NovelToon NovelToon
Benih Rahasia Mafia

Benih Rahasia Mafia

Status: tamat
Genre:Mafia / Single Mom / Anak Genius / Tamat
Popularitas:60.2k
Nilai: 5
Nama Author: Senja

Tujuh tahun lalu, malam penyerangan musuh menghancurkan segalanya.

Venus terpaksa pergi membawa rahasia kehamilan yang belum sempat diungkapkan pada suaminya—Dante.

Kini, Venus harus bertahan hidup bersama Sean, putra mereka yang memiliki tatapan sedingin es milik ayahnya.

Saat takdir mempertemukan mereka kembali, dunia Venus seketika runtuh. Dante telah menikah lagi dengan wanita yang menyelamatkan nyawanya.

Meski Dante tak pernah mencintai istri barunya dan terus mencari Venus, Venus memilih bungkam. Venus tak ingin menghancurkan rumah tangga pria itu.

Namun, saat mata Dante tertuju pada sosok Sean, rahasia tujuh tahun itu terancam

Akankah Dante berhasil menemukan Venus dan mengenali Sean sebagai putranya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 31 Terjebak

"Kita tidak punya banyak waktu. Bianca akan pergi ke acara amal yayasannya pukul delapan malam dan Dante ada pertemuan bisnis di pusat kota. Ini satu-satunya celah kita," ucap Venus sembari mengenakan setelan taktis hitam yang melekat pas di tubuhnya.

Di ruang tamu, Leo sedang sibuk memeriksa koneksi kamera pengawas melalui laptop baru Sean. Sementara itu, Sean duduk dengan serius di depan layar monitor, jemarinya menari lincah di atas keyboard.

"Sean sudah berhasil mem-bypass alarm sektor barat mansion Carson," lapor Leo tanpa mengalihkan pandangan. "Tapi ingat, Kak, Bianca itu tidak terduga. Kau punya waktu maksimal empat puluh menit sebelum patroli keamanan internal melakukan pengecekan manual."

Venus mengangguk tajam. Ia mengenakan topeng kulitnya, kembali menjadi sosok detektif yang dingin.

"Sean, kau pegang kendali komunikasi. Leo, pastikan jalur pelarianku bersih."

"Siap, Ma. Jangan lupa, brankas itu ada di balik dinding besi ruang sauna pribadi Bianca. Kau butuh sidik jarinya untuk memicu pemindai optik," Sean mengingatkan dengan suara yang tenang namun penuh kewaspadaan.

*****

Penyusupan itu berjalan mulus pada awalnya. Venus berhasil melewati gerbang samping dan memanjat balkon kamar utama yang sudah terbuka berkat bantuan peretasan Sean.

Venus bergerak cepat menuju area suite pribadi Bianca. Ia menemukan ruang sauna yang tersembunyi di balik pintu kaca buram. Ruangan itu sudah dalam keadaan menyala, mengeluarkan uap panas yang mulai membasahi dahi Venus.

"Aku sudah di dalam. Mencari pemicu sidik jari," bisik Venus pada mikrofon kecil di kerahnya.

"Cepat, Kak. Aku melihat pergerakan mobil di gerbang depan. Sial! Itu mobil Bianca!" suara Leo terdengar panik di telinga Venus.

"Apa?! Katanya dia pergi sampai tengah malam!" Venus mendesis, tangannya meraba dinding kayu sauna yang mulai terasa membakar.

"Sepertinya mereka bertengkar hebat. Dante juga ada di sana. Mereka masuk lewat lobi utama!" Sean menimpali dengan cepat. "Ma, kau terjebak. Jangan keluar lewat pintu depan!"

Venus membelalak. Uap panas di dalam sauna mulai membuatnya sesak napas. Ia berhasil menemukan panel tersembunyi di balik pajangan dinding kayu. Dengan menggunakan alat pengganda sidik jari yang sudah ia siapkan dari sampel yang diambil Leo sebelumnya, ia menempelkan alat itu pada pemindai.

Klik!

Dinding besi bergeser perlahan, menyingkap sebuah brankas baja hitam.

Namun, di luar sana, suara langkah kaki sepatu hak tinggi Bianca terdengar mendekat.

"Aku tidak peduli, Dante! Aku istrimu! Kau tidak bisa memperlakukanku seperti pajangan di depan kolegamu!" teriak Bianca dari arah kamar.

Venus mematung. Pintu sauna adalah kaca buram, jika ia bergerak, bayangannya akan terlihat. Ia terpaksa merangkak ke sudut paling gelap di dalam ruangan yang suhunya terus meningkat itu. Keringat membanjiri tubuhnya, dan napasnya mulai terasa berat.

"Bianca, tenangkan dirimu. Kau sedang mabuk," suara bariton Dante terdengar, sangat dekat.

"Aku tidak mabuk! Aku hanya muak!" Bianca berjalan menuju ruang ganti, tepat di depan pintu sauna. "Aku ingin mandi dan menenangkan diri di sauna. Keluar dari kamarku, Dante!"

Venus memejamkan mata. Jantungnya berdegup kencang. Jika Bianca membuka pintu sauna, semuanya berakhir. Identitasnya, rencana mereka, dan nyawanya akan terancam.

"Tunggu, Bianca," potong Dante cepat. Venus bisa mendengar suara langkah Dante yang menghalangi Bianca. "Ada masalah dengan sistem air di sayap kanan. Kau bisa celaka jika masuk ke sana sekarang. Biar aku panggilkan teknisi."

"Jangan cari alasan, Dante! Aku tahu kau hanya ingin menjauh dariku!"

"Aku serius. Lihat uap itu, temperaturnya tidak stabil,"

Dante terus mencoba mengalihkan perhatian, suaranya terdengar tegas namun ada nada kecemasan yang hanya bisa ditangkap oleh Venus. Dante tahu Venus ada di dalam. Ia pasti melihat peretasan sistem keamanan melalui ponselnya.

Pertengkaran hebat meledak di luar. Dante sengaja memancing kemarahan Bianca lebih jauh agar wanita itu berbalik pergi.

"Kalau kau memang benci rumah ini, kenapa tidak pergi ke hotel saja malam ini?"

"Kau mengusirku?! Bagus! Aku akan pergi, dan jangan harap kau bisa melihatku lagi besok pagi!" Bianca berteriak histeris, menyambar tasnya, dan langkah kakinya terdengar menjauh disertai bantingan pintu yang keras.

Suasana mendadak hening. Venus merosot ke lantai sauna, paru-parunya terasa seperti terbakar. Suhu di ruangan itu sudah mencapai batas maksimal karena kesalahan sistem akibat peretasan.

Tiba-tiba, pintu sauna terbuka lebar. Udara dingin dari kamar masuk, dan sebuah tangan kuat menarik lengan Venus dengan kasar hingga ia terjatuh ke pelukan pria itu.

Dante Carson menatapnya dengan kemarahan yang meluap-luap, namun matanya memancarkan ketakutan yang nyata. Ia menarik Venus menjauh dari area kamar Bianca menuju lorong rahasia di balik perpustakaan.

"Apa yang kau lakukan di sini, Venus?! Apa kau sudah gila?!" desis Dante tajam sembari menyudutkan Venus ke dinding. "Kau bisa tertangkap! Bianca tidak akan segan-segan menghabisimu jika dia tahu kau menyusup ke ruang pribadinya!"

Venus terengah-engah, melepaskan topeng kulitnya yang terasa lengket.

"Aku harus mengambil bukti itu, Dante! Aku tidak bisa menunggu hukum yang lambat bekerja!"

Dante mencengkeram bahu Venus, menatapnya dalam-dalam. "Ini berbahaya! Jangan pernah lakukan ini lagi tanpa memberitahuku. Kau bukan hanya mempertaruhkan nyawamu, tapi juga masa depan Sean!"

Venus terdiam, menatap mata suaminya yang penuh luka. Di tengah bahaya yang baru saja lewat, ia menyadari bahwa meski mereka berada di pihak yang berbeda dalam status, Dante tetaplah pelindung yang tak ingin kehilangannya untuk kedua kalinya.

"Pulanglah sekarang. Lewat jalur belakang," perintah Dante sembari memberikan kunci akses darurat. "Dan jangan kembali!"

"Lalu, bagaimana dengan bukti itu?" tanya Venus, berusaha mengatur napasnya yang masih memburu. Matanya menatap tajam ke arah Dante, menuntut kepastian atas dokumen yang hampir merenggut nyawanya tadi.

Dante tidak langsung menjawab. Ia justru melangkah maju, mengikis jarak di antara mereka hingga Venus terdesak ke dinding lorong yang dingin.

"Apa kau begitu ingin kita segera kembali bersama sampai nekat melakukan ini hanya demi bukti itu?" bisik Dante serak tepat di telinga Venus.

Wajah Venus memerah sempurna. Aroma maskulin Dante yang begitu dekat membuatnya kehilangan kata-kata.

"S–siapa bilang? Aku hanya ingin keadilan!" sahutnya salah tingkah sembari mencoba memalingkan wajah.

Dante terkekeh rendah, jemarinya mengusap dagu Venus agar kembali menatapnya. "Aku akan segera mendapatkannya, Sayang. Kau cukup diam dan duduk manis di rumah. Jaga putra kita baik-baik, dan tunggu aku datang menjemput kalian."

Sebelum Venus sempat memprotes, Dante tiba-tiba merunduk dan menggigit kecil leher jenjang Venus. Tindakan posesif yang tiba-tiba itu membuat Venus mendesah pelan, tubuhnya seketika melemas.

"Aku mencintaimu, Istriku," bisik Dante penuh penekanan sebelum melepaskan Venus pergi ke kegelapan malam, membiarkan wanita itu pulang dengan jantung yang berdegup liar.

1
Rita Juwita
selalu seru thor.. /Good//Good/
Sri Rahayu
cerita yg bagus, ada serunya ada lucunya...akhir nya happy ending...skrg uda masuk cerita Sean Carson makasih Thorr😘😘😘
vita
suka ceritanya
🇧🇬
ga ada plok2 😭
🇧🇬: al tidak punya paijo 😭
total 2 replies
Itin
satu kata...

amazing 🤩
Sri Rahayu
wkwkwk...kirain uda blh nginep ya Dante...ternyata Venus dan Sean ttg melarang mu menginap 🤪🤪🤪...lanjut Thorr😘😘😘
Mei TResna Rahmatika
wahh happy end😍 gak sabar nunggu cerita leo thor tp plis jangan sama bianca
Dew666
💜💜💜💜
Opi Sofiyanti
leo mo di bikinin kamar jg kyk sean g kak????
kasian lho dia.... 😁😁😁
Senja: Nanti cari ide dl kak hehe
total 1 replies
Carini
bagus
Susi Sayadi
ada bonus chapter x kak😍😍😍
Tiara Bella
happy ending mksh ceritanya Thor menghibur sekali .../Kiss/
Senja: Sama2 kakk🙏
total 1 replies
Nice1808
wahhh tamat kak🤣🤭
Nice1808: 🤣🤣🤣blom baca kak biar bnyk bab nya dulu🤭
total 2 replies
TRI SRI SULANJARI
beneran tamak kak.......leo gimana......./Sob//Sob//Sob/
Senja: Itu dia memutuskan menjomblo kak😅
total 1 replies
tinie
woa tamat
Senja: hehehe iyaa
total 1 replies
Tiara Bella
akhirnya Dante sm venus mw menikah lg ya....
🇧🇬
yeye hepi ending ☃️
Nice1808
licik juga si dante pindah kamar biar bisa buat anak perempuan🤣🤭
tia
lanjut thor
Tiara Bella
apakah msh ada musuh .....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!