Cinta adalah anugerah... tapi bagaimana jika cinta harus kamu berikan pada orang lain?
Aletta syavira levania dan Dilan Wijaya Kusuma saling mencintai sejak SMA – cinta yang tumbuh perlahan seperti bunga di musim hujan. Namun ketika sahabatnya Tamara Amelia Siregar mengaku jatuh cinta pada Dilan untuk pertama kalinya, Aletta membuat keputusan berat, melepaskan orang yang dicintainya demi menyenangkan sahabatnya.
"Dia butuh kesempatan, aku mohon Dilan, aku jaminan kamu akan lebih bahagia sama dia." Ucapnya dengan nada yang memelas sampai Dilan pun tak tega untuk menolaknya
Untuk memenuhi janjinya, Aletta mencari cinta baru melalui media sosial dan bertemu Jonathan Adista sanjaya. Sementara itu, Dilan dengan berat hati menjalin hubungan dengan Tamara. Di depan orang lain, semuanya terlihat sempurna – dua pasangan yang harmonis dan bahagia. Namun di balik senyum dan candaan, setiap tatapan Aletta dan Dilan menyimpan rasa rindu yang tak bisa disembunyikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Pagi itu, matahari baru saja naik sepenggalah, menyinari dedaunan yang masih basah oleh embun malam. Udara pagi terasa sangat sejuk, menyapa kulit dengan lembut, namun kesejukan itu sama sekali tidak mampu menembus dinginnya hati Aletta.
Hari ini adalah hari libur Praktik Kerja Lapangan (PKL)-nya di puskesmas. Biasanya, hari libur adalah hari yang paling ditunggu, hari di mana dia bisa beristirahat, bersantai, dan menghabiskan waktu bersama orang-orang tersayang. Namun hari ini, libur itu terasa berat, panjang, dan sepi sekali.
Sejak subuh, Aletta sudah tidak bisa tidur lagi. Bayangan wajah Jonathan yang lelah, pandangannya yang penuh kepedihan, dan kepergiannya yang mendadak tanpa kabar itu terus berputar di kepalanya seperti kaset yang rusak.
Sudah berhari-hari berlalu sejak malam itu saat dia menangis di pelukan Puspa, namun keadaan masih sama Jonathan hilang ditelan bumi. Ponselnya masih mati, rumahnya sepi saat Aletta sempat lewat, dan tidak ada satu pun orang yang bisa memberi kabar pasti tentang keberadaannya.
Untuk sedikit menenangkan hati dan melepas penat, Aletta memutuskan untuk pergi joging mengelilingi kompleks perumahan dan taman kota kecil di dekat rumahnya.
Dia mengenakan pakaian olahraga yang nyaman, mengikat rambutnya ke belakang, lalu melangkah keluar dengan langkah yang pelan namun mantap.
Sepanjang jalan, matanya terus meneliti setiap sudut, setiap orang yang lewat naik motor atau berjalan kaki, berharap sekilas saja dia bisa menangkap sosok yang sedang ia cari.
Namun nihil. Jalanan ramai, tapi hatinya tetap sepi, sambil mengayunkan langkah kakinya, pikirannya terus melayang jauh ke arah Jonathan.
"Kamu di mana sih, Jo? Kamu baik-baik aja nggak di sana? Apakah kamu sudah makan? Apakah kamu sudah berhenti menangis? Atau kamu masih mengurung diri di kamar yang gelap itu?" Pertanyaan-pertanyaan itu terus bergema di kepalanya, tak ada jawaban.
Dia ingat betul apa kata Puspa, bahwa dia harus bersabar, berdoa, dan menunggu sampai Jonathan siap kembali. Tapi rasanya menunggu itu adalah hal yang paling menyakitkan di dunia.
Rasanya ada rindu yang menumpuk tinggi, tapi tak ada tempat untuk dituju. Rasanya ada kekhawatiran yang menyesakkan dada, tapi tak ada cara untuk menolong.
Aletta terus berlari pelan, napasnya teratur, tapi matanya sayu dan kosong. Dia melewati taman kota yang mulai ramai, melihat anak-anak yang tertawa bermain, melihat pasangan-pasangan yang duduk berdua bergandengan tangan.
Pemandangan itu justru semakin membuat hatinya perih. Dulu, tempat ini sering menjadi tempat mereka berdua duduk, bercerita tentang mimpi-mimpi mereka, tentang masa depan, tentang segalanya. Sekarang, bangku taman itu kosong, sama seperti hatinya.
Saat kelelahan mulai terasa menjalar di kakinya, Aletta memutuskan untuk beristirahat sejenak di bangku kayu yang berada di bawah pohon besar yang rindang.
Dia mengelap keringat di dahinya dengan handuk kecil, lalu meneguk air minum dari botolnya pelan-pelan. Udara sejuk di bawah pohon itu perlahan mulai membuat pikirannya sedikit lebih tenang, meski rasa cemas itu belum hilang sepenuhnya.
Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki yang dikenalnya mendekat, disertai suara tawa renyah yang khas. Aletta menoleh, dan ternyata Ruby sedang berjalan santai sambil memetik bunga kecil di pinggir jalan, sepertinya Ruby juga sedang berjalan-jalan pagi untuk menghirup udara segar.
Begitu melihat Aletta duduk sendirian dengan wajah yang murung dan pucat, Ruby segera mempercepat langkahnya dan duduk di sebelah sahabatnya itu.
"Eh, Aletta! Loh ngapain sendirian aja di sini? Libur malah kelihatan sedih banget gitu muka nya," sapa Ruby dengan nada ceria, namun matanya langsung menangkap kesedihan yang mendalam di wajah Aletta.
Ruby mengerutkan kening, lalu menyentuh bahu sahabatnya itu pelan. "Loh kenapa, Al? Masih kepikiran ya soal Jo?"
Belum sempat Aletta menjawab, ponsel yang ada di saku celana olahraganya tiba-tiba berdering nyaring. Keduanya serentak menoleh ke arah ponsel itu.
Di layar tertera nomor yang sama sekali tidak dikenal, tidak ada namanya, dan angkanya pun asing sekali bagi Aletta. Hati Aletta berdebar kencang sejenak, berharap mungkin itu Jonathan yang menelepon dari nomor lain, atau kabar dari seseorang.
Namun, naluri hati berkata lain. Nomor itu terlihat mencurigakan, dan ingatannya teringat bahwa belakangan ini sering ada telepon iseng atau penipuan yang mengganggu.
Aletta menatap nomor itu lekat-lekat, lalu perlahan menggeleng dan membiarkan ponsel itu berdering sampai berhenti sendiri. Dia tidak mengangkatnya.
"Nomor nggak dikenal, Ruby. Takutnya orang iseng atau penipu. Biasanya sih kalau ada hal penting, pasti bakal telepon ulang atau kirim pesan dulu," ucap Aletta pelan sambil memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku.
Dia menghela napas panjang, lalu menatap Ruby dengan mata yang berkaca-kaca. "Loh bener, Ruby... Gue masih kepikiran banget sama dia. Rasanya nggak tenang, rasanya ada yang hilang, rasanya gue kayak orang yang bingung mau ke mana."
"Dia hilang gitu aja, tanpa pesan, tanpa kabar, sejak kejadian Papahnya sakit. Gue nggak tahu dia di mana, dia ngapain, dia sakit atau sehat... Gue nggak tahu apa-apa."
Ruby menatap Aletta dengan pandangan yang lembut namun juga penuh rasa bahagia yang tulus. Dia merangkul bahu sahabatnya itu, mengusap lengan Aletta pelan untuk memberi kekuatan.
"Sayang banget sih loh, Al... tapi percaya deh, apa yang loh rasain sekarang itu bukti kalau hati loh udah jatuh sepenuhnya ke Jo," ucap Ruby pelan, tersenyum manis.
"Jujur ya, gue seneng banget, Al. Gue seneng banget akhirnya loh bisa bener-bener mencintai Jo dengan sepenuh hati, dan perlahan-lahan bayangan Dilan itu udah mulai pudar dan hilang dari hati loh."
"Dulu kan loh sempat berat banget buat lupain Dilan, sempat bimbang antara masa lalu dan masa depan. Tapi sekarang, lihatlah... yang loh tangisi, yang loh cari, yang loh rindukan... itu Jo."
"Itu tandanya hati loh udah memilih, Al. Dan gue seneng banget akhirnya loh udah melupakan Dilan, udah nggak terikat lagi sama masa lalu yang cuma bikin sakit hati itu."
Mendengar nama Dilan disebut, Aletta hanya diam dan menunduk. Benar kata Ruby. Dulu, Dilan adalah nama yang membuatnya sakit hati berbulan-bulan lamanya.
Dilan yang sangat berarti di dalam hidupnya, Dilan yang membuatnya menangis, Dilan yang menjadi masalalunya. Namun sekarang, entah kenapa, nama itu rasanya sudah biasa saja, sudah tak lagi menusuk hati. Kini yang menusuk hatinya adalah nama Jonathan.
"Iya, Ruby... Loh bener," jawab Aletta lirih.
"Dilan rasanya udah kayak cerita lama yang udah selesai. Gue udah nggak mikirin dia, udah nggak peduli dia ada di mana atau sama siapa. Memang bener, gue udah lupa sama Dilan. Tapi justru sekarang... Jo yang bikin gue begini."
Ruby tersenyum lebar, matanya berbinar seolah ada kabar gembira yang ingin dia bagikan. Dia membenarkan posisi duduknya, lalu bercerita dengan semangat.
"Nah itu dia, makanya gue seneng banget! Dan loh tahu nggak, Al? Kabar terbaru soal Dilan? Tiap hari, Tamara selalu menyempatkan waktunya buat ke kosan gue buat ketemu sama Dilan. Tamara emang setia banget sama Dilan."
"Dulu kan Tamara juga suka sama Dilan, tapi dia sempat mundur karena tahu loh juga ada perasaan sama dia. Tapi pas loh mulai menjauh dan masuk ke dunia sama Jo, Tamara perlahan mendekat."
"Dan sekarang... mereka makin dekat banget, Al. Tamara selalu ada buat Dilan, nemenin dia ngobrol, nemenin dia makan, nemenin dia kalau dia lagi kesepian atau butuh teman. Rasanya hubungan mereka makin dekat, makin erat, dan kayaknya sih... Tamara udah berhasil masuk ke hati Dilan pelan-pelan."
Aletta mendengarkan cerita itu dengan tenang, hatinya sama sekali tidak merasa tersentuh atau sakit sedikit pun. Justru dia merasa lega dan bahagia mendengarnya.
"Wah, beneran, Ruby? Seneng banget dengernya," jawab Aletta dengan senyum tulus.
"Tamara emang orang yang paling tulus dan paling sabar, dia baik banget sama Dilan dari dulu. Dilan beruntung banget kalau sekarang ada Tamara yang nemenin dia."
"Gue ikut seneng banget, semoga mereka bahagia ya. Dulu gue sempat khawatir soal Dilan, tapi sekarang kalau ada Tamara yang jagain dia, gue jadi tenang banget. Semua cerita lama udah selesai, dan semua orang udah dapat jalannya masing-masing."
"Nah gitu dong! Itu namanya bahagia saling bahagiain," ucap Ruby riang.
"Lihat kan, Al? Dunia itu berputar. Dulu loh sedih karena Dilan, sekarang Dilan bahagia sama Tamara, dan loh..."
"Loh sebenernya udah bahagia sama Jo, cuma lagi ada ujian aja berupa perpisahan sementara ini. Percaya deh, ujian ini cuma sebentar. Nanti Jo pasti balik lagi, dan hubungan kalian bakal makin kuat banget."
Mereka pun duduk berdua di bangku taman itu cukup lama, mengobrol panjang lebar. Mulai dari kenangan masa lalu, kisah cinta Tamara dan Dilan, kebersamaan mereka saat menginap di kosan bersama teman-teman satu kelompok, sampai rencana-rencana mereka ke depannya.
Suasana hati Aletta perlahan menjadi lebih ringan. Kehadiran Ruby seolah menjadi obat yang menenangkan hatinya yang gelisah. Ruby selalu tahu cara bicara yang tepat, selalu bisa mengembalikan semangatnya, dan selalu mengingatkan betapa berharganya apa yang dia miliki.
Matahari makin tinggi, udara makin hangat dan terik. Tiba-tiba ada sepasang tangan menutup mata Ruby dari belakang, disertai suara tertawa jahil yang sangat dikenal.
Ruby langsung tertawa lepas, menepuk tangan itu dan berbalik badan. Di sana berdiri Anwar, kekasih Ruby yang datang menjemputnya seperti biasa.
"Kamu nih, lama banget ngobrolnya, aku udah nunggu dari tadi di ujung jalan lho," canda Anwar sambil tersenyum ramah menyapa Aletta. "Hai, Aletta. Gimana kabar loh?"
"Baik, Kak. Kakak Anwar sendiri? Gemas aja nih sama Ruby, ngomong terus nggak selesai-selesai," jawab Aletta tertawa kecil.
Ruby pun berdiri, merapikan bajunya, lalu menatap Aletta dengan pandangan sayang. "Yaudah ya, Al. Gue sama Kak Anwar mau pergi dulu nih. Loh hati-hati ya pulangnya."
"Jangan terlalu dipikirin berat-berat ya masalah Jo, loh udah berbuat yang terbaik. Nanti kalau ada apa-apa atau butuh teman ngobrol, telepon gue aja ya, Al. Gue bakal langsung datang."
Aletta mengangguk, lalu memeluk sahabatnya itu erat sejenak. "Siap, siap. Makasih banyak ya, Ruby, udah dengerin gue ngomel dan sedih dari tadi. Loh sama Kak Anwar juga hati-hati ya, jaga diri baik-baik."
Setelah Ruby dan Anwar berjalan menjauh, Aletta pun berdiri dan memijat kakinya yang sedikit pegal. Dia menatap sekeliling taman untuk terakhir kalinya, lalu memutuskan untuk berjalan kaki pulang ke rumah.
Hatinya sudah jauh lebih tenang dari sebelumnya, meski rasa rindu dan khawatir pada Jonathan masih ada tersisa.
Langkah kaki Aletta terasa ringan saat dia berjalan menyusuri jalan setapak menuju rumahnya. Pikiran-pikirannya yang kacau tadi kini sudah jauh lebih teratur berkat obrolan panjangnya dengan Ruby.
Dia berjanji dalam hati, dia akan tetap bersabar, tetap berdoa, dan tetap menunggu Jonathan sampai kapan pun. Dia percaya kata-kata Puspa, dia percaya kata-kata Ruby, bahwa Jonathan pasti akan kembali saat dia sudah siap.
Dari kejauhan, gerbang rumahnya mulai terlihat. Pagar cat putih yang selalu dia kenal, halaman depan yang luas dan bersih.
Namun, saat jaraknya tinggal beberapa langkah lagi sampai di depan rumah, langkah kaki Aletta mendadak terhenti kaku. Jantungnya seolah berhenti berdetak sekejap, lalu berpacu jauh lebih cepat dari sebelumnya.
Di depan pagar rumahnya, terparkir sebuah motor hitam yang sangat dikenalnya. Dan berdiri di sana, menyandarkan tubuhnya pada pagar sambil menunduk diam, adalah Fahri, teman dekat sekaligus kerabat dekat Jonathan.
Aletta merasa kaget bercampur bahagia. Matanya langsung berbinar, hatinya berteriak gembira. "Fahri ada di sini! Kalau Fahri ada di sini... berarti... berarti Jonathan juga ada di sini kan?! Pasti mereka datang bareng! Akhirnya... akhirnya dia datang nemuin gue!"
Dengan napas yang mulai memburu karena rasa bahagia yang meluap, Aletta berlari kecil menghampiri Fahri.
Dia tersenyum lebar, wajahnya yang sedih tadi kini berubah cerah seketika. Dia sudah bersiap untuk langsung bertanya, untuk langsung mencari sosok yang selama ini dia tunggu-tunggu.
"Fahri! Fahri!" panggil Aletta dengan suara lantang dan bahagia.
"Loh ngapain ada di sini?! Loh sama Jo kan? Dia ada di mana, Fahri? Dia bawa motornya sendiri atau gimana? Kemana dia pergi, kok cuma loh yang berdiri di sini?!"
Namun, begitu Fahri mengangkat wajahnya menatap Aletta, senyum bahagia itu perlahan memudar dan hilang sama sekali dari wajah Aletta. Wajah Fahri terlihat pucat, kaku, dan penuh dengan rasa sedih yang mendalam.
Matanya merah, bengkak, dan pandangannya kosong. Tidak ada senyum menyambut di wajah pemuda itu. Fahri hanya diam menatap Aletta dengan tatapan yang sulit diartikan, campuran rasa kasihan, rasa bersalah, dan kepedihan yang besar.
Aletta berhenti melangkah tepat di depan Fahri, napasnya tercekat di tenggorokan. Perasaannya yang tadi bahagia berubah menjadi firasat buruk yang kembali menyergap tajam. Udara di sekitar mereka terasa mendadak menjadi berat dan hening.
"Fahri... kenapa loh diam aja?" tanya Aletta lagi, suaranya melemah dan bergetar. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan, mencari sosok Jonathan yang tak kunjung muncul.
"Mana Jo? Loh datang ke sini sama dia kan? Kemana dia pergi, Fahri? Kenapa loh datang ke rumah gue... tapi nggak ada Jk sama sekali?"
Fahri menghela napas panjang dan berat, napas yang terdengar sangat lelah dan menyakitkan. Dia mengusap wajahnya kasar dengan kedua tangan, lalu perlahan mendekat ke arah Aletta. Suaranya keluar rendah dan parau, penuh dengan kesedihan yang tak terlukiskan.
"Maaf, Al... cuma gue yang datang..." jawab Fahri pelan, suaranya bergetar.
"Gue datang ke sini atas kemauan gue sendiri... atas permintaan orang rumah... dan karena gue nggak tega lihat loh nunggu terus kayak gini."
Aletta mundur selangkah, tubuhnya terasa lemas seketika. Dadanya kembali sesak, rasa takut itu datang lagi, jauh lebih kuat dari sebelumnya.
"Maksud loh apa, Fahri? Jo di mana? Dia kenapa nggak ikut sama loh? Dia kenapa nggak datang sendiri nemuin gue? Ada apa sebenarnya?!" seru Aletta, suaranya pecah dan bergetar hebat.
Kakinya terasa lemas seketika, seolah tanah di bawahnya bergerak bergoyang. Tangannya gemetar menggenggam ujung baju olahraganya, matanya menatap tajam namun penuh ketakutan ke arah Fahri, berharap pemuda itu akan segera menggeleng dan bilang kalau semua ini cuma lelucon buruk.
Fahri menunduk dalam, tak sanggup menatap mata Aletta yang mulai berlinang air mata itu. Dia mengusap kasar wajahnya yang pucat dan lelah, napasnya keluar berat dan panjang seolah memikul beban yang tak tertahankan.
Dia tahu, momen ini adalah momen yang paling berat harus dia hadapi, lebih berat dari pada apa pun yang pernah dia alami sebelumnya.
Dia tahu, apa yang akan dia sampaikan sebentar lagi akan menghancurkan hati gadis di hadapannya ini, sama seperti hati sahabatnya sudah hancur berkeping-keping.
Perlahan, Fahri mengangkat wajahnya kembali. Matanya merah, bengkak, dan basah, menyiratkan rasa sakit yang mendalam.
Dia melangkah selangkah mendekat, lalu dengan lembut namun mantap, dia menggenggam kedua bahu Aletta, berusaha memberi sedikit kekuatan meski dia sendiri pun sedang rapuh.
"Maafin gue, Al... maafin gue banget harus jadi orang yang bilang ini ke loh..." suara Fahri keluar parau dan rendah, hampir tak terdengar, namun setiap kata itu menghantam dada Aletta jauh lebih keras daripada pukulan apa pun.
"Jo... Jo nggak bisa datang, Al. Dia... dia nggak bisa kemana-mana sekarang. Dia nggak mau ketemu siapa pun... termasuk loh."
"Kenapa?!" potong Aletta cepat, air matanya mulai menetes jatuh membasahi pipi.
"Kenapa dia nggak mau ketemu gue? Gue kan orang yang paling dia kenal, orang yang paling percaya sama dia! Gue kan yang selalu ada buat dia! Dia kenapa lari dari gue, Fahri? Apa dia benci sama gue? Apa dia marah sama gue? Bilang sama gue, Fahri! Bilang apa yang salah sama gue, biar gue perbaiki!"
Fahri menggeleng kuat-kuat, air matanya pun akhirnya ikut menetes jatuh. Dia menggeleng lagi dan lagi, seolah menolak anggapan itu.
"Bukan begitu, Al! Bukan karena dia benci loh, bukan karena dia marah, bukan karena loh salah apa-apa... malah sebaliknya."
"Justru karena loh terlalu berharga buat dia, justru karena loh terlalu baik, terlalu tulus, terlalu berarti buat dia..."
"makanya dia lari, makanya dia sembunyi, makanya dia nggak mau loh lihat dia dalam keadaan kayak gini," ucap Fahri dengan nada yang semakin tinggi namun penuh kepedihan. Dia menarik napas panjang berusaha menahan isak tangisnya.
"Dia hancur, Al... hancur banget sampai nggak ada lagi kata-kata yang bisa gambarin. Sejak Papahnya meninggal... dunia dia runtuh habis. Loh tahu sendiri kan betapa Papahnya segalanya buat dia? Loh juga tahu kan betapa dia sayang banget sama Papahnya, betapa dia bergantung sama Papahnya?"
"Waktu Papahnya pergi... rasanya dia ikut pergi juga sebagian nyawanya. Dia merasa sendirian banget, Al. Mamahnya... Loh tahu kan sifatnya? Setelah Papah tiada, dia malah makin sibuk sama dunianya sendiri."
"Dia bahkan nggak ada di rumah lebih dari sehari dua hari. Dia pergi lagi, ninggalin Jo sendirian di rumah besar yang kosong dan sepi itu."
Fahri berhenti sejenak, menelan ludah yang terasa pahit, lalu melanjutkan ceritanya yang menyayat hati itu.
"Sejak hari itu... sejak hari pemakaman Papahnya... Jo mengurung diri di kamar, Al. Kuncinya dari dalam. Dia nggak mau keluar, nggak mau makan, nggak mau minum, nggak mau bicara sama siapa pun."
"Gue, paman, bibi, tetangga... kita semua udah coba ketuk pintu, panggil-panggil dia, bujuk dia... tapi diam. Dia cuma diam di dalam sana, seharian, semalaman, terus-terusan."
"Kita denger dia nangis, denger dia memukul-mukul dinding, denger dia bicara sendiri manggil-manggil nama Papahnya... rasanya hati kita juga hancur denger itu, tapi kita nggak bisa ngapa-ngapain, pintunya terkunci rapat."
Aletta menutup mulutnya dengan kedua tangan, isak tangisnya tak lagi bisa ditahan. Tubuhnya terasa goyah, seolah akan roboh kapan saja.
Bayangan Jonathan yang menangis sendirian, yang sakit sendirian, yang hancur sendirian di dalam kamar gelap itu, menusuk jantungnya berkali-kali lipat lebih sakit dari pada rasa sakit apa pun.
"Terus... kenapa dia nggak mau nemuin gue, Fahri?" tanya Aletta di sela-sela tangisannya, suaranya lirih dan penuh luka.
"Dia tahu kan gue ada? Dia tahu kan gue bakal ada buat dia? Dia tahu kan gue bakal peluk dia, bakal dengerin dia, bakal bantu dia? Kenapa dia tolak gue? Apa gue nggak cukup berarti buat dia......buat dia mau berbagi rasa sakit itu sama gue?"
Fahri menggeleng lagi, lalu dengan lembut sia menarik Aletta masuk ke dalam pelukannya, membiarkan gadis itu menangis sepuasnya di bahunya, sama seperti dia menangis saat berada di samping sahabatnya yang hancur itu.
"Loh salah paham, Al... Loh salah paham banget," bisik Fahri sambil mengusap punggung Aletta dengan lembut.
"Justru karena loh paling berharga, justru karena loh paling dia sayang... makanya dia nggak mau loh lihat dia hancur. Dia merasa malu, Al. Dia merasa dia sekarang udah nggak ada apa-apanya."
"Dia merasa dia cuma anak laki-laki yang nggak punya apa-apa, nggak punya siapa-siapa, lemah, cuma bisa nangis, cuma bisa bikin susah orang lain."
"Dia bilang... dia pernah teriak dari balik pintu itu... dia bilang, 'Jangan kasih tahu Aletta. Jangan biarin Aletta lihat gue kayak gini. Gue nggak mau dia sedih. Gue nggak mau dia ikut hancur gara-gara gue. Dia terlalu baik buat nanggung beban berat kayak gue. Biarin gue sendiri aja di sini, sampai gue bisa bangkit lagi... atau sampai gue hilang aja.'"
Aletta tersentak hebat mendengar kata-kata itu. Air matanya makin deras mengalir, membasahi bahu Fahri. Hatinya terasa diremas-remas sampai nyeri tak terkira.
"Gila... dia gila... dia pikir dia siapa?! Dia pikir gue ini apa?! Gue nggak butuh dia yang harus kuat, Fahri!"
"Gue nggak butuh dia yang selalu baik-baik aja! Gue butuh dia apa adanya! Bahkan kalau dia hancur, bahkan kalau dia sedih, bahkan kalau dia lemah... Gue tetap mau ada di sana!"
"Justru saat dia jatuh, saat dia hancur... itu saat dia paling butuh gue! Dan dia malah menghindari gue... dia malah ninggalin gue, gue di sini nungguin dia nggak jelas kayak gini..." rintih Aletta, rasa sakit hatinya bercampur rasa marah yang tak tahu harus ditujukan ke siapa.
Fahri melepaskan pelukannya perlahan, lalu menatap wajah Aletta yang basah kuyup itu dengan tatapan sedih dan penuh pengertian.
Dia mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya sebuah amplop putih bersih, tertutup rapat, dan ada sedikit noda bekas air mata yang sudah kering di sudutnya.
"Sebelum gue berangkat ke sini... sebelum gue keluar dari rumahnya, entah bagaimana caranya... dia menggeser amplop ini dari bawah pintu kamarnya," kata Fahri pelan, menyodorkan surat itu ke tangan Aletta yang gemetar.
"Dia bilang... kalau loh nanya, kalau loh cari dia, kasih ini aja. Dia bilang, di dalam sini ada semua yang mau dia omongin, semua yang dia rasain, semua yang dia takutin."
"Dia bilang... minta maaf banget sama loh, Al. Dia bilang... suruh loh jangan nunggu dia, suruh loh lupakan dia, suruh loh bahagia sama jalan hidup loh."
"Tapi gue tahu... Gue tahu banget, Al... di lubuk hati yang paling dalam, dia berharap loh bakal tetap ada, dia berharap loh bakal tetap nungguin dia... karena loh satu-satunya alasan sisa hidup dia sekarang."
Aletta menerima amplop itu dengan tangan yang gemetar hebat. Jantungnya berdebar kencang sekali, campuran rasa takut, rindu, dan sakit hati yang meluap-luap.
Dia menatap nama Aletta yang tertulis di atas amplop itu dengan tulisan tangan Jonathan yang dia hafal luar kepala.
Tulisan yang biasanya rapi, tegas, dan penuh semangat... kini terlihat miring, berantakan, dan samar-samar, seolah ditulis dengan tangan yang gemetar hebat dan mata yang kabur oleh air mata.
"Jadi... dia beneran nggak mau ketemu gue, Fahri?" tanya Aletta sekali lagi, suaranya hampir tak terdengar, berharap ada keajaiban yang membalasnya berbeda.
Fahri menggeleng perlahan, air mata still menetes di pipinya.
"Belum sekarang, Al. Dia bilang... sampai dia bisa berdiri lagi dengan kaki dia sendiri, sampai dia bisa senyum lagi, sampai dia bisa jadi Jonathan yang loh kenal dulu..."
"Dia nggak akan keluar. Dia mengunci diri dia di sana buat menyelesaikan perang dia sama rasa sakit itu sendirian. Tapi percaya sama gue... kalau dia sudah siap, kalau dia sudah kuat... orang pertama yang bakal dia cari, orang pertama yang bakal dia lari peluk... itu loh, Aletta. Cuma loh."
Aletta memeluk surat itu ke dadanya, menekannya erat-erat seolah surat itu adalah Jonathan sendiri yang sedang dia peluk.
"Oke... kalau itu maunya dia... kalau itu cara dia berjuang... Gue akan tunggu, Fahri," ucap Aletta dengan suara yang bergetar namun penuh tekad yang kuat. Matanya kembali berkaca-kaca, tapi kali ini ada cahaya keyakinan di sana.
"Gue bakal tunggu dia, seberapa lama pun waktu yang dibutuhin. Gue nggak akan pergi ke mana-mana. Gue bakal ada di sini, di tempat gue berdiri sekarang. Gue bakal doain dia tiap detik, tiap napas gue. Dan gue bakal pastiin..."
"pas dia buka pintu itu nanti, pas dia keluar dari kegelapan itu... hal pertama yang dia lihat adalah gue. Gue bakal tetap ada di sini, Fahri. Bilang sama dia... kalau dia pikir dia sendirian, dia salah besar. Dia punya gue. Dia bakal selalu punya gue."
Fahri tersenyum tipis di tengah kepedihannya, mengangguk penuh rasa haru. Dia tahu, cinta yang tulus itu memang seperti ini. Tidak peduli seberapa jauh, seberapa sulit, atau seberapa sakit... Dia akan tetap bertahan, tetap menunggu, dan tetap setia.
"Baiklah, Al. Gue bakal sampaikan semuanya. Dan gue janji... Gue bakal jaga dia dari luar pintu, gue bakal pastiin dia aman, gue bakal kasih tahu dia kalau loh masih ada di sini. Loh juga jaga diri ya, Al. Jangan sakit, jangan terlalu sedih. Dia pasti bakal bangkit... demi Papahnya, dan demi loh."
Setelah berpamitan dengan Fahri, Aletta berjalan perlahan masuk kembali ke halaman rumahnya. Dia duduk di tangga depan, masih memeluk surat itu erat di dada.
Dengan tangan yang masih gemetar, dia perlahan membuka lipatan amplop itu, mengeluarkan selembar kertas yang penuh tulisan tangan Jonathan, tulisan yang ditulis dengan air mata dan rasa sakit yang mendalam.
Dan saat dia mulai membaca baris pertama kalimat itu, tangisannya kembali pecah, karena dia tahu... rasa sakit yang dirasakan jonathan itu ternyata jauh lebih besar, jauh lebih dalam, dan jauh lebih menyiksa daripada apa pun yang pernah dia bayangkan.
~be to continuous~