Nayara Almeera adalah anak bungsu dari tiga bersaudara, wanita yang saat ini sudah terbiasa berdiri di kakinya sendiri setelah drama dikhianati oleh kisah masa lalunya membuat Nayara menjadi sosok yang lebih tertutup.
Sampai akhirnya sebuah perjodohan yang dilakukan oleh kedua orangtuanya, mempertemukan Nayara dengan Adrian seorang CEO yang lebih tenang, dewasa dan sulit untuk ditebak atas akan yang dilakukan olehnya.
Berawal dari sebuah kesepakatan yang perlahan berubah menjadi sebuah kisah yang tidak pernah
Nayara bayangkan.
Mendapatkan kasih sayang dan dicintai dengan cara yang begitu tulus, tanpa Nayara sadari perjodohan itu tidak hanya mengubah hidupnya, tetapi juga telah mengubah hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 - Kakak Yang Tidak Pernah Lupa
Pagi itu diruang kerja utama Almeera Group terasa jauh lebih sibuk dari biasanya, tumpukan dokumen memenuhi neha besar dihadapan Damar. Laptop yang menyala dengan beberapa laporan yang harus segera ditinjau, ponsel kantor berdering beberapa kali sampai beberapa staff kantor yang keluar masuk membawa berkas tambahan.
Sudah tiga hari terakhir Danar menggantikan sang adik Nayara yang masih beristirahat, dan meskipun ia terbiasa menangani urusan perusahaan, mengambil alih seluruh kendali adiknya bukanlah pekerjaan yang ringan.
Namun Damar tetap menjalaninya tanpa keluhan, karena ia tahu satu hal jika Nayara sedang beristirahat dengan tenang, makan pekerjaannya hari ini jauh lebih ringan dari pada apa yang pernah dilalui oleh adik bungsunya.
Damar membuka map baru dengan helaan nafas pelan dan dalam.
" Jadwal berikut apa, Livia?" tanya Damar.
" Sepuluh menit lagi meeting dengan pihak Sentra Pratama, Pak" jawab Livia yang sudah menyiapkan dokumen ditangannya.
" Baik, siapkan semuanya" Damar menganggukkan kepalanya paham.
Damar mengambil dokumen dihadapannya untuk mempelajari sebelum meeting dimulai, membaca kerjasama yang akan dibahas, nama perusahaan, nama direktur, dan salam sepersekian detik tangannya berhenti bergerak.
Kevin Pratama, nama itu tertulis jelas disana membuat rahang Damar kini menegang. Tatapannya berubah menjadi dingin, suasana ruangan mendadak terasa lebih sunyi.
Kevin? dari sekian banyak orang kenapa harus laki-laki itu?
Nama itu bukan sekedar nama, namun nama itu membawa damar kedalam ingatan tentang dimana saat malam-malam yang dilewati sang adik Nayara menangis diam-diam, tentang mata sembab yang dipaksa terlihat baik-baik saja, dan tentang luka yang tidak pernah diperlihatkan pada siapapun.
Sumber luka yang dirasakan sang adik seluruhnya berasal dari satu orang yaitu " Kevin", Damar meletakkan dokumen secara perlahan tangannya mengepal dibawah meja. Ia masih ingat bagaimana adiknya berubah waktu itu.
Nayara yang biasanya ceria mendadak diam,
Nayara yang biasanya kuat mendadak rapuh,
Dan sebagai seorang kakak, Damar melihat semuanya meski Nayara tidak banyak bicara tentu saja ia tahu jika hati sang adik bungsu tengah hancur.
Ingatan itu muncul begitu jelas, ketika Nayara pulang malam hari dengan mata merah tapi masih berusaha tetap tersenyum. Tapi gagal, Damar yang melihatnya langsung tahu ada sesuatu yang salah.
" Ada apa, Dek?" tanya Damar saat itu.
" Aku tidak apa-apa, Kak" suara Nayara begitu pelan.
Tapi air matanya jatuh setelah itu, dan Damar tahu jika adiknya tengah hancur.
Kevin... Aku tidak pernah lupa malam itu, saat adikku yang selalu kuat ternyata menangis karena dikhianati.
Damar yang sebenarnya saat itu ingin mencari Kevin untuk menghajar laki-laki yang telah membuat adiknya sakit, tapi ia memilih diam demi menghormati privasi Nayara.
Namun luka itu tidak pernah hilang dari ingatannya, dan sekarang Kevin akan duduk dirumah meeting bersamanya. Ada rasa syukur karena yang menghadapi itu dirinya, bukan sang adik yang mungkin akan berbeda jika pertemuan ini kembali terjadi.
" Pak, tim dari Sentra Pratama sudah hadir" Livia menyandarkan Damar yang tengah bengong.
" Baik" Damar mengangkat wajahnya dengan tatapan dingin.
Pintu terbuka beberapa orang masuk lebih dulu, lalu Kevin masuk dibelakang. Saat tatapan Damar dan Kevin bertemu, terlihat raut wajah terkejut dari Kevin.
Danar duduk dengan tegak, wajahnya datar tidak ada senyuman, tidak ada sambutan hangat, hanya ketenangan yang dingin.
" Selamat pagi, Pak Damar" Kevin terlihat kaku.
" Silahkan duduk" Damar menjawab singkat.
Nada suaranya formal, dingin, profesional, tapi Kevin bisa merasakan jarak yang sangat jelas. Ia duduk dengan canggung sementara Damar membuka dokumen dan langsung memulai meeting.
" Baik, kita mulai saja" tidak ada basa-basi, tidak ada keramahan tambahan.
Meeting berjalan sebagaimana mestinya, Damar menjelaskan poin-poin kerja sama. Kevin menanggapi secara professional, semua orang diruangan itu melihat seperti pertemuan bisnis biasa, tapi hanya Damar dan Kevin yang tahu.
Ada masa lalu berat diantara mereka dan setiap kali Kevin bicara, Damar hanya melihat satu hal... Lelaki yang pernah membuat adiknya menangis.
Bersikap professional, jangan bawa emosi.
Ia terus mengingatkan dirinya, karena ia ada diruangan itu bukan sebagai seorang kakak, ia barada disana sebagai perwakilan perusahaan. Namun menjaga wajah tetap tenang ternyata jauh lebih sulit dari pada yang ia kira, karena setiap melihat Kevin, ingatan tentang sang adik yang menangis kembali muncul.
Setelah hampir satu jam akhirnya meeting selesai, semua peserta mulai keluar dari ruangan namun Kevin tetap duduk. Damar menutup laptopnya perlahan.
" Ada lagi?" tanya Damar.
" Saya ingin bicara sebentar, Pak" Kevin menatap Damar dengan ragu.
" Bicara apa?" Damar menatap datar.
" Soal Nayara..." Kevin menarik nafas pelan.
Nama itu membuat tatapan Damar berubah semakin dingin.
" Semua sudah selesai, tidak ada yang perlu dibicarakan lagi" Ucap Damar singkat.
" Saya hanya ingin meminta maaf, Pak" Kevin menundukkan kepalanya.
" Untuk apa?" Damar masih menatapnya tanpa ekspresi.
" Untuk semua kesalahan yang pernah saya lakukan" ucap Kevin kaku.
" Kamu pikir permintaan maaf kamu mengubah apa?" Damar tersenyum tipis.
" Kamu tahu apa yang saya lihat waktu itu? Saya melihat adik sayang selama ini kami jaga dengan sangat baik, kami bahagiakan, tapi dia justru menangisi lelaki kurang ajar dan tidak tahu diri seperti kamu" suara Damar stabil bahkan terdengar tenang.
" Saya melihat dia berusaha terlihat kuat, padahal hatinya hancur" lanjut Damar.
Kevin mengepalkan tangannya pelan, ia tahu bahwa dirinya salah tapi mendengar langsung dari Damar membuat rasa bersalahnya itu jauh lebih berat.
Karena kini Kevin sadar yang ia mulai bukan hanya Nayara, tapi juga keluarga yang mencintainya.
" Jadi, jangan bicara seolah semuanya bisa selesai dengan satu kata maaf" Damar menatap Kevin tajam.
" Saya tahu saya salah.." Kevin menjawab pelan.
" Salah? bahkan kamu menghancurkan perempuan yang sangat kami cintai" " Damar tertawa sinis.
Kevin tidak mampu menjawab, karena enya itu benar dan suasana di ruangan mendadak sunyi.
" Sekarang Nayara sudah bahagia, dia punya suami yang mencintainya... Jadi kalau kamu benarynerasa bersalah silahkan menjauh dan jaga jarak" Damar menatapnya dingin.
" Kalau perlu jangan pernah menampakkan diri dihadapan Nayara sampai kapanpun " Damar melanjutkan.
Nada suaranya tenang tapi sangat tegas, membuat Kevin menelan ludahnya. Ia tahu jika saat ini tidak memiliki hak untuk membantah.
" Biarkan dia hidup tenang, jangan pernah datang membawa luka lama" Damar menatap Kevin dingin.
" Baik, saya tidak akan pernah mengganggunya... Saya benar-benar menyesal" Kevin menjawab pelan.
" Itu lebih baik... dan satu lagi penyesalanmu sudah terlambat" lagi damar menjawab dingin .
Kevin terdiam mendundukkan kepalanya dan keluar dari ruangan, pintu tertutup. Damar menghembuskan nafasnya panjang, baru setelah itu ia menyadari jika tubuhnya tegang sejak tadi.
Akhirnya aku bisa mengatakan semuanya, bukan untuk membalas atau melampiaskan amarah. Tapi, untuk menjaga kebahagiaan adikku.
T28J membaca kalimat terakhir itu dalam diam. Tentang cinta yang tidak sempurna. Tentang dua manusia yang tetap memilih bertahan. Tentang rumah… yang perlahan dibangun dari luka dan pengertian.
“Ini bukan sekadar akhir cerita. Ini bukti… bahwa karakter-karakter itu pernah hidup.”
“Dan sebagai sesama pencipta dunia… aku tahu tidak mudah membawa mereka sampai sejauh ini.”
Terakhir, T28J menatap langit kosong.
“Selamat.”
“Duniamu berhasil menyentuh seseorang.”
“…jadi begini rasanya.” Ia berdiri, menghela napas panjang. “Ceritamu… tidak sempurna.”
Sejenak, ia terdiam. Lalu sudut bibirnya terangkat tipis. “Tapi justru itu yang membuatnya hidup.”
Liora mengangkat tangannya. Lima cahaya kecil muncul satu per satu di udara.
★ ★ ★ ★ ★
“Ambil ini.” Ia menatap lurus ke depan. “Teruskan ceritamu. Aku akan membaca sampai akhir.”
—T28J