Clarindra Arabella, siswi kelas tiga SMA yang tinggal selangkah lagi menuju kelulusan, tak pernah membayangkan hidupnya akan berubah dalam satu keputusan sepihak.
Di saat teman-temannya sibuk mempersiapkan ujian akhir dan masa depan, Clarindra justru dipaksa menerima kenyataan pahit—ia harus menikah.
Bukan dengan pria seusianya.
Melainkan dengan seorang pria dewasa… yang bahkan tak pernah ia kenal.
Demi alasan sederhana namun kejam—orang tuanya akan pindah ke luar negeri, dan mereka tak ingin meninggalkan putrinya sendirian.
Di balik keputusan itu, tersembunyi kesepakatan antara dua keluarga besar.
Nama besar keluarga Hardinata menjadi jaminan keamanan Clarindra… sekaligus awal dari keterikatannya.
Zavian Hardinata.
Pria itu bukan sekadar pewaris keluarga kaya raya. Ia adalah sosok bebas, penuh pesona, namun sulit dikendalikan. Seseorang yang lebih terbiasa bermain dengan hidupnya sendiri… daripada terikat dalam satu hubungan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon candra pipit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pacarnya?
Lampu-lampu mall menyala terang seperti gugusan bintang buatan manusia. Orang-orang berlalu lalang dengan kantong belanja di tangan, suara tawa, suara kendaraan, dan alunan musik dari dalam gedung bercampur menjadi suasana malam yang ramai namun hangat.
Di tengah keramaian itu, Rama menggandeng tangan Clarinda menuju pintu keluar mall. Tangan mereka saling bertaut erat. Clarinda menunduk malu sambil tersenyum kecil. Pipi gadis itu merona tipis. Jantungnya berdetak lebih cepat setelah seharian bersama Rama.
Mereka memang tidak banyak bicara saat berjalan berdampingan seperti ini, tapi anehnya justru diam itu terasa nyaman.
Perasaan mereka seolah tersampaikan lewat genggaman tangan itu.
Rama melirik Clarinda sekilas lalu tersenyum tipis. Gadis itu terlihat manis sekali malam ini. Rambutnya yang sedikit berantakan setelah seharian jalan-jalan malah membuatnya semakin lucu di mata Rama.
“Capek?” tanya Rama pelan.
Clarinda menggeleng cepat.
“Nggak kok.”
“Boong.”
“Beneran," Clarinda mendongak sebentar melihat wajah Rama lalu buru-buru melihat ke arah lain.
“Kalau capek bilang aja, nanti gue gendong.”
Clarinda langsung melotot malu. "RAMA!" Clarinda manyun namun diam-diam ia senang diperlakukan manis seperti ini.
Mereka sampai di area parkir luar mall. Udara malam terasa sedikit dingin, namun lampu-lampu jalan yang menyala keemasan membuat suasana terlihat romantis. Angin lembut meniup ujung rambut Clarinda hingga beberapa helai mengenai wajahnya.
Rama menyibakkan rambut itu perlahan.
Gerakan sederhana. Tapi sukses membuat Clarinda makin salah tingkah.
“Jangan lihatin gue terus dong,” gumam Clarinda malu-malu.
“Cantik," Rama tersenyum.
Deg. Clarinda langsung menunduk cepat. “Gombal.”
“Beneran.”
“Rama, sudah ah!”
Rama malah tertawa puas melihat Clarinda semakin merah. Namun langkah mereka mendadak terhenti. Raut wajah Rama langsung berubah.
“Pak Zavian.”
Clarinda terdiam. Matanya menangkap sosok Zavian bersama seorang wanita.
Cantik.
Sangat cantik. Layaknya sosialita yang gerak geriknya tersorot kamera.
Tubuhnya tinggi semampai, rambut panjang bergelombang, dan caranya berjalan terlihat elegan. Gaunnya sederhana tapi mahal. Bahkan tinggi tubuhnya hampir sejajar dengan Zavian yang memang tinggi besar.
Mereka terlihat.... cocok.
Entah kenapa da da Clarinda terasa sedikit aneh melihatnya. “Oh... punya pacar dia?” batin Clarinda menebak-nebak.
Sementara itu, mata Zavian jatuh pada tangan Clarinda dan Rama yang masih saling menggenggam. Tatapannya dingin.
Clarinda buru-buru melepaskan tangan Rama.
Rama mengerti. Clarinda pasti malu ketahuan jalan berdua oleh kepala sekolah mereka.
“Kalian masih pakai seragam tapi kelayapan!” ujar Zavian tajam.
Clarinda langsung mengerucutkan bibir. Menyebalkan!
“Sudah Zav... kau membuat murid-muridmu takut.” Wanita itu tersenyum lembut sambil mengelus bahu Zavian pelan.
Mata Clarinda langsung memicing.
“Cih, pamer kemesraan,” gumamnya pelan penuh sindiran. Rama mendengar itu dan nyaris tersedak menahan tawa. Ia tahu Clarinda tak suka dengan kepala sekolah sejak hukuman dijatuhkan padanya.
“Maafkan kepala sekolah kalian ya,” ujar wanita itu lembut. “Dia memang begitu orangnya. Galak," senyum wanita itu juga terlihat menyebalkan di mata Clarinda.
“Sudah malam. Kalian pulanglah. Orang tua kalian pasti khawatir," imbuhnya.
Kenapa jadi wanita itu yang banyak bicara. Clarinda makin yakin. Ini pasti pacarnya Zavian. Menyebalkan sekali melihat mereka berdiri berdekatan seperti itu.
Clarinda langsung melengos.
“Ram ayo.”
Rama pamit singkat pada Zavian lalu mengikuti Clarinda menuju mobilnya. Bagaimanapun Zavian adalah kepala sekolah mereka, jadi kudu hormat.
Sementara dari tempatnya berdiri, Zavian memperhatikan punggung Clarinda yang berjalan cepat tanpa menoleh lagi. Tatapan lelaki itu sulit diartikan.
"Murid-murid mu menggemaskan ya. Ingat jaman muda dulu." Wanita itu malah tertawa pelan.
Sepanjang perjalanan pulang, Clarinda justru lebih banyak diam. Rama yang menyetir melirik gadis itu beberapa kali.
“Kenapa?”
“Nggak kok.”
“Boong.”
Clarinda memonyongkan bibir sambil melihat keluar jendela. Lampu-lampu jalan berkelebat melewati pandangannya. Sialnya wajah wanita bersama Zavian tadi terus muncul di kepalanya.
Cantik.
Dewasa.
Elegan.
Rama tidak memaksa. Ia hanya tersenyum kecil hingga mobil sampai di gerbang perumahan.
Clarinda sudah cerita dia tidak tinggal di rumah lama. Sekarang ia tinggal bersama pamannya sejak orang tuanya pindah ke Jerman.
"Gue anter sampe ke depan rumah Cle. Gue bisa pamit ke pamanmu sekalian."
"Nggak usah Ram. Sini aja, udah deket kok."
Bisa gawat ini. Sesuai peraturan Zavian tidak ada satu temanpun yang boleh tahu rumah Clarinda yang baru. Apalagi main ke rumah. Bisa panjang urusannya. Ya, kali ini dia sedikit ceroboh.
Meski tidak tahu rumah paman Clarinda tapi sekarang Rama tahu lokasi dimana Clarinda tinggal.
Rama tersenyum, lagi- lagi ia tidak memaksa, pasti Clarinda punya alasan sendiri.
"Makasih buat hari ini ya Ram." Clarinda menggigit bibir bawahnya malu-malu.
"Gue senang hari ini bisa jalan sama Lo."
Senyuman Rama membuat Clarinda meleleh. Gantengnya... Haduh Clea amankan jantung. Berdebar terus dari tadi.
"Maaf tadi... Lenganmu pasti pegal."
Rama tersenyum lembut. "Nggak kok. Nih kalau mau pinjam lenganku semalaman aku siap."
Wajah Clarinda langsung merah lagi. Ia tersenyum malu-malu. Malu banget malah.
"Duluan ya... Dah," Clarinda membuka pintu mobil.
"Nightmare," ujar Rama tersenyum jahil.
"Ngawur!" Calrinda manyun. Berharap hantu di film tadi tak masuk ke dalam mimpinya.
Rama terkekeh puas.
"Kalau takut ke kamar mandi video call gue," Rama terkekeh. Sementara Clarinda bersemu merah.
“RAMAAA!”
Clarinda buru-buru turun sambil menahan malu. Pandangan Rama tak lepas dari Clarinda berjalan memasuki area perumahan.
Clarinda sampai lebih dulu di rumah.
Begitu masuk, ia langsung disambut hangat oleh Kakek Damar, Mommy Eliza dan Daddy Alan yang sedang duduk santai di ruang tengah.
“Nah akhirnya pulang juga anak cantik Daddy,” ujar Daddy Alan dramatis.
Clarinda nyengir kecil.
“Maaf ya pulang telat.”
“Gak apa-apa sayang,” jawab Mommy Eliza lembut. “Ini juga masih sore.”
Clarinda melirik jam. Setengah delapan malam. “Tuh langitnya gelap, Mom.”
“Kalau jam sepuluh baru malam.”
Kakek Damar langsung menyahut, “Kalau jam dua belas baru siap ronda.”
"Memang kapan ayah pernah ronda," sahut Daddy Alan.
"Kau ini! Ayah nggak pernah telat soal konsumsi buat ngeronda."
"Konsumsinya aja, orangnya ngorok."
Clarinda tertawa geli melihat perdebatan ayah dan anak lanjut usia itu. Jika Zavian tidak terlalu kaku bisa sesantai mereka Clarinda pasti senang sekali.
"Bagaimana jalan-jalannya?" Clarinda masih belum connect dengan pertanyaan Mommy Eliza.
"Pasti seru ya," sahut Kakek Damar. "Senang Kakek... akhirnya bisa melihat kalian akur," Kakek Damar tertawa. Suasana hatinya sedang baik.
"Lho mana Zavian. Kok belum masuk?" Mommy mencari keberadaan putranya.
"Pak tua?" Gumam Clarinda langsung sadar. "Em, Pak suami... Clea pulang sendiri kok Mom."
"Apa?!!" Mereka kaget terheran-heran.
"Astaga... bener-bener ya Zavian ini berangkat bareng, jalan-jalan bareng kok istrinya di suruh pulang sendiri," omel Kakek Damar. "Ini pasti dia lagi ngumpul sama gerombolannya itu!"
Kali ini Clarinda langsung connect. 'Pak tua syialan! Bisa bisanya ia jadiin gue alasan kencan sama pacarnya,' batin Clarinda kesal.
*
Clarinda sudah bersih dan wangi, mandi air hangat membuat tubuhnya segar kembali. Ia bersiap untuk tidur di sofa tanpa mematikan lampu dan tanpa menunggu Zavian.
"Mau pulang jam berapa kek emang apa peduliku?" Clarinda sewot sendiri. Tapi pikirannya malah kembali terganggu oleh wanita yang bersama Zavian tadi. Apa benar itu pacarnya?
"Cantik banget lagi." Ia memukul bantal kesal.
"Pak Tua brengsyek!!!"
"Jalan sama wanita lain kok pake nama gue."
"Gue jalan nya sama Rama woei!!!"
Clarinda berulang kali meninju bantal menganggapnya sebagai Zavian.
Rasakan!
Rasakan!
Rasasan!
"Iiiiih....Pak Tua g!la!"
"Nyebelin!!!"
wah ada yg CLBK nih nanti jad jadi jendonggggg ,,
nanti pasti terbayang bayang rasanya kenyal"