NovelToon NovelToon
Suami Rahasia

Suami Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / CEO / Beda Usia
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: candra pipit

Clarindra Arabella, siswi kelas tiga SMA yang tinggal selangkah lagi menuju kelulusan, tak pernah membayangkan hidupnya akan berubah dalam satu keputusan sepihak.
Di saat teman-temannya sibuk mempersiapkan ujian akhir dan masa depan, Clarindra justru dipaksa menerima kenyataan pahit—ia harus menikah.
Bukan dengan pria seusianya.
Melainkan dengan seorang pria dewasa… yang bahkan tak pernah ia kenal.
Demi alasan sederhana namun kejam—orang tuanya akan pindah ke luar negeri, dan mereka tak ingin meninggalkan putrinya sendirian.
Di balik keputusan itu, tersembunyi kesepakatan antara dua keluarga besar.
Nama besar keluarga Hardinata menjadi jaminan keamanan Clarindra… sekaligus awal dari keterikatannya.
Zavian Hardinata.
Pria itu bukan sekadar pewaris keluarga kaya raya. Ia adalah sosok bebas, penuh pesona, namun sulit dikendalikan. Seseorang yang lebih terbiasa bermain dengan hidupnya sendiri… daripada terikat dalam satu hubungan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon candra pipit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ditinggal sendirian

Lampu neon berkelip di sepanjang jalan, memantul di kaca-kaca gedung tinggi, seolah memberi isyarat bahwa dunia malam baru saja dimulai.

Seperti biasa, Zavian Hardinata berada di tempat yang sudah akrab baginya.

Sebuah club elite di pusat kota.

Dentuman musik elektronik mengguncang dinding. Lampu sorot menari liar. Bau alkohol, asap rokok, dan parfum mahal bercampur menjadi satu, menciptakan aroma khas yang hanya bisa ditemukan di tempat seperti itu.

Di sisi timur club, area VIP tampak jauh berbeda dari lantai dansa biasa. Lebih tenang, lebih privat, dan tentu lebih mewah. Sofa kulit hitam tersusun rapi mengitari meja kaca besar yang penuh botol minuman mahal. Pelayan datang dan pergi membawa pesanan tanpa henti.

Di sanalah Zavian duduk bersama geng nya.

Para pria mapan dengan setelan mahal dan jam tangan fantastis, yang menganggap malam sebagai tempat melepas penat dari urusan bisnis.

Sementara beberapa wanita seksi duduk menemani mereka, tertawa genit, menuangkan minuman, sesekali menyentuh lengan pria-pria itu dengan manja.

Namun satu orang tetap berbeda dari semuanya.

Zavian.

Ia duduk santai menyandarkan punggung pada sofa, satu tangan memegang gelas berisi minuman amber, satu tangan lagi sibuk memainkan ponsel. Wajah tampannya tampak datar. Tatapannya dingin dan tak tertarik pada siapa pun di sekelilingnya.

Salah satu wanita bergaun merah mencoba mendekat, duduk sedikit lebih rapat.

“Tuan Zavian, mau saya temani?” godanya lembut.

Tanpa menoleh, Zavian hanya menggeser gelas ke meja. Ia membiarkan wanita itu menuangkan minuman di gelasnya.

Lalu memberikan nya pada Zavian.

Pria tampan itu meneguknya sedikit sedangkan si wanita memijat lembut pundaknya.

“Tidak perlu.”

Wanita itu tersenyum kaku lalu berhenti perlahan.

Tawa para sahabatnya pun pecah.

“Lihat tuh!” seru teman bernama Reno. “Ditolak lagi.”

"Takut kena pelet dia," Kevin—temannya yang lain menimpali.

“Gila sih,” sambung pria lain—Leo. “Kalau gue setampan dia, tiap malam udah beda pasangan.”

“Masalahnya,” sahut Reno sambil menepuk bahu Zavian, “si Zavi ini terlalu suci.”

Gelak tawa kembali memenuhi meja.

Zavian tetap cuek. Ia meneguk minumannya lagi.

“Ayolah Zav,” ujar Bram, teman paling tua di geng itu. “Malam ini saja. Usiamu sudah tiga puluh lima. Sayang sekali kalau kau tak mencobanya.”

“Sekali coba pasti ketagihan,” tambah Reno.

“Sayang sekali kalau ‘adikmu’ yang perkasa itu karatan.”

Semua orang tertawa makin keras.

Zavian menoleh lambat, menatap satu per satu wajah teman-temannya.

“Kalian selesai?”

Hening sejenak.

"Eh, stop-stop Bos kita sudah keluar taring," Leo meringis canggung.

Reno memberi isyarat agar wanita yang menemani Zavian menyingkir.

"Masa lalu sudah lewat Bos. Ayolah nikmati hidupmu," Bram mengangkat gelas mengajak bersulang.

"Tunggu. Tapi kau masih normal kan? Kau naksir diantara kita?" Reno iseng bicara tapi ia khawatir juga jika itu benar. Ia masih sangat suka wanita

Seketika bantal sofa melayang tepat mengenai wajah Reno.

“Mulutmu.”

Tawa kembali pecah.

Zavian ikut tersenyum tipis kali ini. Jarang sekali ia benar-benar terpancing.

Meski memang sulit ditebak, kadang dingin kadang brutal kadang kiding.

Tapi satu hal Zavian memang punya batas yang tak pernah ia langgar. Club baginya hanya tempat minum, bercanda, dan menghabiskan waktu dengan teman-teman.

Tidak lebih.

Ia tak pernah membawa wanita pulang.

Tak pernah bermain lebih jauh.

Malam ini, entah kenapa, ia justru merasa cepat bosan.

Tatapannya turun ke layar ponsel.

Ada kiriman foto, ia membukanya. Foto yang membuatnya tersenyum tipis hampir tak terlihat.

***

Pagi datang dengan cahaya hangat yang masuk dari sela tirai kamar.

Clarinda masih terlelap pulas, memeluk guling dengan posisi tidur berantakan. Rambutnya acak-acakan. Selimut sudah entah ke mana.

Jam di meja menunjukkan pukul sembilan lewat tiga puluh.

Beberapa detik kemudian matanya terbuka.

Ia menatap langit-langit kamar.

Lalu menoleh ke jam.

Dan—

“AAAAA!”

Clarinda bangun seketika.

“TELAT!”

Ia meloncat dari kasur, hampir tersandung sandal sendiri.

“Sekolah, telat!”

Ia berlari ke kamar mandi, lalu berhenti mendadak.

“Eh... bentar.”

Ia mengingat sesuatu.

Sekolah masuk pukul tujuh.

Sekarang hampir setengah sepuluh.

Ia menatap cermin.

"Ya ampuuuuun..." Ia tepok jidat.

“Yaudah sih... telat parah.”

Ia menghela napas panjang lalu kembali keluar kamar dengan langkah lemas.

“Bolos deh.”

Lagi pula ia bingung harus ke sekolah naik apa. Biasanya naik motor sendiri. Tapi motor itu masih ada di rumah lamanya. Jarak sekolahnya kali ini lebih jauh.

Clarinda menguap sambil membuka pintu kamar.

Saat itulah suara berisik terdengar dari dapur.

Cling cling!

Suara piring.

Gelas.

Entahlah apa saja itu.

Tapi yang menggoda... aroma masakan yang luar biasa harum langsung menyerbu hidungnya.

Perutnya berbunyi nyaring.

Kruuuk.

“Nih perut tau aja waktunya diisi!”

Ia berjalan cepat menuju dapur.

Namun begitu sampai, ia justru berhenti mendadak.

Di sana berdiri seorang wanita sekitar empat puluhan memakai celemek, sedang menumis sayur dengan cekatan.

Clarinda berkedip.

“Lho... Bibi siapa?”

Wanita itu menoleh lalu tersenyum ramah.

“Eh, sudah bangun Non.”

“Saya Bi Imah. Tadi subuh saya baru ke sini.”

Clarinda masih bengong.

Bi Imah tertawa kecil.

“Saya disuruh Tuan Besar ke sini bantu urus rumah.”

"Tuan besar?"

"Tuan Damar, Non."

"Oh."

Damar Hardinata rupanya tahu cucu bungsunya tak bisa diandalkan mengurus rumah tangga. Dan jelas Clarinda pun belum siap hidup mandiri. Jadi ia memilih salah satu pekerja di kediaman Hardinata untuk mengurus rumah Zavian dan Clarinda.

Namun Bik Imah hanya datang pagi hingga sore saja. Malam hari rumah itu hanya ada Zavian dan Clarinda.

Kakek Damar membayangkan Clarinda yang merengek bergantung pada Zavian. Sementara Zavian harus bisa mengurus remaja berisik itu jika malam-malam nya ingin damai.

Ya begitulah yang diperkirakan Kakek Damar.

"Bi Imah masak apa?"

"Soto daging, lengkap dengan printilan nya Non." Bi Imah tersenyum.

"Wuuuiih kelihatannya enak tuh."

“Non Clarinda tunggu di meja makan saja. Bibi siapkan.”

“Ah nggak usah, Bi. Biar Clea ambil sendiri.”

Clarinda langsung mengambil piring sendiri.

Ia menyendok nasi dengan semangat seperti orang kelaparan tiga hari.

“Ayo Bi, makan bareng."

“Nanti saja dulu Non, Bibi masih bersih-bersih, nih belum selesai."

“Bersih-bersih juga butuh tenaga, Bi.”

Clarinda mencicipi sesendok kuah soto nya. "Heeemmm..."

Bi Imah tersenyum geli.

"Enak, Non Clarinda?"

"Ini enak banget Bi, seger. Aku pasti nambah nanti." Clarinda snaagt menikmati makanannya.

“Oh ya, panggil Clea aja, Bik. Lebih pendek.”

“Iya... Non Clea.”

Clarinda duduk di meja makan yang tak jauh dari dapur lalu mulai makan dengan lahap.

Baru tiga suap, ia mendongak. Ia ingat sesuatu.

“Oh ya Bi... Tuanmu nggak turun makan?”

Seingatnya, sejak kemarin lelaki itu belum makan bersamanya.

“Tuan Zavian sepertinya belum pulang, Non.”

Sendok Clarinda berhenti di udara.

“Hah?”

“Mobil Tuan belum masuk garasi.”

Clarinda menatap kosong ke depan.

Jadi...

Semalam aku ditinggal sendirian di rumah?

Ia menurunkan sendok perlahan.

Dasar pak tua!!!

Teganya meninggalkan seornag gadis sendirian malam-malam.

Kalau aku yang imut ini di culik gimana.

Awas kau ya!!!

Makiannya menggema dalam hati.

**

Clarinda kini sudah berpakaian rapi, rambut dikuncir asal. Ia menikmati hari bolosnya. Dari pada cuma leha-leha di kamar saja lebih baik keliling mengenali daerah tempat tinggal barunya ini.

Kunci motor sudah di tangan. Motor matic Bik Imah ia pinjam.

Namun baru sampai ruang tamu, pintu depan terbuka.

Masuklah Zavian.

Masih memakai pakaian semalam, jas disampirkan di lengan, wajah sedikit lelah namun tetap tampan menyebalkan.

Clarinda melotot.

“KAMU!”

Zavian berhenti.

Ia menatap Clarinda dari kepala sampai kaki.

“Mau kemana kamu?”

“Jangan alihkan topik!”

Clarinda berjalan cepat mendekat.

“Kenapa semalam nggak pulang?!”

Zavian membuka jam tangannya dengan santai.

“Urusan orang dewasa banyak.”

Clarinda nyerocos.

"Aku nggak peduli urusanmu. Tapi tega-teganya ninggalin aku sendirian di rumah. Hah!"

"Kenapa emang?"

“Pak tua tidak punya hati!”

Bi Imah buru-buru pura-pura sibuk menyapu sudut ruangan.

Zavian melewati Clarinda begitu saja menuju tangga. Clarinda mengejar menghalangi jalan.

“Minggir. Aku mau mandi.”

“Jawab dulu!”

Zavian menghela nafas.

“Kamu takut sendirian?”

Clarinda terdiam sesaat.

“T-tidak!”

“Kalau begitu kenapa marah? Gak jelas!”

“Itu karena... karena...”

Clarinda kehabisan alasan.

Zavian menatapnya beberapa detik, lalu tersenyum tipis.

“Kangen, pingin ditemani tidur?"

Clarinda merah padam.

“ENAK AJA!"

"Siapa juga yang mau!"

Zavian mendekat ke telinga Clarinda. "Aku nggak tertarik tidur bareng bocil."

Mata Clarinda terbelalak, pipinya memerah. Ia terpaku ditempat.

Zavian melanjutkan langkahnya naik tangga sambil tertawa pelan.

"Jangan main terlalu jauh, kamu belum tau daerah sini, nanti ilang," pesan Zavian sebelum bayangannya menghilang.

"Dasar Pak tua! Awas kau!!!" Teriak Clarinda.

"Iiiih, nyebelin!"

Bi Imah menahan senyum. Mengeluarkan ponsel mengetik sesuatu lalu ia kirimkan pada seseorang.

Tuan Damar.

1
Nona aan Chayank
Buaahahahhaha....🤣🤣🤣
partini
hemmm dah keliatan kamu kecintaan ma suamimu,aihhh why pihak cewek yg jatuh cinta duluan ga cowoknya ga pernah si saddddddd
Marini Suhendar
Dasar bocah😄
partini
ko cuma sama baby sitter doang apa duda anak satu ,, alamak tensi nanti suamimu cle
Titien Prawiro
Bagaimana jadinya
partini
👍👍👍
Erna Riyanto
ihh..pak tua bisa ae nyari kesempatan,pke pegang" segala🤣🤣
Marini Suhendar
Awas yah..nanti pada bucin kalian ya 😄
Marini Suhendar
Jangan cemburu pak tua😄
partini
ingio ingon wedus kaleee 😂😂
wah ada yg CLBK nih nanti jad jadi jendonggggg ,,
partini
kenapa selalu cewek yg klepek klepek duluan sih jarang bnggt cowoknya
partini
tinggal jaa kek yg lama cucu mu juga rada"suka keluar malam lupa pulang cucu mentu juga sama so 50/50
partini
jirrr Ampe lupa, maklumlah di club siapa sih yg ingat di rumah ga ada
partini
nah Lo habis megang apa gunung kembarnya 😂😂😂
nanti pasti terbayang bayang rasanya kenyal"
partini
😂😂😂😂 lah kaya bola di tendang
partini
hemmm SE anak kalian yg bikin ulah
partini
good story
partini
lanjut Thor Setu ceritanya
candra pipit: siap... lanjut 😍
total 1 replies
partini
lelaki bebas di luar OMG
partini
menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!