Raya tidak menyangka kalau Suami yang sudah sepuluh tahun menikah dengannya , jatuh cinta lagi dengan wanita lain. Andini adalah nama wanita itu. Saat Bagas suami Raya mengaku mencintai Andini. Dunia Raya terasa runtuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamany Ali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu
" Selamat datang, Mbak Raya," Sinta HRD, menyambut Raya dengan senyuman.
Hari ini, Raya benar benar kembali bekerja. Tadi pagi Raya sempat khawatir dengan pekerjaan barunya. pasalnya sudah sepuluh tahun Dia tidak bekerja.
"Ini meja Mbak. Disebelahnya meja Mas Agus dia senior disini. Dia nanti yang akan membimbing Mbak Raya." Jelas Sinta.
" Baik terimakasih buk.."
Raya melihat lihat sekeliling, suasananya sudah banyak berubah setelah sepuluh tahun, orang orangnya juga sudah banyak yang berganti.
Mas Agus. Bapak bapak empat puluh tahunan, dengan kacamata tebal, mengulurkan tangan untuk berkenalan." Selamat bergabung Mbak Raya. Saya dengar Mbak dulu juga bekerja disini?"
Raya menyambut uluran tangan itu." Terimakasih Mas, Iya saya dulu bekerja disini. Tepatnya sepuluh tahun yang lalu."
" Bagus kalau begitu, semoga kita bisa jadi tim yang hebat." Senyum Agus.
Jam sepuluh pak Darto lewat dan menyuruh Raya dan tim nya untuk meeting dengan perusahaan lain.
Perusahaan tersebut merupakan perusahaan tempat Bagas bekerja.
Raya yang merupakan anak baru. Hanya bisa mengikuti apa yang dikatakan atasanya. Dia dan Agus segera pergi ke perusahaan Bagas.
Raya mengangguk mengiyakan. Orang orang disini Baik baik. Pikir Raya.
Lobi perusahaan tempat Bagas bekerja.
Raya turun dari mobil kantor, bersama dengan Agus. AC lobi langsung menyergap. Dingin. Dulu gedung ini sering dilewatkan oleh Raya. Saat Bagas sering mengajaknya jalan jalan bersama dengan anak anaknya. Tapi sekarang dia masuk bawa map. Pakai name tag Darto Wijaya group .
" Grogi ,Mbak?" Agus bertanya sambil memencet tombol lift.
Raya mengeleng, senyum tipis." Tidak, Mas. Cuman sedikit kaget, karena baru hari pertama kerja. Saya sudah disuruh ke perusahaan lain untuk meeting." Alasan Raya.
Padahal sebenarnya Raya takut bertemu dengan Bagas. Bukan karena takut yang lain. Tapi karena malas saja melihat Bagas dan Andini. Mereka masih ada urusan dipengadilan. Perceraian mereka masih dalam proses.
Pintu litf terbuka. lantai lima. divisi marketing dan finance. Tempat Bagas.
Tim dari pihak Bagas sudah menunggu. Tiga orang. Satria diujung meja. langsung berdiri saat melihat Raya. Matanya kaget tapi cepat disembunyikan. Disebelahnya ada juga seorang wanita dan Raya tidak mengenalnya.
Dan dikursi lain.. Bagas dengan kemeja putih, dasi sedikit longgar. Wajahnya terlihat sedikit lebih tirus dari terakhir kali Raya melihatnya di ruang sidang.
Raya sama sekali tidak mau menyapa, mencari tempat duduk dan langsung duduk.
Hal itu tentu membuat Bagas kaget. Dia tidak percaya Raya sekarang ada didepannya, rambutnya terurai. wajahnya putih mulus dan lebih tampak cantik.
Bagas ingin sekali bicara dengan Raya. Tapi dia sadar dimana dia berada sekarang .
" Selamat siang semuanya.." Agus menyapa semua yang ada didalam.
" Selamat siang juga pak Agus." Satria salaman dengan Agus.
Bagas akhirnya berdiri. " Raya.." Panggilnya canggung.
Agus melihat kearah Bagas. " Pak Bagas sudah kenal dengan Mbak Raya , ya? Wah mantap sekali ini. Jadi gampang kita nanti ini untuk kerjasama." Canda Agus tanpa tahu kalau Bagas dan Raya masih sah suami istri.
Raya membuang muka. Tapi mau bagaimana lagi. Dia tetap harus profesional ." Pak Bagas, kita sekarang ditempat kerja. Mohon kerjasamanya."
Bagas terdiam. Satria memberikan kode kepada Bagas untuk duduk. Bagas harus bisa menyampingkan urusan pribadi sekarang.
Mereka duduk berhadapan. Meja sepanjang dua meter terasa sejengkal.
Meeting dimulai. Membahas pekerjaan dan laporan vendor. Agus yang banyak bicara. Raya mencatat, Sesekali memberikan pendapat. Meskipun dia baru. Tapi pengalamannya cukup mampu untuk mengimbangi. Itulah mengapa Pak Darto dengan cepat menerima Raya kembali dan mempercayainya untuk mewakili perusahaannya bersama dengan Agus.
Meskipun pak Darto tahu kalau, tempat mereka bekerja sama sekarang adalah perusahaan tempat Bagas bekerja.
Bagas tidak banyak bicara. Matanya bolak balik ke wajah Raya. Ke cincin kawin yang kini sudah tidak ada dijari manis Raya.
Raya sama sekali tidak peduli dengan apa yang dilakukan oleh Bagas sekarang, Dia tetap konsentrasi dengan pekerjaannya.
Setelah satu jam lebih. Meeting akhirnya selesai juga. Mereka akan mulai bekerja sama sekarang. Satria mengajak Agus untuk keluar sebentar bersama dengan manajer finance nya.
Diruang tinggal Bagas dan Raya. Satria sengaja membiarkan mereka berdua untuk bicara. Raya merapikan kertas kertas di hadapannya.
Hening.
Bagas buka suara duluan. Pelan." Kamu Kerja lagi?"
Raya memasukan pulpen ke map." Iya." Hanya itu.
" Anak anak bagaimana?"
Raya akhirnya menatap Bagas. Mata yang dulu selalu dicari setiap Bagas ada dirumah. Mata yang selalu merindukannya. Sekarang teras asing. " Mereka sehat."
" Kapan aku bisa bertemu dengan mereka. Aku rindu." Bagas mengiba.
Ingin rasanya dia memeluk Raya yang kini sudah ada didepannya sekarang. Mengulang kembali masa masa indah dulu sebelum dia hancurkan.
" Maaf, kita sekarang di kantor. Disini kita hanya membahas tentang pekerjaan. Bukan ranah pribadi. Permisi."
Raya keluar. Meninggalkan Bagas. Raya sekarang sudah wangi dan tidak bau bawang seperti biasanya.
" Raya.." Tangan Bagas menggantung diudara. Ingin mengejar namun dia cukup sadar diri. Ini kantor tempat mereka bekerja. Bukan rumah pribadi yang bisa berdebat seenaknya.
Raya berjalan keluar mencari toilet. setelah tahu dimana letak toilet Raya segera masuk. Dipantulan kaca Raya menangis. Untung tidak ada orang.
Entah kenapa dia tiba tiba cengeng. Apa karena dia sudah kembali bekerja atau karena tadi melihat Bagas. Raya juga tidak mengerti.
Raya sedang mencuci tangan.Air dingin membuat getaran didadanya pelan pelan mereda. Dia kembali menatap kaca membenarkan sedikit rambutnya yang kusut.
Pintu toilet terbuka. Ctek.
Wangi parfum mahal menyerbu duluan . Menyengat.
Andini. dengan Dress pink pendek selutut. Mereka bertemu didepan wastafel. Raya tidak kaget. Daritadi dia juga sudah merasa bakal ada kejutan lainnya hari ini.
Raya mematikan keran air. Menarik tisu. Melap tangannya pelan pelan. Tidak terburu buru.
Andini senyum. Senyum mengejek. " Sedang apa kamu disini? Apa kamu sedang mencari Bagas? atau kamu sedang melamar pekerjaan?" tebak Andini.
Andini belum tahu kalau Raya merupakan wakil dari perusahaan yang akan bekerja sama dengan perusahaan tempat nya bekerja.
Raya menatap Andini. Tidak ada lagi rasa benci yang meledak ledak. Hanya ada rasa muak." Terserah kamu mau bicara apa? Melayani kamu bicara sama saja bicara dengan tong sampah." Raya membuang tisu ditangannya ke tong sampah yang ada disana.
Wajah Andini memerah mendengar ucapan Raya." Kamu pikir, kamu itu siapa? kamu itu yang sampah. Sampah yang akan dibuang Bagas." teriaknya.
Raya maju selangkah. Jarak mereka cuman sejengkal." Cara berpakaianmu saja sudah mencerminkan siapa dirimu, Murahan."
" Kurang ajar." Andini mengangkat tangan, reflek mau menampar Raya.
Grab!
Raya memegang pergelangan tangan Andini duluan. Genggaman Ibu dua anak yang hampir setiap hari mengangkat galon. Bukan cuman tangan yang manikuran. " Coba saja kalau kamu berani menyentuhku, Akan aku pastikan wajah mulusmu lecet terlebih dahulu." Raya melepaskan tangan Andini. Kasar.
Andini kaget. tangannya bergetar. Dia sadar. Raya yang kini ada didepannya. Bukan lagu Raya bau bawang
" Dengar ya, Aku tidak pernah mau cari masalah dengan siapapun, Kalau kamu menginginkan Bagas. Ambil. Jadi, tolong jangan bawa bau busuk kalian ke hidup aku."
Raya buka pintu toilet. Sebelum keluar dia melihat sekilas." Disini kantor, Bukan tempat dugem. Benarkan cara berpakaianmu."
Pintu tertutup. Raya keluar. Tinggallah Andini didepan kaca, nafasnya ngos ngosan. Tangannya mengepal di wastafel. Kuku kuku indahnya patah menahan Amarah.
ditunggu upnya ya semoga bagas masih punya kesempatan balik sama keluarganya lagi...💪🙏