NovelToon NovelToon
KEBANGKITAN VAMPIR TERKUAT DARI TIDUR PANJANG

KEBANGKITAN VAMPIR TERKUAT DARI TIDUR PANJANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Romansa Fantasi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Arafi Arif Dwi Firmansyah

Kurza adalah vampir terkuat dimasa lalu, entah apa yang ada dipikiranya sehingga dia memutuskan untuk beristirhat/tidur di dalam sebuah goa . sebelum Putri Kerajaan Alabas tanpa sengaja membangunkan Kurza dari tidurnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arafi Arif Dwi Firmansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33. Pergerakan Kurza Ke Dalam Istana

Pagi hari di Negara Alabas, Miyuki terbangun dari tidurnya, melihat sosok Kurza yang semalam tidur disampingnya sudah tidak lagi berada di ranjang. Miyuki beranjak mencari keberadaan Kurza. Ternyata Kurza sudah menunggu Miyuki di ruang tengah kastel.

"Miyuki,, bersiaplah sekarang waktunya kita menyerang Zhit dan para iblis." Seru Kurza yang melihat Miyuki berjalan ke arahnya. Mendengar perintah dari Kurza, Miyuki berbalik arah kembali ke kamar untuk berganti baju.

Zhit, yang sedang duduk dengan angkuh sembari memainkan mahkota kerajaan Alabas di jarinya. Di sekelilingnya, belasan iblis rendahan dan jendral - jendral peninggalan Raja Zion yang memilih setia kepada Zhit dan berkhianat pada Raja Zion.

Pintu aula raksasa itu tiba-tiba terlempar hancur. Kurza melangkah masuk. Jubah hitamnya menyapu lantai, matanya tenang tanpa keraguan.

"Lihat siapa yang datang! Vampir yang kita tunggu. Kau terlambat, Kurza." Gumam iblis bertanduk satu semari tertawa parau.

"Istana? Ini hanya kuburan yang belum digali. Dan kalian? Kalian hanyalah lalat yang mengerubungi bangkai." Balas Kurza yang berhenti di tengah aula, suaranya tenang namun menggetarkan tulang.

"Zhit,, pengecut sepertimu tidak pantas duduk di singgah sana Raja! Dimana Raja Zion?" Seru Kurza dengan menunjuk Zhit.

"Kurza,,, kau lupa posisimu? Seharunya kau melayani Rajamu ini. Lupakan Zion dan bergabunglah denganku Kurza. Kita kuasai dunia dengan kekuatanmu dan para iblis." Balas Zhit yang mencoba mengajak Kurza.

"Bergabung dengan orang yang sebentar lagi menjadi mayat? Cukup lucu." Ledek Kurza

Salah satu iblis Menerjang maju dengan pedang "Sombong sekali! Mati kau!"

Kurza bahkan tidak menoleh. Saat iblis itu berjarak satu jengkal, tangan Kurza bergerak secepat kilat.

"Krak!"

Leher iblis itu patah sebelum ia sempat berkedip. Tubuhnya dilemparkan Kurza ke arah kumpulan iblis lain seperti membuang sampah.

Tiga iblis lainnya menyerang bersamaan dari berbagai arah. Kurza menghilang dalam sekejap, meninggalkan jejak bayangan merah.

"Slassh!. Slassh!"

Tanpa senjata, Kurza membelah dada mereka. Darah hitam menyemprot dinding aula. Iblis-iblis itu tumbang tanpa sempat berteriak.

Kurza berdiri di tengah kepulan asap hitam tubuh iblis yang mulai menjadi abu, tak setetes pun darah mengenai wajahnya.

"Zhit. Kau bersekutu dengan sampah-sampah ini untuk merebut Alabas? menangkap pemuda-pemudi yang tidak berdosa untuk kau jadikan santapan para iblis" Gumam Kurza dengan nada yang marah.

"Mereka hanyalah orang-orang yang tidak berguna, Kurza.!" Jawab Zhit dengan wajah yang sombong.

Kurza menghela napas pendek, lalu dalam sekejap, sosoknya menghilang dari pandangan mata telanjang. Baginya, waktu seolah membeku, sementara bagi seratus iblis di aula itu, maut baru saja datang tanpa suara.

Sementara itu Miyuki dan Rin bergerak di luar aula istana. Rin menggunakan kekuatannya 'Black Tourmaline' membuat penghalang yang kuat agar para iblis yang di dalam aula tidak bisa kabur. Miyuki bertugas mencari di mana Raja Zion di sekap atau di penjara.

Kurza bergerak seperti kilat merah yang memantul dari dinding ke dinding. Ia tidak menggunakan pedang; tangannya sendiri adalah senjata paling mematikan. Di satu sudut, lima iblis langsung hancur menjadi debu saat Kurza melewati mereka—hanya meninggalkan bekas sayatan angin yang memotong leher mereka secara bersamaan.

Zhit yang menonton dari singgasana hanya bisa melihat kilatan jubah hitam yang berpindah-pindah. Terdengar bunyi.

“pop, pop, pop”

secara beruntun—suara jantung para iblis yang dicabut paksa dari dada mereka sebelum mereka sempat menyadari bahwa Kurza telah berada di belakang mereka.

Dalam hitungan detik ke-15, Kurza berdiri di tengah-tengah aula yang kini dipenuhi tumpukan tubuh yang mulai menguap. Ia tampak sangat santai, bahkan tidak ada satu tarikan napas pun yang memburu.

"Dua puluh... empat puluh... membosankan," gumam Kurza saat ia muncul di depan segerombolan iblis yang mencoba lari ke pintu besar.

Dengan satu lambaian tangan, gelombang tekanan udara berwarna merah darah menghantam mereka, menghancurkan tulang rusuk dan melempar mereka kembali ke tengah ruangan. Iblis-iblis itu saling tumpang tindih, merintih dalam ketakutan yang murni.

"Kalian berjumlah seratus," kata Kurza sambil berjalan tenang melintasi genangan darah hitam, "tapi nyawa kalian bahkan tidak cukup untuk membasahi tenggorokanku."

Tepat di detik ke-30, aula yang tadinya bising oleh teriakan kesombongan kini sunyi senyap. Seratus iblis itu telah musnah. Kurza berdiri tepat di bawah tangga singgasana, merapikan lengan bajunya yang sedikit bergeser. Tidak ada satu noda darah pun yang mengotori wajahnya yang pucat dan tenang.

Ia mendongak, menatap Zhit yang kini mencengkeram lengan singgasana dengan tangan gemetar.

"Hanya butuh tiga puluh detik," ucap Kurza dingin. "Sekarang, giliranmu, pengecut." Seru Kurza dengan menatap tajam ke arah Zhit.

Pintu aula yang tersisa hancur berkeping - keping akibat hantaman. Dari balik debu, muncul sosok raksasa berbaju zirah legam yang memancarkan aura penindasan luar biasa. Dialah Jenderal Valac,salah satu panglima tertinggi pasukan iblis, didampingi dua pengawal elit yang membawa tombak api.

Zhit yang tadinya gemetar, kembali menyeringai. "Kurza, kau mungkin bisa menghabisi sampah, tapi bisakah kau bertahan melawan sang Jenderal?" Ucap Zhit yang kembali percaya diri.

"Kurza... namamu adalah legenda yang sudah basi. Kau membantai anak buahku hanya karena mereka lemah. Sekarang, hadapi lawan yang setara." Seru Valac Suaranya berat seperti gesekan batu.

Valac mengisyaratkan kedua pengawalnya. Mereka melesat, bergerak jauh lebih cepat dari iblis sebelumnya. Tombak api mereka menebas udara, menciptakan ledakan panas yang menghanguskan pilar-pilar aula.

Kurza terdesak mundur, salah satu tombak sempat menyayat jubahnya.Melihat jubah kesayangannya sobek oleh pelayan Valac, sesuatu dalam diri Kurza pecah. Penghinaan ini sudah cukup.

"Beraninya... makhluk rendahan sepertimu mengotori kehadiranku..." Kurza Menundukkan kepala, suaranya parau dan bergetar.

Tiba - tiba, tekanan atmosfer di aula berubah drastis. Lantai marmer retak di bawah kaki Kurza. Aura merah darah yang tadi ia pancarkan meledak, namun kali ini warnanya berubah menjadi hitam pekat.

"BOOM!" Gelombang energi gelap menyapu seluruh ruangan. Kabut hitam yang sangat tebal keluar dari pori - pori kulitnya, menyelimuti seisi aula hingga jarak pandang menjadi nol. Valac dan pengawalnya terjebak dalam kegelapan yang menyesakkan.

"Di mana kau, Vampir?!" teriak salah satu pengawal Valac sambil mengayunkan tombaknya secara membabi buta ke dalam kabut. "Sret!" Tanpa suara, Kurza muncul di belakangnya. Hanya dengan satu sentuhan jari yang dialiri kabut hitam, tubuh pengawal itu langsung keropos dan hancur menjadi debu, jiwanya tertelan kegelapan.

"Tunjukkan dirimu!" Valac Mulai panik, menghantamkan pedang raksasanya ke tanah.

"Kau ingin melihat kekuatan sejati? Lihatlah kegelapan ini. Inilah tempatmu akan bersemayam selamanya." Seru Kurza suaranya bergema dari segala arah di dalam kabut.

‎Valac berdiri dengan angkuh di tengah aula, sebelum ia menghunuskan pedang raksasanya. Ia mencari keberadaan Kurza yang masih tidak terlihat di dalam kabut hitam, mencoba memprovokasi sang Vampir dengan sebuah kebenaran yang mengerikan.

"Kau datang mencari sisa-sisa kemuliaanmu, Kurza? Sayang sekali, kau melewatkan pertunjukan terbaik saat aku menyerbu kamar ratumu (Iris)." Gumam Valac yang masih siaga.

"Wajah Ratumu itu ketika aku sered kesini. Ya disinilah Ratumu dan putrinya ku habisi. Seru Valac yang masih memprovokasi Kurza.

Kurza berhenti, kabut hitam mulai menghilang. "Berhenti Valac, jangan kau teruskan!" Gumam Kurza yang kini berdiri di hadapan Valac.

Apakah Valac akan memanfaatkan kemunculan Kurza dan menyerangnya? Atau Valac melanjutkan ceritanya ketika membunuh Ratu Iris?

Bersambung. . .

1
T28J
keren kak 👍
T28J
/Rose//Rose//Rose/
T28J
hadiir kakak 🙏
Arafi Arif Dwi Firmansyah: oke. nanti gw mampir.
total 3 replies
putri kurnia
lanjutannya dooong, penasaran bgt ini 😍
putri kurnia
bikin penasaran kelanjutannya
Arafi Arif Dwi Firmansyah: sabar ya. malam ini bab 4 selesai.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!