Elizabeth Zamora atau yang biasa di panggil dengan Liz telah terjebak dalam pernikahan kontrak yang membawa dia pada titik terendah dalam hidupnya.
Akankah Liz bisa melalui takdir yang telah digariskan semesta untuknya ??
Happy Reading 💜
Enjoy 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ratu_halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 4
Ini sudah hampir jam makan siang, tapi Liz belum berani menyerahkan surat pengunduran dirinya pada pemimpin perusahaan. Liz benar-benar takut.
Interkom dimeja Liz berbunyi, membuat Liz kaget setengah mati.
'Liz, keruangan saya sekarang.' Ucap seseorang dari balik sambungan telepon tersebut.
"Baik, Pak." Jawab Liz berusaha tenang. Liz berdiri, memantapkan hati sambil membawa surat berisi pengunduran dirinya.
Tok. Tok.
Liz mengetuk pintu ruangan CEO. Tanpa menunggu jawaban, Liz pun membuka pintu ruangan pemimpin tertinggi.
"Masuk, Liz." Ucap Pria berpakaian setelan jas rapi.
"Hasil meeting kemarin dengan perusahaan Inter-G, apa sudah kamu selesaikan ?" tanya Revan, CEO Liz.
"Su-sudah, Pak. Saya sudah kirim lewat e-mail semalam."
Pak Revan mengangguk, "Oh. Baiklah. Saya belum memeriksanya." Sebenarnya Revan memanggil Liz bukan murni karena hal itu, tapi Revan hanya ingin melihat Liz dari jarak dekat. Entah sejak kapan dimulainya ketertarikan pada Liz. Tapi yang pasti, Revan hanya sedang menunggu waktu untuk mengungkapkan perasaannya pada Liz.
"Liz, ada apa ? Kenapa wajahmu seperti bingung begitu ?" tanya Revan yang mulai sadar akan perubahan ekspresi Liz.
Liz memegang erat surat resign di belakang tubuhnya.
"Pak Revan, sa-saya.....m-maaf, i-ini.." Liz tidak sanggup mengatakannya, dia pun langsung saja menyerahkan surat itu ke Revan.
"Ini apa, Liz ?" tanya Revan sambil membolak-balikan amplop putih tanpa setitik tinta pun yang menandakan bahwa itu surat Resign.
Karena Liz tidak langsung menjawab, Revan segera membuka amplop tersebut.
Revan mengambil surat itu sambil menyipitkan mata. Saat membaca satu paragraf yang tersusun rapi, Revan tertegun luar biasa dengan wajah yang berubah keras.
Suasana ruangan pum mendadak jadi mencekam.
Revan menatap Liz lama.
"Apa maksudnya ini, Liz ?"
Liz masih diam sambil menunduk semakin dalam.
"Kenapa Liz, apa saya membuat kesalahan ?"
Aneh. Untuk apa CEO bertanya seperti itu ketika ada karyawan nya yang ingin Resign. Pikir Liz.
"Ti-tidak, Pak." Liz langsung menggeleng cepat.
"Lalu kenapa, Liz ? Kenapa kamu mau mengundurkan diri ?"
"Maaf, Pak. Saya tidak bisa menjelaskan nya. Hari ini saya terakhir bekerja, maaf jika pekerjaan saya banyak kurang nya. Terimakasih sebelumnya, Permisi." Liz menunduk hormat sebelum akhirnya meninggalkan ruangan Revan.
"Tunggu, Liz."
Liz berdiri di ambang pintu, menoleh ke Revan lagi.
"Kamu tidak bisa keluar begitu saja sebelum perusahaan mendapat gantinya. Jika pun sudah ada, kamu harus mengajarkannya dulu sampai dia bisa bekerja sebaik kamu." Tutup Revan tanpa negosiasi lagi. Setidaknya Revan bisa menahan Liz untuk beberapa hari kedepan. Semoga saja dalam waktu itu Liz berubah pikiran.
Sore harinya, Liz berdiri di depan gedung perusahaannya sambil menunggu mendapatkan taksi online. Di jam sibuk begini memang susah dapat transportasi umum. Angkot saja sering penuh. Ditambah lagi jalanan yang macet nya luar biasa.
Tin!
Suara klakson terdengar mengusik ketenangan Liz. Liz mengangkat kepalanya sejenak, mengalihkan pandangan dari layar ponsel dalam genggaman.
Sebuah mobil berhenti tepat di samping Liz berdiri. Seseorang turun dari balik kursi pengemudi.
"Pak Faizal," Gumam Liz menatap Faizal yang berjalan memutar ke arahnya.
"Silahkan masuk, Nona." Faizal membuka pintu penumpang bagian belakang.
"Tuan Tama ingin bertemu." Ucap Faizal.
Karena Liz tak punya pilihan, akhirnya Liz pun masuk ke dalam mobil tanpa membantah.
Setelah itu Faizal melajukan mobilnya lagi menuju perusahaan milik Tama dengan hati-hati sebab dia membawa 'aset berharga' milik sang Tuan.
Disisi lain tanpa Liz ketahui, seseorang sedang menatap kepergiannya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Silahkan, Nona. Ikut saya keruangan Tuan Tama." Faizal memandu Liz masuk ke lift khusus yang akan membawa mereka ke lantai 25, dimana ruangan Tama berada.
Gedung perusahaan milik Tama benar-benar mewah dan berkelas. Berbeda sekali dengan tempat kerjanya yang hanya sampai lantai sepuluh, di puncak tertingginya. Bukan membandingkan, hanya saja sangat kontras sekali meski hanya dilihat sekilas.
Bagi Liz, CEO-nya sudah sangat wajar dikatakan sebagai seorang 'konglomerat', tapi nyatanya di atas langit masih ada langit. Dan diatas Revan masih ada Tama.
Liz masuk ke ruangan Tama bersama Faizal. Ruangan itu dua kali jauh lebih besar dari ruangan Revan.
"Tuan, Nona Elizabeth sudah datang." Kata Faizal pada Tama yang sibuk memeriksa dokumen di meja kerja nya.
Tama mendongak sambil memperbaiki letak kaca matanya.
"Kau boleh keluar." Ucap Tama pada Faizal.
Tama melepas kaca matanya, memijat pangkal hidung kemudian berdiri.
"Silahkan duduk." Ucap Tama dengan gestur tangan ke arah sofa untuk menerima tamu.
"Terimakasih." Jawab Liz kemudian duduk di sofa yang menghadap langsung ke arah pintu, sementara Tama duduk di sofa tunggal.
"Ada apa Tuan memanggil saya ?" tanya Liz sopan.
"Tuan ?" Tama mengulangi ucapan Liz.
"Iya, apa ada yang salah ?"
"Jelas salah. Mana ada calon istri memanggil calon suaminya dengan sebutan Tuan ?!"
Liz terdiam.
"Panggil aku Tama, atau siapapun asal jangan Tuan."
"Sayang," Ucap Liz membuat Tama tersedak ludah nya sendiri.
Liz tertawa melihat Tama terbatuk-batuk,
"Bercanda, Tuan. Makanya jangan terlalu kaku. Sudah, sekarang jelaskan kenapa Tuan memanggil saya kesini ?" Tanya Liz lebih formal.
Tama menatap Liz sejenak, kemudian mengambil selembar kertas dari atas meja nya.
"Ini apa lagi, Tuan ?" tanya Liz sambil menerima kertas itu dari tangan Tama langsung.
"Surat pernyataan bahwa kau akan bekerja di perusahaan ini sebagai sekretaris pribadi ku setelah kita bercerai."
Mata Liz langsung berbinar. Iya. Ini adalah jaminan untuk kehidupan dia dan Ibunya setelah mereka bercerai.
Liz membaca setiap detail surat itu.
"Dimana saya harus tanda-tangan ?" tanya Liz sambil mengeluarkan pulpen dari dalam tasnya.
Tama membubuhkan tanda tangannya lebih dulu, di susul Liz.
"Padahal saya yang mau membuat surat pernyataan ini, tapi ternyata Tuan sudah berinisiatif," Ucap Liz membuat Tama terheran-heran sekaligus takjub. Liz adalah wanita pertama dalam hidupnya yang bicara seceplas-ceplos itu. Dan entah kenapa Tama suka mendengarnya. Dia yang biasa di sanjung, di lambungkan egonya, kini merasakaan getaran yang berbeda saat berhadapan dengan Liz. Ego besarnya terusik.
"Besok kita menikah. Jangan tidur terlalu malam, aku akan datang sepagi mungkin."
"Da-datang kemana, Tuan ? Memang kita akan menikah dimana ?" tanya Liz yang wajahnya berubah pucat.
"Besok kau akan tau. Dan mulai sekarang berhenti memanggilku dengan sebutan itu!"
Glek.
Liz menelan ludahnya sendiri. Sumpah, jika sudah mengeluarkan taringnya, Tama terlihat.... menyeramkan.
Dini harinya dirumah sakit.
"Liz, kenapa kamu belum tidur, nak ?" Tanya Ibu pada Liz yang berbaring di sofa dengan mata yang masih terjaga.
"Eh, Ibu. Kok sudah bangun ?" Liz beranjak dari sofa, "Ibu harus tidur yang cukup, besok Ibu akan menjalani operasi."
"Ibu haus, Liz."
Liz tersenyum sambil mengusap kepala Ibunya penuh kasih sayang.
"Nggak boleh, Bu. Ibu harus puasa selama delapan jam."
Bibir Ibunya memang sudah pucat, tapi Liz tidak akan memberikan Ibunya minum sesuai prosedur yang dokter jelaskan beberapa jam yang lalu.
"Ibu tidur lagi aja ya, Liz juga mau tidur."
Ibu mengangguk lemah, lalu kembali memejamkan mata, berusaha untuk tidur kembali.
Keesokan paginya sekitar pukul enam lewat tiga puluh menit, Liz sudah mandi dan berpakaian rapi.
"Kamu rapi sekali, Liz, bukannya ini hari Sabtu ? Kamu biasanya masuk jam delapan, kan, kalau sabtu." Tanya Ibu Nira, heran.
"Ehm, gapapa bu, Liz mau nungguin Ibu didepan ruang operasi. Liz juga sudah kirim pesan pada Pak Revan kalau hari ini Liz izin libur."
"Loh, kok sampai libur, Liz ?! Janganlah, Nak. Perusahaan Pak Revan sudah berbaik hati memberikan fasilitas ini untuk perawatan Ibu. Masa kamu malah bolos begini, kamu harus berterima kasih pada Pak Revan. Dia sangat baik pada karyawan nya."
"Bu, selama hampir empat tahun Liz bekerja, Liz bahkan nggak pernah ngambil cuti, bu. Liz selalu kerja meskipun Liz sedang sakit. Jadi kali ini saja, bu, Liz mau nemenin Ibu."
Tiba-tiba ketika Liz sedang berdebat dengan Ibu nya, ada sebuah tangan hinggap di bahu Liz. Liz tersentak, tapi rasa hangat yang menjalar membuat wanita itu tenang seketika.
"Ada masalah disini, Nona Elizabeth ?"