Clarindra Arabella, siswi kelas tiga SMA yang tinggal selangkah lagi menuju kelulusan, tak pernah membayangkan hidupnya akan berubah dalam satu keputusan sepihak.
Di saat teman-temannya sibuk mempersiapkan ujian akhir dan masa depan, Clarindra justru dipaksa menerima kenyataan pahit—ia harus menikah.
Bukan dengan pria seusianya.
Melainkan dengan seorang pria dewasa… yang bahkan tak pernah ia kenal.
Demi alasan sederhana namun kejam—orang tuanya akan pindah ke luar negeri, dan mereka tak ingin meninggalkan putrinya sendirian.
Di balik keputusan itu, tersembunyi kesepakatan antara dua keluarga besar.
Nama besar keluarga Hardinata menjadi jaminan keamanan Clarindra… sekaligus awal dari keterikatannya.
Zavian Hardinata.
Pria itu bukan sekadar pewaris keluarga kaya raya. Ia adalah sosok bebas, penuh pesona, namun sulit dikendalikan. Seseorang yang lebih terbiasa bermain dengan hidupnya sendiri… daripada terikat dalam satu hubungan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon candra pipit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jutek
Clarinda akhirnya memutuskan keluar rumah.
Ia menutup pintu utama dengan sedikit keras, lalu menghela napas panjang.
“Daripada stres lihat muka Pak Tua itu terus,” gumamnya.
Dengan motor Bik Imah, Clarinda berkendara menyusuri kompleks perumahan elit tempat ia kini tinggal bersama Zavian.
Kompleks itu berbeda dari bayangannya. Biasanya perumahan identik dengan rumah-rumah yang seragam, kaku dan berdempet. Tapi di sini, setiap rumah punya bentuk sendiri. Ada yang bergaya klasik Eropa dengan pilar tinggi, ada yang modern minimalis dengan dinding kaca lebar, ada pula yang bernuansa tropis dengan banyak tanaman hijau merambat di pagar.
Jarak antar rumah pun luas. Tidak berdempetan seperti komplek biasa. Di antara tiap bangunan ada taman selebar dua sampai tiga meter, membuat udara terasa lega. Pepohonan tertata rapi di sepanjang jalan. Tak ada kabel-kabel yang menggantung di langit-langit.
Clarinda berjalan sambil memperhatikan semuanya.
“Enak juga ya kalau rumah kayak gini. Pasti nggak ada yang kepo,” celetuknya sendiri.
Ia terus melaju hingga keluar gerbang kompleks. Satpam menyapanya dengan senyum sesuai sop sembari membuka pintu gerbang komplek yang besar.
"Baru ya Kak?" Sapa satpam patuh baya itu sopan.
"Iya Pak, di kav. 24."
"Oh rumahnya Tuan Zavian."
Clarinda mengangguk dan tersenyum. Agak maksa sih. 'Ck, terkenal juga itu bapak tua,' batin Clarinda.
"Hati-hati Kak." Sebenarnya Satpam ingin bertanya lebih jauh. Apa hubungannya Clarinda dengan Zavian.
"Makasih Pak."
Clarinda sudah keluar komplek.
Tujuan sebenarnya sederhana. Ia harus menghafal jalan menuju sekolah besok.
Ia memperhatikan setiap belokan, ruko di sudut jalan, taman kecil dekat lampu merah, bengkel motor di seberang apotek, lalu halte bus yang berada tak jauh dari simpang empat.
“Belok kanan, lurus, ketemu bakery, terus kiri...” gumamnya sambil mengingat.
"Nah sampai sini udah ngerti aku."
Setelah cukup yakin hafal jalurnya, Clarinda mampir di minimarket indojuli. Pendingin udara dan rak camilan di dalamnya terasa memanggil.
“Aku butuh hadiah karena sudah jadi anak mandiri,” katanya.
Ia masuk dan membeli beberapa barang keperluan. Ada sampo, sisir baru, perlengkapan wanita, snack pedas favoritnya, dan yang terakhir es krim cone ukuran jumbo.
Setelah membayar, ia keluar dan duduk di kursi besi depan minimarket. Belanjaan ia letakkan diatas meja. Clarinda membuka bungkus es krim dan menjilat bagian atasnya dengan puas.
"Hemmm... Nikmatnya... Nah, ini baru hidup.”
Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama.
Di meja sebelah duduk seorang pria, perkiraan sama seperti Zavian. Rambutnya agak panjang tapi rapi, kaus hitam, celana jeans robek. Dan lihat itu sepatunya... mahal.
Meskipun tak begitu tahu fashion lelaki tapi Clarinda tahu itu barang branded.
Ia terlihat santai sambil memainkan ponsel satu tangan dan merokok dengan tangan lain.
Awalnya Clarinda tidak peduli, cuma melirik sebentar. Es krim cone nya lebih penting.
Tapi beberapa menit kemudian, arah angin berubah. Asap rokok mulai meluncur ke wajahnya.
Ia mengernyit. Geser sedikit.
Asap datang lagi.
Clarinda menahan sabar. Ia kembali menikmati es krimnya.
Asap ketiga datang lebih parah.
Kini ia menurunkan es krimnya perlahan dan menatap pria itu tajam.
“Bang, bisa pindah gak? Asapnya ganggu!”
Pria itu menoleh. Matanya menyipit, lalu bibirnya membentuk senyum nakal.
Alih-alih pindah, ia justru mengisap rokok dalam-dalam lalu meniupkan asap membentuk lingkaran ke arah Clarinda.
Clarinda melotot.
“Kurang kerjaan banget sih!”
Pria itu tertawa kecil.
“Lucu juga marahnya. Makin cantik.”
“Males!” Clarinda judes.
Ia bangkit berdiri. "Dasar edan!" Gumamnya. Es krimnya masih setengah, tapi mood-nya sudah habis. Ia meletakkan cone itu di atas meja begitu saja lalu berbalik pergi.
“Eh, mau ke mana?” panggil pria itu.
Tak digubris.
“Kita belum kenalan.”
Clarinda tetap berjalan cepat menuju parkiran tempat motornya berada. Motor Bik Imah sebenarnya.
Hari ini benar-benar menyebalkan. Di rumah ada Zavian yang nyebelin. Di luar ketemu lelaki yang membuatnya kesal.
“Kenapa sih pria dewasa semua menyebalkan?!” gerutunya sambil mengenakan helm.
Ia menstarter motor dan melaju pergi tanpa menoleh lagi.
Masih di depan minimarket.
Pria perokok tadi menatap arah motor Clarinda yang menjauh sambil tertawa kecil.
Pintu kaca minimarket terbuka. Seorang pria lain keluar sambil memegangi perut.
“Sudah tuntas?” tanya si perokok.
“Yup.” Pria itu menghembuskan napas lega.
“Kebangetan kamu, Vin. Mampir ke sini cuma buat boker.”
“Kebelet, Ren.”
Dua pria itu adalah Reno dan Kevin, anggota geng Zavian.
Kevin duduk melihat sisa es krim di meja.
“Ini punya siapa?”
“Bocil judes.”
“Mulai deh.”
“Imut-imut. Aku culik aja kali ya."
Reno terkekeh mengingat wajah Clarinda yang jutek tadi.
Kevin menatap Reno.
“Ganggu anak gadis orang Lu!"
Kevin menyandarkan tubuhnya ke kursi.
“Coba tadi bisa ke rumah Zavi,” keluh Kevin. “Bisa nyantai, makan gratis.”
“Ck, kalau dia sudah bilang gak ya gak,” jawab Reno pendek.
Mereka berdua tadi mengikuti mobil Zavian saat pulang karena ingin tahu dimana rumah baru Zavian. Namun ketika akan masuk gerbang perumahan mereka ketahuan. Zavian melarang mereka ikut masuk. Satpam perumahan sigap, mobil mereka terhalang portal.
***
Malam harinya, Zavian pulang ke rumah dengan kepala pening. Beberapa waktu lalu ia baru saja rapat penting dengan sang kakek.
Begitu masuk, ruang tamu kosong. Televisi menyala tapi tak ada orang. Ia melihat snack berantakan di meja dan bantal sofa terjatuh ke lantai.
"Astagaaaaa...!!!" Ia menghela nafas menahan geram. "Anak barbar."
"Hei Bocah!!!" Suaranya menggelar.
"Apaan sih teriak-teriak," Clarinda muncul dari dapur.
"Lihat apa yang kau lakukan!"
Clarinda melihat sekitar nya. "Terus?"
"Terus, terus?" Zavian geram. "Beresin gak?"
"Ya nanti lah, emang belum selesai."
"Sekarang!"
"Aku lagi masak mie gak sempat. Kalau mau beresin sana," bantah Clarinda. Gadis itu buru-buru kembali kedapur.
Bik Imah memang tak ada di rumah jika malam hari. Jadi Clarinda masak sendiri. Meskipun ia tak bisa masak tapi lumayan lah bisa buat mie instan sendiri.
Zavian memejamkan mata sebentar.
“Sabar... sabar...”
Zavian terpaksa membereskan apa yang terlihat di matanya. Namun baru beberapa detik terdengar suara gaduh dari dapur.
PRANG!
Zavian spontan menuju dapur. Clarinda yang menyadari kedatangan Zavian menoleh. Ia tertawa canggung.
"He,he,he... Nggak sengaja... Tanganku licin. Hehehhe..." Mangkok yang akan ia jadikan wadah mie dengan kuahnya yang panas itu jatuh.
Zavian menghela napas lagi kali ini lebih panjang. Ruang tamu masih belum beres sekarang malah lihat dapur seperti kapal pecah.
"Clarinda....!" Zavian geram sekali. Lalu meninggalkan gadis itu yang masih tertawa nyengir. Jika meladeni gadis ini kepalanya bisa pecah. Sudah cukup tadi ia bwrdepat dengan kakek Damar. Alhasil ia memang kalah.
*
Zavian mengeringkan rambutnya dengan handuk. Ia menatap bayangan dirinya di cermin. Mulai besok kesibukannya akan bertambah. Menjadi ketua yayasan salah satu sekolah swasta yang ada di bawah naungan nama besar Hardinata.
Ia sempat marah kenapa sang kakek belum juga memberinya jabatan di perusahaan seperti kerabatnya yang lain.
"Persetan dengan calon pemimpin," gumamnya kesal.
Ya, saat ini ia adalah pemimpin. Tapi sayang di luar ekspektasi Zavian.
"Hanya satu tahun. Kamu bisa belajar banyak Zavi," ujar kakek Damar kala itu.
Hari-hari berlangsung seperti biasanya. Pengantin baru ini tak lepas dari keributan meskipun kecil. Clarinda sendiri tak mau tahu urusan Zavian.
Apalagi pekerjaan Zavian. Yang ia tahu, suaminya itu adalah calon pewaris keluarga Hardinata.
Bagi Clarinda ini hanya sementara. Ia fokus pada sekolahnya yang sebentar lagi ujian.
"Bentar lagi lulus, aku langsung nyusul Mamah sama Papah ke Jerman," gumamnya tersenyum. Ia berpikir melanjutkan kuliah di sana.
Pagi ini seluruh murid berkumpul di lapangan. Perkenalan Kepala Sekolah baru. Dan itu...
Membuat Clarinda shock.
wah ada yg CLBK nih nanti jad jadi jendonggggg ,,
nanti pasti terbayang bayang rasanya kenyal"