Gadis piatu yang menanggung semua hutang ayahnya yang penjudi harus berjuang sendiri di ibukota. Rela hidup miskin di perantauan agar semua hutangnya segera lunas, hingga ia bertemu dengan pria yang menawarkan hidup berkecukupan.
Apakah Hana akan menerimanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chndrlv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terlambat.
Sinar matahari yang menyilaukan membuat tidur Hana gelisah. Ia meraba bantal dan menutupi wajahnya dengan benda tersebut. Dengkuran halus kembali terdengar.
Pintu kamar terbuka, diiringi dengan aroma wangi dari Roti gandum yang dipanggang.
Luca meletakkan sarapan khas Prancis beserta segelas susu di atas meja.
Dirinya hanya mengenakan celana panjang tanpa atasan, memamerkan perut sixpack dan dada bidangnya.
Bibirnya tersenyum menatap gadis yang sedang asyik terlelap dengan wajah polos.
"Lihat kau menikmatinya, gadis kecil."
Gerakan kecil dari tubuh gadis itu membuat Luca mengusap lembut kening halus tersebut, seakan enggan untuk mengganggu tidur sang peri.
Dirinya duduk bersandar dengan tangan besarnya mengusap lembut punggung Hana.
Ia tak membangunkannya, melainkan menunggu sang gadis bangun dengan sendirinya.
Luca menikmati bagaimana suasana kamarnya yang menghangat saat Hana berada di sana, bagaimana hembusan napas halus itu terdengar, sesekali racauan kecil keluar dari mulutnya.
Hana memeluk kaki Luca dengan erat seolah sedang memeluk guling. Tampak lucu dengan mulutnya yang sedikit terbuka. Pria itu juga mengambil beberapa jepretan melalui ponselnya. Ini adalah momen langka.
Bagaimana gadis yang sehari-harinya menatap datar tanpa binar pemuja, tingkah lakunya benar-benar menunjukkan tak ada ketertarikan pada pria tampan sepertinya. Luca baru kali ini menemukan gadis yang tak mengejarnya. Jujur, dia nyaman bersama Hana, hanya gadis itu yang memberikan ruang terhadapnya.
Tanpa Luca sadari, Hana sudah membuka matanya. Gadis itu diam tak bergerak ketika mengetahui dirinya sedang memeluk kaki sang majikan, sedang pipinya menempel erat di paha pria itu.
Tangan besar itu terus mengusap lembut, hingga gerakan itu terasa lambat, dan..
"Ah~ kau sudah bangun, Hana?"
GLEK!
Hana berusaha menelan ludahnya. Bagaimana ia akan menghadapi ini semua?
"Kau sangat menyukai posisi ini, ya?"
Hana segera melepaskan pelukannya di kaki Luca dan duduk sambil merapikan rambut serta pakaiannya yang berantakan.
"Ma-maaf, tuan. Saya tertidur lagi di kamar anda." Ia menunduk dalam, tak sanggup menatap wajah sang majikan yang sedang menyeringai menang.
"Lihat, kau seolah-olah tak menyukai hal ini. Padahal tubuhmu sangat menginginkannya."
Hana semakin menunduk, tapi sebuah jari telunjuk menyentuh dagu membuatnya terpaksa menatap wajah tampan di depannya.
"Kau menyukaiku, Hana."
Sejenak gadis itu menikmati ketampanan pria itu, lalu gelengan kasar membuat jari telunjuk Luca lepas dari dagu Hana.
"Sekali lagi, saya minta maaf sudah teledor, tuan."
Hana segera turun dari tempat tidur.
"Permisi, tu-"
Tangan besar itu memegang tangannya, ia menatap wajah sang majikan yang datar menatapnya.
"Makan sarapanmu, aku sudah menyiapkan dan membawanya kemari." Hana mengikuti arah tatapan Luca ke atas meja.
"Kau bangun siang dan aku kelaparan, jadi aku buatkan sekalian untukmu. Makanlah sebelum keluar."
"Maaf."
"Lakukan."
Hana berjalan ke arah meja dan duduk di sofa, ia mulai menyantap roti panggang yang sedari tadi tercium aromanya.
Luca tak melepaskan tatapannya pada Hana yang sedang menghabiskan sarapannya dengan terburu-buru.
"Apa kau sedang dikejar hantu?"
UHUK! UHUK!
Luca bangkit menghampiri Hana lalu menepuk pelan punggung gadis itu.
"Makan dengan perlahan, tak ada yang akan meminta. Aku sudah sarapan."
Hana meminum susunya, ia mengunyah perlahan sesuai intruksi sang majikan. Tentu saja wajahnya yang memerah malu.
Luca duduk di sisinya dengan bersandar, posisi tangannya ia rentangkan di sandaran sofa seolah sedang memeluk Hana dari belakang.
"Apa kau akan berangkat bekerja?"
Hana mengangguk, mulutnya penuh makanan.
"Tapi ini sudah pukul 10 pagi."
Hana membelalakkan matanya, ia menatap ke arah Luca yang tersenyum.
"Kau sudah terlambat tiga jam."
Raut wajah Hana seperti ingin menangis. Kenapa dirinya tidur terlalu nyenyak?
"Gajimu terpotong hari ini."
Hana diam mengunyah sarapannya. Mau bagaimana lagi? Ini sudah sangat terlambat untuk berangkat.
"Anda tidak bekerja?"
"Aku bisa bekerja dari sini tanpa harus ke kantor."
Hana mengangguk. Ia masih menyayangkan absensinya hari ini. Dia benar-benar teledor!
"Terima kasih atas sarapannya, tuan."
"Hm."
Hana membereskan bekas sarapannya, bersiap membawanya turun ke dapur.
"Saya permisi, tuan."
"Bersiaplah, kau akan ikut aku ke villa waktu itu."
"Ya?"
"Kau mendengarnya."
"Apa kita menginap, tuan?"
"Kau ingin menginap? Tak masalah." Senyuman Luca semakin melebar. Hana menggeleng keras.
"Saya akan menyiapkan keperluan anda jika ingin menginap."
"Tak perlu. Kita akan pulang malam."
"Baik, tuan."
Hana keluar membawa nampan berisi piring dan gelas kosong.
Luca bersiap mandi untuk pergi, sebelum itu dirinya menghubungi Ruby untuk keberangkatan mereka.
Hana segera bergerak cepat, ia tidak ingin majikannya menunggu dirinya berdandan.
Luca turun dengan pakaian kasual, tampak seperti ingin bertemu dengan teman. Hana berdiri di menyambut sang majikan.
Pria itu mengernyitkan keningnya.
"Apa kau sudah mandi?"
"Iya, sudah tuan."
"Kau tidak berdandan?"
Hana menggeleng.
"Itu tidak perlu, tuan."
"Kenapa? Aku bisa menunggumu."
"Saya tidak ingin anda menunggu."
"Ada apa denganmu? Aku tak masalah."
"Begini saja, tuan. Saya sudah merasa lebih baik."
"Terserah. Ayo pergi."
Hana mengikuti dari belakang, tentu mereka memasuki lift yang berbeda untuk mengelabui orang sekitar.
Gadis itu ditemani oleh seorang pengawal yang biasa menjaganya, sedangkan Luca bersama Ruby dan seorang pengawal lainnya.
Mereka akan bertemu ditengah perjalanan seperti hal normal.
Hana masuk ke dalam mobil yang dinaiki Luca bersama Ruby, bertukar dengan pengawal.
"Kau ingat perjalanan kita dulu?"
Hana mengangguk, ia mengingatnya dua tahun lalu ketika pulang dari villa dirinya masuk angin dan sulit untuk buang angin. Itu memalukan.
Memerlukan waktu yang lama ditambah ada kemacetan karena perbaikan jalan. Membuat mereka sampai hampir di sore hari.
"Aku menyesal tak menggunakan heli, ini membuat tubuhku sakit." keluh Luca saat mereka sampai di villa.
"Tapi di sini tak ada tempat pendaratan untuk helikopter, tuan."
Luca berdecak kesal. Sedangkan Hana sedang menikmati udara sore yang terasa segar dengan pemandangan kebun teh.
Luca dan Ruby masuk ke dalam satu ruangan yang ada di villa, mereka seperti akan meeting dadakan.
Hana tak tahu harus berbuat apa di sini, majikannya tak memberi perintah apapun saat menyuruhnya ikut kemari.
Dirinya memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar Villa dengan ditemani seorang pengawal. Awalnya ia risih diperlakukan seperti seorang majikan, tapi Luca tak menghiraukan keluhannya.
Dengan patuh dan berjarak pengawal itu menjaga dengan cermat gadis yang sedang berjongkok di depan taman bunga. Kedua mata tajamnya mengawasi dengan teliti lingkungan sekitar.
Villa yang menjorok ke ujung, membuat suasana sepi dan tenang. Tampak di belakang Villa seorang pria tua yang sedang membersihkan sampah dedaunan kering, dialah penjaga Villa milik Luca.
"Nona, sebaiknya kita kembali ke dalam."
Hana menoleh ke belakang, ia mengangguk dan berdiri.
"Baiklah, ayo kita ke dalam."
Suasana sekitar yang berisik dengan suara hewan malam membuat Hana sedikit ngeri. Beruntung di villa ini ada beberapa pengawal yang khusus menjaga Villa selain pak tua.