Di balik senyumnya yang tenang, Arumi menyimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh. Pernikahannya dengan Ardi hanya tinggal formalitas. Demi puteri kecilnya, Kayla, Arumi bertahan.
Segalanya berubah ketika ia bertemu seorang psikiater muda, Dimas, yang baru saja bekerja di klinik psikiatri Dokter Arisa langganannya.
Dimas yang tenang dan hangat selalu membuat Arumi merasa didengar. Di ruang konsultasi yang seharusnya penuh batas, justru tumbuh perasaan yang tak diundang.
Tanpa Arumi sadari Kayla, puteri kecilnya yang cerdas, melihat semuanya. Ia tahu ibunya tidak bahagia. Ia juga tahu, ada cahaya berbeda di mata ibunya setiap kali pulang dari pertemuan dengan Mas Dokter —panggilan akrab Kayla pada Dimas.
Apakah perasaan Arumi pada Dimas yang tumbuh di ruang konsultasi hanya sebatas pelarian? Ataukah rumah yang selama ini Arumi rindukan?
Simak kisah selengkapnya dalam Mengejar Cinta Mas Dokter untuk Mama
Tiktok: Purnamanisa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesepian
"Maaf," ucap Arumi pada Dimas.
"Hm?"
"Soal Mas Ardi," kata Arumi.
"Oh. Wajar. Aku yakin Ardi sebenernya nggak pengen pernikahan kalian berakhir," kata Dimas. Arumi tertunduk.
"Mungkin semua orang nggak pengen pernikahan yang mereka pikir sekali dalam seumur hidup berakhir," kata Arumi. Dimas menoleh sesaat ke arah Arumi lalu kembali fokus pada jalanan.
"Terkadang, kita memang harus tersesat sebelum menemukan jalan yang benar," kata Dimas.
"Semua yang terjadi dalam hidup adalah perjalanan dan pelajaran," lanjut Dimas.
"Seiring kita berjalan, kita akan belajar banyak hal," kata Dimas. Arumi menoleh, menatap Dimas yang fokus mengemudi.
Dimas memang selalu tahu cara menenangkan pikiran Arumi. Arumi, entah mengapa, selalu merasa lebih tenang saat bersama Dimas.
"Nah, dah sampe di daycare," kata Dimas, menyadarkan Arumi dari lamunannya.
Arumi segera turun dari mobil dan menjemput Kayla. Kayla terlihat sangat antusias saat melihat Gendhis ikut menjemputnya.
Kedua anak itu segera naik mobil dan heboh di kursi belakang. Arumi tersenyum melihat tingkah Kayla dan Gendhis. Dimas menatap senyum Arumi, lega Arumi terlihat senang.
Mobil Dimas perlahan menyusuri jalanan kota menuju play ground tempat Dimas biasa mengajak Gendhis menghabiskan waktu saat kedua orangtuanya sibuk bekerja.
"Gendhis itu lebih akrab sama kamu dibanding kembaran kamu?" tanya Arumi penasaran. Dimas mengangguk sambil tersenyum.
"Iya. Soalnya, Dira itu bukan cewek rumahan," kata Dimas sambil terkekeh.
"Dira itu lebih milih kos daripada berangkat kerja dari rumah bareng aku. Padahal searah," kata Dimas.
"Kos?" tanya Arumi tak percaya. Dimas mengangguk.
"Jadi, Gendhis sukanya main sama aku, soalnya aku yang sering jagain sama ngasuh dia dari bayi," kata Dimas. Arumi manggut-manggut.
"Lucunya, kadang, pas Mbak Arisa sama Mas Aris mau ngajak Gendhis jalan, Gendhisnya nggak mau, mau di rumah aja sama aku," lanjut Dimas sambil tertawa kecil. Arumi tersenyum melihat wajah Dimas yang tertawa.
"Deket banget Gendhis sama kamu," kata Arumi sambil menoleh menatap anak-anak di kursi belakang yang sedang asyik bercanda. Dimas mengangguk.
"Makanya, aku sering digodain Mbak Arisa. Katanya kalo aku keseringan ngajak jalan Gendhis, aku nggak bakalan nikah-nikah, soalnya pasti dikira udah bapak-bapak," kata Dimas sambil terkekeh. Arumi menatap Dimas, berpikir, jarang ada pria lajang yang mau bermain bersama anak-anak.
"Tapi, aku bilang sama Mbak Arisa, aku mau cari cewek yang bisa terima Gendhis. Malah diledekin, 'Emang Gendhis anak kamu,' gitu," lanjut Dimas. Arumi tersenyum.
"Aku cuma nggak mau aja, isteri ku menganggap Gendhis itu pengganggu. Padahal aku udah sayang banget sama dia. Meskipun cuma ponakan," tutup Dimas.
Arumi kembali menatap Gendhis. Arumi merasa Gendhis anak yang beruntung memiliki Dimas sebagai omnya. Di saat kedua orangtuanya sedang sibuk, Gendhis masih punya Dimas yang selalu siap mengajaknya bermain.
'Apa Kayla merasa kesepian kalau aku titipin di daycare sampe sore?'
***
Ardi terduduk lemas di sofa ruang keluarganya. Dia menyandarkan kepalanya, menatap langit-langit dengan tatapan kosong.
Sepi.
Kini tak ada lagi celotehan Kayla di ruang keluarga yang kini dia duduki. Tak ada aroma masakan makan malam yang biasa Arumi hidangkan.
Ardi menatap ke sekeliling. Rumahnya benar-benar berantakan. Padahal hanya dia sendiri di dalam rumah. Dulu, saat ada lebih banyak penghuni, rumahnya justru lebih bersih dan rapi.
Ardi mengusap wajahnya. Masih berusaha menghapus jejak rasa malu yang tertinggal akibat menegur Arumi di dekat tempat Arumi bekerja. Ardi menatap wajah Arumi dalam foto pernikahan yang masih terpajang di dinding ruang keluarganya.
"Rum, kamu nggak bisa balik lagi? Aku kangen," gumam Ardi sambil menatap wajah Arumi.
Lama Ardi menatap foto wajah Arumi seolah mengarungi mesin waktu, mengingat kembali masa-masa bahagia bersama Arumi.
"Tok... Tok..."
Terdengar suara ketukan dari pintu depan. Ardi segera tersadar dari lamunannya dan mengelap airmata yang hampir jatuh dari pelupuk matanya. Ardi berjalan menuju pintu depan dan membukakan pintu untuk tamunya.
"Hai, Mas,"
Ardi terkejut melihat sosok di balik pintu depan rumahnya. Dengan cepat Ardi segera menutup pintu, namun sayang gerakan Farida lebih cepat. Farida sudah masuk ke dalam ruang tamu rumahnya saat Ardi berhasil menutup pintu. Farida tersenyum.
"Kamu nggak kangen aku, Mas?" tanya Farida dengan nada menggoda seperti biasa. Ardi hanya diam.
"Aku kaget banget, waktu tau Mbak Dira gantiin kamu buat proyek kita," kata Farida.
"Maaf. Aku nggak bisa lanjutin proyek itu. Untuk seterusnya, Dira yang akan jadi perwakilan dari perusahaan kami," kata Ardi dingin. Farida tersenyum.
"Kenapa kamu masih dingin sih, Mas? Kan sekarang kamu udah... cerai," kata Farida, menyulut emosi Ardi.
"Kamu yang kasih rekaman video itu kan?" tanya Ardi. Nada suaranya meninggi. Farida hanya tersenyum.
"Aku cuma pengen kamu jujur sama isteri kamu, Mas," kata Farida sambil berjalan mendekat ke arah Ardi. Ardi mundur hingga membentur tembok di belakangnya.
"Aku cuma mau isteri kamu tau, kalo kamu... udah nggak menikmatinya lagi," kata Farida sambil menatap Ardi dengan tatapan menggoda.
"Kamu gila, Far!" kata Ardi, dadanya naik turun seolah menahan emosi yang akan meledak sewaktu-waktu.
"Memang, Mas. Aku gila gara-gara kamu, Mas," kata Farida sambil mendekatkan bibirnya ke bibir Ardi.
Ardi menelan ludah dengan susah payah. Farida kembali menjerat Ardi. Namun, Ardi segera sadar dan mendorong Farida.
"Keluar kamu, Far!" kata Ardi sambil menarik lengan Farida dan berjalan menuju pintu. Farida berusaha melepaskan cengkraman Ardi, namun sia-sia.
Ardi dengan cepat membuka pintu dan mendorong tubuh Farida keluar.
"Jangan pernah datang lagi!" kata Ardi lalu menutup pintu dengan kasar dan menguncinya.
Ardi masih berdiri membelakangi pintu. Badannya perlahan merosot hingga terduduk. Ardi menengadah, kembali menatap langit-langit, lalu menatap ke sekeliling rumahnya.
"Setidaknya aku nggak akan mengotori rumah ini," gumam Ardi lalu tertunduk.
Rumah yang dulu benar-benar menjadi tempatnya pulang, kini hanya menjadi tempatnya melanjutkan hidup. Ardi tak pernah tahu, dan tak akan pernah menyangka bahwa kehilangan Arumi dalam hidupnya akan begitu mengubah seluruh hidupnya.
Tawa, canda, bahkan tangis. Semua telah meninggalkan rumah itu, meninggalkan Ardi bersama sesal yang entah kapan akan turut pergi. Ardi mendongakkan kepalanya, seolah menahan airmata yang telah mengalir deras dari pelupuk matanya.
Bayangan Arumi tengah bersama Kayla, Dimas, dan Gendhis memenuhi pikiran Ardi. Wajah tertawa Arumi yang sudah lama tak Ardi lihat kembali terlintas pula dalam benak Ardi.
'Kamu pasti jauh lebih bahagia kan, Rum, sekarang? Kamu pasti sama sekali nggak mikirin aku kan, Rum, sekarang?
***