetuk pintu.
“Tuan, Nyonya sudah datang.”
“Masuk.”
Suara Adrian terdengar dari dalam.
Pelayan membuka pintu untukku, lalu aku masuk sendirian.
Ruang kerja itu besar, dengan rak buku tinggi, meja kerja panjang, dan jendela besar yang menghadap taman belakang. Adrian berada di belakang meja, melihat beberapa dokumen di laptopnya.
Kursi roda canggihnya berhenti di belakang meja kerja.
Ia menutup laptopnya ketika aku mendekat.
“Duduk,” katanya singkat.
Aku duduk di kursi di depan meja.
Beberapa detik kami hanya saling diam.
Lalu Adrian membuka laci meja dan mengeluarkan sebuah kartu.
Ia mendorong kartu itu ke arahku di atas meja.
“Apa ini?” tanyaku pelan.
“Kartu debit,” jawabnya.
Aku langsung menggeleng pelan. “Aku tidak butuh.”
“Itu bukan pertanyaan,” katanya tenang. “Itu untuk kebutuhanmu.”
“Aku tidak punya kebutuhan banyak,” jawabku jujur.
Ia menatapku beberapa detik, lalu berkata,
“Kamu sekarang istriku. Semua kebutuhanmu tanggung jawabku.”
Aku tidak tahu harus menjawab apa.
Ia melanjutkan,
“Ada beberapa aturan di rumah ini.”
Aku langsung duduk lebih tegak.
“Aturan?” ulangku.
Ia mengangguk kecil.
“Pertama, kamu bebas melakukan apa saja di rumah ini. Tidak perlu minta izin siapa pun.”
Aku sedikit terkejut mendengarnya.
“Kedua, pelayan harus mendengarkanmu. Kalau mereka tidak sopan, bilang padaku.”
Aku langsung menggeleng cepat. “Mereka sangat baik.”
Ia tidak menanggapi, hanya melanjutkan.
“Ketiga, kamu tidak perlu bekerja di rumah ini kalau tidak mau. Tapi kalau kamu mau memasak, silakan.”
Aku menunduk sedikit. “Aku memang suka memasak.”
“Iya. Aku sudah tahu.”
Aku sedikit bingung. “Sudah tahu?”
Ia menatapku datar.
“Masakanmu tadi pagi.”
Aku baru sadar maksudnya, lalu mengangguk pelan.
Ia lalu berkata lagi, suaranya sedikit lebih serius,
“Aturan terakhir.”
Aku tanpa sadar menahan napas sedikit.
“Kamu tidak perlu bertemu keluargamu kalau kamu tidak mau.”
Aku langsung terdiam.
Kalimat itu… langsung menyentuh sesuatu di dalam dadaku.
Ia melanjutkan,
“Tapi kalau mereka datang ke sini dan membuat masalah, aku yang akan urus.”
Aku menatapnya, sedikit tidak percaya.
“Kenapa?” tanyaku pelan.
Ia menatapku balik.
Beberapa detik ia tidak menjawab.
Lalu akhirnya ia berkata,
“Karena kamu sekarang bagian dari rumah ini.”
Bukan karena cinta.
Bukan karena perasaan.
Bukan karena kasihan.
Tapi kalimat itu tetap terasa… hangat.
Bagian dari rumah ini.
Bukan orang luar.
Bukan beban.
Aku menunduk pelan. “Terima kasih.”
Ia mengangguk kecil, lalu berkata,
“Ada satu hal lagi.”
Aku kembali menatapnya.
“Besok malam ada acara makan malam dengan rekan bisnis. Kamu ikut.”
Aku langsung panik sedikit. “Aku?”
“Iya.”
“Aku tidak pernah datang ke acara seperti itu.”
“Kamu hanya perlu datang dan duduk di sebelahku. Tidak perlu bicara banyak.”
Aku masih terlihat ragu.
Ia lalu berkata,
“Tenang saja. Mereka lebih takut padaku daripada kamu pada mereka.”
Aku sedikit kaget mendengar itu, lalu tanpa sadar tersenyum kecil.
Ia melihatku tersenyum, lalu berkata,
“Itu pertama kalinya aku lihat kamu tersenyum.”
Aku langsung kaget dan menunduk malu.
“Aku sering tersenyum,” kataku pelan.
“Tidak di rumah ini,” jawabnya.
Aku tidak bisa membantah.
Karena mungkin… dia benar.
Ia kemudian menutup pembicaraan,
“Kamu boleh pergi.”
Aku berdiri pelan. Namun sebelum keluar, aku berhenti di depan pintu dan menoleh.
“Tuan Adrian.”
Ia menatapku.
“Terima kasih… untuk semuanya. Termasuk… tidak memaksaku menjadi orang lain.”
Ia tidak langsung menjawab.
Beberapa detik kemudian ia berkata pelan,
“Aku juga tidak suka dipaksa menjadi orang lain.”
Aku menatapnya beberapa detik, lalu mengangguk pelan dan keluar dari ruang kerja.
Saat pintu tertutup di belakangku, aku menghela napas panjang.
Hidupku memang tidak berjalan seperti yang seharusnya.
Aku tidak menikah dengan orang yang dijodohkan untukku.
Aku tidak mendapatkan keluarga yang mencintaiku.
Aku tidak mendapatkan kehidupan yang kupikir akan kumiliki.
Tapi mungkin…
Aku mendapatkan sesuatu yang tidak pernah kuduga.
Seseorang yang tidak banyak bicara, terlihat dingin, tidak romantis.
Seseorang yang sulit dimengerti.
Tapi juga…
Seseorang yang diam-diam melindungiku
tanpa banyak kata.