Kupikir setelah Dev sadar dari koma, dia sudah berubah menjadi seseorang yang tidak lagi mengekangku.
Namun justru, perubahan sikapnya menjadi lebih gila...
"Kita akan menikah hari ini."
"Aku tidak mau!"
"Jika kamu tidak mau, aku akan mengakhiri hidupku sekarang juga."
NB: Season 2 dari Obsession
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lasti Handayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 27
POV: Nara
Setelah berjalan cukup jauh, dia berhenti. "Kita sudah sampai, aku akan buka penutup matamu."
Saat tangannya menyentuh ikatan di belakang kepalaku, sapu tangan itu terlepas dari mataku. Aku membuka mata perlahan, jantungku berdegup kencang.
Di sana, tepat di taman belakang rumah, sebuah pohon besar masih berdiri kokoh seperti biasanya. Dulu, saat pertama kali datang ke rumah ini, entah kenapa aku merasa sedikit takut melihat pohon itu. Tapi sekarang semuanya berubah. Pohon itu seperti disulap menjadi sesuatu yang begitu menakjubkan.
Sebuah rumah kecil dari kayu berdiri di antara dahan-dahannya yang besar. Di sisi luarnya terdapat pagar kayu kecil yang mengelilingi area rumah pohon itu, membuatnya terlihat indah. Sebuah tangga kayu memanjang ke atas, menjadi jalan menuju tempat kecil yang terasa seperti dunia tersembunyi itu. Aku mendongak cukup lama. Entah kenapa rumah pohon itu terlihat seperti sesuatu yang dulu hanya ada di angan masa kecil.
Sejujurnya, ini indah. Tapi aku tidak ingin menunjukkan ekspresiku pada Dev. Di bawah pohon itu ada dua orang laki-laki, yang satu aku mengenalnya—tukang kebun di rumah ini, tapi satunya, wajahnya terlihat masih begitu muda dan aku baru pertama kali melihatnya di rumah ini.
Aku menoleh pada Dev yang berdiri di sampingku, wajahnya tersenyum padaku. "Kamu suka? Aku buatin kamu rumah pohon, biar kamu nggak bosan lagi."
Aku hanya membalas senyumannya, ia kemudian menoleh pada dua laki-laki itu. "Kita punya pendatang baru, dia anaknya pak Boby yang akan membantu beliau bekerja untuk sementara waktu di sini."
Aku tersenyum pada pria itu.
"Mau lihat," tanya Dev sambil wajahnya menoleh ke rumah pohon.
Aku mengangguk mengiyakan, ia menuntun tanganku, mengajariku bagaimana caranya menggunakan tangga yang terlihat kecil ini.
"Jangan takut! Tangganya kuat kok."
Setelah akhirnya aku sampai ke atas, mataku menyapu seluruh ruangan kecil itu. Ku buka pintunya dengan perlahan, mataku langsung menangkap pemandangan buku-buku yang tersusun rapi di rak lemari minimalis.
"Aku membeli banyak buku, ada novel, komik dan masih banyak lagi. Kamu bisa jadiin ini sebagai ruang santai atau ruang membaca."
Dev membuka jendela kecil, seketika angin berhembus masuk menerpa kami. Aku berjalan ke arah luar, berdiri di pagar kayu. Dari atas, pemandangan tampak begitu indah, sejauh mata memandang hanya ada warna hijau dan langit biru yang cerah. Aku menutup mataku, menghirup udara sejuk, dan menghembuskannya dengan perlahan.
Saat mataku kembali ku buka, pandangan ku langsung ke arah laki-laki muda itu, dan dia sedang menatapku cukup lama. Seketika aku langsung mengalihkan pandanganku kembali.
"Nara." Suara itu terdengar di belakang telingaku. "Aku minta maaf!" Tangannya memeluk pinggangku dari belakang.
"Aku tahu aku sudah bertindak berlebihan, tapi aku tidak bermaksud untuk menyakitimu."
Apa? Tidak bermaksud untuk menyakitiku. Lalu satu minggu yang telah berlalu itu, hanya sebuah lelucon?
"Tolong maafin aku!" ucapnya lagi.
"Berhenti bilang maaf, Dev! Aku bosan mendengarnya. Aku tahu aku juga berbuat salah, tapi bisakah kita selesaikan tanpa kekerasan?"
"Aku ingin, Nara. Tapi aku masih nggak bisa mengontrol emosiku."
"Mungkin kamu harus kembali menemui Jessica." Kalimat itu keluar begitu saja.
Dev menghela nafas panjang, dia memutar tubuhku menghadapnya.
"Oke... oke. Kasih aku waktu untuk belajar mengendalikan diri. Tapi, kamu juga jangan memancing emosiku!"
"Iya, aku minta maaf," kataku akhirnya.
...***...
"Bik, tolong bawa ini semua ke rumah pohon ya!"
Setelah mengumpulkan bermacam-macam snacks, aku bergegas untuk mandi sebelum pergi ke rumah pohon untuk menghabiskan waktuku di sana. Sejak rumah pohon itu ada, aku tidak lagi merasa bosan, setidaknya untuk saat ini. Karena aku tidak lagi diperbolehkan untuk bertemu dengan teman konyolku, Leon.
Rumah pohon itu menjadi basecamp pribadiku, walau lebih terlihat seperti ruang baca karena banyaknya buku-buku, tapi sebenarnya aku lebih banyak tidur atau sekedar merenungi nasib. Kadang aku sering kepikiran tentang Leon, apa kabarnya dia?
Sudah lama sekali, sejak waktu itu. Aku tidak lagi bisa mendengar tentangnya. Apa dia baik? Apa dia masih di sini? Atau malah pergi lagi. Walau hubunganku dengan Leon cukup buruk, tapi setidaknya hubunganku dengan pria sikopat itu berangsur baik.
Dev sudah kembali beraktivitas lagi, ke kantor, sibuk dengan bisnis, dan itu bagus, bagus untukku. Setidaknya isi kepalanya tidak lagi penuh tentangku.
Ting!
Suara notifikasi membuat lamunanku terputus.
Aku menoleh ke arah ponsel yang tergeletak di sampingku. Sebuah notifikasi dari media sosial muncul di layar. Beberapa orang memberikan like dan komentar pada sebuah unggahan. Aku mengernyit heran. Unggahan apa?
Dengan rasa penasaran, aku membuka ikon kecil berwarna merah itu. Dan seketika mataku membulat. Loh? Ini kan aku?! Kapan dia mengambil foto ini?
Mataku lalu bergeser ke jumlah interaksi di bawahnya. Satu juta like dan komentar yang jumlahnya sudah tidak masuk akal:
Who is this?
Your girlfriend?
She looks beautiful
Why did you break my heart?
Maybe... is that your sister?
Aku menyipitkan mata. Kenapa komentar mereka seperti itu?
Cih! Bahkan di media sosial pun dia masih saja jadi pria favorit para wanita. Menyebalkan sekali.
Sejak pertama kali Dev melepaskan tahanannya, dia juga menukar ponsel kami. Dan ponsel yang kupegang saat ini adalah ponsel miliknya, dan sebaliknya, ponselku ada padanya. Apapun itu alasannya tapi ini terlihat seperti tingkah konyol anak ABG yang baru jatuh cinta.
Aku sempat berpikir ingin mencari-cari kesalahan di dalam ponsel ini, siapa tahu aku menemukan sesuatu agar aku bisa berbalik menyalahkannya. Tapi siapa sangka ternyata semuanya bersih, dari semua sosial media-nya, pesan-pesan keluar dan masuk, riwayat panggilan. Tidak ada apapun, sial dia begitu setia.
Entah apa yang dia perbuat dengan ponselku? Untungnya tidak ada yang aneh di sana, kecuali kontak Leon. Walaupun ponselnya terlihat bersih dari hal-hal mencurigakan, ada satu hal yang membuatku benar-benar tercengang.
Riwayat pencariannya. Atau lebih tepatnya riwayat tontonan film dewasa yang ternyata cukup sering ia lihat belum lama ini. Aku terdiam cukup lama saat melihatnya. Maksudku...
Ya, aku tahu dia pria. Aku juga tidak sebodoh itu untuk berpikir semua laki-laki hidup seperti biksu tanpa pikiran aneh-aneh. Tapi tetap saja, kepalaku dipenuhi tanda tanya. Kenapa masih melihat hal seperti itu kalau dia sudah punya istri?
Apa aku kurang menarik? Atau memang itu hal yang biasa?
Hei, apa semua pria memang seperti itu? Atau ini cuma spesies tertentu saja?
Saat pikiranku berisik oleh hal-hal random, aku tidak sengaja melihat ke arah pepohonan di ujung sana. Lagi-lagi pria muda itu menatapku, rasa penasaranku memuncak, mungkin aku akan mendekatinya, lagi pula dia anaknya tukang kebun yang sudah lama bekerja di sini kan, tidak ada salahnya aku berkenalan.
Kakiku melangkah perlahan menuruni anak tangga yang menggantung tinggi. Dari kejauhan aku melihatnya tidak lagi menatapku, dia sepertinya sedang membaca sebuah buku. Aku berjalan mendekatinya, tak jauh dari tempatnya, Pak Boby tengah mencangkul tanah.
"Hai, sedang apa?" tanyaku basa-basi, wajahnya langsung terangkat menatapku. Seketika dia langsung berdiri, wajahnya terlihat gugup.
"Se—sedang baca." Tangannya menunjukkan sebuah buku padaku.
"Kamu baca buku apa?"
"Eehh... ini, novel."
"Suka baca?"
"Iya, saya suka baca." Pria itu terlihat salah tingkah, matanya seolah menghindari tatapanku. Bagaimana mungkin, padahal dia sering mencuri-curi pandang padaku.
"Oh iya, aku Nara," tanganku terulur padanya, "namamu siapa?"
Tangannya terlihat gemetar saat ingin menjabat tanganku. "Nama saya Bima."
"Eh... ada non Nara," ucap Pak Boby yang berjalan menghampiri kami.
Aku tersenyum tipis.
"Sedang cari angin, Non?" tanyanya.
"Iya, sekalian saya pengen kenalan sama Bima."
"Oh begitu. Bima ini anaknya agak pendiam Non, jadi kayaknya nggak asyik kalau diajak berteman."
"Belum di coba kan belum tau," kataku.
"Ya itu sih terserah Non, saya cuma takut kalau Non gak nyaman."
"Boleh aku pinjam bukunya? Aku penasaran, kayaknya bagus."
"Oh... tentu, ini baca aja!" jawab Bima memberikan bukunya padaku.
Setelah mengambil buku itu, aku langsung berpamitan dan meninggalkan mereka. Sesampainya di rumah, aku langsung merebahkan tubuh di sofa ruang tengah. Buku itu masih berada di tanganku. Kuangkat sedikit agar bisa melihat sampulnya dengan lebih jelas.
Dominasi warna putih membuatnya terlihat sederhana, tapi anehnya justru menarik perhatian. Di bagian depan, terdapat ilustrasi seorang perempuan berambut panjang yang dikepang. Wajahnya tampak tenang, meskipun salah satu matanya tertutup bunga berkelopak putih yang tumbuh di sekitar wajahnya. Ada banyak bunga lain mengelilinginya, membuat buku itu terlihat cantik tapi juga sedikit sendu.
"Awan Jingga di balik kebisun"
Mulutku mengeja judul buku itu.
"Hai cantik, sedang apa?"
Tiba-tiba suara Dev terdengar dari belakangku.
"Kamu udah pulang? Katanya mau pulang malam?"
"Aku nggak bisa terlalu lama merindukanmu." Tangannya mengusap kepalaku.
"Dih, apaan sih," ucapku setengah kesal.
"Buku siapa?" tanyanya tiba-tiba.
"Oh ini... aku meminjam buku anaknya Pak Boby."
Dev mengambil buku itu dari tanganku, memperhatikan setiap sudut buku itu.
"Nara."
Suara pria kembali menyebut namaku, suara yang sangat kukenal dengan baik. Sebelum aku menoleh ke belakang, Dev lebih dulu melihatnya, wajahnya terlihat tidak senang.
Aku perlahan menoleh ke belakang, mataku tercekat, seketika tubuhku terdiam mematung. Tidak ada kata-kata yang bisa keluar dari mulutku. Hanya pikiran yang mulai berisik dan bertanya, apakah penyiksaan itu akan kembali kurasakan setelah aku baru saja kembali menghirup udara bebas, atau ada arti lain dari semua ini?
Tapi tunggu dulu!
Siapa perempuan itu? Perempuan yang sedang digandeng oleh Leon?
......***......