Pernikahan adalah tentang kepercayaan. Setidaknya itu yang diyakini oleh Arini selama lima tahun pernikahannya dengan Galang. Namun saat kenyataan itu terungkap secara tidak sengaja, ternyata pernikahan mereka hanyalah sebuah lelucon yang dibuat oleh suami dan selingkuhannya selama ini. Dan dia hanyalah wanita bodoh yang tidak tau apa-apa, dan sudah bekerja keras untuk membangun reputasi suaminya sebagai istri yang baik selama ini.
Hancur dan merasa di bohongi sudah pasti, lalu apa yang akan dilakukan Arini setelah mengetahui semua kebohongan suaminya?
Apakah dia bisa bertahan di kerasnya hidup tanpa Galang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eys Resa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Arini Tau
Suara amarah Galang di ruang makan itu terdengar menggelegar memecah keheningan di rumah pagi itu hingga membuat Dita yang masih terlelap dibangunkan secara paksa oleh suara Galang yang sedang diliputi rasa amarah dan khawatir di sa'at yang bersamaan.
Dengan rambut sedikit berantakan, Dita melangkah keluar dari kamar tamu dengan buru-buru dan menemukan Galang sedang berdiri mematung di depan bibi dengan wajah yang tak bisa di jelaskan.
"Mas Galang? Ada apa? kenapa pagi-pagi sudah teriak-teriak? " tanya Dita sambil menyentuh lengan Galang untuk meredakan emosinya.
"Arini pergi dari rumah tanpa pamit kemarin siang saat kita pergi ke mall. Dia membawa dua koper besar. Dan aku tidak tau sekarang dia ada dimana. " kata Galang frustasi.
Dia terdiam, otaknya segera berfikir cepat untuk mencerna informasi yang bari saja dia dengar. "Mungkin dia sedang pergi dengan teman-temannya atau ada pekerjaan di luar kota yang harus dia selesaikan. Kamu tau sendiri kan dia bersikap aneh kemarin. Mungkin karena ini. "
"Dua koper bukan untuk liburan bersama teman atau pergi ke luar kota untuk melakukan pekerjaan. Dia mungkin sudah berniat untuk pergi dari rumah ini, Dita. " Galang mengacak rambutnya frustasi, kecemasan mulai menghinggapi dirinya, tentang perusahaan yang selama ini ia banggakan.
Dita mencoba tetap tenang, meski hatinya juga mulai merasa was-was.
"Dengar, mas. Daripada kita cuma menebak-nebak saja. Sebaiknya kamu segera bersiap ke kantor. Dia pasti masuk kerja. Kita berdua tau, Arini tidak punya siapa-siapa kecuali ayahnya yang sakit-sakitan itu. " kata Dita mencoba menyadarkan kewarasan Galang.
Galang menarik nafas panjang, mencoba mengumpulkan kembali sisa-sisa kewarasan nya. "Kau benar, dia tidak mungkin meninggalkan perusahaan dan proyek besar yang sedang kita kerjakan. Dia sangat profesional, tidak mungkin sembrono dan menghancurkan perusahaan yang sudah kami bangun bedua. Aku akan memberi pelajaran padanya karena sudah membuatku cemas dsn khawatir seperti ini. "
Namun, Harapan Galang pupus sudah saat ia masuk ke lobby perusahaan. Suasana kantor terasa berbeda, lebih suram dsri biasanya. Banyak mata karyawan yang menatapnya aneh. Dan begitu sampai di ruangan Arini, ia melihat ruangan itu sudah bersih. Tidak ada tumpukan berkas dokumen di atas meja, hanya sebuah ruangan kosong yang dingin.
Sania, wakil Arini berjalan mendekar dengan wajah penuh keraguan. "Pak Galang, maaf. Ibu Arini sudah menyerahkan surat pengunduran diri secara resmi kemarin. Beliau juga sudah berpamitan kepada kami semua."
"Apa?! Kenapa kau membiarkannya?!" Galang menyambar map itu dan membacanya dengan tangan bergetar. "Dia tidak bisa berhenti begitu saja! Kontraknya masih berjalan! "
"Maaf, Pak, tapi bu Arini mengatakan senha urusan administratif sudah ia selesaikan dengan HRD dan belaiu sudah melimpahkan semua tugas kepada saya. " jawab Sania lirih.
Dengan Amarah yang memuncak Galang segera memanggil pimpinan HRD untuk menjelaskan apa yang sudah terjadi kemarin.
"Bagaimana kau bisa membiarkan Arini mengundurkan diri tanpa memberitahuku? " bentak Galang saat pimpinan HRD itu sudah berada di depannya.
"Ma... maaf Pak, Kami tidak bisa menolak nya. Karena Bu Arini tidak memiliki kontrak kerja yang mengikat di perusahaan. Jadi, beliau bisa mengundurkan diri kapan saja. Selain itu Bu Arini mengancam kami, jika kami tidak mengabulkan pengunduran dirinya, beliau akan membawa kasus ini ke jalur hukum. " jelas pimpinan hrd itu.
"Sial, kenapa kalian tidak ada menghubungiku? "
"Bu Arini mengatakan tidak perlu menghubungi Anda, karena anda sudah tau tentang pengunduran dirinya."
Galang mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga Buku-buku jarinya memutih. Lalu menghela nafas berat dan menyuruhnya pergi. Galang kembali mengacak rambutnya dengan kasar, lalu merogoh ponselnya dan menghubungi nomor Arini. Panggilan pertama di tolak. Pada pangggilan ke dua baru diangkat oleh Arini. "
"Hallo, ada apa? " suara Arini khas bangun tidur.
"Arini, dimana kamu. " Apa-apaan ini, surat pengunduran diri... aku tidak menerimanya. Cepat datang ke kantor! " pekik Galang tanpa basa basi.
Arini menjauhkan telponnya, lalu kembali menempelkannya saat tidak terdengar lagi suara Galang. Dia juga sedikit menguap untuk meregangkan ototnya yang tegang setelah bangun tidur.
"Oh, kamu sudah masuk kerja. Baguslah. Mulai sekarang urus saja perusahaanmu sendiri. Jangan hanya tau bersenang-senang dengan keluarga kecilmu. "
Deg.
Galang terdiam sesaat mencerna kata-kata Arini,apa dia tau sesuatu. Namun Galang segera menyadarkan dirinya dan kembali fokus di telpon.
"Apa maksudmu? Jangan bercanda Arini, ayolah jangan seperti anak kecil. Aku menunggumu di kantor. "
" Maksudku? Bukankah, maksudku sudah jelas? Aku berhenti dari perusahaan. Tidak perlu menungguku lagi, Galang. Silahkan bekerja dengan baik dan bersenang-senanglah dengan anak dan istrimu yang sebenarnya. Jangan jadikan aku figuran. Aku tidak mau lagi menjadi budak yang terus bekerja untukmu." jawab Arini sekenanya, laku memutuskan sambungan telepon secara sepihak.
"Sial! " Galang membanting ponselnya dengan kasar, "Apa dia sudah tau semuanya? enggak... enggak, aku harus memintanya kembali, dia tidak boleh meninggalkan perusahaan ini. Aku harus mencarinya dan membujuknya untuk kembali. Dia tidak boleh pergi begitu saja meninggalkan ku. "
Ia tau keadaan perusahaan akan dalam kondisi gawat jika Arini keluar dari perusahaan. Karena selama ini dia adalah pilar perusahaan. Tanpa membuang waktu, Galang memerintahkan Sania untuk mengumpulkan seluruh anggota divisinya untuk berkumpul di ruang rapat.
"Dengarkan saya baik-baik!" Galang berdiri di ujung meja rapat, menatap tim pengembangan dengan sorot mata mengancam. " Kabar pengunduran diri Arini tidak boleh keluar dari perusahaan ini. Jika sampai pihak investor tau, terutama investor dari Singapura itu tau kalau Arini sudah tidak bekerja lagi disini, mereka akan menarik seluruh investasi mereka. Dan para investor lain akan melakukan hal yang sama.Kita bisa bangkrut dalam semalam.
"Tapi, pak. Investor itu hanya percaya pada Bu Arini. " Sania memberanikan diri untuk bicara. "Mereka hanya akan bekerja sama dengan kiya jika bu Arini yang menanganinya. Laku bagaimana jika mereka menanyakan tentang keberadaannya Bu Arini dalam rapat? "
"Karena itulah, cari cara! Cari cara untuk mengelabui mereka. Katakan Arini sedang sakit atau sedang liburan atau apalah. Yang penting jangan sampai kerja sama kita dengan mereka gagal. "
Semua orang saling pandang, bingung sudah pasti. Karena mereka tau, bagaimana Arini bekerja cukup profesional dalam menghadapi investor dan membujuk mereka agar mau bekerja sama dengan perusahaan mereka. Belum lagi, mereka tau kalau Arini sangat akrab dengan para investor yang bekerja sama dengan perusahaan mereka.
"Tapi sebelum itu terjadi aku akan mencari Arini dan membujuknya untuk kembali ke perusahaan. Aku yakin dia pasti kembali. "