Aurin Josephine— tidak pernah menyangka, niatnya kabur dari perjodohan yang diatur paman dan bibinya justru menyeretnya ke dalam pernikahan tak terduga dengan pria asing, malam itu.
Gallelio Alastar, seorang CEO dingin yang mati rasa, mengubur perasaannya bersamaan dengan istrinya lima tahun lalu. Pernikahan itu tidak pernah ia inginkan. Bahkan terasa seperti pengkhianatan pada janji yang pernah ia berikan.
Namun di rumah yang sama, di bawah satu atap yang terasa asing, Aurin mulai mengenal sisi lain pria itu.
Dan untuk pertama kalinya, ia bertekad… membuatnya jatuh cinta lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaluBerkarya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4. Menikah
"Tapi sebentar, saya hubungi orang tua saya dulu!" lanjut pria itu sembari merogoh saku celana dan mengeluarkan ponselnya.
Dia menggeser layar, menghubungi sebuah nomor. Hanya butuh beberapa detik hingga sambungan itu terhubung.
"Iya, Tuan," sahut suara berat dari seberang sana.
"Revan, cepat datang ke sini. Saya terjebak. Hubungi Mama dan Papa juga, sekarang! Saya beri waktu lima menit!" perintahnya tegas, lalu memutuskan sambungan tanpa menunggu jawaban. Detik berikutnya, dia mengirimkan lokasi terkini melalui pesan singkat.
Di sisi lain, Aurin yang masih berdiri merasakan seluruh tubuhnya menegang. Rasa menggigilnya kian menjadi, kali ini berlipat ganda karena rasa cemas yang meluap-luap.
Pikiran gadis itu kacau. Putusan pria asing yang menolongnya justru terasa seperti menyeretnya kembali ke neraka yang paling dia takuti. Niat hati membebaskan diri dari buruan anak buah Pak Broto dan jeratan utang paman serta bibinya, kini hidupnya malah terperosok ke jurang yang jauh lebih dalam, lebih kelam, dan tanpa jalan keluar yang jelas.
Aurin melirik sekeliling. Terlalu ramai. Akan sangat nekat jika dia mencoba kabur lagi dalam kondisi kaki dan tubuh yang tak bertenaga. Dia hanya bisa menghela napas berkali-kali, berusaha meredam debaran jantungnya yang kian liar.
Hampir sepuluh menit berlalu hingga tiga orang berjalan tergesa memasuki rumah Pak RT. Penampilan mereka sangat mencolok. Seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik memikat, seorang pria paruh baya dengan langkah tegak dan rahang tegas yang mengintimidasi, serta seorang pemuda berjas yang tampak seperti asisten pribadi.
"Gallel, apa yang terjadi?" tanya wanita itu dengan nada cemas sembari menatap putranya.
Gallelio Alastar tidak langsung menjawab. Perasaannya sedang sangat tidak bersahabat, terutama saat melihat wajah-wajah warga yang tampak puas dengan penghakiman bodoh mereka.
"Mereka berbuat mesum di dalam mobil, Bu," sahut seorang warga tanpa beban.
Mata wanita itu membelalak tajam. Dia langsung memindai dua orang di hadapannya, Aurin dan Gallelio yang duduk bersisian, dengan jas milik putranya masih melekat di tubuh gadis itu. Penampilan Aurin yang berantakan memang sempat memicu pikiran liar di benaknya, namun dia segera menggeleng, menepis kecurigaan itu.
"Tidak mungkin... tidak mungkin putra saya melakukan hal rendah seperti itu, Pak!" bantahnya keras.
"Tapi itu kenyataannya, Bu! Mereka berbuat mesum. Gadis itu tadi tidak memakai baju dan celana. Kami melihatnya dengan mata kepala kami sendiri!" ujar pria yang pertama kali memergoki mereka.
"Gallelio..."
"Mama juga percaya? Mama ternyata sama saja dengan warga bodoh ini!" sahut Gallelio dengan nada bicara yang penuh kekecewaan dan amarah yang tertahan.
...****************...
Mereka tidak bisa berbuat banyak. Desakan warga, tatapan yang terus menghakimi, serta suara-suara yang kian menekan, semuanya mendorong pada satu keputusan yang paling dibenci Gallelio malam ini.
"Saya terima nikahnya dan kawinnya..." Suaranya terdengar datar dan dingin, "...Aurin Josephine binti Pradipta Aksara, dibayar tunai!"
Keheningan sempat menyergap ruangan itu sejenak. Lalu...
"Bagaimana saksi... Sah?"
"SAH!!"
Tepat setelah ikrar itu terucap, Aurin menumpahkan air matanya dalam diam. Suara riuh warga dan bahkan percakapan kedua orang tua Gallelio terdengar semakin menjauh dari telinganya. Kepalanya berdenyut nyeri, sebanding dengan rasa sesak yang menghimpit dadanya. Perlahan, pandangannya mulai mengabur, dan—
BUGH!
Tubuhnya jatuh tak sadarkan diri tepat di atas pangkuan Gallelio, membuat semua orang yang ada di sana seketika panik.
"Ya Tuhan..."
Mama Amanda Alastar langsung mendekat, menyentuhkan telapak tangannya ke kening Aurin dengan cemas.
"Panas... dia demam, Gallel! Bawa ke rumah sakit sekarang juga!" teriaknya panik.
Gallelio bergeming. Hanya helaan napas kasar yang keluar dari mulutnya. Peduli? Untuk apa? Baru sekali saja dia berniat menolong gadis itu, hasilnya sudah sekacau ini. Pernikahan konyol yang bahkan tidak pernah melintas dalam daftar keinginannya.
"Gallel!"
"Revan, bawa gadis ini ke rumah sakit."
Sorot matanya tetap tajam saat memberikan perintah pada asistennya. Revan bergerak sigap, segera mengangkat tubuh Aurin dari pangkuan tuannya, lalu bergegas keluar dari kediaman Pak RT.
Mama Amanda dan suaminya, Jordan Alastar, langsung menyusul. Mereka masuk ke dalam mobil yang sama dengan Revan untuk memastikan keselamatan menantu dadakan mereka.
Sementara itu, Gallelio memutar tubuh. Dia masuk ke dalam mobilnya sendiri tanpa kata. Mesin menderu, gas diinjak dalam-dalam, dan dalam sekejap mobil itu melesat menghilang dari pandangan.
Pria itu meninggalkan tempat yang menurutnya sial dan memuakkan tersebut. Namun, arah kemudinya bukan menuju rumah sakit. Bukan pula untuk memastikan kondisi gadis asing yang dalam satu malam saja sudah sah menyandang status sebagai istrinya.
.
.
Star Hospital
Beberapa dokter bergegas mendorong brankar menuju pintu lobi begitu mendapat perintah dari atasan mereka. Kabar bahwa pemilik rumah sakit akan datang membawa pasien darurat membuat seluruh staf bersiaga penuh bahkan sebelum mobil yang dikemudikan Revan tiba.
Begitu mobil mewah itu memasuki area parkir, petugas medis langsung merapat.
"Cepat, urus gadis ini!" perintah Mama Amanda.
Tangannya bergerak sigap membantu petugas memindahkan tubuh menantu kecilnya ke atas brankar, sambil terus memastikan jas besar yang dikenakan Aurin tetap menutup tubuhnya dengan rapat. Brankar itu pun didorong cepat menuju ruang tindakan VVIP. Mama Amanda berdiri di depan pintu dengan kecemasan yang terpancar jelas di wajahnya.
Beberapa saat kemudian, seorang dokter keluar menemui mereka.
"Bagaimana kondisinya, Dok?" tanya Mama Amanda dengan suara bergetar.
"Nyonya, kondisi pasien cukup kritis saat ini," dokter itu memulai dengan raut wajah serius.
"Pasien mengalami demam yang sangat tinggi akibat infeksi dari luka di telapak kakinya. Kami menemukan banyak serpihan kaca yang tertanam cukup dalam. Beberapa sudah mulai memicu peradangan hebat karena terkontaminasi air kotor dan tanah," jelas dokter tersebut.
Mama Amanda spontan menutup mulutnya. Matanya berkaca-kaca membayangkan rasa sakit luar biasa yang harus ditanggung Aurin sendirian di bawah hujan tadi.
"Selain itu, ada indikasi kelelahan fisik yang ekstrem dan tekanan psikologis yang sangat berat. Hipotermia ringan juga membuat daya tahan tubuhnya jatuh ke titik terendah. Saat ini tim medis sedang melakukan tindakan pembersihan luka untuk mengeluarkan semua sisa kaca agar tidak terjadi sepsis atau keracunan darah. Kami juga sudah memberikan antibiotik dosis tinggi melalui infus."
"Apa dia akan baik-baik saja, Dok?"
"Kami akan melakukan yang terbaik, Nyonya. Pasien harus menjalani observasi ketat dalam dua puluh empat jam ke depan. Untuk sementara, biarkan dia beristirahat total."
"Boleh saya melihatnya sebentar?" tanya Mama Amanda memohon.
"Silakan, Nyonya," jawab sang dokter sambil mempersilakan wanita itu masuk.
Mama Amanda melangkah pelan, menatap Aurin yang tampak sangat kecil dan rapuh di atas ranjang rumah sakit. Pandangannya jatuh ke arah kaki Aurin yang kini sedang ditangani.
"Oh Ya Allah, kenapa sampai sebanyak ini?" gumamnya lirih saat melihat telapak kaki yang mulai membengkak dan kemerahan. Luka-luka itu masih merembeskan darah segar di antara serpihan tajam yang belum sempat tercabut.
"Sepertinya gadis ini menginjak serpihan kaca dalam jumlah banyak, Nyonya. Dan bukan hanya itu, kami juga menemukan beberapa memar dan luka lama di bagian tubuh lainnya," tambah dokter itu pelan.
Mama Amanda memejamkan mata sejenak, merasakan sesak yang menghimpit dadanya.
"Lakukan yang terbaik, Dok. Sembuhkan dia!" perintahnya tegas namun penuh permohonan sebelum kembali keluar dengan perasaan sedih.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...