Elizabeth Zamora atau yang biasa di panggil dengan Liz telah terjebak dalam pernikahan kontrak yang membawa dia pada titik terendah dalam hidupnya.
Akankah Liz bisa melalui takdir yang telah digariskan semesta untuknya ??
Happy Reading 💜
Enjoy 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ratu_halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 6
Akhirnya Revan benar-benar datang. Tapi pria itu tidak menghubungi Liz lagi ketika sudah sampai dirumah sakit. Revan justru langsung menuju ke ruangan operasi setelah bertanya dimana letaknya pada nurse saat berpapasan di koridor.
"Pak Revan," Liz berdiri, tentu untuk menyambut kedatangan Revan. Mau bagaimana pun Revan masih atasannya.
"Liz," Revan menghampiri Liz sambil tersenyum, senyum yang tidak pernah dia berikan pada siapapun kecuali pada Liz.
Saat Revan sudah di hadapan Liz, dia melihat sosok pria asing duduk tenang di kursi tunggu.
Revan melirik pria itu kemudian menatap Liz, bertanya tanpa suara.
"Oh iya, Pak Revan, kenalkan ini Tama."
Tama masih duduk, seperti tidak ada niatan sedikit pun untuk berkenalan dengan Revan.
Kedua pria itu saling tatap dengan tatapan permusuhan yang sangat kental. Padahal mereka baru saja bertemu beberapa menit lalu.
"Liz, bisa kita bicara sebentar ?"
Liz mengangguk, "Boleh, Pak. Ayo," Tanpa meminta izin pada Tama, Liz meninggalkan suami kontraknya itu sendirian.
Liz dan Revan berjalan sedikit jauh ke ujung koridor dekat pintu emergency.
"Liz, siapa pria itu ?" tanya Revan langsung ke inti nya.
Liz terdiam, dia tidak mungkin jujur pada Revan kalau Tama adalah suami nya, meskipun hanya di atas kertas.
"Oh, hanya kenalan saya, Pak. Memang nya kenapa ?" tanya Liz berusaha tenang meski telah sengaja berbohong pada Revan.
"Tidak apa-apa, Liz. Ehm, maaf kalau saya lancang. Liz, darimana kamu mendapatkan uang untuk biaya operasi Ibu ? Sekali lagi maaf, Liz. Saya tau keuangan kamu, dan saya juga sudah menawarkan diri untuk membantu, tapi kamu menolak."
Liz tersenyum, "Bapak tidak perlu memikirkan hal itu. Semua pembayaran sudah selesai. Ibu akhirnya bisa di operasi. Terimakasih atas kemurahan hati Pak Revan. Bantuan Pak Revan dengan memberikan kelas VIP untuk ruang perawatan Ibu, itu sudah lebih dari cukup Pak. Saya tidak mau merepotkan Pak Revan lagi."
Hati Revan serasa tercubit. Dia tidak suka Liz berkata begitu. Rasanya seperti ada jarak namun tak terlihat dengan jelas.
"Oh iya, Pak. Bagaimana, apakah Bapak sudah mendapatkan pengganti saya ?"
'Tidak ada yang bisa menggantikan posisi kamu, Liz. Baik di perusahaan maupun di..... hati saya.'
"HRD sudah membuka lowongan. Tapi belum ada kriteria yang masuk untuk menggantikan kamu sebagai sekretaris saya." Jawab Revan, nada nya tak lagi lembut.
"Yasudah, kalau begitu saya permisi, Liz. Saya akan menjenguk Ibu kalau keadaanya sudah membaik."
Revan pamit. Liz menatap Revan dengan perasaan yang campur aduk.
Liz kembali ke kursi tunggu. Liz melihat Tama masih di sana dengan posisi yang sama.
'Yurike, aku salut padamu. Kau kuat juga hidup dengan manusia sekaku dia,' Ucap Liz dalam hati.
"Apa kamu sudah mengajukan pengunduran diri seperti yang ku minta ?" tanya Tama membuat Liz sedikit kaget sebab dia kira Tama tertidur.
"Su-sudah. Tapi aku belum bisa meninggalkan perusahaan dalam waktu dekat ini."
"Kenapa ?"
"Ya karena harus ada gantinya dulu. Nggak mungkin kan posisi sekretaris kosong. Kasihan Pak Revan, dia pasti kerepotan."
Tama membuka matanya, lalu senyum miring terbit dibibirnya.
"Alasan klise."
Dahi Liz berkerut, dengan ekspresi bingung tapi tidak bertanya.
🍄
Sementara itu di tempat dan waktu berbeda.
"Ugh..ahh, enak sekali Daf, Please, jangan berhenti, ahh." Suara racauan dan desahan dari mulut Yurike menggema dikamar hotel kelas atas.
Di belakangnya berdiri seorang pria kekar bernama Dafa. Laki-laki yang menjadi selingkuhannya selama hampir setahun belakangan.
Dafa terus memompa inti Yurike, menghentak-hentakkannya berkali-kali sampai tubuh Yurike berguncang hebat.
Setelah adegan panas itu berakhir, keduanya ambruk di kasur dalam keadaan naked.
"Kau hebat, Daf. Kau selalu bisa memuaskan ku." Kata Yurike dengan nafas yang masih terengah-engah.
"Kalau begitu jangan lupa transferannya, baby. Aku janji akan selalu siap kapan saja saat kamu menginginkan kehangatan."
Yurike tidak keberatan memberikan uang pada Dafa berapa pun nominalnya. Toh dia punya usaha sendiri. Bisnisnya mencangkup dunia kuliner serta fashion. Meski semua modalnya berasal dari Tama, tapi setiap prosesnya Yurike yang turun tangan langsung.
"Sudah aku transfer, 20 juta." ucap Yurike dengan entengnya.
Dafa tersenyum puas. Sudah setahun dia memiliki income lain selain dari pekerjaan nya. Lumayan untuk bersenang-senang di club yang berbeda tiap malam.
"Aku pulang malam ini. Ingat, jangan hubungi aku saat aku dirumah. Nanti akan ku hubungi jika sudah senggang."
"Baik, Tuan Putri. Apapun yang kamu katakan, aku akan turuti."
Mereka kembali melakukannya entah sudah berapa kali. Sampai akhirnya Yurike sudah sangat lelah dan ketiduran di kamar itu. Sementara Dafa sudah lebih dulu meninggalkan hotel.
Sore harinya, Yurike mengendarai mobilnya sendiri menuju rumah utama. Rumah yang dia tinggali dengan Tama dan Nenek Zalia. Nenek dari suaminya.
Sampai di rumah utama, langit sudah gelap. Jam menunjukkan pukul 7 malam.
Yurike masuk ke dalam rumah dengan wajah letih. Bukan karena pekerjaan tapi karena di gempur habis-habisan oleh Dafa.
"Selamat malam, Nek." Yurike menyapa Nenek yang duduk seorang diri di ruang tengah.
"Hem." Jawab Nenek ketus.
Sebenarnya Nenek baik, hanya saja perempuan tua itu sudah lelah dengan sikap cucu menantunya yang mulai tidak tau diri. Pulang sering larut. Tidak pernah makan bersama di meja makan. Terutama, Yurike tidak pernah mengurusi semua keperluan Tama.
"Eh, kamu sudah pulang, Yuri ?!"
Yurike langsung menoleh ke sumber suara.
Deg.
Yurike mematung.
"L-liz," gumam Yurike dengan suara bergetar yang nyaris tak terdengar.
Liz tersenyum hangat. "Ayo sini, gabung. Aku buatkan puding susu buat Nenek. Kamu boleh mencoba nya juga," Ucap Liz sambil melewati Yurike yang wajahnya berubah seputih kertas.
"Ya ampun, dihias begini jadi cantik sekali puding susunya," Puji Nenek Zalia menerima sepiring kecil puding yang sudah di potong Liz.
"Tunggu, Nenek foto dulu." Ucap Nenek sambil mengambil ponsel apel kroak dengan tiga boba nya di atas meja.
Nenek berkali-kali mengambil gambar, kemudian memposting foto itu dengan caption. 'Puding susu paling cantik, secantik yang membuatnya 😘'
"Kau sudah pulang ?" Tiba-tiba suara Tama membuyarkan lamunan Yurike.
Yurike menatap Tama dengan tatapan penuh tanya, tapi Tama tidak memperdulikan nya sama sekali.
Tama malah duduk bergabung dengan Nenek dan Liz.
"Cobain, Tam. Aku buat sendiri." Ucap Liz membuat darah Yurike bergejolak.
"CUKUP!" Pekik Yurike dengan nada naik satu oktaf. "SEBENARNYA APA YANG TERJADI DISINI ?" tanya Yurike penuh penekanan disetiap suku katanya.
"Loh, kok kamu malah tanya ? Bukannya kamu yang nyuruh Tama menikah lagi ?!" Tanya Nenek membuat Yurike tak mampu menjawabnya. Yurike sungguh tak menyangka, ide gilanya benar-benar dilakukan Tama dan kini Nenek sudah tau.
"Sudah-sudah, lebih baik kamu mandi dan ganti baju. Bau-mu membuat Nenek mual."