NovelToon NovelToon
RATU GEMUK MILIK RAJA BURUK RUPA

RATU GEMUK MILIK RAJA BURUK RUPA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Transmigrasi / Sistem
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Tanya Balik

masih up, cuma jarang!


Morline terlempar ke dalam novel sebagai istri gemuk sang antagonis, kehidupannya seharusnya berhenti di sana namun dia tak hidup mengenaskan sebagai karakter figuran. Morline harus bangkit, mengubah hidupnya lebih baik lagi dan lebih baik lagi.


Cedric kini mulai menyadari bahwa gadis gemuk yang selama ini dia anggap remeh ternyata memiliki rahasia yang luar biasa. perlahan dan tanpa Cedric sadari dia mulai terjerat dalam rencananya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tanya Balik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21. Akhirnya kembali.

21.

"Hachuu!"

Morline menggosok hidungnya yang memerah, tubuhnya menggigil kedinginan dengan seluruh sendiri nyeri menusuk.

Nina sudah membuatkan ramuan penyembuh, tapi demam Morline tak kunjung turun sejak semalam. Karel hanya berdiri di samping dipan, menatapnya dengan mata yang seakan-akan ingin menangis.

Sesekali Morline membuka matanya agar Karel tak khawatir, berbicara pada Nina untuk tidak perlu membuatkannya ramuan apapun karena Morline menyakini dia akan sembuh dalam waktu 12 jam, setidaknya itulah yang dikatakan sistem saat misi dinyatakan gagal.

"Aku pasti akan sembuh, kalian jangan cemas." Dengan suara hidung tersumbat dan serak, Morline menatap keduanya bergantian sebelum akhirnya memejamkan mata, tertidur karena pengaruh ramuan yang dibuat Nina.

Di alam bawah sadarnya.

(Pengguna, saat ini poin anda nol, anda harus segera mengisi dengan melakukan berbagai misi. Selesai misi anda segera)

"Bagaimana aku bisa menyelesaikan misi!? Misi membuat anak yang punya trauma tertawa itu tak masuk akal. Aku kesulitan! Kau sama sekali tak membantu!"

(Saya sarankan untuk upgrade layanan sistem agar  mendapat layanan yang lebih baik. Versi terbaru sistem antara lain; dapat berinteraksi 24 jam/7 hari dengan pengguna. Membantu pengguna dalam kurun waktu tertentu. Memberikan bonus dan reward lebih banyak dan memandu anda menyelesaikan misi.)

"Ok, aku upgrade sistemnya sekarang!" Putus Morline tanpa berpikir lama.

(Sistem di upgrade....proses pengunduhan. Mohon tunggu beberapa saat untuk bisa menggunakan kembali)

Sistem itu tertutup, Morline yang berada di alam bawah sadarnya hanya duduk sendiri di kegelapan yang hening, menunggu sistem selesai mengunduh.

Di kehidupan nyata, Gengi yang melihat kondisi Morline berencana membawa ratu muda itu ke dokter, tapi yang menjadi kendala adalah bagaimana cara mereka membawanya?

"Tuan Gengi bagaimana ini? Yang mulai tak bangun-bangun sejak tadi?" Nina meremas gaun dengan gelisah, sudah sekitar 5 jam sejak Morline tertidur dan sampai siang hari, ratu muda itu belum terbangun juga.

"Apa beliau sudah minum obat?"

Nina mengangguk, "iya, yang mulia sudah minum ramuan resep dokter Arten."

Mendengar itu, Gengi merasa lega. Dokter Arten terkenal jenius dan tidak ada orang yang tidak sembuh ketika berobat dengannya. "Kita tunggu saja, jika sampai sore beliau belum terbangun atau demamnya tidak turun, kita bawa dia ke dokter."

Nina tidak mengatakan apapun, sejujurnya tidak terlalu setuju dengan keputusan Gengi yang justru memilih menunggu.

Dia kembali ke dipan---dimana Morline terbaring. Nina menggelap keringat ratu muda itu yang terus-menerus bercucuran di tidurnya yang lelap, nafasnya cepat dan dengan wajah kemerahan karena demam.

Tok

Tok

Tok

Gengi mendengar ketukan itu, berjalan untuk membukanya. Eddy datang membawa air. "Aku mengantarkan air untuk kalian."

"Yang mulia!" Teriak Nina.

Gengi bergegas ke kamar dimana mereka berada,  khawatir terjadi sesuatu pada ratu muda itu. Di sana, Nina sedang menunduk dengan air mata deras membersihkan darah yang dimuntahkan Morline. Ratu muda itu masih terlelap tanpa terganggu sama sekali suara bising di kamar.

Melihat darah di selimutnya, wajah Gengi menggelap. Takut terjadi sesuatu pada ratu muda itu, Gengi memutuskan untuk pergi memanggil dokter. "Aku akan panggil dokter."

Saat berbalik, Gengi terkejut melihat Eddy sudah ada di belakangnya. Alisnya mengkerut melihat pria itu masuk tanpa izin. "Tuan, anda seharusnya tak boleh di sini."

"Maaf, aku hanya khawatir. Aku ingin melihatnya, sepertinya keadaan Morline tak baik-baik saja." Eddy tak meminta izin pada Gengi, dia justru memberi tahu secara tersirat bahwa dia ingin melihat keadaan Morline. Matanya bahkan tak lepas dari sosok yang terbaring di atas dipan.

Tanpa menunggu Gengi membalas, Eddy melangkah masuk dengan tergesa. Melihat keadaan Morline yang dipenuhi keringat dan muntah darah, Eddy tak tahan untuk mendekat dan mengulurkan tangannya untuk menyentuh. Namun Nina menghalanginya. "Jangan sembarangan menyentuh tuan." Kata Nina penuh peringatan.

Mata Eddy mengandung kesedihan yang dalam, dia ingin menyentuhnya, mengelusnya tapi tak bisa. Dia hanya bisa menatapnya dengan sedih dan khawatir. "Sebenarnya kenapa ini bisa terjadi?"

"Saya juga tidak tahu, tiba-tiba saja Ya... nona Mor demam saat malam."

"Eugh!" Morline melenguh dalam tidurnya, alisnya mengkerut dalam dan dia bergerak gelisah. Eddy mendekat, dia ingin menggenggam tangannya tapi sekeras mungkin dirinya tahan.

Gengi gegas mendekat ke dipan dan Nina menggenggam tangannya sambil berbisik agar Morline cepat bangun.

Kelompak mata Morline terbuka perlahan, pandangannya kabur dan kepalanya sedikit pusing. Sedikit-demi sedikit, penglihatan Morline kembali, dia terkejut melihat 3 kepala berbeda yang ada di atasnya. Morline hampir berteriak jika saja tak segera menyadari siapa mereka.

"Ahk, astaga. Berapa lama aku tertidur?" Suaranya serak, dia mengurut pelan pelipisnya yang berdenyut.

"Sekitar 5 jam. Saya khawatir saat anda tertidur selama itu. Syukurlah anda segera bangun. Tuan Gengi ingin memanggil dokter saat melihat anda muntah darah."

Mendengar itu, Morline mengecap mulutnya dan merasakan asin bercampur besi logan, serta bau amis yang samar. Morline mengernyit. Dengan sigap Nina menyerahkan air minum pada Morline.

Morline menyeka air di sudut mulutnya dan melihat Eddy di sana, mata gelapnya memancarkan rasa khawatir dengan jelas. "Eddy? Kau juga di sini?"

"Ya, aku tadinya ingin mengantarkan air untukmu. Tapi melihatmu muntah darah aku sangat khawatir."

Morline berusaha tersenyum, "aku sudah baik sekarang, akh!" Morline mencengkram kepalanya yang pusing. "Hanya saja kepalaku masih agak pusing."

"Baiklah kau istirahat saja dulu."

"Ya."

Eddy dengan terpaksa mundur dan pergi dari sana untuk membiarkan Morline istirahat.

Gengi juga pergi karena melihat Morline sudah baik-baik saja, setelah memastikan kondisinya.

Nina mengambil makanan agar Morline ada asupan makan.

Saat itu Morline baru menyadari Karel, bocah itu tak bersuara di sisi dipannya, hanya saja Morline bisa melihat matanya yang memerah. Tanpa bertanya, Morline melambaikan tangannya agar Karel mendekat. Dengan patuh bocah itu mendekat, Morline mengelus kepalanya sambil tersenyum lembut. "Kau khawatir ya padaku, aku sekarang sudah baik-baik saja. Jadi tak apa-apa, kau tak perlu khawatir lagi."

"Aku takut saat kau muntah darah, takut kau tak bangun lagi." Kata Karel berbisik serak, menahan tangisnya.

"Tidak apa, sekarang aku sudah baik-baik saja maaf sudah membuatmu khawatir, lain kali aku akan menjaga tubuhku baik-baik agar tak membuatmu khawatir lagi. Kau sudah makan belum, ayo makan bersama."

....

Gengi datang ke sungai untuk memberikan uang pada mereka ketika hari sudah sore, sekaligus memeriksa perkembangannya.

Mengetahui bahwa kedalaman sumur sudah mencapai 24 meter, Gengi mulai skeptis bahwa di dalam sana ada air. Dengan kedalaman seperti itu, seharusnya ada tanda-tanda bahwa ada air di dalam. Hanya saja, hingga 24 meter dalamnya mereka masih terus menggali.

Gengi kembali ke rumah untuk memberi tahu Morline tentang perkembangan galian.

Ketika mendengarnya Morline terkejut karena tidak menduga mereka akan menggali sedalam itu hanya dalam kurun waktu beberapa hari tanpa alat berat.

"Saya jadi skeptis tentang sumur itu." Kata Gengi.

"Kau cukup percaya saja, di sana adalah area sungai. Pasti ada air di dalamnya. Kita hanya perlu meyakinkan mereka agar terus menggali."

Esok harinya.

Morline sudah bisa beraktivitas dengan normal kembali. Kali ini sistem memberinya misi baru.

Berikan hadiah pada Eddy

Barang: Buatan sendiri.

Reward: 100 poin

Sistem bahkan menyarankan untuk memberi Eddy barang buatan sendiri, seperti sulaman atau gelang tangan. Maka dari itu, Morline mengumpulkan manik-manik kayu dengan semangat untuk membuat gelang sebagai balasan atas hadiah yang diberikan Eddy tempo hari.

Ketika mereka bertemu di ladang untuk bekerja. Morline memberikan gelang manik kayu Cendana yang harum.

"Ini untukmu sebagai balasan miniatur kotak itu." Morline memberikan pada Eddy saat Gengi dan Tande sedang sibuk mengaduk kompos dan membantu para wanita itu menebar sekam sisa bakaran ke ladang.

Eddy menatap gelang dengan warna cokelat tua dan mengeluarkan harum kayu Cendana yang khas. Dia menerimanya dengan gerakan lembut, jempolnya mengelus tekstur manik itu yang halus. "Untukku? Kau beli dari mana?"

"Yah, sebenarnya manik-manik itu berasa dari gelang yang putus milikku, tapi aku buat gelang itu sendiri. Menyusunnya. Bahkan aku mengukir namamu di sana." Morline menunjuk satu manik yang memiliki ukiran Ed---dua huruf itu tampak tak rapih menandakan si pembuat samasekali tak memiliki keterampilan. "Maaf, aku hanya menyingkat namamu karena tak cukup tempat."

"Tidak masalah, aku senang kau memberikanku hadiah juga. Hadiah ini sebagai tanda bahwa kita memiliki hubungan dekat kan?" Eddy menatap wajah Morline, bertanya ambigu.

"Kalau yang kau maksud adalah teman, ya! Kita memiliki hubungan pertemanan. Jujur saja aku cukup nyaman berbincang denganmu dibanding Gengi dan Tande." Mata Morline menatap kedua pria itu yang sedang di goda para nyonya, mereka berdiri tampak kaku di sana. Morline tersenyum menertawakan mereka.

Eddy menunduk, menatap gelang di tangannya kemudian mengelus lembut dan penuh kehati-hatian. "Begitu ya."

Misi terselesaikan.

Hadiah 100 poin telah diterima.

Morline menjerit senang dalam hati ketika misi selesai. Setelah upgrade ke versi terbaru, sistem jadi lebih ramah dan menyenangkan. Jika sistem memberinya misi seperti ini setiap hari, Morline akan dengan senang hati menjalani misinya.

"ADA! ADA AIR!"

Tuan Bass berlari sambil berteriak. Semua orang di ladang menoleh. Morline mendekat di ikuti Eddy.

"Ada air! Baru saja Kroner bilang kalau dia merasakan hawa dingin. Tanda-tanda jika di dalam sumur mengandung sumber air! Ada air!"

"Benarkah?! Kau jangan bercanda!"

"Tidak, kalau mau lihat ayo ke sana!"

Maka semua orang pergi ke sungai. Para pria di sana sedang sibuk menggali dengan semangat. Mengoper ember berisi tanah untuk di keluarkan dari dalam sumur. Mereka mengkonfirmasi bahwa di dasar sumur suhunya dingin, tanda jika mereka sudah mendekati sumber air.

Mendapat kabar bahagia itu, semua orang bersorak haru. Selama 5 tahun kekeringan, akhirnya mereka bisa menemukan air lagi.

Bulan bertahta megah di atas sana, sinarnya yang lembut menerpa sebagian belahan bumi. Semilir angin malam menerbangkan daun-daun kering,  melayang pelan sebelum akhirnya mendarat perlahan ke tanah.

Sebuah kaki menginjak daun itu hingga terbelah menjadi beberapa bagian, kemudian kaki-kaki lain mengikuti. Hentakan mereka ritmis dengan suara musik yang dimainkan.

Gitar dan drum dimainkan dengan ritme cepat mengikuti tarian yang energik dan ceria. Kedua tangan saling bertaut satu sama lain dan kedua kaki saling menghentak tanah untuk menciptakan suara derap yang harmonis.

Morline tersenyum dengan kedua tangan yang menepuk mengikuti irama musik. "Nina, ayo kita ikut menari juga." Ajak Morline, Nina menggeleng malu. "Ayo ini seru lho, kita menari sama-sama."

"Saya tak bisa menari." Bisik Nina. Dia menyusutkan tubuhnya agar Morline tidak memaksanya untuk ikut menari juga.

"Ya sudah kalau tidak mau. Karel kau mau menari denganku?" Morline menunduk, menatap bocah itu yang sedang memandang warga desa menari sebagai bentuk rasa syukur dan suka cita mereka telah menemukan air.

Karel melihat anak-anak desa yang menari, seumur hidupnya tak pernah menari. Karel menggeleng.

Morline cemberut, padahal dia ingin menjadi bersama tapi tak ada seorangpun yang menemaninya. "Yaah, kau juga tak mau ya. Padahal aku ingin menari."

Melihat wajah sedih Morline, Karel seketika berubah pikiran. Dia menggenggam tangan Morline. "Menari, menari."

Senyum Morline kembali terbit, dia tak menyia-nyiakan kesempatan. Dia langsung menarik Karel dan mengikuti gerakan mereka dengan sedikit kaku awalnya kemudian mulai beradaptasi, tubuhnya yang gemuk bergerak lincah bersama anak-anak desa dan para orang dewasa yang juga ikut menari.

Melihat Morline tertawa senang sambil menari, membuat Eddy tersenyum lembut dengan mata yang menatap dalam pada gadis itu.

"Eddy, apa kau memiliki saudara yang kondisinya mirip sepertimu?" Tanya Gengi tiba-tiba.

Senyum di bibir Eddy seketika luntur, dia melirik Gengi curiga lalu menjawab, "tidak."

"Begitu." Kepala Gengi hanya manggut-manggut.

Eddy menebak-nebak apa yang pria itu pikiran sekarang, kemungkinan terburuknya Gengi sudah menaruh curiga padanya. Namun, Eddy tak tahu sampai mana batas kecurigaan pria itu padanya, hanya saja Eddy tahu bahwa dia harus berhati-hati.

Besoknya, mereka memasang pipa di sumur itu lalu membeli pompa air dari sana desa. Karena sumurnya tergolong sangat dalam, bisa mencapai 30 meter lebih, mereka lebih memilih menggunakan pompa air untuk menimba.

Dan nantinya, warga bisa menggunakan untuk keperluan sehari-hari. Setidaknya untuk jangka pendek karena mereka tak tahu kapan penyimpanan air di dalam sana akan terkuras habis dan apakah hujan akan turun di Targus.

Namun setidaknya dengan ini mereka jadi sedikit terbantu.

Besoknya, Gengi kembali ke pasar. Bukan untuk membeli persediaan, tapi untuk mencari informasi tentang pria yang dia lihat bersama Tande kemarin.

Dia bertanya pada orang di sekitar bangunan tua tentang pria bungkuk itu.

"Ah, sepertinya kau mencari Marcelus ya?"

Meski tak tahu siapa dia, tapi Gengi mengangguk.  "Ya aku mencarinya, kau kenal?"

"Dia sekitar 1 bulanan bekerja di sini sebagai tukang bersih-bersih. Kondisinya memang bungkuk tapi dia tampak semangat bekerja."

"Sekarang dimana dia?"

"Sekitar jam 9 lagi, dia akan masuk ke gedung tua  itu untuk bekerja. Memangnya kau ada perlu apa?"

"Tidak apa-apa, hanya bertanya. Terimakasih." Gengi berbalik pergi ke gedung tua, dia berniat menunggu pria itu.

Tak lama, seorang pria bungkuk dengan tudung menutupi wajahnya berjalan ke arah gedung tua. Gengi yang menunggu segera berlari dan mencegat pria itu. "Tunggu!" Pria itu berhenti. Dia berbalik, hanya saja wajahnya tertutup tudung jubah. "Bisakah aku melihat wajahmu?"

"Untuk apa anda ingin melihat wajah saya?" Suara pria itu serak, seakan ada yang tersangkut di tenggorokannya.

"Hanya ingin memastikan, bisakah anda membukanya."

Tangan Marcelus bergerak pelan menarik tudungnya. Kain itu dengan pelan turun dari atas kepalanya dan memperlihatkan wajah dengan kulit kecoklatan, mata dan rambut yang hitam. Rambut di potong pendek, terlihat rapih dan mengkilap. Berbeda dari bayangan Gengi tentang wajah pria itu, dia samasekali tidak mirip dengan Eddy.

"Kalau boleh tau siapa nama anda?"

"Marcelus. Saya punya pekerjaan, saya pergi dulu."

"Tunggu!" Gengi mencegah lagi.

"Apakah anda mengenal Eddy?"

"Tidak. Saya permisi." Kali ini Gengi tak mencegahnya pergi. Dia kira Marcelus dan Eddy memiliki hubungan, ternyata keduanya tak saling mengenal.

Gengi mendesah, entah mengapa justru dia menaruh curiga pada Eddy yang seorang pria bungkuk sampai-sampai rela menyelidiki pria asing hanya karena dia juga bungkuk. Padahal kalau Gengi pikirkan lagi, semua itu tak ada hubungannya. Gengi kembali dengan pikiran yang penuh.

Tanah yang tadinya kering setelah satu bulan membiarkan jerami dan tanaman lain ter-dekomposisi. Proses itu menguraikan bahan-bahan organik menjadi materi yang mengandung unsur hara untuk tanah.

Kompos juga mulai termaterialisasi dengan baik. Para warga setempat memulai menanam bibit yang sudah mereka semai sebelumnya.

Sementara para pria bekerja di sumur untuk memasang pipa dan pompa air.

1 bulan berlalu di ibu kota.

Cedric kembali datang di pangkalan militer untuk melihat perkembangan senjata api. Kata Arnad pembuatannya sudah 80% dan akan siap dalam 1 Minggu ke depan.

Setelah dari pangkalan Cedric kembali ke istana untuk menghadiri pertemuan dengan para menteri terkait masalah di wilayah Utara.

Setelah dia mendapat kabar bahkan ada kelompok radikal di Targus, Cedric meminta Gengi mengawasi, lalu kemudian Gengi mengirim bahwa ketua mereka telah mati mengenaskan dengan kepala terpisah dari tubuh, informasi yang diberikan ada yang membunuh orang itu.

Sampai sekarang Gengi belum memberinya infomasi apapun terkait orang misterius itu, siapa dan kenapa dia membunuh Brox.

Sekembalinya ke istana, Cedric di sambut oleh Joseph. Meski renta dan gerakannya sudah terbatas, dengan keras kepala pria tua itu ingin tetap melayaninya. "Yang mulia, surat dari ratu Morline."

Cedric mengambilnya dari tangan Joseph, dia berjalan menjauh dan duduk di sofa beludru ruang utama untuk membacanya.

"Halloo yang mulia raja, ada kabar baik untuk anda. Coba tebak?"

Cedric sudah terbiasa dengan pembukaan surat seperti ini, matanya bergulir ke bawah untuk membaca paragraf selanjutnya.

"Kami akan pulang dalam waktu dekat, kalau tak ada hambatan 1 Minggu lagi kami akan kembali. Apa anda senang? Seharusnya iya, karena saya kembali ke istana untuk membantu anda lagi."

"Oh, ya. Saya juga akan membawa Karel, mungkin saya akan mengangkatnya sebagai adik? Saya juga belum berpikir ke sana, tapi saya ingin Karel tinggal di istana bersama saya. Jadi kalau kami sampai nanti, anda jangan marah ya. Salam dari Morline."

Cedric melipat suratnya. Gadis gemuk itu akan kembali? Dan siapa Karel yang selalu dia sebut dalam surat, Cedric cukup penasaran dengan bocah bernama Karel itu.

Karena tugas mereka di sini sudah selesai, Morline berniat kembali ke ibu kota.

Mereka berpamitan pada warga yang memberikan mereka oleh-oleh buah khas desa mereka dan makanan untuk diperjalanan.

Morline dan yang lain menerima dengan senang hati. Mereka melambaikan tangan saat kereta kuda menjauh dari desa, melihat orang-orang berbaris mengantar mereka pulang Morline jadi terharu sendiri. Dia tiba-tiba saja mengingat momen saat mereka pergi ke Targus.

Eddy menatap kereta kuda menjauh, untuk beberapa saat Morline menatapnya dan tersenyum sebelum masuk kembali ke dalam kereta kuda.

Tidak ada pemisahan yang mengharukan atau dramatis di sini, cukup lambaian tangan dan ucapan tulus dari warga untuk mereka. Begitupun dengan Eddy, dia berharap mereka menempuh perjalanan yang baik.

Setelah kereta kuda menjauh, Eddy berbalik pergi di ikuti tetua desa yang menyadarinya. Mereka pergi ke rumah Eddy.

"Tuan apa anda juga akan pergi?"

Eddy yang sedang mengemasi barang-barangnya di tas, menjawab, "aku tak memiliki alasan untuk tinggal lebih lama. Satu-satunya yang menahanku adalah Morline. Sekarang dia kembali ke ibu kota begitupun denganku."

"Tapi tuan bagaimana dengan Bou dan kelompoknya. Apakah mereka akan kembali?"

"Kau jangan khawatir, Bou sudah terkena racun yang membuatnya lumpuh.  Sementara untuk yang lain, mereka tidak akan berani membuat onar lagi karena pihak istana sedang memata-matai mereka."

"Saya mengerti, terimakasih atas bantuan anda tuan. Selama ini andalah yang selalu peduli pada kami, jauh sebelum mereka datang membantu. Rasanya membalas kebaikan anda dengan barang berharga atau ucapan terimakasih yang tulus tidak cukup." Wajah keriput pria itu dipenuhi rasa syukur yang begitu dalam hingga kata-kata tak bisa mendeskripsikannya.

Eddy terdiam, tubuhnya berputar menatap tetua. Tatapan mata gelapnya begitu tajam dan datar. "Tujuanku hanya satu; mengubah hukum Hesperias, tapi melihat ada orang yang memiliki tujuan yang sama dengan cara yang berbeda, kenapa aku harus menggunakan cara kekerasan jika bisa dengan cara seperti itu. Saat ini aku lebih tenang karena ada dia di istana. Setidaknya dia punya cukup pengaruh untuk mengubah beberapa hukum di Hesperias.

"Aku akan kembali ke ibu kota, kalau kelompok Bou berulah lagi, kau tau yang harus kau lakukan bukan?"

Tetua mengangguk. "Saya tentu sudah memahaminya."

1
Uthie
Wahhh... ternyata Edy baik juga 😍👍👍
Uthie
Selalu setiap menanti kelanjutannya kembali 👍👍👍👍😍
Uthie
ditunggu Lagii 👍👍👍
kiu kiu
lanjut thor..jgn terlalu lama updatenya...
kiu kiu
kpn upnya thor
Tanya Balik
guys aku nulis tiap bab-nya minimal 2000 kata, banyak lho itu. Jadi maklum aja ya lama up-nya. 🙏🙏😄
kiu kiu
morline sangat baik terhadap karel.suatu saat karel akan tumbuh besar dan akan menjadi pelindung utk morlin...cerita ini mengisahkan kasih sayang ibu dan anak.tp berbeda dg apa yg di alami morline.yg sudah menganggapnya keluarga.
Uthie
lagiiii 🤩🔥🔥
kiu kiu
jgn terlalu lama updatenya thor...ak penasaran dg gadis gemuk ini.apa yg akan dia lakukan di daerah targus itu. apa lagi eddy selalu mengawasi.
Uthie
Ditunggu lagiiii 🔥🔥🔥
Uthie
Lanjutttt lagiii...
setia menunggu up berikut nya 😁👍
kiu kiu
lanjut thor...updatenya jgn jarang jarang.
Uthie
Di tunggu lagiii aksi nyata dari Ratu Morline 😍👍

lanjuuttttt lagiiii 💪💞
kiu kiu
masih update nggk thor...
Tanya Balik: masih, tapi up-nya memang jarang2 di tunggu aja ya😄🙏
total 1 replies
Uthie
Wahhhh.... lagi seru-serunya baca soal Morline... malah udahan aja 🤩🤩

Jangan lama-lama up nya lagiiii yaaa Thor 😘🤗🙏
Uthie
Morline ratu yg baik 👍👍😇
Uthie
Sukkkaaa ceritanya 👍👍👍👍👍
Uthie
Sukkkkaaa ceritanya 👍👍👍👍👍👍
lanjut lagiiii 👍👍👍😍
Uthie
Wahhh... ada yg kesengsem sama Morline 😂👍
Uthie
seruuu 👍😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!