Bayu Rangga Alexander, seorang pengacara handal yang banyak memenangkan kasus persidangna di usianya yang masih terbilang muda. Semuanya terlihat sangat sempurna, jika saja dia bukan seorang cassanova.
Bermain wanita hanya untuk kepuasan semalam sudah biasa dia lakukan. Alasannya hanya satu, dia tidak pernah mau terikat dengan siapapun. Menganggap jika semua wanita hanya akan menginginkan hartanya, Bayu tidak percaya akan ketulusan cinta.
Hingga suatu malam seorang wanita beranjak naik ke atas ranjangnya, menemani malamnya, memuaskannya, tapi sama sekali tidak meminta bayaran, hal yang membuat Bayu merasa aneh hingga dia cukup penasaran.
Wanita bernama Viona itu menolak kehadirannya, menolak keras untuk tidur kembali dengan Bayu meski pria itu akan membayarnya mahal. Dia memilih untuk pergi dan tidak berurusan dengan Bayu lagi.
"Aku tidak meminta bayaran, karena aku sengaja memanfaatkanmu untuk tidur denganku. Jangan ganggu aku lagi!"
"Sial wanita itu berani sekali menolakku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Tari
Ayahnya memang sudah lama mempunyai penyakit jantung, mungkin karena faktor usia juga. Tapi kali ini penyakitnya semakin terasa parah, hingga Dokter memutuskan untuk membawanya ke Rumah Sakit lebih baik di Luar Negeri. Ayahnya harus melakukan operasi besar, dan Bayu ingin lebih tenang, jadi dia membawa Ayahnya ke spesialis yang terbaik.
"Bay, sebenarnya Ayah hanya sudah tua saja. Tidak perlu kau bawa jauh-jauh sampai kesini"
Bayu yang sedang duduk di sofa dekat jendela dengan sebuah laptop di pangkuannya, menoleh pada Ayahnya yang berada di ranjang pasien. Semua alat medis terpasang di beberapa bagian tubuhnya.
"Ayah jangan mati dulu, aku belum siap menjadi anak yatim piatu"
"Sialan! Kau mendoakan Ayahmu mati? Dasar anak kurang ajar"
Bayu terkekeh pelan, saat seperti ini meski hatinya khawatir dan cemas, tapi dia tetap harus menghibur Ayahnya dengan cara seperti ini. "Kan tadi Ayah sendiri yang bilang kalau Ayah sudah tua, aku juga tahu, dunia pun tahu kalau Ayah sudah tua. Tapi diamlah, biar aku dan dokter berusaha memperpanjang umurmu"
Ayah hanya mendengus kesal sambil menggelengkan kepalanya. Mau heran, tapi ini adalah anaknya yang sejak kecil memang seperti itu. Bayu selalu menjadikan Ayahnya seperti sahabatnya juga. Jadi terkadang dia tidak merasa canggung untuk bercerita tentang masalahnya.
"Kalau kamu ingin Ayah sembuh, cepat menikah dan berikan Ayah cucu"
Bayu menghembuskan napas kasar, menutup laptop dan menyimpannya di atas meja. Lalu dia menoleh pada Ayahnya. "Oh ayolah Yah, jangan seperti di sinetron kalau aku harus di paksa menikah karena Ayah sakit"
Ayah terkekeh lucu, padahal rencananya memang seperti itu, memanfaatkan sakitnya agar Bayu mau menuruti inginnya untuk menikah dan punya anak.
"Jangan manfaatkan sakitmu, Yah. Kalau tidak mau mati cepat"
"Sialan! Dasar anak kurang ajar!"
Bayu hanya terkekeh pelan, dia mengambil kopinya di atas meja dan meminumnya sebelum kembali berbicara lagi. "Menikah itu untuk apa? Jika hanya untuk seorang anak, aku bisa menyewa rahim untuk melahirkan anakku, tanpa harus aku menikah"
"Bayu Rangga Alexander!"
"Haha.. Bercanda, bercanda Yah. Tidak kok, aku tidak akan melakukan itu"
"Awas saja sampai kau berani melakukannya! Ayah hanya ingin melihatmu hidup lebih baik lagi. Lihatlah teman-temanmu, semuanya sudah menikah. Bara, Andreas, Marvin, bahkan Davin yang awalnya seorang pemain wanita sepertimu saja, dia sudah menikah sekarang. Dan kau kapan?"
"Tenang dulu Yah, si paling baik hati Byan saja belum punya pacar. Jadi aku bukan yang terakhir di antara mereka"
Terkadang Bayu juga hampir tidak menyangka jika teman-temannya satu persatu sudah mulai mempunyai keluarga, memiliki cinta sejatinya dengan wanita pilihan mereka. Tapi untuk Bayu, cinta sejati masih terlalu janggal. Bayu masih belum percaya untuk itu.
"Jangan samakan kau dengan Byan, dari umur saja Byan memang paling muda diantara kalian. Dan dia pria yang tidak suka main wanita, berbeda dengan kau yang terus bermain wanita seenaknya. Byan tidak membuat khawatir orang tuanya, tapi kau! Sialan, kau sangat membuatku khawatir!"
Bayu tertawa kecil, dia beranjak dari duduknya dan berjalan mendekat ke arah Ayahnya. "Jadi kau juga khawatir padaku, Yah? Haha.. Aku terharu sekali"
"Sialan, pergi sana! Kau pikir aku seorang Ayah yang tidak khawatir pada anaknya sendiri. Pikirlah sendiri, kalau sebenarnya aku sangat mengkhawatirkanmu. Makanya aku ingin kau segera menikah agar ada yang merawatmu"
"Untuk merawatku, aku bisa menyewa pembantu Ayah"
"Sialan! Pergi sana, berbicara denganmu malah semakin membuatku terkena serangan jantung!"
"Haha.. Baiklah, aku keluar dulu mau cari makan"
"Pergilah"
"Ayah baik-baik ya, jangan mati dulu. Haha"
"Anak kurang ajar!"
Bayu keluar dari ruangan Ayahnya, menghembuskan napas kasar. Sebenarnya orang yang paling khawatir saat ini, adalah dirinya. Namun Bayu lebih bisa menyembunyikan perasaannya itu. Ayahnya sedang sakit, dan Bayu hanya berpikir kalau sampai Ayahnya pergi untuk selamanya, maka dia akan bersama siapa?
"Apapun akan aku lakukan asal Ayah sembuh"
*
Bukan hanya tentang waktu, tapi juga tentang keraguan. Mungkin tidak akan ada yang berpikir jika Viona telah menjadi seorang Ibu jika tidak melihatnya bersama anaknya. Semuanya hanya berpikir jika Viona adalah perempuan yang tidak bisa hamil dan Viona menerima saja dugaan itu.
Merayakan ulang tahun anaknya yang ke 5 dan semuanya kacau karena pertemuan tidak sengaja dengan seseorang di masa lalunya.
"Anak siapa yang bersamamu itu?" tanya Tari dengan tatapan merendahkan.
Sementara Viona ingin sekali untuk segera pergi dan menjauh dari hadapannya. Viona sudah malas bahkan hanya untuk menatapnya seperti ini. "Bukan urusanmu, permisi"
Viona sudah menuntun anaknya untuk segera pergi dari tempat bermain di Mall itu. Namun suara Tari kembali menghentikannya. "Kau itu mandul Vio, tidak mungkin bisa hamil. Jadi jujur saja kalau anak itu hanya anak adopsimu 'kan? Atau anak bawa suami barumu?"
Tangan Viona sigap menutup kedua telinga anaknya, takut sekali Velia akan mengerti dengan ucapan Tari yang seharusnya tidak di ucapkan di depan anak kecil seperti itu. Viona berbalik dan menatap Tari dengan tajam.
"Stop ikut campur urusanku, ini anakku dan kau tidak perlu tahu bagaimana kehidupanku sekarang!"
Viona segera membawa anaknya pergi dari sana. Dadanya bergemuruh, dia benar-benar kesal dan kecewa dengan Tari. Padahal dulu dia menganggapnya sebagai sahabat baik, karena sikapnya yang selalu baik padanya. Tapi ternyata Tari bagaikan musuh di dalam selimut.
"Ibu, Vei masih mau main disana"
Viona baru tersadar dengan Velia yang sedang asyik bermain dan terpaksa dia membawanya pergi dari tempat permainan. "Maaf Vei, Ibu lapar kita makan dulu ya. Nanti kesana lagi"
"Iya Bu"
Viona membawa anaknya ke sebuah tempat makan di Mall itu, memesan makanan. Melihat anaknya makan dengan lahap, Viona hanya tersenyum. Sementara dia tidak memakan makanannya, hanya diam menatap anaknya.
Velia sudah besar, mungkin dia akan mengerti apa yang orang-orang bicarakan. Dan hal yang paling aku takutkan adalah ... dia bertanya tentang Ayahnya.
"Bu, Vei sudah mulai masuk sekolah hari senin ya? Hari pertama Ibu yang antar ya"
Viona tersenyum dan mengangguk, dia tahu jika anaknya juga ingin mempunyai waktu lebih lama dengannya. Sementara dia tidak punya banyak waktu karena harus bekerja. Tapi situasi Viona juga tidak mudah, bukan dia tidak ingin punya lebih banyak waktu bersama anaknya, tapi dia juga perlu bekerja untuk kebutuhan anaknya.
"Ibu akan antar Vei untuk hari pertama sekolah, Ibu sudah izin pada Bos Ibu kok"
"Yey... Makasih Ibu"
"Iya Nak"
Bersambung
pasti sulit bagi vio,mengingat jejak bayu yg casanova,dn pastinya trauma juga meliputi hatinya...