Selama 25 tahun, Rashaka Nareswara setia menjaga cintanya. Ia tetap bertahan, dan berharap pada satu nama yang tak pernah berubah di hatinya. Hingga akhirnya, penantian panjang itu berbuah manis.
Ia berhasil mempersunting wanita yang ia cintai sejak dulu, memulai kehidupan rumah tangga yang tampak sempurna.
Namun, kebahagiaan itu tak pernah benar-benar utuh. Di balik senyum sang istri, tersimpan bayang-bayang masa lalu yang belum selesai. Masalah demi masalah yang perlahan meretakkan kehangatan yang mereka bangun.
Akankah cinta yang bertahan selama seperempat abad itu mampu melawan luka yang belum sembuh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GAYATRI S2 — BAB 06
Langkah Gayatri terhenti tepat di depan sebuah pintu kamar. Nomor yang tertera di sana tampak biasa saja, namun entah mengapa jantungnya berdegup jauh lebih cepat. Tangannya terangkat, hampir menyentuh gagang pintu, tetapi tertahan di udara. Ada rasa takut yang tiba-tiba muncul. ia takut akan apa yang akan ia lihat, takut akan kondisi anaknya.
Di belakangnya, Shaka berdiri diam, memberi ruang tanpa mengganggu. “Dia ada di dalam,” ucapnya pelan.
Gayatri menarik napas dalam, mencoba menenangkan diri. Meski begitu, dadanya tetap terasa sesak. Dengan sedikit ragu, ia akhirnya mendorong pintu itu perlahan. Dan di sanalah ia melihat putranya.
Keandra tengah duduk di atas ranjang, kaki kirinya terbalut perban tebal dengan penyangga yang membuatnya tak bisa bergerak bebas. Wajahnya tampak sedikit pucat.
“Ke-Keandra?” lirih Gayatri, suaranya hampir tak terdengar. Untuk beberapa detik, waktu seolah berhenti, Gayatri hanya berdiri mematung di sana.
Keandra yang awalnya menunduk perlahan mengangkat wajahnya, seolah merasakan kehadiran seseorang. Tatapan mereka bertemu, dan seketika ia membeku.
“I-Ibu?” gumamnya, seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Keandra bahkan mengucek matanya pelan karena tak percaya. “I-Ibu? Ba-bagaimana Ibu bisa ada di sini? Aku … aku tidak bermimpi, kan?”
Gayatri tidak mampu menjawab. Matanya langsung dipenuhi air mata. Tanpa sadar, ia melangkah mendekat, hingga jarak di antara mereka benar-benar hilang.
“Keandra, putra Ibu. Bagaimana bisa kau terluka seperti ini? Dan … bagaimana bisa kau tidak memberitahuku jika kau terluka?” tanyanya dengan suara bergetar.
Itu saja sudah cukup untuk meruntuhkan seluruh pertahanan yang selama ini Keandra bangun. Ia tak sanggup lagi untuk menyembunyikan air matanya.
“Ibu ….”
Tanpa menunggu lebih lama, Keandra langsung meraih tubuh ibunya dan memeluknya erat, seolah takut jika sosok itu akan menghilang begitu saja jika ia melepaskannya.
Gayatri sempat terhuyung, namun segera membalas pelukan itu tanpa ragu. Tangannya melingkari tubuh anaknya, menepuk punggungnya berulang kali. Air mata mereka jatuh bersamaan, tanpa bisa ditahan.
“Aku sangat merindukanmu,” ungkap Keandra, suaranya tertahan di antara isak yang tak bisa lagi ia bendung.
Gayatri memejamkan mata, menahan sesak yang memenuhi dadanya. “Ibu juga merindukanmu, Nak. Kenapa kau tidak memberitahu Ibu jika kau terluka? Apa kau sudah tidak menyayangi Ibu lagi? Kau berani menyembunyikan hal ini pada Ibumu?”
Pelukan itu tidak langsung terlepas. Seolah waktu yang hilang selama tiga bulan ingin mereka gantikan dalam satu momen. Keandra menggenggam erat pakaian Gayatri, memastikan bahwa semua ini nyata, bahwa ibunya benar-benar ada di hadapannya, bukan sekadar bayangan di layar ataupun halusinasinya.
“Aku takut membuat Ibu khawatir,” gumamnya lirih.
Gayatri mengusap rambutnya dengan lembut. “Tentu saja Ibu akan merasa khawatir. Ibu mana yang tidak khawatir jika tahu anaknya terluka?”
Keandra perlahan menjauh, menatap wajah ibunya dengan mata yang masih basah. “Maafkan aku, Ibu. Aku hanya tidak ingin mengganggu momen pernikahanmu.”
Pandangan Keandra lalu tertuju kepada Shaka yang berdiri tak jauh di belakang Gayatri, seolah ingin memberi ruang bagi ibu dan anak itu untuk saling melepas rindu.
“Paman … m-maksudku Ayah. Terima kasih sudah membawa Ibuku ke sini,” katanya dengan tulus.
Shaka hanya mengangguk singkat, lalu berjalan mendekat saat Gayatri memberinya isyarat.
“Bagaimana kondisimu, Nak?” tanya Shaka perhatian. “Bagaimana bisa kau mengalami cedera kaki?”
Tatapan Gayatri kemudian jatuh pada kaki Keandra yang terbalut perban. Wajahnya kembali berubah, kali ini dipenuhi kekhawatiran.
“Iya, bagaimana bisa kau sampai cedera seperti ini, Nak? Bukankah sebelumnya kau baik-baik saja? Apakah terasa sangat sakit?” tanyanya pelan seraya meringis, membayangkan rasa sakit yang dialami Keandra.
Keandra menggeleng, meski tidak sepenuhnya jujur. “Hanya kecelakaan kecil saat latihan. Jangan khawatir, dokter bilang kondisi kakik akan segera membaik.”
Gayatri menghela napas, lalu kembali memeluknya, kali ini lebih hati-hati, seolah ingin melindunginya dari rasa sakit apa pun yang bisa saja dialami putranya.
“Kalian mengobrol saja lebih dulu, aku harus mengangkat panggilan penting lebih dulu,” katanya berpamitan untuk keluar.
Gayatri dan Keandra mengangguk pelan, menatap punggung Shaka yang keluar ruang rawat itu secara bersamaan lalu kembali melanjutkan obrolan mereka sekaligus melepas rindu yang selama ini tertahan.
Sementara di luar ruangan, Shaka menemui Nathan yang sudah menunggunya di luar.
“Kenapa kau memberitahuku sekarang, Nath? Apa kau tahu betapa berartinya Keandra bagi istriku?!” sentak Shaka, murka. Karena kelalaian Nathan membuatnya kena omel istrinya padahal mereka baru saja menikah.
Nathan tertunduk. “Maafkan saya, Tuan. Saya juga baru mengetahuinya, dan alasan mengapa saya tidak memberitahu Anda sesegera mungkin karena saya tak ingin mengganggu momen indah yang Anda jalani,” terang Nathan memberikan alibinya.
Shaka menghela napas panjang lalu memijat pelipisnya pelan. “Tapi kau jadi mengganggu saat bulan maduku, Nath. Dan lagi, apa kau tidak lihat bagaimana istriku begitu cemas tadi?! Kau ini bagaimana,” omelnya lagi, meluapkan semua kekesalannya pada Nathan.
“Sekali lagi mohon maafkan saya, Tuan.” Nathan menunduk hormat. “Saya akan pastikan tidak akan terjadi hal seperti ini lagi ke depannya.”
“Pergilah, urus pekerjaanmu yang lain di sini,” titahnya seraya mengibaskan tangannya.
Namun, baru dua langkah Nathan pergi, Shaka kembali memanggilnya.
“Apa ada yang Anda butuhkan, Tuan?” tanyanya.
Shaka menoleh ke arah pintu ruang rawat Keandra sebelum akhirnya menjawab. “Carikan dokter terbaik untuk merawat putra sambungku, dia harus segera sembuh secepat mungkin. Aku tidak tega melihatnya kesakitan seperti itu, apalagi jika dia harus mengganggu waktu istriku.”
“Baik, Tuan.” Nathan berlalu pergi dari sana secepat mungkin sebelum Shaka kembali memanggilnya dan memintanya melakukan hal lain.
Semenjak Shaka dekat dengan Gayatri, tugas Nathan bertambah random. Meskipun ia mendapatkan bayaran lebih untuk setiap tugasnya itu, tapi tetap saja Nathan merasa tak habis pikir.
***
“Astaga, Kaluna. Banyak sekali belanjaanmu, dari mana kau mendapatkan semua uang itu?” Nadya terkejut saat melihat tas belanjaan Kaluna yang begitu banyak. Tak ayal, ia sedikit merasa iri terhadap anak tirinya itu.
Mahesa yang baru saja pulang bekerja pun sama terkejutnya melihat semua belanjaan putrinya itu. “Dari mana kau mendapatkan semua uang untuk berbelanja?” tanyanya penuh selidik.
Lalu, dengan bangga Kaluna mengeluarkan kartu kredit pemberian Shaka. “Ayah Shaka yang memberi kartu ini padaku. Dia bilang, aku bisa menggunakannya untuk membeli kebutuhanku,” jelasnya.
Mahesa mengernyit, ada perasaan janggal saat putrinya memanggil orang lain sebagai ayah. Apalagi saat ia melihat kartu kredit berwarna hitam di tangan Kaluna itu, hatinya mendadak merasa panas.
“Dia mungkin memberikannya padamu karena dia tahu kau adalah anak bungsu dari putrinya, tetapi bukan berarti kau bisa menghabiskan uangnya,” ucap Nadya mengingatkan Kaluna dengan sinis.
“Lalu kenapa? Ini tidak ada hubungannya denganmu, kan? Ayah sambungku saja tidak masalah, kenapa kau jadi cerewet?” balas Kaluna tak suka dengan sikap Nadya yang seolah mengguruinya itu.
“Kaluna! Jaga bicaramu. Dia juga adalah ibu sambungmu!” sentak Mahesa tajam yang langsung membuat Kaluna berjingkat kaget.