NovelToon NovelToon
Dunia Angkasa

Dunia Angkasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Cintapertama
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Purnamanisa

Dunia Damai Sentosa, gadis cantik yang ceria itu menyimpan banyak luka masa lalu. Tak pernah ada yang tahu, di balik senyumnya yang ceria itu, Nia —panggilan akrabnya—, ternyata menyimpan luka tentang siapa dirinya.

Pertemuannya kembali dengan Angkasa Biru Cakrawala, ternyata tak seperti yang dia bayangkan. Aang —panggilan akrab Angkasa— seperti orang lain, orang baru, bukan seperti Aang yang Nia kenal dulu.

Akankah kehidupan Nia dewasa dapat menjadi obat bagi luka masa lalunya? Akankah senyuman Nia dapat mengembalikan bahagia dalam hidup Aang?

Simak kisah selengkapnya dalam Dunia Angakasa!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kekhawatiran Angkasa dan Tuan Laksono

Tuan Mahendra menatap foto Awang yang masih disimpan dengan baik di laci meja kerjanya. Semalam, pesta pertunangan Angkasa begitu meriah dan dihadiri banyak kerabat dan rekan kerja. Beberapa awak media pun ikut meliput acara semalam.

Tuan Mahendra cukup senang melihat isterinya bahagia semalam. Sepertinya isterinya sudah benar-benar melupakan tragedi belasan tahun yang lalu dan menganggap Angkasa sebagai anak kandungnya.

Ada sedih yang tiba-tiba menjalar dalam hati Tuan Mahendra mengingat tragedi belasan tahun yang lalu. Dia tahu hal itu adalah takdir. Tapi entah mengapa, dirinya belum bisa sembuh dari luka itu. Mungkin karena selama ini dia sibuk menyembuhkan luka isteri tercintanya, hingga lupa bahwa dirinya sendiri telah terluka.

"Tok... Tok..."

Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Tuan Mahendra tentang Awang.

"Masuk,"

Angkasa membuka pintu ruang kerja Tuan Mahendra perlahan. Kedua alis Tuan Mahendra terangkat, terkejut. Angkasa tak pernah menemuinya di ruang kerjanya.

"Papa sibuk?" tanya Angkasa. Tuan Mahendra beranjak dari kursi kerjanya.

"Hanya menyiapkan beberapa berkas untuk meeting besok. Ada yang ingin kamu diskusikan dengan Papa?" tanya Tuan Mahendra sambil berjalan mendekati Angkasa.

Angkasa menatap Tuan Mahendra dalam-dalam. Tuan Mahendra menatap Angkasa penuh tanya.

"Apa Papa berniat mewariskan perusahaan ke Aang?" tanya Angkasa membuat Tuan Mahendra mengerutkan kedua alisnya seketika.

"Maksud kamu? Kamu memang pewarisnya sejak dulu," kata Tuan Mahendra.

"Papa yakin?" tanya Angkasa, membuat alis Tuan Mahendra semakin mengkerut.

"Papa tidak paham maksud kamu," kata Tuan Mahendra sambil duduk di sofa yang tersedia di ruang kerjanya. Angkasa menatap Tuan Mahendra tajam.

"Semalam, adik kandung Papa, Om Rahardian, sepertinya mencurigai Angkasa bukan anak kandung Papa," kata Angkasa. Tuan Mahendra telihat terkejut.

"Bagaimana kamu tau dia curiga?" tanya Tuan Mahendra. Angkasa duduk di samping Tuan Mahendra.

"Angkasa melihat Om Rahardian mengambil sendok bekas makan Angkasa semalam," kata Angkasa. Tuan Mahendra mencondongkan badannya ke arah Angkasa.

"Kamu yakin?" tanya Tuan Mahendra memastikan Angkasa tak salah lihat. Angkasa mengangguk mantap.

Tuan Mahendra menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa. Pandangannya menerawang entah kemana. Angkasa menatap Tuan Mahendra dengan penuh rasa khawatir.

"Aang akan bantu Papa," kata Angkasa mantap. Tuan Mahendra menoleh menatap Angkasa.

"Aang akan buktikan pada semua orang yang meragukan Aang, bahwa meski tak ada setetes pun darah Mahendra yang mengalir dalam tubuh Aang, Aang pantas menjadi pewaris Keluarga Mahendra," lanjut Angkasa.

Tuan Mahendra terdiam, tak tahu harus mengatakan apa. Selama ini dia cukup menjaga jarak dari Angkasa. Bukan karena Tuan Mahendra membenci Angkasa, melainkan karena Tuan Mahendra tak ingin lagi kehilangan sosok putera yang begitu dia banggakan.

'Apa Papa bisa mengandalkanmu, Ang?'

***

Tuan Laksono berjalan mondar-mandir di dalam ruang kerja Kediaman Nyonya Lestari. Nasibnya sedang berada di ujung tanduk. Meskipun sejak semula dia tahu perbuatannya akan menghancurkannya, Tuan Laksono tetap tak dapat menahan dirinya saat melihat Nia.

Kecantikan alami, tubuh muda nan ranum, sekalipun Nia mengenakan pakaian longgar dan kedodoran, Tuan Laksono tetap terbayang masa saat Nia mengenakan seragam SMAnya. Cantik dan lugu.

Kecemasan Tuan Laksono berada dalam puncaknya saat ini. Pasalnya, semalam, sepulang dari acara pertunangan Nia dan Angkasa, Nyonya Lestari mengatakan bahwa, dia akan benar-benar menceraikan Tuan Laksono setelah pernikahan Nia digelar —yang artinya bulan depan Tuan Laksono akan kehilangan segalanya.

Tuan Laksono masih mondar-mandir, memikirkan cara agar Nyonya Lestari memaafkannya. Tak satupun terlintas. Ini bukan hanya sekedar meminta maaf. Namun juga membangun kepercayaan kembali. Bukan lagi dari nol, melainkan dari titik minus sekian yang tak dapat Tuan Laksono lakukan dengan hanya menjentikkan jari.

Tuan Laksono tak mungkin meminta bantuan Bayu. Dia tahu persis puteranya sudah membencinya sejak empat tahun yang lalu saat pertama kali Tuan Laksono berani menyentuh gadis yang dicintai puteranya.

Tuan Laksono akhirnya menghempaskan tubuhnya di atas sofa ruang kerjanya. Dirinya begitu lelah, bukan karena mondar-mandir, melainkan karena memikirkan jalan keluar dari situasi genting yang dialaminya. Tuan Laksono menghela nafas panjang, menyerah.

"Drrrttt... Drrrttt..." getar ponsel Tuan Laksono mengagetkan pemiliknya yang tengah meratapi nasibnya. Kedua alis Tuan Laksono mengerut saat membaca nama kontak yang sedang menunggu panggilannya untuk dijawab.

"Ya?"

"Hei! Halo, Laksono! Wah, selamat ya! Puterimu berhasil mendapatkan calon suami kalangan elite," puji suara diseberang.

"Langsung pada intinya saja. Kamu mau apa? Bagian saham dengan harga dibawah standar?" tanya Tuan Laksono kepada penelponnya. Peneleponnya terdengar terkekeh.

"Kamu tau rahasia besar calon besanmu?" tanya penelepon Tuan Laksono. Tuan Laksono mengerutkan kedua alisnya.

"Rahasia besar?" tanya Tuan Laksono, penasaran.

"Benar. Rahasia yang terlalu besar untuk diungkap pada publik," kata penelepon lagi, membuat Tuan Laksono penasaran rahasia apa dibalik Keluarga Mahendra.

"Apa?" tanya Tuan Laksono akhirnya.

Hening.

Penelepon Tuan Laksono terdiam sesaat membuat Tuan Laksono berdebar-debar dengan apa yang akan didengarnya.

"Putera semata wayang Tuan dan Nyonya Mahendra ternyata... bukanlah putera kandung mereka," kata penelepon Tuan Laksono. Mata Tuan Laksono membulat sempurna, tak percaya.

"Darimana kamu tau?" tanya Tuan Laksono.

"Aku sedang membawa hasil tes DNAnya. Semua menunjukkan ketidakcocokan," kata penelepon Tuan Laksono, yakin. Tuan Laksono terdiam.

"Kalau ternyata memang seperti itu, bagaimana nasib puterimu?" tanya penelpon Tuan Laksono.

"Kalau dia bukan putera kandung... berarti hak waris jatuh pada..."

"Sudah paham?" tanya penelepon Tuan Laksono.

"Tapi, selama Tuan Mahendra masih hidup..."

"Ya, selama Tuan Mahendra hidup,"

"Jangan bilang..."

"Aku bisa memberi kamu bagian," potong penelepon Tuan Laksono.

"Bagian?"

"Tentu saja aku akan mendapatkan warisannya dan kamu akan mendapat imbalan karena sudah membantuku," kata penelepon Tuan Laksono.

"Gila kamu! Dia kakakmu. Kamu tau sendiri bagaimana keamanan yang dia punya," kata Tuan Laksono.

"Well. Aku kira kamu bakal ikut. Aku liat akhir-akhir ini kamu seperti... sedang dibawah tekanan," kata penelepon Tuan Laksono.

Tuan Laksono terdiam, berpikir. Jika dia mengikuti rencana kawannya, sudah dipastikan, bagian harta warisan keluarga Tuan Mahendra yang akan diberikan oleh rekannya bisa membuat Tuan Laksono bertahan hidup tanpa Nyonya Lestari.

"Bagaimana?" tanya penelepon Tuan Laksono.

Tuan Laksono tergiur, namun akal sehatnya masih bekerja dengan baik. Dia sadar, mengikuti rencana kawannya mungkin malah akan memperburuk situasinya.

"Kamu cari orang lain aja. Aku mau mikir jalan keluar dari masalah ku sendiri," kata Tuan Laksono akhirnya.

"Baiklah. Aku percaya kalo kamu nggak akan bocorin rahasia ini. Jadi, tetap diam dan bawa rahasia ini sampe ke liang lahat mu," kata penelepon Tuan Laksono.

Panggilan telepon terputus. Tuan Laksono berdehem membasahi kerongkongannya yang tiba-tiba kering. Penelepon yang merupakan sahabatnya sedari SMA, membuat Tuan Laksono tiba-tiba merasakan ngeri yang menjalar ke dalam hatinya.

'Jangan bilang kamu mau menghabisi kakakmu sendiri, Rahardian,'

***

1
Nanaiko
auto browsing bunga wedelia.
ternyata aku punya tanamannya, tapi gak tau namanya😅
makasih lho thor🤭
maaf malah salfok ke bunga😅
Wawan
kembang buat Nia 😍
Purnamanisa: makasiiih kak 😊😊😊
total 1 replies
Vivi Zenidar
Angkasa romantis👍
Purnamanisa: dingin2 romantis ya kak, bikin klepek2 🤭🤭
total 1 replies
Vivi Zenidar
mikirin dunia pasti nya
Vivi Zenidar
sediiih /Sob//Sob//Sob//Sob/
Purnamanisa: cup cup kak 😊
total 1 replies
Vivi Zenidar
merasa sepi di keramaian
Vivi Zenidar
sedih banget jadi Nia
Nanaiko
Yaa Allah.. ada-ada aja cobaan hidup..
Vivi Zenidar
semoga Nia ada yg menolong... jangan sampai ternodai
Vivi Zenidar
kasihan nasib anak anak panti
Vivi Zenidar
sedihh
Purnamanisa: disclaimer: ini memang kisahnya agak2 sedih gt kak 😅😅
total 1 replies
Vivi Zenidar
Baru baca langsung suka
Purnamanisa: makasih kakak 😊😊
total 1 replies
Nanaiko
Nah.. mungkin itu yang dinamakan jodoh, Ang..
Nanaiko
Cowok emang kek gitu, Nia.. nih disini juga ada. Katanya suruh jangan nunggu, suruh cari yang lain.. giliran nomor WA nya diblok, eh malah dilamar. 😅
Purnamanisa: ditarik ulur kek layang-layang ya kak? 😅😅
total 1 replies
Wawan
Hadir
Purnamanisa: makasih kak 😊😊
total 1 replies
falea sezi
lanjut q ksih hadiah lagi
Nanaiko
ihiiiiiiirrrr🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!