NovelToon NovelToon
Misteri Hantu Penculik Bayi

Misteri Hantu Penculik Bayi

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Mata Batin / Hantu / Tumbal
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Lili Aksara 04

Namanya Arumi, seorang gadis yang tinggal di desa Dukuh Asem.

Arumi adalah seorang gadis yang baik hati dan suka membantu orang tuanya.

Namun, ketenangan itu perlahan menghilang, saat bayi-bayi di desanya mulai meninggal satu-persatu dengan darah yang mengering.

Arumi juga mulai sering melihat penampakan aneh, bahkan sampai hampir disakiti oleh sesosok kuntilanak merah.

Kuntilanak itu selalu mengatakan, kalau ibunya Arumi telah membuat hidupnya hancur.

Arumi dan adiknya, yang bernama Bella, mulai merasa curiga dengan kedua orang tuanya.

Apalagi, mereka sering tampak terlihat aneh.

Arumi juga merasakan keanehan dengan dirinya, sebab dirinya sering melihat penampakan aneh.

Sebenarnya, apakah yang terjadi? Dan mampukah Arumi mengungkap semuanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lili Aksara 04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Gubuk Mbah Sukirman.

Malam itu, Mbah Sukirman sudah bersiap dengan sesajen yang sudah diletakan di atas nampan berwarna hijau.

Gubuk itu hampir tidak ada penerangan sama sekali, hanya ada 2 lilin yang menjadi sumber cahaya.

Didalam ssesajen itu, sudah terdapat kemenyan, ayam cemani, bunga 7 rupa, air, dan ada juga keris milik Mbah Sukirman.

Mbah Sukirman sudah siap.

Dukun tua itu tampak begitu percaya diri bisa mengalahkan arwah Susi, padahal ia saja belum mengetahui kekuatan Susi seperti apa.

"Lihat saja kau, Susi, aku akan mengalahkanmu," ucap lelaki yang memakai penutup kepala itu.

Mbah Sukirman mengambil kendi dan ayam cemani.

Ia menyembelih ayam itu.

Lalu, darahnya ia campurkan ke dalam sesajen.

Mbah Sukirman membaca mantra pemanggil Arwah dengan suara lantang.

Namun, anehnya setelah membaca mantra itu berkali-kali, arwah Susi tak kunjung datang.

Setelah ketiga kalinya membaca mantra, akhirnya terdengarlah suara tawa yang sangat menyeramkan.

"Hihihi, ternyata ada yang ingin bermain-main denganku, ya," ucap suara itu.

Kini, dihadapan Mbah Sukirman, muncullah sesosok kuntilanak.

Namun, kuntilanak itu tidaklah berwarna putih seperti yang dibayangkan oleh Mbah Sukirman sebelumnya, melainkan berwarna merah.

Mata kuntilanak itu merah menyala seperti darah.

Mulutnya menganga, giginya berwarna hitam pekat.

Rambut Susi begitu panjang, menjuntai sampai ke tanah, membuat orang pasti akan merasa takut dibelit oleh rambut itu.

"Oh, jadi kau Susi, ya," ucap Mbah Sukirman berusaha tidak takut.

Padahal, didalam hati, ia agak terkejut juga melihat perwujudan Susi yang ternyata bukan kuntilanak putih biasa.

"Dukun tua, beraninya kamu membantu Broto dan Sawitri," ucap Susi.

Susi segera melemparkan energi tenaga dalam pada Mbah Sukirman.

Namun, beruntungnya Mbah Sukirman segera menangkis energi Susi.

Dwar!

Dua energi itu bertemu, menciptakan ledakan yang dasyat.

Mbah Sukirman memuntahkan seteguk darah, karena tak kuat dengan energi tenaga dalam Susi yang begitu kuat.

Namun, Mbah Sukirman masih belum menyerah.

Ia meraih keris miliknya, lalu menerbangkan keris tersebut dengan ilmunya ke arah Susi.

"Hihihihiiiiii, keris murahan," ucap Susi.

Susi menghindari keris itu, sehingga keris itu malah menancap di tanah.

"Hiaaat! Rasakan ini!" teriak Mbah Sukirman.

Mbah Sukirman mengerahkan ilmu garuda hitam miliknya.

Seketika itu, puluhan jarum energi melesat menghujam Arwah Susi.

"Hihihihi, hihihihiiiiii!" Susi berteriak marah.

Dengan sekali ayunan, Susi melemparkan jarum energi itu ke segala arah.

Alhasil, jarum energi itu malah berbalik menyerang Mbah Sukirman sendiri.

Buak!

Susi melemparkan energi yang begitu besar, membuat Mbah Sukirman terpental ke belakang.

"Kau telah membuatku marah, dukun tua," ucap Susi.

Susi melayang mendekati tubuh Mbah Sukirman yang sudah lemas.

Lalu, tanpa ampun kuntilanak itu mencekik leher Mbah Sukirman.

"A... ampuni aku, Susi," mohon Mbah Sukirman.

Namun, Susi malah memperkuat cekikkannya, membuat Mbah Sukirman hampir saja kehabisan napas.

Kuku runcing Susi menekan leher Mbah Sukirman, menciptakan robekan panjang yang dalam.

Susi melemparkan tubuh Mbah Sukirman ke lantai gubuknya yang dingin.

Brak!

Mbah Sukirman kembali memuntahkan darah segar.

Beberapa saat kemudian, Mbah Sukirman tewas karena kehabisan napas.

"Hihihihi, itulah akibatnya kalau ada yang ingin bermain-main denganku," ucap Susi sambil terus tertawa cekikikan.

Andai saja Mbah Sukirman tidak berniat mengusik Susi, mungkin ia masih hidup.

Namun, malang tak dapat ditolak, sekarang nasibnya tragis karena harus menjadi korban cekikan tangan Susi.

Susi kembali terbang, meninggalkan gubuk Mbah Sukirman.

Kuntilanak itu terbang ke desa Dukuh Asem.

Ia bergelantungan pada sebuah pohon, seperti sedang menunggu sesuatu.

Owek, owek, owek.

Terdengar suara bayi yang nyaring dari salah 1 rumah.

Dengan cepat, Susi segera menghampiri suara tangis itu.

"Hihihi, mangsa baru, aku ingin darahnya sekarang," ucap Susi.

Susi langsung memasuki rumah itu, ia melayang ke sebuah kamar yang memiliki pintu.

Namun, Susi tak perlu pintu untuk masuk, ia menembus pintu dengan tatapan kelaparan.

Di sana, terlihat ada seorang bayi yang diletakan dalam ranjang bayi.

Susi langsung mengambil bayi itu tanpa basa-basi.

Bayi itu menangis keras saat ia berada dalam gendongan kuntilanak itu.

Ibu dari bayi itu sontak saja sangat terkejut, ia langsung berteriak, meminta agar bayinya dikembalikan.

Namun, Susi tidak peduli.

Susi terbang sambil membawa bayi itu ke sebuah pohon.

Entah bagaimana, Susi membuat bayi itu supaya tidak menangis.

Jadi, Susi membawa bayi itu dengan senyap, tanpa ada warga yang bisa mengejarnya.

"Hihihi, andai saja di desa ini ada bayi yang memiliki getih wangi, pasti kekuatanku akan semakin bertambah," ucap Susi.

Susi menusukan kuku jarinya yang panjang ke leher bayi itu.

Seketika, darah mengucur dengan deras.

Susi segera menghisap darah itu dengan senang.

"Hihihihiiiiii, inilah yang aku suka!" teriak arwah Susi.

Sesekali, ia juga kembali menusukkan kukunya ke bagian tubuh bayi itu yang lain, membuat darah lebih banyak mengalir keluar.

Setelah meminum darah itu, Susi melemparkan tubuh bayi yang sudah meninggal itu ke tanah, lalu segera menghilang entah ke mana.

***Sementara itu, di desa Dukuh Asem, kehebohan yang sama seperti malam sebelumnya kembali terjadi.

Bayi yang hilang kali ini adalah bayinya Ibu Halimah, yang merupakan ibu dari Lestari—salah 1 anak yang belajar mengaji dengan Arumi.

Saat ini, Arumi dan Bella sedang menenangkan Lestari yang sedari tadi menangis.

"Aku gagal jagain adikku, Kak Arum," ucap gadis kecil itu.

"Ini bukan salahmu, Lestari. Kamu harus kuat, ya. Insya Allah adikmu akan segera ditemukan," kata Arumi.

"Tapi, pasti Adik dibawa hantu jahat, Kak," jawab Lestari.

"Enggak, sayang. Sudah, Lestari minum dulu, ya, Kakak Bella ambilkan," ucap Bella.

Bela beranjak, adik dari Arumi itu mengambil air minum dari rumah mereka.

***Tak berselang lama, Bella kembali dengan membawa segelas air di tangannya.

Arumi meminumkan air itu pada Lestari, sekadar untuk membuatnya tenang.

Sementara itu, para warga juga telah berpencar untuk mencari bayinya Bu Halimah.

Arumi dan Bella masih belum masuk, karena mereka masih ingin menemani Lestari yang masih bersedih.

"Tari, sebenarnya kejadiannya itu bagaimana, kenapa adikmu bisa hilang?" tanya Bella.

"Nggak tahu, Kak. Soalnya Mama yang sama Adik. Aku sempet denger Adik bayi nangis kenceng banget, terus Mama langsung teriak," jawab Lestari.

Arumi menghela napas panjang, ia sadar ada yang tidak beres di sini.

Sudah ada 2 bayi yang hilang di desa ini.

***Satu jam kemudian.

Para warga berteriak saat mereka kembali dari mencari bayinya Bu Halimah.

"Tolong, ini bayinya memprihatinkan sekali," ucap salah 1 bapak-bapak.

Sementara bayi itu digendong oleh ayahnya.

Saat bayi itu diletakan, para warga bisa melihat bahwa jasad bayi itu mengering kehabisan darah.

"Ya Allah, gusti, kejam sekali ini," ucap seorang ibu.

Arumi dan Bella juga bisa melihat bahwa ada kulit bayi itu yang terbuka, seperti habis ditusuk sesuatu.

1
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
ayoo cari tahu alasannya arumi
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
dahar heula,, lapar aing eui😄
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
mangan saetik😄
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
kayak disirep ya ini, buat orangnya jadi lupa ingatan beberapa saat
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
Thor, yang paling kusukai dari novel ini adalah gaya penceritaan nya, pemilihan kata yang sederhana dan bahasa sehari-hari.
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
pake istilah yang kekinian, cetaaaakkkkk
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
😄 aku suka sama istilah kamu Thor, ilmu melipat bumi
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
aduh, ya iya ada dong,, kayak kita Mauk ke dalam dunia cermin, nah dalam kamuflase cermin itu ada pantulan matahari juga, gitu kan yaa
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
emang iyaa dengan meditasi bisa fokus, trus fikiran tentang hantu akan hilang
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
di Sumatera istilah begu juga ada dipakai, begu artinya setan di salah satu daerah
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
ini tahapan-tahapan bersemedi yah
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
kayaknya meditasi kalau di dalam gua cocok bagi yang perlu liburan weekend kelar mumet kerjaan numpuk yaa
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
berat kalau jalani tirakat yaaa, tapi nanti semua keinginan sikabulin begitu kah
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
tenaga dalamnya terkuras ya Arumi
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
terima kasih sudah menyajikan cerita horor atau misteri dengan sederhana. Saya jadi tak parno membacanya
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
Thor tahu gak, kamu membuat sebuah cerita misteri jadi terkesan dialog sehari-hari antar sesama manusia, padahal mah setan dan cs semua tokoh-tokoh pembantunya
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
kenapa gak beli aja Arumi
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
oh ini toh kujang
Lili Aksara
Nah guys, sekarang saya udah tahu ya caranya nambahin ilustrasi ke dalam bab, jadi mungkin sedikit saya akan masukan ilustrasi supaya nggak terlalu ngebosenin.
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
emang tubuh yang sudah ditakdirkan dirasuki leluhur
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!