NovelToon NovelToon
GIGOLO TAMPAN ITU TERNYATA ORANG TERKAYA DI MEXICO

GIGOLO TAMPAN ITU TERNYATA ORANG TERKAYA DI MEXICO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Moms Celina

Valerie bertemu Mario, pria tampan yang dikiranya gigolo di klub malam. Ia jatuh hati pada sosok sederhana itu, hingga kebenaran terungkap: Mario adalah orang terkaya dan paling berkuasa di Meksiko yang menyamar mencari cinta tulus. Dikhianati oleh kebohongan, Valerie ragu memberi maaf. Di tengah bahaya dan intrik kekuasaan, Mario berjuang membuktikan ketulusannya. Kini, keduanya harus memilih: melepaskan, atau mempertahankan cinta yang lahir dari kesalahpahaman di tengah kemewahan dan risiko nyawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms Celina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua Sisi Mata Uang

“Aku ingin tahu apakah ada wanita yang mampu mencintaiku apa adanya, tanpa melihat gelar, kekayaan, atau kekuasaanku.” Mario berbicara dengan nada rendah, namun setiap kata yang keluar dari mulutnya bergema kuat di ruangan luas itu. Ia masih berdiri membelakangi Valerie, menatap hamparan gedung-gedung tinggi Kota Meksiko yang tampak kecil seperti mainan dari ketinggian ini. Bahunya yang lebar tampak sedikit menegang, seolah mengangkat beban berat yang sudah lama ia pikul sendirian.

Valerie masih terpaku di tempatnya, kakinya terasa tertanam kuat di lantai marmer dingin. Kepalanya berputar hebat, seribu pertanyaan menyerbu masuk bersamaan, namun satu pertanyaan paling besar dan paling menyakitkan mendominasi segalanya: Apakah semua itu bohong? Apakah semua kata-kata manis, semua percakapan mendalam, semua momen itu hanyalah bagian dari sandiwara besarnya?

Perlahan, Mario berbalik menghadapnya kembali. Wajah tampan itu sama persis, namun tatapan matanya kini berbeda. Tidak ada lagi keramahan yang dipaksakan atau kesederhanaan yang dibuat-buat. Yang ada hanyalah ketulusan yang telanjang, kerentanan yang jarang ia perlihatkan pada siapa pun, dan penyesalan yang mendalam.

“Kau pikir aku gila, bukan?” tanyanya pelan, melangkah satu langkah mendekat. “Orang yang memiliki segalanya, lalu sengaja melepaskan semuanya hanya untuk mencari jawaban atas pertanyaan konyol tentang cinta. Banyak orang bilang begitu. Ricardo, Camila, bahkan orang tua saya dulu. Mereka semua bilang cinta sejati itu barang langka, mewah, dan tidak perlu bagi orang sepertiku. Katanya, cukup memiliki kekuasaan, dan segalanya akan mengikuti, termasuk cinta.”

Mario tersenyum pahit, berjalan perlahan mendekati meja kerjanya yang megah. Ia duduk di pinggiran meja itu, bersandar santai namun tetap memancarkan wibawa yang tidak bisa disembunyikan.

“Tapi aku tahu itu tidak benar. Aku pernah dicintai karena kekayaanku, Valerie. Dan rasanya jauh lebih menyakitkan daripada tidak dicintai sama sekali. Dulu ada wanita… Elena. Aku mencintainya lebih dari apa pun. Aku rela memberikan segalanya, memindahkan gunung demi dia. Sampai aku tahu, setiap pelukannya, setiap kata ‘aku mencintaimu’ yang keluar dari mulutnya, semuanya tertuju pada nama Whashington, pada rekening bankku, pada kekuasaanku. Saat aku jatuh, saat bisnis ayah hampir runtuh dan aku kehilangan separuh asetku karena pengkhianatan, dia pergi begitu saja. Seolah aku tidak pernah ada.”

Suara Mario bergetar sedikit, namun matanya tetap terkunci menatap Valerie.

“Sejak hari itu, aku bersumpah. Aku tidak akan pernah lagi membiarkan siapa pun mencintaiku karena apa yang aku punya. Aku ingin dicintai karena siapa aku. Karena aku Mario—pria yang kadang keras kepala, yang suka bicara tentang sejarah dan seni sampai lupa waktu, yang merasa kesepian di tengah kemewahan, yang hanya ingin seseorang mendengarkan ceritanya. Maka aku buat rencana gila ini. Aku menyamar. Aku menjadi pria biasa, tanpa nama besar, tanpa uang, tanpa kuasa. Aku menjadi apa yang kau lihat malam itu di klub.”

Valerie menelan ludah, mencoba menata kembali pikirannya yang berantakan. Logika pengacaranya mulai bekerja, menganalisis setiap kata, setiap nada suara, mencari celah kebohongan. Namun yang ia temukan hanyalah kebenaran yang telanjang dan menyakitkan.

“Jadi… aku hanyalah bagian dari ujianmu?” tanya Valerie akhirnya, suaranya terdengar dingin dan tajam, menusuk ke dalam. “Aku hanyalah satu dari sekian banyak wanita yang kau dekati hanya untuk melihat apakah kami cukup bodoh untuk mencintai pria miskin? Kau mengamati kami, menilai kami, mencatat reaksi kami, lalu pergi begitu saja setelah mendapat apa yang kau inginkan?”

Valerie merasa marah. Sangat marah. Ia merasa dipermalukan, dimanipulasi, dan dipermainkan. Ia yang selama ini bangga dengan kecerdasannya, dengan kemampuannya membaca orang, ternyata jatuh begitu saja ke dalam perangkap yang dibuat oleh pria ini.

“Kau pikir itu permainan, Tuan Whashington? Kau pikir perasaan orang lain bisa kau jadikan percobaan semata? Kau pikir itu adil? Kau yang memegang semua kartu di tangan, kau yang tahu segalanya, sementara kami—korban ujianmu—berjalan dalam kegelapan, membuka hati kami untuk seseorang yang sebenarnya tidak nyata!”

Suara Valerie meninggi, bergema di ruangan hening itu. Ia menunjuk dada Mario dengan pandangan berapi-api, matanya berkilat karena amarah dan rasa kecewa yang mendalam.

Mario tidak membela diri. Ia tidak marah atau tersinggung. Ia hanya menundukkan wajahnya sedikit, menerima setiap kata tajam yang dilontarkan wanita itu seolah itu adalah hukuman yang pantas ia terima.

“Kau benar,” jawabnya pelan, suaranya penuh rasa bersalah. “Kau benar, Valerie. Apa yang aku lakukan itu egois. Itu kejam. Dan aku sadar itu. Aku tahu aku sedang memainkan hati orang lain, aku tahu aku sedang berbohong, dan aku membenci diriku sendiri karenanya. Tapi percayalah… di antara ratusan wanita yang aku temui selama satu tahun ini… hanya kau yang berbeda.”

Mario mengangkat wajahnya kembali, menatap Valerie dengan tatapan yang begitu intens hingga membuat napas wanita itu tercekat.

“Wanita lain… saat mereka tahu aku miskin, saat mereka tahu aku hanya pendamping bayaran, mereka memandangku dengan rasa kasihan, atau jijik, atau mereka pergi karena tidak ada keuntungan yang bisa didapat. Tapi kau… kau memandangku sebagai manusia. Kau berbicara padaku setara. Kau menertawakan leluconku, kau marah pada sikapku yang sok tahu, kau berbagi beban pikiranmu denganku bukan karena kau ingin membual tentang jabatanmu, tapi karena kau ingin didengarkan. Kau tidak peduli aku punya apa atau siapa aku. Kau hanya peduli apa yang aku rasakan dan apa yang aku pikirkan.”

Mario melangkah maju, kini berdiri tepat di hadapan Valerie, jarak di antara mereka hanya tinggal beberapa sentimeter. Aroma tubuhnya yang sama—campuran kayu cendana dan maskulin—kembali menyelimuti indra penciuman Valerie, membawanya kembali ke kenangan malam itu, kenangan yang kini terasa manis sekaligus pahit.

“Saat bersamamu, Valerie… aku lupa pada tujuanku. Aku lupa aku sedang menyamar, aku lupa aku sedang melakukan percobaan. Aku hanya merasa… pulang. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa dilihat, didengar, dan dipahami. Bukan sebagai pewaris Whashington, bukan sebagai orang terkaya, tapi hanya sebagai Mario. Dan saat malam itu berakhir, saat aku harus melepasmu pergi… aku sadar aku sudah kalah. Aku jatuh cinta. Bukan pada wanita yang akan mencintaiku dalam keadaan apa pun, tapi pada wanita itu. Pada Valerie Smith. Dan aku tidak peduli lagi apakah kau mencintaiku karena aku miskin atau kaya. Aku hanya ingin kau mencintaiku.”

Keheningan menyelimuti ruangan itu. Kata-kata itu tergantung di udara, berat dan penuh makna. Jantung Valerie berdegup kencang, berperang di antara kemarahan yang meledak-ledak dan perasaan yang tidak bisa ia sangkal. Bagian dari dirinya ingin menampar wajah tampan itu, berbalik badan, dan pergi selamanya karena merasa dikhianati. Tapi bagian lain—bagian yang lebih dalam—terasa tersentuh. Ia melihat kepedihan di mata Mario, ia mendengar ketulusan dalam suaranya. Ia tahu betapa beratnya hidup dalam bayang-bayang kekayaan, betapa sepinya menjadi orang yang selalu dicurigai motifnya.

“Lalu kenapa sekarang?” tanya Valerie akhirnya, suaranya sedikit pecah namun ia berusaha menegakkan dirinya. “Kenapa kau meminta aku menangani kasus perusahaanmu? Kenapa kau membuka topengmu sekarang? Kau bisa saja terus bersembunyi, terus menjadi Mario si pendamping bayaran, dan melihat apakah aku akan tetap bertahan. Kenapa harus mengubah segalanya menjadi rumit seperti ini?”

Mario tersenyum sedih, mengulurkan tangannya perlahan, berhenti tepat di depan pipi Valerie, seolah meminta izin untuk menyentuhnya. Saat Valerie tidak menolak atau mundur, jari-jarinya yang panjang dan hangat menyentuh lembut kulit pipi wanita itu, mengusapnya dengan kelembutan yang luar biasa.

“Karena aku tidak tahan lagi, Valerie,” akui Mario lirih. “Setelah malam itu, aku tidak bisa tidur, aku tidak bisa bekerja, aku tidak bisa berpikir jernih. Kau menghantuiku di setiap detik. Dan aku sadar… aku tidak bisa memberimu apa pun dalam penyamaranku. Aku tidak bisa mengajakmu makan di tempat yang layak, aku tidak bisa melindungimu dari bahaya, aku tidak bisa memberimu masa depan yang pasti. Aku sadar, untuk memiliki cinta darimu, aku harus jujur pada diriku sendiri dulu. Aku harus berani menunjukkan siapa aku sebenarnya, seberapa besar risikonya, seberapa berat beban yang harus kau pikul jika kau memilih tetap bersamaku.”

Ia menarik tangannya perlahan, menyadari bahwa terlalu dekat bisa membuat wanita itu kewalahan.

“Dan aku juga ingin melihat… bagaimana reaksimu saat tahu kebenaran. Apakah kau akan membenciku? Apakah kau akan pergi karena merasa dipermainkan? Atau… apakah perasaan yang tumbuh di antara kita cukup kuat untuk menahan guncangan ini? Karena jujur saja, Valerie… jika kau pergi sekarang, jika kau membenciiku selamanya karena kebohongan ini… itu hukuman yang pantas aku terima. Dan aku akan menerimanya dengan lapang dada, karena setidaknya aku sudah jujur padamu.”

Valerie menarik napas panjang, mengatur emosinya yang bergejolak hebat. Ia menatap pria di hadapannya ini. Mario Whashington. Orang terkaya di Meksiko. Pria yang bisa mendapatkan apa saja dan siapa saja yang ia inginkan di dunia ini. Namun kini, ia berdiri di sini, di hadapan seorang wanita biasa, dengan rasa takut dan harapan yang sama besarnya. Ia tidak tampak seperti raja bisnis yang ditakuti semua orang. Ia tampak seperti pria yang sedang mempertaruhkan nyawanya demi satu kesempatan mendapatkan cinta sejati.

“Kau tahu, Tuan Whashington…” Valerie mulai bicara, menegakkan punggungnya dan kembali memasang wajah profesionalnya, meski matanya masih menyiratkan kekacauan batin. “Aku masuk ke sini hari ini dengan niat bekerja. Aku pikir aku akan bertemu klien yang angkuh, sombong, dan dingin. Aku tidak pernah membayangkan akan mendengar cerita seberat ini dari orang yang paling berkuasa di negeri ini.”

Ia berjalan melewati Mario, menuju jendela kaca besar yang sama tempat pria itu berdiri tadi, menatap ke luar. Pemandangan kota yang indah dan megah itu kini memiliki makna baru. Di bawah kemegahan ini, tersembunyi begitu banyak rahasia dan kesepian.

“Dan kau benar… aku marah. Aku sangat marah padamu,” lanjut Valerie, suaranya tegas. “Aku marah karena kau membohongiku. Aku marah karena kau menempatkanku dalam posisi konyol ini, di mana aku jatuh hati pada seseorang yang ternyata bukan siapa yang ia katakan. Aku marah karena kau mempermainkan perasaanku.”

Ia berbalik menatap Mario kembali, matanya berkilat tajam.

“Tapi lebih dari itu… aku bingung. Karena apa yang kau katakan malam itu, apa yang kita rasakan saat bersama… rasanya nyata. Rasanya terlalu nyata untuk sekadar akting. Dan jika itu benar-benar nyata… maka kita berdua berada dalam masalah besar, Tuan Whashington.”

Mario tersenyum lega, senyum yang perlahan melebar hingga menampakkan kebahagiaan yang tulus. Ia tahu, kata-kata Valerie itu, nada bicaranya yang tidak langsung menolak, adalah celah kecil harapan yang ia cari.

“Panggil saja aku Mario,” potongnya lembut. “Setidaknya di antara kita. Hanya Mario.”

Valerie menghela napas panjang, berusaha menenangkan detak jantungnya yang belum mau melambat. Ia menunjuk berkas yang masih ia pegang di tangannya—berkas kontrak kerja sama yang seharusnya menjadi topik utama pertemuan ini.

“Baiklah, Mario. Karena aku sudah terlanjur masuk ke dalam kekacauan ini, dan karena reputasi kerjaku dipertaruhkan… aku akan tetap menangani kasus ini. Aku akan menjadi penasihat hukummu.”

Mario terlihat ingin bersorak, namun Valerie mengangkat satu jari untuk menghentikannya.

“Tapi ada syaratku. Pertama, tidak ada lagi kebohongan. Mulai detik ini, semuanya harus jujur. Siapa kau, apa yang kau lakukan, bahaya apa yang mengintai… semuanya harus terbuka padaku. Aku tidak mau lagi menjadi orang bodoh yang berjalan dalam kegelapan.”

“Setuju,” jawab Mario cepat, tanpa ragu sedikit pun.

“Kedua, batas profesional harus tetap ada. Di kantor, di depan orang lain, kita adalah klien dan pengacara. Tidak ada keakraban berlebihan, tidak ada keistimewaan. Aku akan melakukan tugasku sebaik mungkin, dan aku tidak akan membiarkan perasaan pribadi mengganggu pekerjaanku. Dan ketiga…” Valerie berhenti sejenak, menatap mata cokelat itu dalam-dalam, mencari jawaban di sana. “Ketiga… aku butuh waktu. Aku butuh waktu untuk memproses semua ini. Untuk menerima kenyataan bahwa pria yang aku kira tidak punya apa-apa ternyata memiliki segalanya. Untuk memaafkan kebohongan itu. Dan untuk memahami apa sebenarnya yang kurasakan padamu.”

Mario mengangguk pelan, wajahnya serius dan penuh rasa hormat. Ia mengerti betapa beratnya hal ini bagi wanita itu. Ia tidak berhak menuntut apa pun, apalagi kecepatan.

“Ambil waktu sebanyak yang kau butuh, Valerie. Aku akan menunggu. Aku akan membuktikan padamu bahwa apa yang kau rasakan pada Mario si pendamping bayaran, sama persis dengan apa yang akan kau rasakan pada Mario Whashington. Bahwa kekayaan dan kekuasaan hanyalah benda mati yang melekat padaku, tapi aku… aku tetaplah pria yang sama yang menghabiskan malam itu bersamamu. Pria yang jatuh hati padamu.”

Valerie mengangguk singkat, lalu berjalan menuju meja besar itu, meletakkan berkas-berkas hukumnya. Ia menarik kursi dan duduk, berusaha kembali menjadi profesional sepenuhnya, meski jantungnya masih berdebar hebat.

“Baiklah. Kalau begitu, mari kita mulai pekerjaannya, Tuan… Mario. Dan tolong ingat, satu kesalahan kecil saja, satu kebohongan lagi… dan aku akan pergi. Dan kau tidak akan pernah melihatku lagi, baik sebagai pengacara maupun sebagai wanita.”

Mario duduk di kursinya, di seberang meja, menatap Valerie dengan kekaguman yang semakin besar. Wanita ini hebat. Di tengah guncangan sebesar ini, ia masih mampu berdiri tegak, menetapkan aturan, dan mengendalikan situasi. Ia bukan wanita lemah yang bisa diatur-atur. Ia adalah wanita yang setara dengannya, yang berani menantang dan berani menetapkan harga diri.

“Aku mengerti,” jawab Mario lembut namun tegas. “Dan terima kasih. Terima kasih karena tidak langsung pergi. Terima kasih karena memberiku kesempatan untuk membuktikan segalanya.”

Siang itu, pertemuan itu berlangsung lebih lama dari yang dijadwalkan. Di permukaan, mereka membahas angka, klausul hukum, strategi bisnis, dan rencana penggabungan perusahaan. Namun di balik pembicaraan formal itu, ada sesuatu yang lain yang sedang terjalin. Sebuah hubungan yang rumit, berbahaya, namun penuh dengan ketegangan dan daya tarik yang tak terbantahkan.

Valerie menyadari bahwa pekerjaan ini jauh lebih berat dan berisiko daripada yang ia bayangkan. Ia tidak hanya harus berurusan dengan hukum dan bisnis yang rumit, tapi juga harus berurusan dengan perasaannya sendiri yang kacau, serta dunia baru yang penuh intrik, musuh, dan bahaya yang mengelilingi Mario Whashington.

Dan Mario menyadari bahwa perjuangannya belum selesai. Ia telah membuka topengnya, tapi memenangkan hati Valerie kembali adalah pertempuran yang jauh lebih sulit daripada apa pun yang pernah ia hadapi dalam bisnis. Ia harus membuktikan bahwa ia layak dipercaya, layak dicintai, dan bahwa cintanya tulus, murni, dan jauh lebih berharga daripada seluruh kekayaan yang ia miliki.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!