Sejak ibu kandungku meninggal, aku hidup sebagai orang asing di rumahku sendiri. Saat perjodohan datang, harapanku hancur ketika kakak tiriku merebut segalanya dan aku dipaksa menikah dengan pria lumpuh yang tak kukenal. Namun, dari perjodohan yang tidak adil itu, aku justru menemukan ketulusan dan cinta yang selama ini tak pernah kudapatkan. Ketika kebenaran terungkap dan masa laluku ingin mengklaimku kembali, aku harus memilih—kembali pada yang seharusnya, atau bertahan pada cinta yang telah menjadi rumahku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uzumaki Amako, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 4
Ruangan itu kembali sunyi setelah kata “bagus” keluar dari bibirnya.
Aku masih berdiri di tempatku, sementara dia—Adrian Kusuma—tetap menatapku dengan ekspresi yang sulit dibaca.
Tidak ada kebencian.
Tapi juga… tidak ada kehangatan.
Seolah aku hanyalah bagian dari sesuatu yang harus ia terima.
Bukan sesuatu yang ia pilih.
“Ada satu hal yang harus kita luruskan dari awal,” katanya akhirnya.
Aku menegakkan tubuh sedikit. “Iya…”
“Pernikahan ini,” lanjutnya, “bukan atas keinginanku.”
Aku terdiam.
Meski sudah menduga, tetap saja… mendengarnya langsung terasa berbeda.
“Aku juga tidak tertarik menjalani hubungan seperti pasangan pada umumnya,” tambahnya datar.
Setiap kata yang ia ucapkan jelas, tanpa ragu.
Seolah ia sudah memikirkan ini sejak lama.
Aku menunduk sedikit.
“Baik,” jawabku pelan.
Ia mengangkat alis tipis.
Sepertinya ia tidak menyangka aku akan menjawab secepat itu.
“Kamu tidak bertanya?” tanyanya.
Aku menggeleng pelan.
“Tidak perlu,” kataku. “Aku… mengerti.”
Dan itu bukan kebohongan.
Sejak awal, aku sudah tahu tempatku.
Aku bukan seseorang yang dinikahi karena cinta.
Aku hanya… pengganti.
Adrian menatapku beberapa detik, lebih dalam dari sebelumnya.
Seolah mencoba memastikan apakah aku benar-benar jujur.
“Atau,” katanya pelan, “kamu hanya berpura-pura menerima?”
Aku terdiam sejenak.
Lalu mengangkat wajahku perlahan.
“Kalau aku menolak,” tanyaku lirih, “apa itu akan mengubah sesuatu?”
Pertanyaan itu keluar begitu saja.
Jujur.
Tanpa hiasan.
Untuk pertama kalinya, ekspresi Adrian sedikit berubah.
Bukan banyak.
Tapi cukup untuk terlihat.
“…Tidak,” jawabnya akhirnya.
Aku mengangguk kecil.
“Jadi… aku memilih untuk menerima.”
Sunyi.
Namun kali ini, bukan sunyi yang menekan.
Lebih seperti… kesepakatan yang tidak diucapkan.
Adrian menyandarkan punggungnya ke kursi roda.
Tatapannya masih tertuju padaku.
“Baik,” katanya. “Kalau begitu, kita buat ini jelas.”
Aku menunggu.
“Kamu bebas melakukan apa pun selama kamu tidak menggangguku,” ujarnya. “Kita akan tinggal di rumah yang sama, tapi tidak perlu saling ikut campur.”
Aku menggenggam tanganku pelan.
Kata-katanya dingin.
Tapi anehnya… tidak menyakitkan.
Mungkin karena aku sudah terlalu sering mendengar hal yang lebih buruk.
“Dan satu lagi,” lanjutnya, “jangan berharap aku akan bersikap seperti suami pada umumnya.”
Aku mengangguk.
“Iya.”
Ia menatapku lagi.
“Kamu tidak keberatan?”
Aku menggeleng pelan.
“Tidak.”
Jawaban itu keluar dengan mudah.
Karena jauh di dalam hati, aku tahu—
Aku tidak datang ke sini untuk dicintai.
Aku hanya datang… karena harus.
Adrian terdiam cukup lama.
Seolah menilai ulang sesuatu.
Lalu akhirnya ia berkata pelan—
“Kamu aneh.”
Aku sedikit terkejut.
“…Maaf?”
Ia menggeleng kecil.
“Biasanya orang akan marah. Atau setidaknya… protes.”
Aku tersenyum tipis.
Senyum yang bahkan tidak terasa seperti senyum.
“Aku sudah terlalu sering kehilangan hal yang aku inginkan,” kataku pelan. “Jadi… aku tidak berharap banyak lagi.”
Kata-kata itu menggantung di udara.
Dan untuk pertama kalinya—
Adrian tidak langsung membalas.
Tatapannya berubah.
Lebih tenang.
Lebih… dalam.
Namun hanya sebentar.
Ia mengalihkan pandangannya ke arah jendela.
“Kamarmu sudah disiapkan,” katanya. “Terpisah dari kamarku.”
Aku mengangguk.
“Tentu.”
Ia menambahkan, “Kalau ada yang kamu butuhkan, bicara ke pelayan. Bukan ke aku.”
“Iya.”
Sederhana.
Jelas.
Tanpa ruang untuk salah paham.
Aku berdiri di sana beberapa detik lagi, sebelum akhirnya membungkuk sedikit.
“Kalau begitu… aku permisi.”
Ia tidak menjawab.
Hanya diam.
Aku berbalik, melangkah menuju pintu.
Namun sebelum aku keluar—
“Aku tidak datang menjemputmu.”
Langkahku terhenti.
Aku tidak menoleh.
“Aku tahu,” jawabku pelan.
Sunyi.
Lalu ia melanjutkan—
“Bukan karena aku tidak bisa.”
Tanganku sedikit menegang.
“Tapi karena aku tidak mau.”
Kata-kata itu tajam.
Jujur.
Dan entah kenapa… itu lebih baik daripada kebohongan.
Aku menarik napas pelan.
Masih tidak menoleh.
“Tidak apa-apa,” kataku.
Dan kali ini—
Aku benar-benar pergi.
—
Pintu tertutup di belakangku.
Aku berdiri di luar beberapa detik, menatap kosong ke depan.
Perasaanku… aneh.
Seharusnya aku sedih.
Atau marah.
Atau kecewa.
Tapi yang ada hanya… tenang.
Tenang yang kosong.
Seorang pelayan mendekat. “Mari, Nyonya. Saya antar ke kamar Anda.”
Aku mengangguk.
Kami berjalan menyusuri lorong panjang.
Sampai akhirnya berhenti di depan sebuah pintu.
“Ini kamar Anda.”
Pintu dibuka.
Aku melangkah masuk.
Kamar itu besar.
Lebih besar dari kamar lamaku.
Rapi.
Indah.
Tapi tetap terasa… asing.
Aku berdiri di tengah ruangan.
Menatap sekeliling.
Lalu perlahan duduk di tepi tempat tidur.
Gaun pengantin ini masih melekat di tubuhku.
Hari ini… aku resmi menjadi istri seseorang.
Tapi tidak ada yang berubah.
Tidak ada yang terasa berbeda.
Aku menunduk, menatap tanganku sendiri.
Kosong.
Tanpa cincin yang benar-benar berarti.
Tanpa perasaan yang benar-benar hidup.
Namun di balik semua itu—
Ada satu hal yang mulai kusadari.
Pria itu…
Adrian Kusuma.
Dia tidak memaksaku.
Tidak menyakitiku.
Tidak merendahkanku seperti yang lain.
Dia hanya… menjauh.
Dan entah kenapa,
di dunia yang selama ini penuh luka—
Itu terasa seperti sesuatu yang baru.
Setelah cukup lama duduk diam, aku akhirnya berdiri.
Aku membuka koper yang tadi dibawakan pelayan dan mulai mengeluarkan barang-barangku satu per satu. Tidak banyak. Memang dari awal aku tidak membawa banyak hal dari rumah itu. Tidak ada yang benar-benar ingin kubawa.
Aku mengganti gaun pengantin dengan pakaian rumah yang lebih sederhana. Rasanya aneh melihat diriku di cermin dengan riasan dan gaun putih besar itu. Seperti semuanya tadi hanyalah mimpi yang terlalu cepat selesai.
Aku mengikat rambutku seadanya, lalu kembali merapikan barang-barang di meja dan lemari.
Sampai tanganku berhenti pada sebuah bingkai foto kecil di dalam koper.
Aku terdiam.
Perlahan aku mengambilnya.
Foto itu adalah foto lama—aku dan ibu. Kami berdiri di depan rumah kecil kami dulu. Ibu tersenyum lebar, sementara aku memeluk lengannya dengan wajah ceria. Waktu itu semuanya masih terasa sederhana, tapi hangat.
Aku menatap foto itu lama.
Sangat lama.
Lalu tanpa sadar aku duduk di tepi tempat tidur sambil memeluk bingkai foto itu ke dadaku.
“Ibu…” suaraku pelan sekali, hampir seperti bisikan.
Mataku mulai terasa panas.
“Aku… sudah menikah hari ini.”
Kata-kata itu akhirnya keluar juga.
“Aku sekarang… sudah jadi milik orang lain.”
Air mataku jatuh satu per satu ke bingkai foto itu.
“Maaf aku tidak bisa menikah dengan orang yang aku cintai seperti yang ibu inginkan dulu…”
Suaraku mulai bergetar.
“Tapi aku janji aku akan baik-baik saja… Aku akan bertahan. Seperti yang ibu selalu bilang.”
Aku memeluk foto itu lebih erat, seolah aku benar-benar sedang memeluk ibuku.
Tangisku akhirnya pecah.
Sunyi kamar yang besar itu hanya diisi suara tangisku yang tertahan.
“Ibu… aku capek…”
Kalimat itu keluar begitu saja.
Semua yang kutahan sejak tadi—sejak pagi, sejak pernikahan, sejak bertemu Adrian—akhirnya runtuh juga.
“Aku takut… tapi aku tidak punya tempat untuk kembali…”
Aku menunduk, dahiku menempel pada bingkai foto itu.
“Aku sendirian sekarang, Bu…”
Tangisku semakin pelan, tapi tidak berhenti.
Beberapa menit aku hanya duduk di sana, memeluk foto itu, menangis tanpa suara.
Sampai akhirnya aku menarik napas panjang, menghapus air mataku dengan punggung tangan.
Aku menatap foto ibu sekali lagi.
“Aku akan baik-baik saja,” kataku pelan. “Jadi ibu jangan khawatir.”
Aku mencium pelan bingkai foto itu, lalu meletakkannya di meja samping tempat tidur.
Kamar itu kembali sunyi.
Tapi kali ini, kesunyiannya tidak terasa seberat tadi.
Aku berbaring pelan di tempat tidur, menatap langit-langit kamar yang asing.
Hari pertamaku sebagai istri Adrian Kusuma berakhir seperti ini.
Bukan dengan kebahagiaan.
Bukan juga dengan pertengkaran.
Tapi dengan dua orang asing…
yang terikat dalam satu pernikahan.