Namanya Arumi, seorang gadis yang tinggal di desa Dukuh Asem.
Arumi adalah seorang gadis yang baik hati dan suka membantu orang tuanya.
Namun, ketenangan itu perlahan menghilang, saat bayi-bayi di desanya mulai meninggal satu-persatu dengan darah yang mengering.
Arumi juga mulai sering melihat penampakan aneh, bahkan sampai hampir disakiti oleh sesosok kuntilanak merah.
Kuntilanak itu selalu mengatakan, kalau ibunya Arumi telah membuat hidupnya hancur.
Arumi dan adiknya, yang bernama Bella, mulai merasa curiga dengan kedua orang tuanya.
Apalagi, mereka sering tampak terlihat aneh.
Arumi juga merasakan keanehan dengan dirinya, sebab dirinya sering melihat penampakan aneh.
Sebenarnya, apakah yang terjadi? Dan mampukah Arumi mengungkap semuanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lili Aksara 04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Karena merasa tak tenang, akhirnya Bella memutuskan untuk pergi keluar kamar.
Daripada ia tidak bisa terlelap, jadi lebih baik mencari udara segar saja.
Bella keluar dari kamarnya dengan langkah yang hati-hati.
Tak sengaja, gadis itu melewati kamar Arumi.
Namun, tak seperti biasanya, pintu kamar kakaknya itu malah terbuka.
"Loh, tumben banget pintunya kebuka kayak gini, padahal biasanya dikunci," batin Bella sedikit merasa heran.
Karena penasaran, Bella pun memutuskan untuk masuk saja.
Kamar itu gelap gulita seperti biasanya.
Bella segera menyalakan lampu.
Cetrek.
Alangkah terkejutnya Bella, kala ia melihat Arumi tak sadarkan diri di lantai, dengan jendela yang terbuka.
"Tolong, ini Kak Arumi pingsan!" teriak Bella dengan keras, membuat heboh seisi rumah.
Sontak saja, Pak Broto, Nyai Sawitri, dan para pembantu segera berlarian ke kamar itu.
Tentu saja Bella berteriak seperti itu, karena tenaganya tidak cukup kuat untuk mengangkat tubuh Arumi ke atas ranjang.
"Ya Allah, kenapa ini kakakmu, kok pingsan gini?" tanya Nyai Sawitri khawatir.
"Nggak tahu, Bu, pas aku dateng juga udah kayak gini," jawab Bella.
Arumi segera diangkat ke atas ranjang oleh Pak Broto, karena Pak Broto tidak ingin anaknya sampai sakit dan kedinginan akibat terlalu lama berbaring di lantai.
Nyai Sawitri membalurkan minyak kayu putih pada badan Arumi, lalu mendekatkan minyak kayu putih itu pada hidung Arumi agar putrinya itu bisa cepat sadar.
Arumi mengerjapkan matanya, menyesuaikan dengan cahaya dari lampu kamar yang memasuki retinanya.
Arumi sedikit terkejut kala menyadari ia dikelilingi oleh keluarga dan para pembantu rumah itu.
"Ya Allah, Kak, Kakak udah sadar, kan?" ucap Bella.
"Udah, Dek, aku kenapa?" tanya Arumi.
"Kamu pingsan, Nak. Sebenarnya kamu itu kenapa? Lihatlah, itu jendela saja sampai terbuka seperti itu," jawab Nyai Sawitri sekaligus bertanya.
Arumi terdiam. Ingatan ketika Susi melilitnya kembali terngiang di kepala gadis itu.
Namun, Arumi menyadari, ia tak bisa menceritakan semuanya pada orang tuanya.
Arumi dan Bella sudah merasa curiga pada orang tuanya, jadi ia tidak mungkin menceritakan penyebab dari dirinya yang pingsan.
Walaupun Arumi sedikit heran juga mengapa ia bisa tiba-tiba pingsan begitu saja.
"Itu, Bu, tadi kan aku ngerasa gerah. Terus ya udah, aku buka jendela. Pas aku lagi duduk santai gitu, kepalaku pusing banget. Setelah itu, aku nggak ingat apa-apa lagi," ucap Arumi menjelaskan.
Arumi hanya bisa berharap, bahwa penjelasannya ini cukup masuk akal.
"Maaf ya, Bu, aku harus bohong," batin Arumi.
Nyai Sawitri dan Pak Broto mendengarkan penjelasan sang anak.
Namun, mereka tidak merasa curiga.
Penjelasan dari Arumi itu memanglah masuk akal menurut keduanya, sebab terkadang rasa pusing yang hebat bisa tiba-tiba datang begitu saja dan bisa membuat orang itu tak sadarkan diri.
"Oh, jadi gitu. Ya udah, kalau gitu kamu istirahat aja, Arum," ucap Pak Broto.
"Baik, Pak," jawab Arumi.
"Ayo kita pergi, biarkan Arumi istirahat,," ajak Nyai Sawitri sambil menatap pembantunya.
Mereka mengangguk, lalu keluar dari kamar itu.
Sebelum ikut keluar juga, Bella menutup jendela kamar itu.
"Woi, Kak, istirahat ya kamu. Awas lo, ya, jangan buka jendela lagi," ucap Bella mengingatkan.
"Iya, Dek, nggak akan," jawab Arumi.
Bella melangkahkan kakinya keluar dari kamar sang kakak.
"Kenapa kuntilanak itu bisa pergi, ya? Pas dia hampir mengangkatku ke atas, aku langsung nggak inget apa-apa. Masa dia berhenti cuma gara-gara aku pingsan, sih," batin Arumi bertanya-tanya.
Di sisi lain, Arumi juga merasa heran.
Pasalnya, rupanya kuntilanak itu juga tak hanya mengincar bayi saja.
Padahal, Arumi sempat mengira jika hantu itu tidak akan memangsa orang dewasa.
Arumi tahu, yang menculik para bayi itu memang bukanlah manusia.
Jika penculik bayi itu adalah manusia, lalu untuk apa ia menginginkan darahnya?
Jelas saja itu tak logis.
Namun, Arumi memilih untuk terlelap, sebab hari telah semakin larut.
***Sang surya kembali menampakan sinarnya yang hangat, membangunkan jiwa-jiwa yang sebelumnya masih berada di alam mimpi.
Arumi bangun dengan badan yang segar.
Untungnya, badannya tidak apa-apa.
"Huh, syukurlah aku nggak papa. Tapi, semalem itu beneran lemes banget, padahal kan aku nggak di apa-apain juga sama kunti itu," batin Arumi.
Namun, Arumi tidak memikirkan lebih lanjut, gadis itu menyingkap tirai jendela kamarnya.
"Lailahailallah, lailahailallah," suara tahlil terdengar dari luar, memecah keheningan di pagi buta itu.
Rupanya, bayinya Bu Halimah sudah dimakamkan.
"Pagi sekali dimakamkannya," batin Arumi.
Arumi melirik jam yang ada di kamar itu, dan saat ini jam baru menunjuk 07.00.
Padahal, kemarin saja bayinya Bu Lela dimakamkan jam 10.00.
Arumi memang tak mengikuti pemakaman itu, karena keluarganya pun tidak ikut, jadi Arumi memilih untuk tidak ikut juga.
Apalagi, Arumi sedikit merasa ngeri dengan kondisi jenazah bayinya Ibu Halimah.
Arumi keluar dari kamarnya.
Saat ia sampai di meja makan, rupanya bapak dan ibunya sudah ada di sana.
"Pagi, Pak, Bu," sapa Arumi.
"Pagi, Nak. Kamu sudah nggak apa-apa, kan?" tanya Nyai Sawitri.
"Nggak papa, Bu, aku udah baik-baik aja kok," jawab Arumi.
"Adikmu apa belum bangun?" tanya Pak Broto.
"Belum, Pak, masih tidur dia," jawab Arumi.
"Tolong bangunkan adikmu itu, ajak dia makan!" perintah Nyai Sawitri.
"Ya, baiklah," jawab Arumi.
Arumi berdiri, kakak dari Bella itu melangkahkan kakinya menuju ke kamar sang adik.
Tok, tok, tok.
"Dek, udah bangun belum?" tanya Arumi sambil mengetuk pintu.
Hening. Tak ada jawaban dari Bella, artinya dia memang belum bangun dari tidurnya.
Ceklek.
Arumi membuka pintu dengan santai.
"Bell, bangun, disuruh makan tuh sama Ibu," ucap Arumi sambil mengguncangkan tubuh Bella.
Namun, gadis itu masih setia dengan selimut yang menutup sampai ke lehernya.
"Bella, bangun Bell!" teriak Arumi.
Bella langsung tersentak, gadis itu langsung membuka matanya dengan perasaan sebal pada Arumi.
"Ya Allah, Kak, kamu itu kok jahat banget sih pas bangunin aku," ucap Bella dengan kesal.
"Ya habisnya, udah tahu aku tuh emosi kalau kamu nggak langsung bangun," jawab Arumi.
Arumi segera kembali ke meja makan, diikuti dengan Bella di belakangnya.
***Keluarga Pak Broto kini sedang menikmati sarapan pagi mereka.
"Neng Arumi, hari ini kamu nggak usah ke kebun. Para pekerja Bapak liburkan, soalnya nggak ada yang harus dikerjakan di kebun," ucap Pak Broto.
"Yah. Terus, aku ngapain dong? Kan Bella sekolah, masa aku di rumah aja, sih," jawab Arumi.
Arumi sedikit enggan, karena ia akan merasa bosan apabila di rumah saja.
"Kan kamu bisa jalan-jalan ke luar itu lo, Neng. Nggak usah di rumah terus juga," kata Nyai Sawitri.
"Iya sih, Bu, ya udahlah," jawab Arumi.
"Ibu sama Bapak emangnya mau ke mana?" tanya Bella.
"Kami mau pergi, ada urusan," jawab Nyai Sawitri.
***Tong, tong, tong.
Suara kentongan terdengar keras dari rumah Pak RT.
Arumi, yang saat itu sedang bersantai di teras rumahnya, merasa sedikit terkejut mendengar suara itu.
Orang tua dan adiknya sudah berangkat beberapa menit yang lalu, dan kini hanya tersisa ia dan para pembantu saja di rumah itu.
"Waduh, Non, itu teh ada apa, ya?" tanya Bi Ijah yang sedang menyiram bunga.
"Aku nggak tahu juga, Bi, kayaknya ada pertemuan deh itu," jawab Arumi.
Jam baru pukul 10.00, tetapi sepagi ini sudah ada perkumpulan di rumah RT.
Namun, Arumi kini mengerti, mungkin saja itu alasan mengapa pemakaman bayinya Bu Halimah dimajukan jadi pagi sekali.
"Bi, aku pamit ya, mau pergi ke rumahnya Pak RT. Aku penasaran," pamit Arumi pada Bi Ijah.
"Iya, Non, hati-hati," jawab Bi Ijah.