NovelToon NovelToon
Kutukan Santau

Kutukan Santau

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Misteri / Iblis
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: glaze dark

kisah ini menceritakan seseorang yang menggunakan santet untuk guna-guna orang lain dengan menggunakan santau.
Siap. Ini narasi yang bisa kamu pake buat sinopsis/blurb Noveltoon _Kutukan Santau_:

---

*NARASI*
Santau. Racun yang dikirim lewat angin, menumpang di makanan, menyelip di tatapan mata.
Katanya tak berbekas, tapi membusukkan tubuh dari dalam dan pada akhirnya orang tu lah yang akan tersakiti

pesan:
*"Santau itu perjanjian. Sekali kau lepas, dia akan pulang menagih nyawa. Kalau bukan nyawa musuhmu... ya nyawamu sendiri."*

_Siapa yang menggunakan santau, pada akhirnya dia yang akan mendapatkan balasannya._

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon glaze dark, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 33

"kak Bibah...bang Rian..." suaranya dibuat serendah mungkin, pelan, seolah menahan tangis. "Aku juga tidak tahu kenapa bisa begini."

Dia melangkah maju, pura-pura menatap Lasmi yang masih terbaring lemas di pangkuan Bibah. Mata Sitoh berkaca-kaca, tapi itu air mata pura-pura. "Kalau aku yang melakukan ini, kenapa harus buru-buru ke sini untuk bawa buah buat dia?" lanjutnya, suaranya serak dan Sitoh menarik napas dalam-dalam. Wajahnya yang tadi pucat perlahan kembali normal. Tangannya yang gemetar ia kepalkan di balik punggung biar tidak kelihatan.

"Aku tidak tidur tiga malam mikirin anak ini. Aku siap mati kalau memang ada yang harus tebus." Bibah menatapnya ragu. Kemarahan di matanya belum hilang, tapi mulai goyah.

Rian berdiri di samping, matanya menyipit. Ayat-ayat yang tadi ia baca belum selesai sepenuhnya. Tangannya masih menempel di dahi Lasmi, merasakan hawa dingin yang belum benar-benar hilang. "Sitoh". kata Rian pelan tapi tajam. "Santau itu bisa balik ke pemiliknya kalau pemiliknya tidak ada di dekat korban saat dilepas. Tadi... siapa yang paling dekat dengan Lasmi sebelum dia kejang?"

Wajah Sitoh seketika menegang, tapi hanya sedetik lalu ia tertawa kecil, suaranya dipaksa terdengar pahit."Jadi sekarang aku dituduh? Bahkan sama saudaraku sendiri?"Dia menunjuk dirinya sendiri. "Aku bibi kandungnya, dan dia keponakanku sendiri. kenapa aku harus menyakitin keponakanku sendiri?"

Rian tidak goyah dan Matanya tetap tidak lepas dari wajah Sitoh."Saudara kandung tidak menjadikan dia otomatis orang yang suci, Sitoh." suaranya datar, tapi setiap kata seperti pukulan. "Santau itu butuh darah dekat, Darah keluarga. Makanya paling gampang mencari celah dari paman, bibi, sepupu bahkan dari keponakan sendiri".

Udara di ruangan itu tiba-tiba terasa lebih berat dan dingin. Bibah yang sedang memeluk Lasmi mengangkat kepala perlahan dan Matanya beralih dari Rian ke Sitoh, bingung dan takut.

Sitoh memaksakan senyum. "padahal aku kesini hanya ingin menjenguk keponakan, tapi kenapa malah aku yang dituduh sebagai pelakunya."

Karena kamu takut santau itu lepas kendali," jawab Rian pelan. "Kalau Lasmi mati di luar kendali kamu, santau itu bakal balik dan makan kamu duluan."Sitoh terdiam, Untuk pertama kalinya, topeng ketenangannya retak.

Tangan yang menggenggam tangan Bibah tadi perlahan terlepas. Bibirnya terbuka, tapi tidak ada kata yang keluar, Matanya liar dan mencari celah untuk kabur... atau menyerang.

"Jangan bohong lagi... Sitoh," suara Rian makin rendah, Ia merapatkan posisinya. tubuhnya jadi perisai di depan Lasmi. "Santau itu udah tidak menurut....Dia lapar Dan dia tau siapa yang mengundang dia pertama kali."

Sitoh menggeleng cepat, wajahnya dibuat panik dan terluka."Bang Rian... gila kau! Jadi semua orang yang ada di sini waktu Lasmi kejang itu aku pelakunya?. Aku cuma niat satang untuk menjenguk Lasmi dan sekarang aku yang disalahin?" Dia menoleh ke Bibah, suaranya bergetar seolah hampir nangis. " kak Bibah, kau juga percaya aku bisa setega itu sama keponakanku sendiri? Demi Allah, kalau aku yang melakukan ini, biar aku mati di tempat ini, sekarang juga!"

Bibah ragu. Sumpah itu bikin dadanya mencelos tapi Rian tidak goyah."Sumpah palsu gampang....Sitoh! . Yang susah itu menutupin rasa takut di mata."

Sitoh pura-pura tersinggung. Dia menepuk dadanya keras. "Bagus...! Kalau gitu aku pergi. Biar kalian tenang menanganin anak kalian tanpa dituduh-tuduh!"

Tanpa menunggu jawaban, dia mundur dua langkah ke arah pintu belakang. Ekspresinya berubah dari marah jadi kecewa, seolah korban."Aku capek jadi kambing hitam keluarga sendiri."

Begitu tangan Rian lengah 1 detik karena Bibah nyeletuk "Tunggu...Sitoh!", Sitoh langsung memutar badan dan membuka pintu kamar.

"Kalian cari aja sendiri pelakunya!" katanya sambil melangkah keluar. Pintu ditutup pelan, tapi dari luar terdengar suara larinya yang makin cepat, menghilang setelah pintu luar di tutup.

setelah sitoh pulang, tinggal lah bibah dan Rian yang masih ada dikamar Lasmi. Lasmi sudah mulai tenang dan perlahan pucat diwajah mulai berkurang, tapi kesadarannya masih belum hilang.

Di dalam kamar, Bibah langsung ambruk duduk di tepi ranjang. Napasnya tersengal dan kedua tangannya masih memeluk Lasmi erat-erat seolah takut anaknya ikut menghilang.

"Bang..." suaranya pecah."apakah benar dia pelakunya?"

Rian tidak langsung menjawab Dia masih berdiri di depan pintu. memastikan Sitoh beneran pergi dan Baru setelah yakin, dia mendekat dan jongkok di samping Bibah. "Kalau dia tidak bersalah, dia tidak bakal lari seperti itu, Bibah."

Bibah mengangguk pelan, tapi matanya berkaca. Menolak percaya, tapi tidak bisa menutup telinga pada kenyataan. Jika benar adik yang dibesarkan dengan kasih sayang tega melakukan ini, dia akan pernah memaafkan ya. Lasmi di pangkuannya mulai bergerak Nafasnya yang tadi tersengal-sengal pelan-pelan teratur lagi. Warna pucat di wajahnya berkurang, diganti rona tipis yang hampir tidak kelihatan. Tapi matanya masih terpejam dan Belum sadar sepenuhnya.

Rian menyentuh kening Lasmi pelan. Dinginnya sudah berkurang."Santaunya mundur," gumamnya. "Tapi belum keluar dan Dia masih di dalam."

Bibah menatapnya panik. "Terus gimana....! Kalau dia bangun, dia bakal seperti tadi lagi.

"Rian diam sebentar. Matanya menatap pintu yang tadi dilewati Sitoh. l"Besok malam, santau itu bakal mencari inangnya lagi dan nanti sore, Abang akan kerumah Pak ustadz untuk membantu Lasmi melewatinya malam ini."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!