Namanya Arumi, seorang gadis yang tinggal di desa Dukuh Asem.
Arumi adalah seorang gadis yang baik hati dan suka membantu orang tuanya.
Namun, ketenangan itu perlahan menghilang, saat bayi-bayi di desanya mulai meninggal satu-persatu dengan darah yang mengering.
Arumi juga mulai sering melihat penampakan aneh, bahkan sampai hampir disakiti oleh sesosok kuntilanak merah.
Kuntilanak itu selalu mengatakan, kalau ibunya Arumi telah membuat hidupnya hancur.
Arumi dan adiknya, yang bernama Bella, mulai merasa curiga dengan kedua orang tuanya.
Apalagi, mereka sering tampak terlihat aneh.
Arumi juga merasakan keanehan dengan dirinya, sebab dirinya sering melihat penampakan aneh.
Sebenarnya, apakah yang terjadi? Dan mampukah Arumi mengungkap semuanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lili Aksara 04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Pemakaman akan kembali dilakukan esok hari, karena tidak memungkinkan bila melakukan pemakaman di malam hari.
Arumi memperhatikan wajah kedua orang tuanya yang tampak pucat.
Arumi tidak tahu mengapa, namun gadis itu dapat menangkap raut kegelisahan di wajah ibu dan bapaknya.
"Pak, Bu, kalian itu kenapa? Kok mukanya pucat gitu, macam orang sakit saja," ucap Arumi.
Nyai Sawitri gelagapan, wanita itu seperti bingung untuk menjawab.
"Em, itu, Ibu cuma ngeri saja, Neng, lihat jenazah bayinya Bu Halimah," jawab Nyai Sawitri.
"Oh, iya Bu, kasihan sih memang," ucap Arumi.
Sementara itu, Lestari juga terus menangis melihat kondisi jenazah adiknya.
Arumi dan Bella juga berusaha menenangkan, walaupun nyatanya itu tak berhasil menghentikan tangis Lestari.
"Yang sabar, Tari, kamu yang kuat," ucap Arumi sambil memeluk Lestari.
"Tari nggak suka, Kak. Tari nggak kuat lihat adik bayi. Yang udah bikin adik bayi kayak gini itu jahat," Lestari masih terus terisak.
Arumi dan Bella juga ikut menangis, mereka juga sangat sedih atas meninggalnya bayi Ibu Halimah.
Lestari memang sangatlah menyayangi adiknya.
Makanya, ketika melihat adiknya meninggal dengan tubuh yang sudah koyak, ia benar-benar sedih.
Hampir seluruh warga desa Dukuh Asem menangis malam itu.
Sebab, bayi itu tak hanya meninggal saja, namun darahnya juga kering kerontang, dengan kondisi tubuh yang terkoyak seperti habis dicabik sesuatu.
Para bapak-bapak kembali berjaga di rumah Bu Halimah.
Padahal, baru saja siang tadi mereka menguburkan bayinya Ibu Lela, tapi kini sudah ada lagi bayi yang harus dijaga mayatnya.
Para perempuan segera kembali masuk ke dalam rumah masing-masing.
Lestari juga sudah dibawa pulang oleh kedua orang tuanya.
Arumi dan Bella kembali masuk ke dalam rumah, dan pintu juga segera ditutup kembali.
"Kak, ada yang mesti aku bicarain sama kamu," ucap Bella pelan, saat mereka duduk di sofa ruang tamu.
"Ya udah, ayo di kamarku saja," jawab Arumi.
Arumi mengerti, bahwa apa yang Bella akan bicarakan ini adalah hal yang serius, jadi Arumi mengajak adiknya itu untuk bicara di kamarnya saja agar lebih privasi.
Bella setuju, kedua gadis itu beranjak menuju ke kamar Arumi.
Arumi mengunci pintu kamarnya, gadis itu duduk di pinggir ranjang.
"Jadi, ada apa, Dek?" tanya Arumi memulai pembicaraan.
"Aku ngerasa curiga sama bapak dan ibu kita, Kak," ucap Bella. Udah ada 2 bayi yang meninggal di desa ini. Dan mereka nggak pernah sedih. Aku lihat bapak sama ibu itu lebih ke arah takut daripada sedih. Padahal, apa yang harus ditakutkan? Mereka saja nggak punya bayi," lanjut Bella dengan panjang lebar.
Arumi terdiam. Di dalam hati, sebenarnya Arumi juga telah merasa curiga pada kedua orang tuanya.
Apalagi, sejak bayinya Bu Lela meninggal malam sebelumnya, mulai banyak hal aneh yang Arumi alami.
"Sebenarnya, aku juga punya kecurigaan yang sama kayak kamu, Dek. Kemarin, waktu pas aku mimpi buruk itu, aku ditemui sama seorang wanita. Wanita itu serem banget, tapi aku nggak lihat mukanya. Tapi, di mimpi itu dia bilang, kalau ibu udah ngehancurin hidup dia," jelas Arumi.
"Tuh kan, Kak. Aku tuh udah curiga dari malam kemarin. Pasti ini ada apa-apanya. Kita harus nyari tahu, aku nggak tega lihat bayi-bayi yang meninggal itu," ucap Bella.
Walaupun Bella terlihat sedikit barbar dan grasa-grusu, tapi kalau masalah nggak tegaan, gadis itu orangnya gampang sedih dan kasihan pada orang lain.
"Iya, Dek, kita akan nyari tahu soal ini. Tapi, entahlah, aku bingung juga, dari mana kita mulai mencari tahu?" Arumi menghela napas panjang.
Tak ada yang bisa ditanyai soal masalah ini, jadi Arumi benar-benar bingung.
"Aku juga nggak tahu, Kak. Tapi, sebaiknya kita mulai memantau Bapak sama Ibu," jawab Bella.
"Hmm, baiklah. Kita memang harus memantau gerak-gerik mereka," ucap Arumi.
"Ya udah, Kak, kalau gitu aku pergi dululah, mau ke kamarku," ucap Bella.
"Yakin? Nggak takut nih?" goda Arumi.
"Enggak, lagian aku nggak enak, masa iya tidur di kamarmu lagi," jawab Bella.
"Ya udah, sana pergilah. Ya, sebenarnya nggak papa sih kalau kamu mau di sini juga," ucap Arumi sambil tersenyum.
Bella tak mempedulikan ucapan Arumi.
Gadis itu langsung berlari ke kamarnya.
"Huh, dasar Bella itu. Kemarin aja takut nggak karuan, sekarang berani gitu," gumam Arumi sambil merebahkan diri ke atas kasur.
Dok, dok, dok.
Arumi tersentak kala mendengar gedoran yang cukup keras di jendela kamarnya.
Arumi merasakan jantungnya berdegup tak tentu, ia mulai diliputi rasa merinding.
"Aduh, itu siapa ya yang ngetuk jendelaku malam-malam gini," batin Arumi.
Arumi mendongak, matanya tertuju pada jam dinding yang menggantung manis di dinding kamarnya.
Jam sudah menunjuk angka 22.00, tidak mungkin ada manusia yang menggedor jendela kamar malam-malam.
Namun, rasa penasaran mengalahkan rasa takut dan logika.
Dengan nekat, Arumi beranjak menuju jendela.
Dok, dok, dok.
Gedoran itu masih ada, kali ini terdengar lebih lama.
Arumi membuka tirai jendela.
Namun, gadis itu hanya melihat kegelapan yang tampak pekat.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Arumi membuka kaca jendela, membuat udara dingin yang menusuk tulang menerobos masuk ke kamar itu.
"Hihihihihihi, aku datang," ucap sesosok kuntilanak.
Tawanya melengking dan dalam, suaranya seperti dari kedalaman sumur tua yang mengerikan.
Arumi tersurut mundur, kala arwah Susi mendekati gadis itu.
"Kau, kau yang menghabisi bayi itu, bukan?" tanya Arumi.
"Hihihihi, itu bukan urusanmu. Dengar, nyawa harus dibayar dengan nyawa, gadis manis. Kematian harus dibayar dengan kematian yang lebih banyak dan lebih sadis," ucap Susi.
"Apa maksudmu?" tanya Arumi tidak mengerti.
Sungguh, Arumi tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh sosok kuntilanak itu, ia tak tahu kematian siapa yang dimaksud.
Namun, Arumi tahu.
Sosok ini sama dengan wanita yang ada di mimpinya malam kemarin.
Dan sekarang, sosok itu nyata, ada di hadapannya.
Susi melayang semakin mendekat, kukunya yang panjang hendak mencakar wajah Arumi.
Namun, beruntungnya Arumi segera menghindar dengan cara mundur ke belakang.
"Tolong jangan sakiti aku," pinta Arumi.
"Hihihihi," Susi semakin tertawa cekikikan.
Kuntilanak itu mengibaskan rambutnya yang panjang menjuntai sampai ke tanah, dan melilit Arumi.
"Argh, lepas!" seru Arumi.
Anehnya, tidak ada yang mendengar teriakan gadis itu.
Susi terus tertawa senang, ia mempererat lilitan rambutnya, dan berusaha mengangkat tubuh Arumi ke atas.
Namun, tiba-tiba saja Arumi mencengkeram rambut Susi dengan kuat, lalu menghentakannya, membuat belitan itu langsung terlepas.
Arumi menatap Susi. Namun, kali ini tidak ada rasa takut di matanya.
Tatapan Arumi berubah.
Tatapan itu lebih tajam, namun juga dalam, seperti tatapan orang yang sudah mengenal asam garam kehidupan.
"Pergilah, anak muda, kamu tidak bisa menyiksanya," ucap Arumi.
Namun, suara itu bukan milik Arumi.
Suaranya lebih lembut, tapi juga memancarkan kewibawaan.
Susi terdiam, kuntilanak itu tampak ketakutan setelah melihat perubahan Arumi.
"Baik, Nyai, aku tidak akan melukai anak ini," ucap Susi.
Susi melayang pergi, meninggalkan kamar Arumi dengan jendela yang masih terbuka.
Seketika itu juga, tubuh Arumi jatuh ke lantai, ia tak sadarkan diri.
***Sementara itu, di kamar Bella.
Saat itu, Bella masih belum terlelap.
Adik dari Arumi itu merasakan perasaannya yang mendadak tidak enak.
"Aduh, ini kenapa ya, kok rasanya gelisah nggak karuan gini sih," ucap Bella sambil guling-guling di kasur.
Mendadak saja, hatinya diliputi rasa tak tenang.